Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Maafkan Aku Vera



"Sial aku peduli padanya," ujar Jack. Mau tak mau dia kembali ke dalam rumahnya. Menerobos kobaran api. Jack mencari Vera. Kedua netranya mencari keberadaan gadis yang dulu pernah dilecehkannya. Menyapu semua tempat di lantai bawah.


"Vera!" teriak Jack.


Tak ada balasan. Hanya suara kobaran api yang membakar rumah itu.


"Vera!" teriak Jack kembali berteriak.


"Jack!" Suara Vera terdengar pelan.


"Vera kau di mana?" tanya Jack. Berusaha mencari sumber suara yang terdengar semakin lemah.


"Jack!" Vera memanggil Jack. Suaranya semakin mengecil dan hampir tak terdengar.


"Kau di mana?" Jack berjalan. Masuk ke dalam ruang keluarga yang sudah dipenuhi api. Dia melihat Vera berbaring di lantai. Kakinya tertindih lampu gantung.


"Vera!" teriak Jack.


"Jack!" Suara Vera lemah. Mungkin karena banyak asap yang dihirup olehnya.


Jack melihat api yang membatasi keduanya. Dia mencari cara melewati api itu. Jack melihat gorden. Dia berlari ke arah gorden menariknya. Membawa kain gorden itu ke wastafel yang ada di ruang keluarga. Jack membasahi gorden itu. Kemudian memadamkan api di depannya dengan gorden basah itu. Meskipun tak bisa memadamkan semuanya paling tidak dia bisa melewati sebagiannya.


Jack melompat masih membawa kain gorden basah itu. Dia berjongkok. Mengangkat lampu gantung yang berukuran cukup besar itu. Menyingkirkan dari kaki Vera.


"Jack pergilah! Api semakin besar," ujar Vera.


"Kalau aku pergi bagaimana aku menebus kesalahanku padamu," sahut Jack.


"Aku bisa mencelakai siapapun, pergilah! Biarkan aku mati demi kebaikan semua orang," ujar Vera. Dia mulai menyadari kalau dirinya memiliki dua kepribadian. Satu kepribadiannya yang begitu kejam dan sadis. Sisi gelapnya yang timbul karena trauma yang dialaminya.


"Kau harus direhabilitasi, aku yakin kau bisa sembuh, biarkan aku menebus semuanya," sahut Jack.


Vera membantu Jack mengangkat lampu gantung itu sampai terangkat. Dan bisa disingkirkan dari kaki Vera.


"Syukurlah, ayo kita ke luar!" ajak Jack.


"Kakiku sakit Jack," sahut Vera.


Jack langsung menggendong Vera di punggungnya,menyelimutinya dengan gorden basah itu yang ditalikan hingga ke lehernya. Perlahan Jack ke luar dari dalam rumahnya sampai ke luar.


"Kita selamat Vera," ujar Jack. Dia melepas gorden itu. Vera ada di punggungnya.


"Iya, terimakasih Jack," jawab Vera.


Jack mengangguk.


Di depan gerbang polisi sudah mengepung rumah itu bersama pemadam kebakaran. Polisi menangkap Vera. Membawa masuk ke dalam mobil.


"Pak saya ingin bicara dengan Vera dulu," ujar Jack.


"Nanti Mas bisa membesuknya di penjara. Kalau ingin memberi kesaksian silahkan datang."


"Tapi Pak," sanggah Jack.


"Mohon kerjasamanya, kami hanya menjalankan tugas."


Jack hanya bisa melihat kepergian Vera yang dibawa polisi. Dia merasa sangat bersalah. Kalau saja dulu dia tidak merundung Vera dengan teman-temannya semua ini takkan terjadi.


***


Jack berjalan di lorong klub malam miliknya. Wajahnya terlihat murung tak seperti biasanya. Bisnis wanita malam miliknya sudah ditutup. Klub malamnya juga sudah tak pernah diurus. Jack seperti kehilangan semangat hidupnya. Bukan karena kebakaran rumahnya yang membuatnya rugi milyaran rupiah tapi ada rasa bersalah yang terus menghantuinya. Jack masuk ke ruangannya yang berada di lantai tiga klub malam itu. Dia masuk ke dalam. Duduk di sofa. Menyandarkan punggungnya. Menatap langit-langit atap gedung itu.


"Vera," lirih Jack. Nama itu terus menghantui pikirannya. Seakan terus muncul baik dia sadar maupun sedang bermimpi.


Tak lama dua gadis perawan masuk ke ruangannya. Mereka duduk di samping kanan dan kiri Jack. Meraba dadanya. Seketika Jack memegang tangan kedua gadis itu. Menghentikan tindakan keduanya.


"Siapa yang menyuruh kalian masuk ke ruanganku?" tanya Jack.


"Kami hanya disuruh anak buah Bos, untuk menghibur Bos yang tidak bersemangat."


"Iya Bos, kita bisa servis Bos biar semangat lagi."


Jack mencengkram dengan kencang kedua tangan gadis itu.


"Aw ... ampun Bos."


"Ampun."


"Kalau kalian berani menggodaku lagi, aku tak segan melumatkan tulang ini," ancam Jack.


"Tidak Bos, ampun."


Jack melepas tangan kedua gadis perawan itu. Mengusirnya dari ruangannya. Segera kedua gadis itu kabur dari pada kena sembur Jack yang sedang tak bersahabat.


"Vera, maafkan aku," ujar Jack. Dia merasa terus bersalah. Wajah Vera saat menangis, ketakutan, menjerit kesakitan, dan memohon ampun terlintas di benaknya. Jack merasa sangat bersalah. Dia merasa hidupnya bagai kapal yang berlayar tapi tak tau arah tujuan. Entah mau berlabuh di mana, hanya mengapung di lautan tanpa kepastian.


***


Dua minggu berlalu. Vera direhabilitasi setelah terbukti memiliki gangguan kejiwaan dari pemeriksaan kejiwaan dan Dokter Joko Santoso yang selama satu tahun ini menanganinya. Mak Ros, Maria dan Gavin menjenguk Vera di rumah sakit jiwa. Dia duduk di kursi taman termenung. Mereka menghampiri Vera.


"Vera," sapa Maria.


"Kak Maria," sahut Vera.


"Vera kangen kakak," ujar Vera.


"Kakak juga kangen padamu Vera," sahut Maria.


"Mak juga rindu padamu Vera," tambah Mak Ros.


Vera melepas pelukan Maria. Tersenyum pada Maknya dan Gavin.


"Kau harus sembuh, kita akan berkumpul lagi," ujar Mak Ros.


"Iya, aku yakin kau bisa sembuh Vera," kata Gavin.


"Semangat Dek! kakak akan selalu mendukungmu, mendoakanmu agar kau bisa sembuh dan kita bisa berkumpul lagi," ujar Maria.


"Iya, makasih Mak, Kak Maria dan Gavin. Maafkan Vera kalau secara tak sengaja melukai kalian semua," sahut Vera.


"Kami sudah memaafkanmu Nak," ujar Mak Ros.


"Iya," sahut Maria dan Gavin.


"Assalamu'alaikum," sapa Jack menghanpiri mereka berempat yang sedang melepas rindu.


Vera melihat ke arah Jack yang datang begitupun yang lainnya.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Siapa kau?" tanya Mak Ros.


Jack langsung berlutut di kaki Mak Ros. Dia merasa bersalah atas perbuatannya di masa lalu.


"Maafkan aku Mak, karena perbuatanku dan teman-temanku, Vera jadi begini," ujar Jack.


Deg


Mak Ros terkejut. Dia baru tahu pelaku perundungan itu Jack dan teman-temannya. Selama ini pihak sekolah melindungi mereka. Mak Ros sendiri tidak bisa bertanya pada Vera dengan kondisinya saat itu. Apalagi Jack dan teman-temannya bukan teman sekelas Vera itu membuat Mak Ros tidak mengetahui siapa pelaku perundungan itu.


Mak Ros langsung menendang Jack. Memekuli tubuh Jack dengan tangannya sendiri.


"Kau jahat! Jahat! Gara-gara kau Vera jadi begini!" Mak Ros murka.


"Mak!" Maria dan Gavin menghampiri Mak Ros. Mereka berusaha menghentikan Mak Ros yang memukul Jack.


"Sudah Mak! Ku mohon!" pinta Maria sambil memeluk Mak Ros dari belakang sedangkan Gavin menarik Jack meninggalkan tempat itu. Pergi ke halaman belakang yang ada di rumah sakit jiwa. Di sama lebih sepi. Hanya rerumputan dan pepohonan yang berada di tepi halaman. Gavin menghajar Jack. Melampiaskan amarahnya. Mewakili kemarahan Mak Ros.


Dug ... dug ... dug ...


Jack tidak melawan, membiarkan Gavin memukulnya sampai babak belur. Dia tahu apa yang sudah dilakukannya pada Vera sudah sangat keterlaluan.


"Bunuh aku! Aku ikhlas!" pinta Jack.


Gavin memegang kerah kemeja Jack. Menatapnya tajam penuh kemarahan.


"Enak sekali kau mau mati sekarang, sementara Vera harus menanggung kesedihannya seumur hidup," ujar Gavin.


"Aku tahu, lalu hukuman apa yang pantas untukku?" tanya Jack dengan wajah yang sudah babak belur.


"Perbaiki semuanya dan kembalikan senyuman Vera seperti dulu lagi," jawab Gavin.


Jack terdiam. Perkataan Gavin membuatnya berpikir mungkin benar seharusnya dia memperbaiki semuanya dan mengembalikan senyuman Vera.


Gavin membanting Jack ke bawah.


Bruuug ...


Jack terjatuh di bawah. Dia berbaring di rerumputan.


"Kenapa kau diam? Kau tidak mau?" tanya Gavin maju ke depan hendak memukul Jack kembali namun Vera menghalanginya. Dia berada di depan tubuh Jack.


"Cukup! Cukup Gavin!" pinta Vera.


"Biarkan aku menghajar lelaki brengsek itu Vera!" pekik Gavin.


"Tidak, ku mohon biarkan dia pergi," sahut Vera.


Melihat Vera memohon emosi Gavin menurun. Tangannya yang tadi mengepal terurai kembali. Nafasnya mulai stabil seperti semula.


"Kau lihat Vera masih baik padamu! Jika tidak, aku akan memukulmu sampai kau tak bisa bangun lagi," ujar Gavin. Matanya menatap tajam Jack kemudian meninggalkan tempat itu. Tinggal Vera dan Jack yang berada di tempat itu, Vera membantu Jack bangun. Memapahnya sampai ke tepi halaman. Duduk di kursi bersama Jack.


"Vera maafkan semua kesalahanku," ujar Jack.


Vera hanya terdiam. Tak menjawab perkataan Jack.


"Aku tahu aku salah, kau jadi seperti ini karena aku dan teman-temanku," kata Jack.


Vera masih terdiam. Membiarkan Jack berbicara sendirian.


"Vera izinkan aku menebus semua kesalahanku, biarkan aku mengabdikan seumur hidupku untuk merawatmu," ujar Jack. Dia berlutut di depan kaki Vera yang sedang duduk.


Jack menanti jawaban Vera yang masih terdiam. Apakah Vera akan menerima tawaran Jack untuk merawatnya seumur hidupnya atau tidak.