
Tuan Matteo tak menggubris teriakan Claudya. Dia tetap menghajar Luki habis-habis. Luki diam tak melawan. Dia tahu persis Tuannya pasti kecewa dan marah. Claudya berlari ke arah mereka dikejar Alex di belakangnya.
Bruuug ...
Luki terjatuh di tanah. Dia sudah babak belur. Tak mampu berdiri lagi. Tuan Matteo masih belum puas. Dia maju ke depan. Namun Claudya berdiri di depan Luki. Membuka ke dua tangannya ke udara membentuk sudut 180 derajat. Menghadang Tuan Matteo.
"Jangan Tuan Matteo, Luki tidak bersalah," ujar Claudya.
Alex berhenti di belakang mereka. Dia rasa belum saatnya ikut campur. Ini masalah percintaan remaja. Dia akan ikut campur saat dirasa itu mulai berlebihan.
"Minggir Claudya!" teriak Tuan Matteo.
"Tidak, Luki tidak bersalah, dia menolongku Tuan," ujar Claudya.
"Menolong? Dia ingin membunuhmu," jawab Tuan Matteo.
"Mungkin awalnya iya, tapi Luki tidak melakukannya, dia justru menjagaku saat di hutan," ujar Claudya.
Tuan Matteo mengepalkan tangannya. Dia tak terima orang yang dicintainya disakiti Luki.
"Claudya, minggir!" titah Tuan Matteo.
Claudya menggeleng.
"Claudya biarkan, aku memang pantas dihajar," ucap Luki sambil memegang dadanya. Bibirnya sudah berdarah.
"Tidak, kau tidak salah Luki, aku tidak akan membiarkanmu menerima pukulan lagi," ujar Claudya menengok ke belakang.
"Claudya jangan membelanya, dia akan mencelakaimu," ujar Tuan Matteo.
"Tidak, dia tidak mencelakaiku, kalau iya, aku sudah mati dari kemarin, Luki menolongku," jawab Claudya.
"Claudya ku katakan sekali lagi, minggir!" titah Tuan Matteo.
Claudya menggeleng.
Tuan Matteo tetap melangkah ke depan emosinya belum turun. Untung Alex datang menepuk bahunya dari belakang.
"Emosi tidak akan menyelesaikan semuanya Tuan," ucap Alex.
Tuan Matteo terdiam. Mematung. Saat Alex mengatakan itu.
"Jangan membuat dirimu membunuhnya, biarpun dia bersalah, kau tak bisa membunuhnya karena emosi," ujar Alex.
Emosi Tuan Matteo mulai mereda. Dia mulai mengatur nafasnya kembali. Berjalan meninggalkan tempat itu. Begitupun Alex yang menyusul Tuan Matteo. Mereka masuk ke dalam mobil. Tinggal Claudya dan Luki. Claudya berbalik. Menolong Luki yang sudah babak belur.
"Luki kau tidak apa-apa?" tanya Claudya.
Luki menggeleng.
Claudya membantunya bangun. Memapahnya berjalan meninggalkan tempat itu. Masuk ke dalam mobilnya Luki. Dia mendudukkan Luki di kursi depan. Sedangkan Claudya duduk di kursi kemudi.
"Claudya pulanglah bersama Tuan Matteo, aku bisa sendiri," pinta Luki.
"Kau luka parah, mana mungkin menyetir jauh," ucap Claudya.
"Perjalanannya jauh, kau akan kelelahan, aku bisa sendiri," ujar Luki.
"Asal kau tidak membunuhku, aku bisa menyetir sampai kota," sahut Claudya.
Luki tersenyum. Sepertinya kata membunuh sudah menjadi ikon yang diingat Claudya.
"Dasar cerewet, keras kepala, aku bisa membunuhmu di jalan," ucap Luki.
"Aku tidak takut, aku punya antibodinya," sahut Claudya.
Tiba-tiba Tuan Matteo menghampiri mobil Luki.
Dia membuka pintu mobil di bagian kemudi.
"Claudya ikut aku pulang," pinta Tuan Matteo.
"Tapi Luki?" ujar Claudya.
"Biar anak buahku yang menemaninya," ucap Tuan Matteo.
Claudya menengok ke arah Luki sesaat. Dia tak tega meninggalkannya.
"Pergilah! Aku baik-baik saja," ucap Luki.
Claudya mengangguk. Dia turun dari mobil. Ikut bersama Tuan Matteo masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Luki masih melihat ke arah depan.
"Kenapa rasanya kecewa saat Claudya tak bersamaku?" batin Luki.
Tak lama mobil yang dinaiki Tuan Matteo pergi. Begitupun mobil milik Alex dan mobil lainnya. Luki melihat perban yang dibalutkan di tangannya. Dia jadi teringat Claudya dan waktu bersamanya.
Luki tersenyum. Mencium perban itu. Seakan perban itu berarti untuknya. Menjadi sebuah kenangan yang akan disimpan olehnya. Dua hari yang penuh kenangan, dia bahkan mengingat setiap hal yang dilakukannya bersama Claudya. Luki memegang bibirnya. Masih terasa bibir ranum milik Claudya. Sentuhan itu membuatnya candu.
"Luki kau jangan mesum, aku tak mau jadi tumbal kemesummanmu," ucap Mamat anak buah Tuan Matteo yang biasa ngobrol dengan Luki. Dia masuk ke dalam mobil.
"Oalah udah waras, tak pikir masih abu-abu," sahut Mamat yang duduk di kursi kemudi.
"Ayo jalan Mat, pengen ngelamunnya di rumah," ucap Luki.
"Sainganmu itu loh, dak mudah, Bos besar," sahut Mamat sambil menyetir.
"Gue tahu, makanya gue tahu diri," jawab Luki.
"Loh kok loyo, selama janur kuning belum dipasang yo perjuangkan, kalau aku sih kabur, dak sanggup, muka pas-pasan," sahut Mamat.
Luki tertawa kecil. Mendengar ucapan Mamat.
"Benar juga, aku hanya bisa mengagumi, lagi pula apa perasaan ini cinta?" batin Luki.
"Enak toh mesumin cewek, dari pada mesumin cowok, apa toh yang seksi dari cowok? Kalau cewek jelas dada montok, bokong manyus, bibir manis, apalagi yang satu itu, enak tenan," ujar Mamat.
"Satu itu apa Mat?" tanya Luki.
"Kasihan, belum tahu ya? makanya jangan mainin terong mulu," ucap Mamat.
"Apa sih penasaran?" tanya Luki yang masih polos, selama ini diotaknya cuma cowok tak pernah membayangkan cewek.
"Ada satu kenikmatan kalau udah kita masukin, pokoknya gak ada duanya, mantep tenan," ujar Mamat.
Luki terdiam belum paham sepenuhnya maksud Mamat.
"Nanti paham kalau dah nikah sama cewek yo, jangan cowok, pastikan nikahin yang perawan biar ada gregetnya," ucap Mamat.
"Memangnya kau sudah merasakannya Mat?" tanya Luki.
"Yo wis lah, akukan wis rabi, malah dua kali nambah," sahut Mamat.
"Tak setia," sahut Luki.
"Tapi yang satunya tak secantik di FB, waktu nikah mukanya lain, nyesel deh," ucap Mamat.
"Syukurin makanya nikah sekali aja, kena azab itu," ujar Luki.
Mamat tertawa. Benar juga kata Luki. Demi mendapatkan yang lebih cantik tak tahunya hasil editan. Filternya kekencengan sampai handphone-nya nangis.
"Wis nanti tak ajari kalau kau sudah ada calonnya, semalaman kuat sampai pagi, kalau dak masuk UGD yo," ujar Mamat.
"Mat aku gak paham maksudmu tadi?" tanya Luki.
"Susah yo ngasih tahunya, Mba Claudya tahu, paling didampar kalau tanya dia," ujar Mamat.
"Memang kenapa?" tanya Luki.
"Oalah polose, tak pikir ngerti bagian penting wanita, ternyata ngertine terong karo timun," ujar Mamat.
Luki terdiam memikirkan ucapan Mamat.
"Wis jangan dilamunin kalau dak ngerti, tar aja nikah dulu, secara alami pasti ngerti dewe, kalau dak ngerti juga moso tak ajari toh," ujar Mamat.
Luki tertawa. Lucu juga ngobrol bareng Mamat. Setidaknya menghilangkan rasa galaunya karena kepergian Claudya.
Di mobil yang berbeda, Tuan Matteo duduk pinggir, begitupun Claudya. Alex berada di tengah. Dia tidak naik mobilnya. Tapi pindah naik mobil Tuan Matteo. Claudya menyandarkan kepalanya pada Alex. Dia tertidur karena kelelahan.
"Kenapa disatpamin gini, gimana mau godain si cinta," batin Tuan Matteo.
"Tuan Matteo kemarin saya sudah memantau proyek pembangunan yang baru, daerahnya cukup strategis," ujar Alex.
"Kenapa mesti bicara bisnis, orang lagi kangen juga," batin Tuan Matteo.
"Tuan Matteo ...," panggil Alex.
"Iya Bos Alex, saya setuju," sahut Tuan Matteo.
Tangan Tuan Matteo merayap di belakang Alex ingin menyentuh tangan Claudya eh ternyata itu tangan Alex.
"Tuan Matteo kenapa Anda memegang tangan saya? Ada yang salah?" tanya Alex.
"Astaga, pantes kasar, gede, gak imut," batin Tuan Matteo.
"Saya sedang mencari handphone saya, tadi di kursi, mungkin nyelip," sahut Tuan Matteo.
"Itu handpnone Anda di saku," ujar Alex.
"Ampun, kena mental, memalukan di depan calon kakak ipar," batin Tuan Matteo. Segera dia melepas tangannya dari tangan Alex. Kembali duduk dengan manis.
"Eh iya, saya lupa Bos Alex, maklum terlalu banyak pikiran," sahut Tuan Matteo.
Alex mulai paham. Tuan Matteo naksir adiknya. Pasti ada sesuatu antara adiknya dan Tuan Matteo. Tak mungkin Tuan Matteo tahu Claudya hilang dan begitu panik saat mencarinya.
"Apa Anda menyukai adik saya?" tanya Alex.