Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Akan Melahirkan



Baca dulu episode sebelumnya baru nyambung ke episode ini. Semalam author mengantuk beresin pakaian habis mudik. Jadi baru sepotong yang diupload.


Jangan lupa like, komen dan vote!!!


.


.


Rumah Sakit Mother And Children


Sophia langsung ditangani Dokter kandungan. Di ruang bersalin. Di luar Keluarga Sebastian, Keluarga Harold dan Keluarga Wijaksana sudah berkumpul. Mereka duduk menunggu. Tak lama Dokter Kandungan ke luar dan mengajak salah satu perwakilan dari Sophia untuk berbicara.


"Saya saja Dok," kata Gavin. Dia merasa bertanggungjawab sebagai ganti kakaknya.


"Baik, mari ikut saya," jawab Dokter itu.


Gavin ikut masuk ke dalam ruangan bersalin. Dia masuk ke dalam ruang Dokter Kandungan yang ada di ruangan bersalin itu. Gavin duduk di kursi yang ada di depan meja Dokter.


"Apakah keluarga sudah tahu, kalau Nyonya Sophia menderita penyakit tertentu?" tanya Dokter.


"Menderita penyakit?" Gavin terkejut. Dia tidak tahu kalau Sophia menderita penyakit tertentu. Sophia juga tak pernah cerita apapun.


"Kami belum bisa memeriksanya lebih lanjut karena Nyonya Sophia sedang mengandung. Tapi melihat hasil tes darah dan USG, kemungkinan dia mengidap kanker hati," kata Dokter.


"Apa? Mengidap kanker hati?" Gavin terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Dia tak menyangka Sophia menderita penyakit kanker hati. Lemas saat dia mendengar kenyataan itu.


"Iya, kemungkinan Nyonya Sophia harus menjalani operasi caesar. Itu pun resikonya sangat besar," ujar Dokter.


Gavin terdiam. Dia benar-benar syok mendengar semua itu. Bagaimana dia menghadapi masalah ini dan menyampaikan pada keluarga.


Gavin berjalan ke luar dari ruangan bersalin. Langkahnya pelan. Menunduk lemas. Dia tak menyangka Sophia yang selalu tampak tegar dan ramah pada siapapun, ceria dan baik hati ternyata menyimpan rasa sakit yang tak pernah dia ungkapkan.


"Kak Gavin gimana?" tanya Claudya penasaran menghampiri Gavin.


"Vin Gimana Sophia?" tanya Luki.


Gavin hanya diam berjalan kembali ke tempat duduknya. Dia hanya diam menatap ke depan.


"Gavin, apa yang dikatakan Dokter padamu?" tanya Kakek David. Dia ingin tahu apa yang disampaikan Dokter. Dari tadi Kakek David sudah menunggu dengan khawatir.


"Vin, Dokter ngomong apa?" tanya Pak Ferdi.


Silih berganti satu persatu menanyakan keadaan Sophia dan apa yang disampaikan Dokter pada Gavin. Hanya saja Gavin terdiam. Dia termenung. Namun matanya berkaca-kaca.


"Vin jangan bikin kita cemas!" bentak Tuan Matteo yang biasa penuh kasih sayang marah juga.


"Vin kita- ..." kata Luki.


"Kak Sophia menderita kanker hati," potong Gavin menjawab semua pertanyaan dari semua orang yang penasaran dan mengkhawatirkan keadaan Sophia.


Hening.


Hening.


Semua orang yang tadi bertanya-tanya tiba-tiba terdiam. Menutup mulut mereka seketika. Terkejut mendengar ucapan Gavin. Wajah mereka berubah sendu.


"Gak lucu Kak leluconnya, kakak lagi bercandakan?" ujar Claudya yang tak percaya kalau Sophia menderita kanker hati. Dia tahu pasti Gavin sedang bercanda seperti biasanya.


Gavin hanya menggeleng. Air matanya jatuh di pipinya.


"Vin jawab kita!" pekik Kakek David. Sudah tak sabar lagi ingin tahu keadaan Sophia saat ini.


"Kek, sabar, nanti kambuh lagi," sahut Nenek Carroline. Mengelus dada Kakek David yang emosi dengan sikap Gavin. Dia tidak ingin penyakit jantung suaminya kambuh di saat seperti ini.


"Vin, bukan saatnya bercanda. Keadaannya sedang begini," ujar Pak Ferdi. Berdiri di depan Gavin yang duduk.


"Ku tonjok kau Gavin kalau kau bohong!" ancam Pak Harry. Dia emosi. Sebagai ayah kandung Alex, dia punya kewajiban menjaga Sophia dan calon cucu pertamanya.


"Sabar Pa, jangan menambah panas suasana ini," ucap Humaira menenangkan Pak Harry. Dia tidak ingin di saat menegangkan ini dipenuhi pertengkaran yang akan merugikan semua orang.


Pak Harry membuang nafas gusarnya. Kembali menenangkan hati dan pikirannya. Benar kata Humaira, suasana di tempat itu sudah sangat panas, tidak seharusnya dia menambah panas.


"Tadi Dokter bilang Kak Sophia kemungkinan menderita kanker hati dan meminta kita menghubungi Dokter yang menangani penyakitnya selama ini," ujar Gavin.


Semua orang terdiam sesaat.


"Iya, selama ini ternyata Sophia menyimpan sakitnya sendirian," tambah Paman Harun.


"Sebagai kakak, aku tidak tahu adikku sakit hik hik hik ..." Nada menangis. Dia merasa gagal jadi kakaknya Sophia. Dia tidak tahu penyakit yang diderita Sophia.


"Sabar sayang, kita semua juga tidak tahu, mungkin Sophia tidak ingin kita semua mengkhawatirkannya," kata Kenan bijak. Otaknya sedang kongslet.


Tak lama Aiko dan Sekretaris Wang datang. Mereka menghampiri seluruh keluarga Sophia.


"Bagaimana keadaan Sophia?" tanya Sekretaris Wang.


"Iya, apa Sophi baik-baik saja?" tanya Aiko.


"Aku ingin bicara dengan kalian berdua," pinta Kakek David.


Deg


Sekretaris Wang dan Aiko terkejut. Mereka merasa ada sesuatu yang akan dibicarakan dengannya. Kemungkinan tentang Sophia.


"Baik," jawab Sekretaris Wang dan Aiko. Mereka tak mungkin menghindar. Keadaan Sophia sudah dititik terendah.


Kakek David mengajak mereka pergi meninggalkan tempat itu bersama Pak Harry, Paman Harun, dan Tuan Matteo.


Di sudut ruangan tunggu yang cukup sepi mereka bicara. Duduk bersama. Sebagian berdiri. Dengan wajah tampak dingin, marah dan kesal.


"Apa kalian tahu sakit yang diderita Sophia?" tanya Kakek Davin dengan tatapan dingin.


Sekretaris Wang dan Aiko terdiam. Mereka tak bergeming. Menunduk.


"Jawab, pasti kalian tahu soal Sophia sakitkan?" tanya Tuan Matteo marah.


Mereka berdua masih terdiam.


"Aku paling tak sabar dengan hal seperti ini," kata Pak Harry. Mengepalkan tangannya.


"Sekretaris Wang, Aiko, nyawa Sophia sekarang dipertaruhkan. Kami mohon bicaralah dengan sejujurnya," kata Paman Harun.


"Iya, aku sudah tahu Sophia sakit sejak SMP," jawab Sekretaris Wang. Dia diminta Sophia untuk merahasiakan penyakitnya.


"Kenapa kau tak bilang!" Tuan Matteo marah.


"Sabar Nak Matteo, kita bicara baik-baik," ujar Paman Harun.


Tuan Matteo membuang nafas gusarnya.


"Sophia meminta kami untuk merahasiakan ini," jawab Aiko. Dia merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi.


"Sebaiknya kita fokus pada Sophia, jangan saling menyalahkan," kata Pak Ferdi.


Semuanya mengangguk.


"Tolong hubungi Dokter yang menangani Sophia!" titah Kakek David.


Sekretaris Wang dan Aiko mengangguk.


Setelah itu Sophia dibawa ke ruang operasi. Semua anggota keluarga Sophia, Sekretaris Wang dan Aiko duduk di luar operasi menunggu proses operasi itu.


"Mari kita berdoa untuk Sophia, agar diberi kelancaran dalam proses operasinya," kata Kakek David.


Semuanya mengangguk. Berdoa untuk Sophia sesuai agamanya masing-masing.


Dua jam berlalu. Operasi pun sudah selesai. Dokter Leon berbicara pada perwakilan keluarga Sophia. Dia duduk di dalam ruangan bersama Tuan Matteo.


"Kondisi Sophia menurun drastis. Sebelum operasi dia meminta agar kami menyelamatkan anaknya," kata Dokter Leon.


Tuan Matteo menggeleng. Dia tak percaya dengan apa yang disampaikan Dokter Leon padanya.


"Tidak mungkin Dok, tidak mungkin," kata Tuan Matteo.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain," ujar Dokter Leon tampak sedih.


Bersambung ...


Masih belum lengkap percakapan Dokter Leon dan Tuan Matteo. Masih ada yang akan dibicarakan mereka.