Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Takkan Ku Tukar Dengan Apapun



"Maaf Tuan Matteo, sampai saya gembel sekalipun, saya tidak akan menukar istri saya dengan apapun di dunia ini. Meskipun nyawa taruhannya sekalipun," jawab Alex tegas.


"Bagaimana jika saya memberikan seluruh harta saya, bersediakah anda memberikan Sophia untuk saya?" tanya Tuan Matteo.


"Tidak," jawab Alex singkat dan jelas tanpa berpikir panjang.


Tuan Matteo terdiam. Merenung. Tak terlihat kecewa ataupun marah.


"Sophia matahari dihidup saya yang gelap, saya bukan orang baik, tapi kelembutan hatinya, ketulusannya meluluhkan kerasnya hati saya yang membeku penuh dosa," ujar Alex.


Tuan Matteo masih terdiam dengan ekspresi datar.


"Hal yang paling berharga dalam hidup saya, Sophia, takkan saya berikan atau tukarkan dengan apapun. Dia akan menjadi bidadari milik saya sampai kapanpun, hingga di jannah sekalipun," ujar Alex.


"Bos Alex aku bersedia bekerja sama denganmu," ucap Tuan Matteo.


"Tanpa syarat?" tanya Alex memastikan. Lebih baik menggembel dari pada kehilangan Sophia.


"Iya, saya kagum dengan anda, teguh pada pendirian meski saya menawarkan sejuta kenyamanan namun anda tetap mempertahankan Sophia," ujar Tuan Matteo.


"Anda akan seperti saya saat bertemu dengan orang yang anda cintai dan mampu mengubah hidup anda menjadi lebih baik," gumam Alex.


Tuan Matteo tersenyum. Sudah lama dia menyendiri. Sejak kekasihnya meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu mereka hendak menikah. Naasnya mobil mempelai wanita kecelakaan.


"Semoga, semoga saya bertemu mutiara yang indah seperti Sophia," ucap Tuan Matteo.


"Pasti, di dunia ini masih banyak Sophia-Sophia lainnya, tinggal anda memburunya," ucap Alex.


"Anda benar, mungkin saya harus mencarinya," sahut Tuan Matteo.


Mereka tersenyum bersamaan. Malam itu Alex dan Tuan Matteo bergadang. Mereka berbicara banyak hal. Baik bisnis dan perkembangan ekonomi.


Tuan Matteo mengeluarkan wine terbaik yang dibawa dari Jakarta. Dia menuang satu gelas lagi untuk Alex dan memberikan padanya.


"Tidak saya tidak minum," tolak Alex.


"Kenapa? Bukannya sang casanova biasa meneguk wine sebelumnya," ujar Tuan Matteo.


"Itu dulu sebelum bertemu Sophia, tapi sekarang hati ini sudah dipenuhi wine alamani yang selalu memabukkan saat bersamanya," sahut Alex.


Tuan Matteo tersenyum.


"Berarti pesona cinta membuat seseorang berubah, oke, kalau begitu saya juga tidak akan minum," ujar Tuan Matteo.


"Bagaimana kita minum yang lainnya, sama-sama menghangatkan," ujar Alex.


"Boleh," sahut Tuan Matteo.


Alex menuju tenda yang lainnya. Kebetulan yang camping sangat banyak. Termasuk teman-teman pecinta alam. Alex meminta bandrek milik mereka. Kemudian kembali duduk bersama Tuan Matteo.


"Nah Tuan Matteo ini bandrek buatan tangan, bukan instan, jadi rasanya lebih enak dan kental, kaya akan rempat-rempah menyehatkan," ujar Alex sambil memberikan bandrek itu pada Tuan Matteo.


"Saya pernah minum bandrek saat naik gunung dulu, sudah lama sekali," sahut Tuan Matteo memegang bandrek di tangannya.


"Mari minum biar hangat, ini tidak memabukkan tapi memanjakan tubuh kita," ucap Alex.


Tuan Matteo mengangguk.


Mereka berdua meminum bandrek itu bersamaan. Sambil ditemani ubi bakar pemberian anggota pencinta alam. Malam itu jadi menyenangkan. Berasa naik gunung meskipun hanya bersantai di depan tenda melihat api unggun.


Alex kembali ke tendanya setelah kenyang mengobrol dengan Tuan Matteo. Baru masuk. Terkejut melihat Sophia duduk menunggunya. Sophia begitu seksi saat mengenakan baju tidur berwarna merah transparan karena selimut yang tadi menyelimutinya terbuka.


"Mas," sapa Sophia.


"Kiraian tidur, lupa absen," ucap Alex.


Sophia tersenyum malu-malu. Mendengar ucapan suaminya.


Tanpa pikir panjang Alex mendekati Sophia. Memeluknya erat. Menyalutkan rasa hangat dari api unggun yang tadi dinikmatinya bersama Tuan Matteo.


"Sayang kalau begini, enak ya, dingin tapi berduaan," ucap Alex.


"Iya Mas, gak dingin lagi, tubuh Mas hangat," sahut Sophia.


Alex mencium Sophia. Melancarkan serangannya. Mumpung cuaca mendukung. Hawa lagi dingin. Pas untuk melakukan pertandingan bola. Apalagi, giring terus bolanya sampai masuk gawang. Tak peduli berapa kali masuk gawang, pemain terus mengiring bola hingga menjebol pertahanan lawan.


Malam itu hawa dingin jadi kehangatan. Keringat-keringat bercucuran. Menjadi saksi perpaduan cinta keduanya. Tempat yang terlihat sempit namun justru membuat mereka semakin menikmati kemesraan itu. Hingga lelah Sophia berbaring dipelukan Alex. Mereka berada dalam selimut tebal yang membungkus seluruh tubuh mereka.


"Sayang, Tuan Matteo sudah setuju dengan kerjasama yang ku tawarkan," ucap Alex.


"Benarkah Mas?" tanya Sophia.


"Iya, semua ini berkatmu sayang," ucap Alex.


"Berkatku?" Sophia tidak paham maksud Alex.


"Karena pesonamu membuat banyak orang terpikat," jawab Alex sambil menyentuh dagu Sophia.


Sophia tersenyum.


Alex semakin mempererat pelukannya. Dia tidak ingin istrinya kedinginan.


"Besok kita camping lagi ya, enak juga, berasa di gunung tapi mesum," ucap Alex.


"Mas ..., ada-ada aja," sahut Sophia.


"Paling enak mesum pas lagi dingin sayang, apalagi tempatnya ramai gini, berasa mau digerebek, tapi nagih," ujar Alex.


Sophia mencubit perut Alex pelan.


"Aw ..., ampun sayang," keluh Alex pura-pura kesakitan.


"Mas mesum banget ucapannya, jangan bilang tadi ngomongin yang jorok juga sama Tuan Matteo," ucap Sophia.


Sophia tersenyum.


"Tapi sukakan dimesumin?" tanya Alex.


Sophia mengangguk. Biarpun Alex suka ngomong mesum tapi hanya berdua dengan Sophia. Dulu Alex memang mesum pada siapapun incarannya namun sekarang hanya Sophia yang akan mendengar kemesumannya.


"Inget gak pertama bertemu, aku mesumin kamu terus," gumam Alex.


"Saat aku melamarmu?" tanya Sophia.


"Iya, saat itu aku penasaran ingin sekali tahu rasanya mesumin cewek berhijab," ujar Alex.


"Mas memang mesum, gak ada matinya," lirih Sophia.


"Iya dong, pencinta wanita," ucap Alex.


Sophia menggeleng.


"Tapi dari pertama udah penasaran sama kamu, pengen mesumin terus ngajak check in langsung," ujar Alex.


"Terus ditinggalin, iyakan?" tanya Sophia.


"Iya, mungkin kalau dulu kau bukan wanita terhormat, aku pasti sudah meninggalkanmu setelah aku mendapatkan keinginanku, tapi kau wanita yang mampu menjaga kesuciaanmu hingga membuat aku merasa tak pantas memilikimu," ujar Alex.


Sophia memeluk Alex dengan erat.


"Dingin?" tanya Alex.


Sophia menggeleng.


"Mas inget gak dulu kita pernah camping saat SMP?" tanya Sophia.


Alex terdiam. Mengingat masa lalunya. Masa di mana saat dia masih SMP. Masa itu dia mengikuti camping pramuka.


"Ingat, menyenangkan, jadi kangen masa-masa itu," ucap Alex.


"Apa yang menyenangkan?" tanya Sophia.


"Api unggun, kerjasama tim, kebersamaan, dan ...," ucap Alex.


"Dan apa?" tanya Sophia.


"Aku baru inget, dulu waktu kemah ada cewek jatuh di parit, cantik deh, dia punya hutang padaku," ujar Alex.


"Cantikan mana sama aku Mas?" tanya Sophia.


Alex mencium kening Sophia dengan lembut.


"Cantikan bidadariku," jawab Alex.


"Cewek yang jatuh ke parit itu aku Mas," ujar Sophia.


Alex terkejut mendengar ucapan Sophia. Dia tak menyangka gadis kecil yang ditolongnya dulu itu Sophia.


"Beneran sayang?" tanya Alex.


"Iya Mas, aku sudah membayar hutangku, dengan menjadi bidadarimu," jawab Sophia.


Alex langsung menatap mata Sophia. Memegang kedua pipinya.


"Sophia kau ingat hutang itu? Aku hanya bercanda saat itu, karena aku kecewa saat kau menolak menciumku," ujar Alex.


"Aku tidak menganggap itu sebuah candaan, aku bahkan ingat sampai sekarang, itulah sebabnya aku melamarmu Mas," ujar Sophia.


Alex mengingat kata-katanya saat itu. Kata-kata yang menjadi hutang yang terus diingat Sophia.


"Hari ini aku menolongmu karena kau tersesat, tapi esok atau lusa kau harus menolongku saat aku tersesat," ujar Alex.


"Iya aku akan menolongmu saat kau tersesat," sahut Sophia.


Ucapan di masa lalu itu mulai terngiang di telinga Alex. Dia teringat masa dimana dia memberi hutang secara tidak langsung pada Sophia. Namun justru karena kata-kata itu mengikat Sophia menjadi jodohnya di masa depan.


"Sophia maafkan aku, kau pasti terbebani karena kata-kataku itu," ucap Alex.


"Tidak, mungkin sudah menjadi jalan takdir kita, pertemuaan itu membuat kita berjodoh Mas," ujar Sophia.


"Iya, makasih sayang, kau menolongku di saat aku tersesat," ujar Alex.


Sophia mengangguk.


"Tapi dari kecil sampai sekarang Sophiaku tetap cantik," puji Alex.


"Mas juga dari kecil sampai sekarang mesum terus," balas Sophia.


Alex tertawa kecil. Senangnya mendengar celotehan Sophia.


"Aku ingin memelukmu Sophia, gadis kecilku," ucap Alex memeluk Sophia.


"Lelaki kecil mesum," ucap Sophia.


Mereka tertawa kecil bersama. Tak disangka Alex bertemu kembali dengan gadis kecil yang ditolongnya. Ternyata saat itu memang pertemuan yang sudah digariskan agar di masa depan mereka bertemu kembali.


"Aku ingin punya anak yang cantik kaya gadis kecil itu," ucap Alex.


"Mas," ucap Sophia.


Alex memegang perut Sophia yang masih datar.


"Di sini akan ada buah cinta kita Sophia, kita akan punya anak yang banyak," ucap Alex.


Air mata Sophia menetes di pipinya. Berharap ucapan itu menjadi doa. Dia bisa memiliki keturunan dengan Alex. Dan hidup bahagia.