Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ketulusan Meluluhkan Hati Yang Tertutup



Sophia pergi bersama Aiko ke Apartemen Galaxsia. Mereka harus menemui Nancy yang kebetulan ada di apartemennya. Mobil Alpard berwarna hitam itu melaju ke apartemen tersebut. Cuaca di sore hari itu sedikit mendung ditambah angin yang lulu lalang menyapu jalanan. Kendaraan umum dan pribadi berlomba-lomba untuk sampai tempat tujuan.


Sampai di apartemen, Sophia dan Aiko turun dari mobil. Naik lift di basemant ke lantai 15. Hanya 5 menit pintu lift terbuka. Sophia dan Aiko ke luar dari lift menuju apartemen milik Nancy.


Aiko berjalan di depan disusul Sophia di belakangnya. Sampai di depan pintu apartemen yang dituju, Aiko mengetuk pintu.


Tuk ... tuk ... tuk ...


Pintu itu terbuka. Nancy terkejut saat melihat Aiko bersama Sophia. Dia mengenal Sophia yang terkenal sebagai pebisnis muslimah yang sopan dan ramah.


"Assalamu'alaikum," sapa Sophia pada wanita di depannya yang merupakan seorang muslim sepertinya.


"Wa'alaikumsallam," sahut Nancy.


"Sophia Thalia ya?" tanya Nancy senang bertemu Sophia.


"Iya, betul, saya Sophia Thalia," ucap Sophia.


"Saya Nancy Trihapsari," ucap Nancy memperkenalkan dirinya.


"Nancy kita gak disuruh masuk?" tanya Aiko.


"Eh iya, jadi lupa, ayo masuk," jawab Nancy. Dia mempersilahkan Sophia dan Aiko masuk ke dalam ruang apartemennya.


"Maaf ya agak berantakan, baru pulang kerja soalnya," ucap Nancy.


Ruang apartemen itu memang terlihat kurang rapi. Beberapa bantal, selimut, bungkus makanan, makanan sisa berantakan di mana pun. Nancy langsung mengambili bungkus makanan dan merapikan bantal dan selimut yang terdapat di lantai. Menaruhnya kembali ke sofa.


"Duduk, maaf beginilah apartemenku gak terlalu luas," ujar Nancy.


Sophia dan Aiko duduk di sofa bersama Nancy yang duduk di seberang mereka. Nancy tampak ramah dan sopan. Dia juga supel.


"Yaelah merendah, biasanya juga di update terus nih ruangan buat siaran langsung," ledek Aiko.


"Tau aja kamu, suka kepoin instagramku ya?" sindir Nancy.


"Ha ha ha." Aiko tertawa.


"Maaf Kak Sophia, beginilah adanya apartemen saya," ujar Nancy.


"Tidak apa-apa, justru saya yang merepotkan bertamu saat Nancy baru pulang kerja," sahut Sophia.


"Oya ada apa kok Kak Sophia dan Aiko ingin bertamu nih?" tanya Nancy. Dia penasarabmn seorang Sophia Thalia bertamu ke apartemennya padahal mereka tak saling mengenal, belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Hanya Nancy yang tahu Shopia Thalia dari majalah bisnis dan majalah muslimah. Apalagi Sophia adik seorang model papan atas Nada Harumna.


Sophia akhirnya menceritakan maksud kedatangannya menemui Nancy. Dia menceritakan mengenai masalah proyek dan hubungannya dengan Yuda Prayoga yang merupakan pacar Nancy.


"Apa benar Yuda ada kaitannya dengan masalah itu? dia tidak pernah melakukan hal aneh-aneh, dia itu introvet," ujar Nancy menjelaskan.


"Nancy, kita ke sini bukan untuk menuduh Yuda, tapi ingin bertemu dengan Yuda dan memintanya untuk bertemu Alex, agar masalah ini clear," sanggah Aiko.


"Iya Nancy, belum tentu Yuda bersalah. Kami hanya ingin tahu kesaksiannya mengenai masalah ini," tambah Sophia.


"Aku mengenal Yuda, dia memang terlihat aneh tapi bukan karena dia kriminal, dia hanya penyendiri, dan sulit diajak bicara sembarangan orang," sahut Nancy. Selama bersama Yuda, Nancy merasa Yuda tak pernah melakukan hal-hal yang tidak-tidak.


"Saya paham Nancy jauh lebih mengenal Yuda dari kami, tapi saat ini kami ingin bertemu dengannya, saya mohon, jika Nancy tahu di mana Yuda, tolong beri tahu saya," ujar Sophia.


"Iya Nancy ini penting banget, kamu tahukan di mana Yuda berada sekarang?" tambah Aiko.


"Tidak," jawab Nancy.


"Aku yakin Yuda pasti sering menghubungimu, paling tidak kita bisa melacak di mana keberadaannya," ucap Aiko.


"Aku tidak tahu di mana Yuda, maaf," sahut Nancy.


"Tapi Yuda pernah menghubungimukan?" tanya Aiko.


"Tidak," jawab Nancy.


"Masa? Kaliankan pacaran, pasti Yuda pernahlah chat atau telpon kamu sesekali," cerca Aiko.


"Tidak," jawab Nancy. Dia selalu menjawab dengan kata tidak dan ekspresi dinginnya. Padahal tadi Nancy ramah dan ceria.


"Nancy Yuda itu saksi di sini, kamu tahukan berapa kerugian perusahaan Alex karena masalah ini, seharusnya kamu jujur jangan melindungi pacarmu." Aiko emosi. Dia kecewa Nancy terlihat melindungi Yuda. Padahal Alex sangat membutuhkan kesaksiaannya.


"Aiko," ucap Sophia sambil menepuk lengan Aiko. Berusaha menenangkan emosinya.


Aiko kembali menurunkan emosinya. Dia berusaha mengontrol emosinya dan membiarkan Sophia yang bicara.


"Nancy, saya tahu ini sulit untukmu, tapi satu hal yang perlu Nancy ketahui, di sini Yuda masih berstatus saksi. Jika dia benar tidak bersalah, kami tidak mungkin menyulitkannya," ujar Sophia.


"Maaf Kak Sophia, saya tidak tahu di mana Yuda berada," ucap Nancy terlihat sedih.


"Nancy, jangan terus-terusan melindungi Yuda, kamu mau terseret kasus?" Aiko emosi.


Tiba-tiba suara handphone milik Nancy berdering.


Ketegangan itu terpecahkan. Seketika semua terdiam. Fokus pada suara dering yang terus memanggil sang pemiliknya.


Wajah Nancy terlihat tegang. Dia masih terdiam. Ragu untuk mengambil handphone yang berada di atas laci tak jauh dari sofa. Seluruh mata tertuju pada laci. Mereka sama-sama penasaran dengan siapa gerangan yang menelpon.


"Gak papa, gak penting kok," jawab Nancy grogi.


"Gak penting? Atau yang nelpon itu?" sindir Aiko.


"Paling Mama, aku angkat dulu ya," ucap Nancy.


"Iya," sahut Sophia dan Aiko.


Nancy berdiri. Berjalan menuju laci. Dia mengambil handphone-nya. Melihat panggilan di handphone-nya. Kemudian berjalan ke arah dapur meninggalkan Sophia dan Aiko.


"Pasti telpon dari Yuda," ucap Aiko.


"Aiko, tidak boleh suudzon dulu, mungkin benar dari Mamanya," sanggah Sophia.


"Aku heran Nancy gak mau ngasih tahu di mana Yuda, padahal aku yakin dia tahu," ujar Aiko kesal.


Entah kenapa tiba-tiba Sophia berdiri. Hendak berjalan. Namun Aiko memegang tangan kanannya.


"Mau ke mana Sophia?" tanya Aiko.


"Sebentar," jawab Sophia.


Aiko mengangguk. Dia tidak tahu Sophia mau melakukan apa. Tapi Aiko membiarkan Sophia berjalan ke arah dapur. Sophia berdiri di dekat pintu. Mendengarkan obrolan Nancy dengan seseorang.


"Apa Papa harus operasi Ma?" tanya Nancy.


"Iya Nak, kalau tidak di operasi sekarang, nyawa Papamu tidak tertolong."


"Berapa biaya operasinya Ma?" tanya Nancy.


"100 juta."


"Apa 100 juta?" Nancy terkejut mendengar angka yang cukup besar.


"Iya Nak, gimana ini?"


"Aku tidak punya uang sebanyak itu Ma, sewa apartemen juga belum ku bayar," jawab Nancy.


"Terus gimana?"


Sophia merasa cukup untuk mendengarkan. Dia kembali duduk bersama Aiko. Tak lama Nancy duduk bersama mereka kembali.


"Maaf tadi telpon dari Mama," ujar Nancy.


"Gimana Nancy, kamu tahu di mana Yuda?" tanya Aiko.


Nancy hanya menggeleng.


"Nancy saya akan sangat berterimakasih jika kau mau memberi tahu di mana Yuda berada, tapi saya tidak bisa memaksa, terimakasih atas waktunya," ucap Sophia.


"Sophia!" pekik Aiko heran. Dia sampai menengok ke arah Sophia.


"Ayo pulang Aiko," ucap Sophia.


Aiko menggeleng. Belum tahu di mana Yuda berada kenapa harus pulang. Aiko akan menekan Nancy kalau diperlukan agar dia mengaku tapi Sophia malah menghentikannya dan malah mengajak pulang.


Sophia mengeluarkan Cek. Dia mengisi Cek itu dengan angka seratus juta rupiah. Meletakkannya di atas meja.


"Nancy semoga ini bisa untuk membantu biaya operasi Papamu," ucap Sophia.


Nancy terdiam melihat Cek seratus juta rupiah di atas meja.


"Assalamu'alaikum," ucap Sophia. Berdiri. Kemudian mengajak Aiko meninggalkan ruangan itu meskipun Aiko tadinya tidak mau. Namun akhirnya Aiko mengikuti Sophia ke luar dari apartemen Nancy.


Di lorong apartemen Sophia berjalan bersama Aiko sambil berbincang.


"Sophia kenapa kau malah memberi Nancy uang?" tanya Aiko.


"Ayahnya harus dioperasi, dia tak punya uang, aku hanya ingin membantu," jawab Sophia.


"Membantunya? Dia saja tidak mau membantumu Sophia" ujar Aiko heran kenapa Sophia sebaik itu. Rasanya dia ingin menangis melihat Sophia menolong orang yang justru tidak ingin membantunya di saat terjepit.


"Aku sudah berusaha, kalau memang Allah berkehendak, pasti Allah akan menunjukkan jalannya," ucap Sophia.


"Sophia," ucap Aiko sambil mengeleng. Sahabatnya itu memang selalu berpikir positif. Baik pada siapapun dan berusaha menolong semampunya.


Disaat mereka terus berjalan, dari belakang suara Nancy memanggil Sophia.


"Kak Sophia!" panggil Nancy.


Mendengar suara Nancy memanggil, Sophia dan Aiko menghentikan langkah mereka. Berbalik ke belakang mencari sumber suara. Ternyata Nancy ada di belakang mereka berjarak 6 meter dari tempat mereka berpijak.


"Ada apa Nancy?" tanya Sophia.


"Aku tahu di mana Yuda," jawab Nancy.


Sophia tersenyum mendengar ucapan Nancy. Ternyata Allah sudah berkendak. Apa yang tak mungkin menurut kita, Allah mampu membuatnya jadi mungkin. Asal kita mau berusaha.