Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pilihan



"Tadi aku menabrak orang," jawab Tuan Matteo.


"Apa? Menabrak orang?" Claudya terkejut mendengar kabar yang disampaikan suaminya.


"Iya sayang, aku tak sengaja menabraknya," sahut Tuan Matteo. Dia benar-benar tak sengaja menabrak wanita yang tadi menyeberang di depan mobilnya.


"Terus kondisinya gimana sayang?" tanya Claudya.


"Dia lumpuh," jawab Tuan Matteo. Ekspresi di wajahnya menggambarkan rasa bersalahnya.


"Lumpuh?" Claudya terkejut.


"Semua salahku, aku sudah menyebabkan dia lumpuh," ujar Tuan Matteo tampak bersedih dan putus asa. Melihat itu Claudya langsung memeluknya.


"Sabar ya sayang, mungkin ini ujian untuk kita," ujar Claudya.


"Iya sayang, maafkan aku," sahut Tuan Matteo.


Claudya melepas pelukannya. Meletakkan tangan Tuan Matteo di perut datarnya.


"Aku hamil sayang," ujar Claudya. Dia memberi kabar bahagia di atas kabar duka yang dibawa suaminya.


"Kau hamil sayang? Beneran?" Tuan Matteo memastikan apa yang didengarnya bukan sebuah kebohongan.


"Iya, aku hamil," jawab Claudya.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Di balik ujian ada penyemangat untukku bertahan," ujar Tuan Matteo.


"Iya sayang, Allah menguji kita karena Allah sayang pada kita," sahut Claudya.


Tuan Matteo mencium perut datar istrinya. Dia begitu bahagia dengan hadirnya buah hati di antara keduanya.


"Aku tidak takut lagi melewati semua ini, ada dede bayi yang akan jadi semangat untukku," ujar Tuan Matteo.


"Kita lewati semuanya bersama ya sayang," kata Claudya.


Tuan Matteo mengangguk. Kini dia tidak akan menyerah menghadapi semua ini. Ada Claudya dan buah cintanya. Setiap ujian pasti ada jalan ke luarnya. Allah SWT takkan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.


***


Pagi itu Tuan Matteo dan Claudya pergi ke rumah sakit membawa Ezar bersama mereka. Keduanya ingin menjenguk Sora. Biar bagaimanapun semua yang terjadi pada Sora secara tidak sengaja disebabkan Tuan Matteo. Untungnya pagi itu tidak ada Ibu Nita. Dia sedang pergi ke kontrakannya untuk mengambil pakaian untuk Sora.


Tuan Matteo dan Claudya masuk ke dalam ruangan rawat inap itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Tuan Matteo dan Claudya.


"Wa'alaikumsallam," sahut Sora.


Tuan Matteo dan Claudya masuk ke dalam. Ezar berjalan lebih dulu. Menghampiri Sora. Melihat itu entah kenapa Sora begitu menyayangi anak yang berdiri di depannya. Sora membelai wajah anak itu. Tak terasa air mata menetes di pipinya.


"Ezar!" panggil Claudya.


Ezar menoleh ke arah Claudya. Langsung berlari memeluk Claudya.


"Bunda!" sahut Ezar.


Sora melihat kedekatan Claudya dan Ezar. Dia jadi rindu pada anaknya yang hilang, mungkin kalau masih ada pasti sudah sebesar Ezar.


"Maaf ya Ezar memang suka begitu pada orang baru," ujar Claudya.


"Tidak apa-apa," sahut Sora.


Tuan Matteo dan Claudya mendekat. Begitupun dengan Ezar. Dia terlihat senang saat bertemu Sora. Tangannya menegang tangan Sora.


"Dia?" Sora penasaran siapa Ezar.


"Dia Ezar Fauzan, anak angkat kami," jawab Tuan Matteo.


"Anak angkat?" ucap Sora.


"Iya, kami mengangkat Ezar sebagai anak kami," jawab Claudya.


"Kami mengangkatnya Ezar dari panti asuhan," jawab Claudya.


Mata Sora berkaca-kaca melihat Ezar. Dia merindukan sosok anaknya.


"Bolehkah aku memeluk Ezar?" tanya Sora pada kedua orangtua Ezar.


Tuan Matteo dan Claudya mengangguk.


"Ezar mendekatlah!" pinta Sora.


Ezar langsung mendekat. Bergegas Sora yang berada di posisi duduk memeluk Ezar. Rasanya sama dengan memeluk putranya yang hilang.


Sora membuka kerah baju belakang Ezar. Ada tanda hitam di punggungnya. Tanda lahir yang sama dengan anaknya.


"Apa Ezar anakku?" batin Sora. Terkejut melihat tanda lahir itu. Dia menutupnya kembali. Melepas pelukannya. Ezar pun kembali ke pelukan Claudya.


"Nona Sora, saya Matteo Renaldi, dan istri saya Claudya Nesya. Ini putra angkat kami Ezar Fauzan. Kedatangan kami ke sini untuk minta maaf, atas kesalahanku yang kemarin," ujar Tuan Matteo.


"Iya, tanpa disengaja sudah membuat Nona jadi seperti ini," tambah Claudya.


Apapun itu Tuan Matteo tetap bersalah dalam kejadian ini. Dia dan Claudya berusaha untuk minta maaf. Soal konsekuensi dari kesalahan itu mereka siap melewatinya bersama.


"Sebenarnya anda tidak sepenuhnya bersalah, saya juga yang tidak berhati-hati. Mungkin karena saya terlalu bersemangat di hari pertama saya bekerja," sahut Sora.


"Tapi tetap saja kami minta maaf, ini pasti berat untuk Nona," ujar Tuan Matteo.


"Aku sudah memaafkan, awalnya memang berat menerima takdir yang terjadi padaku. Tapi semua ini sudah terjadi mau gimana lagi," jawab Sora.


"Kami akan bertanggung jawab sampai kau bisa berjalan kembali," ujar Claudya.


"Terimakasih," sahut Sora.


Tiba-tiba Ibu Nita masuk ke dalam ruangan itu.


"Untuk apa kalian ada di sini?" ujar Ibu Nita.


"Kami ingin meminta maaf pada anak ibu," jawab Tuan Matteo.


"Minta maaf, mudah sekali minta maaf. Lihat anakku! Dia lumpuh karena kau!" Ibu Nita marah-marah. Dia tak terima melihat anaknya lumpuh dan masa depannya hancur.


Ezar terlihat takut. Memeluk kaki Claudya. Melihat itu Sora jadi mengkhawatirkan Ezar.


"Bu, sudahlah! Semua sudah takdirku," ujar Sora.


"Takdir? Kau sampai lumpuh begini? Sedangkan dia hanya minta maaf?" sahut Ibu Nita.


"Aku sudah memaafkannya Bu, semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Tuan Matteo," sanggah Sora. Dia tahu apa yang terjadi padanya tidak sepenuhnya salah Tuan Matteo.


"Tidak bisa, dia harus bertanggungjawab, dia sudah menghancurkan masa depanmu," tolak Ibu Nita. Dia tak terima hanya diberi kata maaf.


"Bu mereka sudah bertanggung jawab dengan datang ke sini dan akan mengobatiku sampai sembuh," kata Sora.


"Tidak bisa, itu saja tidak cukup. Lalu bagaimana dengan masa depanmu. Apakah akan ada lelaki yang akan menikahi wanita lumpuh?" ujar Ibu Nita.


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab, Sora akan sembuh sampai bisa berjalan lagi. Dan kami akan membiayai apapun untuk masa depannya," ujar Tuan Matteo. Dia tidak akan lepas tanggung jawab. Dia akan memastikan masa depan Sora terjamin.


"Kau pikir bisa membayarku dengan itu. Nikahi anakku atau ku laporkan kau ke penjara!" ancam Ibu Nita.


Tuan Matteo dan Claudya terdiam dengan ucapan Ibu Nita.


"Bagaimana?" tanya Ibu Nita. Dia yakin Tuan Matteo akan memilih menikahi anaknya dari pada di penjara. Siapa yang ingin di penjara.


"Aku siap di penjara, dari pada menduakan istriku," jawab Tuan Matteo. Tanpa keraguan. Dia lebih memilih di penjara dari pada menduakan istrinya.


"Sayang?" Claudya memegang tangan Tuan Matteo. Menatap wajahnya.


"Aku mencintaimu, takkan pernah ada yang bisa membuat itu berubah," sahut Tuan Matteo.


Claudya tersenyum. Dia dan Tuan Matteo sudah sepakat sebelum ke rumah sakit dengan kemungkinan terburuknya.