
"Sophia!" Alex langsung bangun. Dia mendekat. Menatap Sophia yang berbaring di ranjang melihat ke arahnya. Alex langsung tersenyum bahagia bercampur air mata.
"Aku menunggumu sangat lama Mas," ucap Sophia dengan pelan.
"Alhamdulillah," kata Alex bersyukur melihat Sophia sudah sadar. Dia langsung memegang pipi dan tangannya. Meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi. Sophia nyata, sudah hidup kembali dari kematiannya.
Pipi Sophia hangat. Nadinya berdenyut. Alex yakin Sophia memang sudah kembali untuknya.
"Terimakasih sayang, kau menungguku," ujar Alex sambil menangis. Tak kuasa menahan haru.
"Iya Mas, aku sangat merindukanmu," sahut Sophia. Meski suaranya lemah dan pelan tapi terdengar jelas. Sophia berusaha mengungkapkan semua yang dirasakannya.
Dokter Leon dan Kenan memutuskan untuk ke luar dari ruangan itu. Membiarkan dua insan itu saling mengungkapkan kerinduannya.
"Aku paling merindukanmu, setiap detik, setiap saat, aku ingin bertemu denganmu," kata Alex. Air matanya mengalir di pipinya. Bukan cengeng. Tapi air mata yang ke luar hanya untuk Sophia bidadari yang dikirim Allah SWT untuknya. Agar menerangi jalannya menuju jalan yang benar.
Sophia tersenyum. Meski belum leluasa. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
"Sophia, aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku lagi," ujar Alex meletakkan tangan Sophia di dadanya.
"Aku juga mencintaimu Mas," jawab Sophia.
Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Sophia. Menatap mata emerald yang selalu dirindukannya selama ini. Mencium bibir merah delima yang pucat itu. Sekejab mereka berciuman. Menyalurkan kerinduan, cinta dan kasih sayang yang menggelora di dalam hati dan pikirannya. Membiarkan sang waktu menunggu agar mereka bisa berciuman sampai puas.
"Maaf sayang dah lama enggak jadi kebablasan," ujar Alex. Tak enak hati mencium Sophia yang baru sadar udah kaya bebek nyosor comberan.
Sophia tertawa kecil. Tampak manis dipandang Alex. Membuatnya ingin menciumnya lagi. Alex mendekatkan wajahnya di depan wajah cantik Sophia yang sedikit pucat.
"Mau apa Mas?" tanya Sophia. Menatap wajah Alex yang tampan. Dia tidak tahu aja kalau sebelumnya Alex gimbal, bau dan kutuan. Hanya Kenan, Sekretaris Wang dan Aiko yang tahu. Semoga mereka tak ember apalagi Kenan yang punya foto Alex saat gimbal.
"Mau nyium lagi, kangen, pengen meluk juga," sahut Alex. Dia memang sudah merindukan sophia sejak lama.
"Kemarilah!" kata Sophia. Dia membuka kedua tangannya.
"Beneran sayang?" tanya Alex takut Sophia masih lemah.
"Tapi aku mungkin bau," kata Sophia.
Tiba-tiba Alex tertawa terbahak-bahak. Belum tahu aja Sophia kalau tadi Alex lebih bau darinya. Bahkan princes of bau.
"Gak papa sayang, sebau-baunya aku tetep cinta," sahut Alex.
"Astaga untung tadi ke salon kalau gak Sophia bisa kembali koma gara-gara aku bau," batin Alex. Dia tersenyum pada Sophia. Memeluknya Sophia. Mencium bibir, pipi dan keningnya.
"Sophia, I Love You," kata Alex. Menatap mata Sophia.
"I Love You Too Mas," jawab Sophia. Dia juga menatap mata Alex.
Kedua mata itu bertautan. Begitupun dengan hati mereka. Meski jarak dan waktu memisah, tapi cinta tak pernah pudar dan mati.
Di luar Dokter Leon dan Kenan duduk bersama. Mereka duduk di kursi yang berada di luar.
"Dok, Sophia tadi bukannya sudah meninggal tapi bisa hidup lagi," ujar Kenan.
"Ada hal yang tak bisa dijelaskan dalam dunia kedokteran yaitu kekuasaan sang pencipta," jawab Dokter Leon.
Secanggih-canggihnya dunia kedokteran tetap saja Allah SWT Yang Maha Berkuasa dan Maha Berkendak atas segala sesuatunya.
"Alhamdulillah Sophia sudah kembali, begitupun dengan Bosku, aku sangat bahagia melihatnya," kata Kenan. Tak bisa dipungkiri Kenan begitu senang dengan kembalinya Alex dan Sophia yang sudah kembali sadar.
"Aku juga senang melihat keduanya bisa kembali bertemu dan bersama," sahut Dokter Leon. Meski dia memendam perasaan pada Sophia tapi dia senang melihat Sophia bahagia bersama Alex.
"Astagfirullah, aku lupa memberi tahu keluarga Bos Alex dan Sophia kalau Bos Alex sudah come back dan Sophia bangkit dari koma," ujar Kenan menepok jidat. Dia lupa memberi kabar penting itu.
"Saya juga harus mengecek kondisi Sophia," sahut Dokter Leon.
"Kalau gitu aku pergi dulu Dok," ujar Kenan.
"Saya juga," sahut Dokter Leon.
Keduanya bangun. Berjalan ke arah berlawanan. Dokter Leon masuk ke ruangan di mana Sophia dirawat. Sedangkan Kenan mencari tempat yang sepi untuk menelpon.
Dokter Leon menghampiri Alex dan Sophia yang sedang asyik bercengkrama. Alex terlihat sedang duduk dan memegang tangan Sophia.
"Dok," sapa Alex dan Sophia melihat Dokter Leon masuk.
Dokter Leon mengangguk. Tersenyum pada Sophia dan Alex.
"Saya akan memeriksa kondisi Sophia dulu ya," ujar Dokter Leon berdiri di samping ranjang yang berada di seberang tempat Alex duduk.
"Iya Dok, silahkan!" jawab Alex. Sedangkan Sophia hanya memberi anggukkan dan senyuman.
Dokter Leon bergegas memeriksa Sophia. Dia senang Sophia sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dia juga lebih ceria. Itu karena adanya Alex di sisinya.
"Ternyata bukan aku yang bisa membuatmu tersenyum dan bangun dari koma, semoga kau bahagia dengannya Sophia," batin Dokter Leon. Hati ya begitu perih. Ternyata bukan dirinya yang bisa membahagiakan Sophia tapi Alex.
Setelah selesai memeriksa Dokter Leon ke luar dari ruangan itu. Tinggal Alex dan Sophia yang lagi jatuh cinta. Mereka saling meluapkan apa yang dirasakannya.
***
Kenan duduk di ruangan tunggu yang lebih sepi. Dia menelpon Keluarga Sebastian.
Tuuut ... tuuut ... tuuut ...
Tak lama telpon dari Kenan diangkat oleh Keluarga Sebastian.
"Assalamu'alaikum," ucap Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Claudya.
"Aku memiliki kabar baik untuk Keluarga Sebastian," ujar Kenan.
"Kabar baik apa?" tanya Claudya. Dia ingin tahu kabar baik apa yang akan disampaikan Kenan padanya.
"Sophia sudah sadar," jawab Kenan.
"Apa? Kak Sophia sudah sadar?" Claudya terkejut. Dia tak menyangka Sophia sudah sadar. Setelah satu tahun berlalu.
"Iya, bahkan Bos Alex sudah kembali, dia ada di rumah sakit," kata Kenan. Dia senang bisa menyampaikan kabar baik itu pada Claudya. Biar seluruh anggota Keluarga Sebastian tahu.
"Apa? Kau tidak bohong Sekretaris Kenan?" tanya Claudya suaranya melemah.
"Tidak, Bos Alex ada di sini menemani Sophia yang sudah sadar," jawab Kenan.
Tiba-tiba tak ada suara yang terdengar dari Claudya. Hening.
"Hallo Claudya? Claudya?" Kenan memanggil-manggil. Tak ada tanggapan dari Claudya.
"Apa dia syok ya?" tebak Kenan.
Karena tak ada respon lagi, akhirnya dia mematikan telponnya. Dia mencari nomor kontak istri tercinta. Kemudian menekan tombol hijau pada layar handphone itu
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Nada.
"Mi, Sophia sudah sadar," kata Kenan.
"Beneran Pi? Kau tak sedang bercanda?" tanya Nada.
"Gak Mi, beneran!" jawab Kenan.
"Alhamdulillah," sahut Nada. Dia senang mendengar kabar Sophia sudah sadar. Hal itu sudah ditunggu sejak lama. Dia ingin Sophia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Alex juga sudah kembali Mi," ujar Kenan.
"Apa? Suami Sophia sudah kembali?" Nada terkejut.
"Iya, tapi jangan pingsan Mi, atur nafas baik-baik," ujar Kenan.
"Huh ... huh ... huh ..." Nada mengatur nafasnya saking senangnya, dia syok seperti Claudya.
"Nanti ku telpon lagi Mi, aku mau menelpon Keluarga Harold," kata Kenan. Tinggal satu lagi yang harus dikabarinnya.
"Iya Pi," jawab Nada.
Kenan menutup sambungan telponnya. Dia kembali menelpon. Tapi kali ini dia menelpon Keluarga Harold.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Harry.
"Mati aku kenapa bokap si Bos yang angkat, bisa diintimidasi double nih," batin Kenan yang takut pada Pak Harry yang notabennya galak.
"Ada apa Kenan? Kau membuang waktuku saja," ujar Pak Harry sudah kesal duluan.
"Begini Bos besar, Sophia sudah sadar," kata Kenan.
"Kau tak bohongkan? Aku punya pedang tajam di rumah," jawab Pak Harry.
"Astaga, beresiko sekali memberi tahu Bos besar," batin Kenan sambil memegang lehernya. Ngilu kena teb4san pedang Pak Harry.
"Tidak Bos Besar, saya berkata jujur," sahut Kenan.
"Alhamdulillah," jawab Pak Harry suka cita mendengar Sophia sudah sadarkan diri.
"Bos Alex juga sudah kembali," kata Kenan.
"Apa? Kau tidak bercanda? Pistolku banyak pelurunya," ujar Pak Harry.
"Ampun tadi pedang sekarang pistol, terancam sekali nyawaku," batin Kenan. Serba salah mau memberitahu Keluarga Harold. Pak Harry bisa mencingcangnya kalau salah bicara.
"Tidak Bos besar, bisa cek sendiri ke sini," sahut Kenan.
"Awas kalau kau bohong! Aku siap menyun4tmu ulang," kata Pak Harry.
"Nasib si junior jadi perkedel," batin Kenan. Antara menyesal dan terancam menghubungi Keluarga Harold.
"Tidak Bos Besar, beneran!" sahut Kenan.
"Oke, aku dan keluargaku akan ke sana," jawab Pak Harry.
Kenan mengelus dada. Seneng akhirnya bisa mengakhiri telponnya. Udah jantungan ngomong sama Pak Harry. Jika diteruskan bisa tua sebelum waktunya karena stress terus.