
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex dan yang lainnya.
"Aku membawa makan siang Mas," ucap Sophia sambil membawa kantong plastik berisi makanan bersama Aiko.
"Alhamdulillah, pas banget sayang lagi laper," jawab Alex. Dia dan yang lainnya memang sudah lapar. Sophia pengertian sekali. Datang diwaktu yang tepat.
"Kalau begitu kita makan bersama ya?" ucap Sophia.
"Iya sayang," jawab Alex.
Sophia dan Aiko meletakkan makanan itu di meja. Mereka membagikan makanan yang dibawa pada setiap orang. Kemudian duduk bersama di sofa dan makan bersama. Mereka menikmati makanan yang dibawa Sophia sampai habis.
"Alhamdulillah," ucap Alex dan yang lainnya.
Sophia dan Aiko mengeluarkan jus buah yang dibeli dan dibagikan pada semua orang.
"Kak ipar makasih ya," ucap Tuan Matteo.
Sophia mengangguk.
"Kak Sophia thanks," ucap Gavin sambil mengangkat jus jeruk miliknya ke udara.
"Iya Gavin," sahut Sophia.
"Kakak ipar makasih ya, Alhamdulillah enak," ucap Luki.
Sophia mengangguk.
"Bu Bos makasih, sering-sering aja," ucap Kenan sambil tersenyum.
"Huh! Maunya." Gavin, Luki dan Tuan Matteo bersorak dengan ucapan Kenan.
Sophia hanya mengangguk dan tersenyum. Melihat Kenan dan yang lainnya berdebat.
"Sayangku cintaku makasih ya," ucap Alex.
Sophia mengangguk dan tersenyum. Apalagi Alex mengedipkan mata padanya.
"Oya Mas bagaimana hasil audisinya?" tanya Sophia. Dia ingin mengetahui hasil audisi pencarian jodoh untuk Frank.
"Belum ada hasilnya sayang. Semua wanita yang ikut audisi aneh-aneh. Tidak sesuai kriteria yang kita inginkan," jawab Alex.
Sophia mengangguk.
"Kenapa gak nyari orang terdekat dan yang dikenal aja?" usul Aiko. Dia merasa jika orang terdekat dan yang dikenal sudah jelas lebih baik dan tidak diragukan lagi.
Gavin dan yang lainnya langsung melihat ke arah Aiko. Mereka menatap Aiko dari atas sampai bawah dan tersenyum.
"Benar juga kenapa tidak orang dekat dan yang dikenal." Mata Gavin tertuju pada Aiko dan tersenyum licik padanya.
"Ngapain nyari yang jauh kalau yang di depan mata juga ada." Luki juga menatap Aiko dan tersenyum licik.
"Aku setuju, yang di depan udah pasti sesuai kriteria." Kenan juga menatap Aiko dan tersenyum licik padanya.
"Eh ... apa-apa ini? Kenapa kalian melihatku?" tanya Aiko. Perasaannya jadi tidak enak melihat mereka menatapnya bersamaan.
"Aiko, kau paling cocok dengan Frank," ucap Alex.
"Apa? Kenapa aku yang akan menghadapi Frank? Bos tolong aku!" sahut Aiko.
Sophia hanya tersenyum melihat Aiko yang akan jadi wanita untuk Frank.
"Sudahlah, kalau muka Frank jelek, oplas aja," ujar Gavin.
"Semuanya aja oplas kaya cewek tadi," sindir Kenan pada Gavin.
"Sorry Kenan, tapi aku gak sempat meraba dulu, asli atau palsu," canda Gavin.
"Meraba ya? Hallo Maria datang ke sini Gavin sedang ...." Alex pura-pura menelpon Maria, seketika Gavin langsung merebut handphone Alex.
"Parah loh Kak Alex, kalau bini gue tau, malam ini tidur di kandang ayam," keluh Gavin.
"Gayanya aja playboy sana-sini, eh nyalinya ciut di depan bini," celetuk Luki meledek Gavin yang sering ganjen.
"Lo kan tahu gue ganjen di luar, hati mah tetap hello kitty di dalam," sahut Gavin.
Alex dan yang lainnya menggeleng dengan tingkah Gavin yang ganjen dan iseng.
Mereka kembali duduk dan berdiskusi kembali bersama Sophia dan Aiko yang kebetulan masih berada di tempat.
"Aiko, apa salahnya dicoba. Mana tahu jodoh," ucap Tuan Matteo.
"Iya Aiko, terkadang cara Allah mempertemukan jodoh kita tidak selalu sama seperti orang lain," tambah Sophia.
"Mana tahu ganteng, kaya lagi," ujar Luki. Dia ikut membujuk Aiko agar mau dengan Frank.
Kenan langsung menutup mulut Gavin yang duduk di sampingnya.
"Ehm ... ehm .. " Gavin berusaha bicara.
"Bagus Kenan, nonaktifkan Gavin selama diskusi ini berlangsung," ucap Alex memuji aksi Kenan menutup mulut Gavin sebelum lebih ember lagi.
Sophia dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah Kenan dan Gavin.
"Gimana Aiko? Mau mencoba dulu gak?" tanya Alex.
"Kalau Frank jelek dan menyeramkan nanti ku pesankan roket buat mengirimnya ke bulan, biar dia cari jodoh yang satu level dengannya," ucap Tuan Matteo.
Luki dan Alex kompak mengenakan kaca mata hitam lalu berkata, "Kita gak ikut-ikutan ya."
Sophia tertawa kecil menutup mulutnya dengan tingkah suaminya yang konyol.
"Baiklah, aku akan coba dulu. Kebetulan jomblo juga, siapa tahu memang jodoh," jawab Aiko. Dia akan mencoba dulu. Dari pada penasaran dari kemarin soal Frank. Mana tahu memang jodohnya.
"Alhamdulillah," sahut Alex dan yang lainnya. Mereka senang Aiko mau mencoba dulu.
Kenan pun melepas tangannya dari mulut Gavin.
"Buset Kenan bau banget tangan Lo, abis megang apa sih?" tanya Gavin.
"Sorry tadi habis nggaruk ketek," jawab Kenan.
"Apa? Ketek?" Gavin terkejut mendengarnya.
Alex dan yang lain tertawa bersama. Sophia dan Aiko hanya tersenyum dengan perdebatan Kenan dan Gavin.
***
Esok harinya Aiko dan Sophia ditemani Alex dan Kenan pergi ke rumah Keluarga Howard. Aiko terlihat gugup duduk bersama Sophia di kursi belakang mobil. Sedangkan Alex dan Kenan duduk di kursi depan. Selama ini menjomblo membuat Aiko belum memiliki pengalaman untuk bicara dengan seorang laki-laki.
"Aiko, kau baik-baik saja?" tanya Sophia.
"Aku gugup Sophia," jawab Aiko.
Sophia mengulurkan tangannya. Memegang tangan Aiko yang dingin dan berkeringat karena gugup.
"Banyak berdoa dan yakin segala sesuatunya sudah ada yang mengatur," ujar Sophia.
Aiko mengangguk.
"Apapun nanti, kita di sini tidak memaksamu. Kalau kau merasa cocok lanjutkan jika tidak kau bisa menolak," ujar Sophia. Dia dan Alex tidak memaksa Aiko. Dia berhak menentukan untuk tetap melangkah ke depan dengan Frank atau mengakhirinya.
"Iya Sophia, tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Aku ingin menikah sepertimu. Punya anak dan keluarga," jawab Aiko.
Sophia mengangguk dan tersenyum pada Aiko yang duduk di sampingnya.
Mobil terus melaju sampai kediaman Keluarga Howard. Rumah besar yang di kelilingi padang rumput luas. Banyak anjing yang menjaga rumah besar itu.
"Sophia banyak anjingnya ya?" tanya Aiko.
"Iya, Mas Alex juga bilang begitu," jawab Sophia.
Aiko sedikit cemas dan gelisah. Dia berpikir mungkin Frank Howard sosok yang menyeramkan.
Alex dan Kenan turun dari mobil, begitupun Sophia dan Aiko. Mereka berjalan bersama di koridor halaman depan menuju ke rumah besar itu.
"Tempatnya luas dan masih asri, tapi mengapa Tuan Frank tinggal sendirian?" Aiko penasaran. Hanya ada pelayan laki-laki dan anjing yang menjaga rumah besar itu. Frank juga tinggal sendirian.
"Seluruh keluarga Frank Howard sudah meninggal, dia tinggal sendirian di sini," jawab Kenan menjelaskan.
"Jadi Frank Howard tinggal sendiri? Aneh juga ya?" Aiko sedikit ragu. Namun dia teringat ucapan Sophia. Jadi tetap yakin untuk melangkah dan mencoba dulu.
"Jangan memikirkan sesuatu hanya dari sampulnya, siapa tahu isinya menarik dan membuat kita senang," ucap Sophia menyemangati Aiko yang mulai gelisah.
"Makasih Sophia," jawab Aiko.
Sophia mengangguk.
Mereka berempat masuk ke dalam ruang tamu. Pelayan Frank mempersilahkan mereka duduk. Ada tirai yang membatasi ruang tamu. Aiko memperhatikan tirai itu.
"Aiko jangan heran melihat tirai itu, setiap bertemu Tuan Frank memang begini," ujar Kenan.
Aiko mengangguk.
"Semangat Aiko!" Alex dan Sophia menyemangati Aiko.
Aiko tersenyum meski agak gugup. Seperti apa Frank Howard dan mengapa dia selalu menggunakan tirai saat berkomunikasi dengan orang lain.