
"Sabar ya sayang semoga secepatnya kita segera memiliki momongan," sahut Tuan Matteo.
"Iya sayang," sahut Claudya. Meski di hatinya dia merindukan sosok anak di antara pernikahan mereka.
Tuan Matteo mendekat. Memeluk Claudya. Mencium keningnya.
"Aku mencintaimu gadis kecil," kata Tuan Matteo menatap mata Claudya. Wanita muda yang jauh lebih muda darinya. Membuat Tuan Matteo selalu mencintainya.
"Aku juga mencintaimu sayang," sahut Claudya.
Tuan Matteo membopong Claudya. Membawanya masuk ke dalam. Mata mereka berdua bertautan penuh cinta yang mendalam.
"Kita mau ke mana?" tanya Claudya.
"Kita akan membuat baby sayang," jawab Tuan Matteo.
"Ayo kita buat lebih banyak baby," sahut Claudya.
"Aku semangat sayang, berapa putaran dijabanin," kata Tuan Matteo. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Claudya. Mencium bibir merah delima itu sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Merekapun memadu cinta. Menuangkan secangkir gairah. Meracik semua nafsu. Mengaduk setiap rasa manis, asam, asin dan pahit. Mencium aroma demi aroma. Menyentuh setiap kehangatan. Menyatu dalam satu kenikmatan yang tiada tara. Cinta bagaikan air yang mengalir dan bermuara dari hulu ke hilir. Berakhir dalam hamparan lautan yang luas. Seluas keinginan dan sedalam apa yang dirasakan.
Tuan Matteo dan Claudya kelelahan. Mereka berbaring di ranjang. Berpelukan. Claudya tidur bersandar di bahu Tuan Matteo.
"Sayang besok pagi aku ada meeting. Tolong bangunkan aku pagi-pagi ya," ujar Tuan Matteo.
"Iya sayang," jawab Claudya.
"Jangan capek-capek ya, aku baru menanam benih yang banyak, biar salah satunya jadi baby yang lucu," kata Tuan Matteo.
"Iya sayang, kembar dua juga gak papa, biar sekalian hamilnya," ujar Claudya.
"Amin," sahut Tuan Matteo. Dia juga menginginkan hal yang sama dengan Claudya memiliki anak. Kalau dikasih kembar syukur Alhamdulillah.
Mereka pun beristirahat. Berbaring di ranjang yang nyaman. Menikmati kebersamaan berdua.
***
Siang itu Sophia dan Alex pergi ke Masjid AT Taufik untuk menjadi saksi Aiko mengucapkan syahadat. Mereka berdua membawa serta Arfan bersamanya. Di dalam masjid Arfan begitu senang. Dia bermain seolah sedang sholat. Sophia dan Alex begitu senang melihat anaknya sholat.
"Sayang Arfan tahu aja kalau di masjid buat sholat," kata Alex.
"Iya Mas, Arfan selalu seperti itu loh kalau ke masjid," sahut Sophia.
"Kalau gitu besok kalau subuhan aku ajak ke masjid," ujar Alex. Dia jadi ingin mengajak Arfan pergi ke masjid. Biar Arfan bisa sholat berjamaah.
"Ide bagus tuh Mas, Arfan pasti seneng banget diajak ke masjid," sahut Sophia.
Tak lama Aiko masuk ke dalam masjid. Dia sudah mengenakan hijab. Begitu cantik dan angun. Tak terlihat garang lagi. Dia menghampiri Sophia dan Alex.
"Sophia, Bos Alex, makasih ya sudah datang," ujar Aiko.
"Iya Aiko, kami justru senang bisa menjadi saksi, iyakan Mas?" tanya Sophia.
Alex mengangguk.
"Makin semangat deh jadinya," kata Aiko.
"Iya dong harus semangat!" sahut Sophia.
Aiko mengangguk.
Masjid AT Taupik akan menjadi tempat yang Aiko untuk mengucapkan syahadat. Dia duduk bersama Sophia, Alex, dan imam masjid itu, bersiap untuk mengucapkan syahadat.
"Nak, kau yakin untuk membaca syahadat?" Imam masjid menanyakan sekali lagi.
"Yakin."
"Apa ini bukan paksaan?"
"Kau siap dengan segala perintah dan laranganNya?"
"Siap."
"Baiklah."
Aiko sudah mantap masuk Islam. Entah kenapa hatinya begitu yakin tanpa keraguan. Dari cara Sophia bersikap dan menyelesaikan semua masalahnya dari situlah Aiko mengenal Islam yang sesungguhnya.
Aiko mengucapkan syahadat dibimbing imam masjid dan disaksikan Sophia dan Alex. Dia mengucapkannya dengan jelas dan lantang. Aiko kini sudah masuk Islam. Dia bisa menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
"Selamat ya Aiko, semoga Allah membimbingmu ke jalan yang benar dan tetap istiqamah di jalanNya," kata Sophia.
"Amin," jawab Aiko. Mulai hari ini Aiko akan berusaha menjadi muslimah yang baik dan sholeha seperti Sophia. Agar kelak bisa berkumpul di jannah bersama Sophia jadi teman dunia akhirat.
Setelah pulang dari masjid sorenya Alex dan Sophia pergi ke panti asuhan milik Sophia. Panti asuhan itu sudah lama didirikan Sophia agar bisa menampung banyak anak yatim piatu dan anak terlantar. Sekalian mengajak Arfan agar berbaur dengan anak-anak seusianya.
Sophia dan Alex berjalan di lorong panti asuhan bersama Arfan yang berjalan pelan-pelan sambil mengoceh melihat banyak anak-anak kecil.
"Lihat sayang, Arfan seneng banget ke sini," ujar Alex.
"Iya Mas, ini pertama kalinya Arfan diajak ke panti asuhan," sahut Sophia.
"Duduk di situ sayang!" ajak Alex sambil menunjuk kursi tralis berwarna putih di teras.
Sophia mengangguk.
Mereka berdua duduk sambil melihat Arfan berjalan ke sana ke mari bermain bersama anak-anak panti seusianya.
"Sayang, panti asuhan ini paling lengkap. Ada sekolahnya juga," ujar Alex.
"Iya Mas, aku ingin anak-anak yang di sini bisa memiliki kehidupan yang layak di kemudian hari," sahut Sophia.
Alex merangkul Sophia. Dia begitu bangga memiliki Sophia. Wanita sholeha yang baik hatinya. Di mana pun Sophia berada selalu membawa kebaikan untuk tempatnya berpijak. Memberi penerang untuk kegelapan. Memancarkan harum yang membuat siapapun mencium baunya. Sophia seorang wanita yang selalu ikhlas dan tulus dalam melakukan apapun hingga membuat Alex berubah menjadi sosok yang baik hati.
"Kau memang bidadari surga Sophia, hatimu selembut salju," kata Alex. Dia beruntung memiliki perhiasan dunia yang Allah berikan untuknya.
Sophia tersenyum manis.
"Jadilah imamku dunia akhirat Mas!" ujar Sophia. Dia ingin Alex menjadi imam dunia akhirat untuknya. Agar mereka bisa bersama baik di dunia yang fana hingga ke surga Allah nantinya.
"Insya Allah sayang, aku akan belajar dan belajar agar bisa jadi imammu dunia akhirat," sahut Alex.
"Amin," jawab Sophia.
Arfan terlihat akrab dengan anak-anak panti asuhan itu. Ada satu anak kecil yang mirip Arfan. Dia tampan dan putih hampir sama dengan Arfan, bak pinang dibelah dua.
"Sayang anak itu mirip dengan Arfan ya," ujar Alex menunjuk ke arah anak kecil yang ada di samping Arfan.
"Iya ya Mas, mirip kaya Arfan," jawab Sophia.
Rasa penasaran Alex dan Sophia membuat mereka bangun dan menghampiri anak kecil itu.
Mereka menatap Arfan kemudian menatap anak itu.
"Memang mirip Mas, meskipun beda di rambut dan bentuk wajah," kata Sophia. Arfan berambut lurus sedangkan anak itu berambut sedikit ikal. Muka Arfan oval sedangkan anak itu bulat.
"Mirip denganku, sama seperti Arfan," ujar Alex.
"Apa mungkin anak ini?" Sophia ingin berspekulasi tapi ragu. Dia tidak ingin berpikir negatif.
"Coba kita tanya pengurus panti tentang anak ini," jawab Alex.
Sophia mengangguk. Dia menggendong Arfan sedangkan Alex menggendong anak itu. Mereka berjalan menuju ke ruangan pengurus panti asuhan.