Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menarik Sepatu



"Nona Nada tunggu!" teriak Kenan.


Nada terus berjalan ke depan. Tidak menggubris teriakan Kenan.


"Kenapa harus ketemu sama dia? cukup sekali bertemu saat nikahan Sophia," batin Nada. Dia terus berjalan. Tak ingin menengok ke belakang.


Sedangkan Kenan terus mengejar Nada.


"Nona Nada, saya bukan penagih hutang!" teriak Kenan.


Benar-benar tak sanggup berjalan menyusul Nada yang jalannya lebih cepat. Kenan sampai ngos-ngosan. Berdiri sejenak bersenam dulu biar otot-otot tidak kaku.


"Dari jaman SMA sampai sekarang dia menghindariku, padahal aku selalu mengidolakannya," ucap Kenan. Menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Lumayan buang kentut biar badan hangat dan segar.


Nada terus berjalan. Tak sengaja sepatunya terselip di penutup tralis yang digunakan untuk menutup got.


"Astaga kenapa nyelip juga, aduh ...," ucap Nada. Kesulitan menarik sepatunya.


"Susah, mau dibantu?" tanya Kenan berdiri di dekat Nada.


"Gak usah, gak usah deket-deket deh," sahut Nada.


"Nada kitakan dulu teman satu kelas, kau lupa aku sering naroh bunga di mejamu?" tanya Kenan.


"Iya, tapi bunga tai ayam yang kau taruh di mejaku, bikin bau aja," sahut Nada.


"Bukannya bunga itu punya ciri khas ya, baunya itu beda dari bunga lain," jawab Kenan.


"Hih ...," ucap Nada males. Memutar matanya ke atas.


Kenan berjongkok. Membantu menarik sepatu milik Nada.


"Gak usah Kenan, aku bisa," ucap Nada.


"Tenang, bentar lagi bisa," sahut Kenan. Menarik sepatu Nada sampai tangannya terjepit.


"Nada tanganku yang kejepit nih, tolongin," pinta Kenan.


"Loh kan aku yang seharusnya kamu tolongin, kenapa jadi kau yang mesti aku tolongin," sahut Nada.


"Iya, tapi tanganku kecepit," jawab Kenan. Tangannya nyelip di antara garis-garis besi tralis yang berjejer vertikal.


"Harus ya? Gak papakan nanti nunggu pihak yang berwajib menolongmu," jawab Nada.


"Kalau tanganmu dicaplok buaya di dalam got gimana?" tanya Kenan.


"Sedekah sedikitlah, paling gigit sepotong doang," jawab Nada.


"Gimana kalau berpotong-potong, gak bisa nikah lagi dong," sahut Kenan. Gak rela tangannya dicaplok buaya. Baru mau jadi duda masa udah tereliminasi.


Nada tertawa. Dari dulu Kenan memang selalu jadi bahan bulan-bulanan yang jadi bahan tertawaan.


"Kenan lagian gak akan ada buaya, paling biawak, kasihlah satu dua jarimu juga cukup," ujar Nada.


"Nada tolongin," pinta Kenan.


Akhirnya karena kasihan Nada melepas kakinya dari sepatunya yang terselip di tralis itu. Dia membiarkan satu kakinya tak mengenakan sepatu. Membantu Kenan menarik tangannya.


"Kenan kalau potong gak papa ya?" tanya Nada.


"Aduh ..., potong kukunya aja Nada," jawab Kenan.


Nada terus menarik tangan Kenan begitupun Kenan yang menarik tangannya. Sampai keduanya terpental. Kenan terjatuh menduduki kotoran kuda di tepi jalan. Sedangkan Nada terduduk di sampingnya.


"Empuk-empuk ini apa ya di pantatku?" tanya Kenan.


Nada melihat sekeliling tempat Kenan duduk.


"Paling tai kuda, bonus tuh," ujar Nada.


"Tai kuda? Pagi gini kuda udah BAB, aku aja udah seminggu belum BAB," sahut Kenan.


"Iih geli Kenan, kentutmu pasti bau," ujar Nada.


"Kok tahu, dari tadi aku buang kentut," sahut Kenan.


Nada langsung kabur. Pantes dari tadi bau banget. Ternyata bau kentut Kenan.


"Nada tunggu! Numpang mobil bosku yuk," ajak Kenan.


"Gak usah, aku naik bus," jawab Nada sambil melambikan tangannya di udara.


Kenan bangun. Memegang bokongnya.


"Ya ampun tainya encer lagi," ucap Kenan.


"Mesti mandi keramas tujuh hari tujuh malam buat ngilangin sial nih," ujar Kenan. Dia berjalan ke depan. Melihat sepatu Nada yang masih terselip di tralis itu. Kenan berjongkok. Berusaha menariknya sampai bisa ditarik.


Dia memandangi sepatu itu. Mencium aroma sepatu Nada.


"Selalu wangi, padahal cuma sepatu," ucap Kenan. Dia berjalan membawa sepatu itu. Masuk ke dalam mobilnya. Menaruh tisu di jok mobil kemudian duduk. Mengendarai mobilnya menuju perusahaan.


Pagi itu Alex duduk di kursi kerjanya. Memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Alex juga melihat beberapa hasil pembangunan di laptopnya. Beberapa hari ini dia tidak pergi ke lapangan untuk memantaunya. Bawahannya hanya mengirim foto beberapa gambar pembangunan perumahan barunya.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenan yang baru masuk ke dalam ruangan kerja bosnya.


"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.


"Bos mobilnya sudah terparkir di bawah," ucap Kenan.


"Oke, makasih Kenan," sahut Alex.


"Itu mobil Tuan Matteo kan?" tanya Kenan.


"Iya, kemarin dia menyuruhku membawa mobilnya," sahut Alex.


"Adik Bos sudah ketemu? Gak diculik dedemit lagikan?" tanya Kenan. Yang bener aja Claudya disangka diculik dedemit gara-gara gak ketemu juga.


"Udah, bukan diculik dedemit tapi masuk ke jaman dinosaurus," jawab Alex.


"Kok bisa Bos? Pakai mesin waktu ya?" tanya Kenan.


Alex tersenyum. Biasa bercanda dengan Kenan sudah jadi kebiasaannya dikala senggang.


"Iya, aku juga berpikir mengirimmu ke sana, untuk mengembala tiranosaurus," jawab Alex.


"Tinggal sandal doang dong Bos kalau mengembala tiranosaurus," sahut Kenan.


Alex tertawa kecil. Namun mencium bau yang menyengat.


"Kenan kau kentut?" tanya Alex.


"Kentut iya, ditambah bau tai kuda Bos," sahut Kenan.


"Apa? Tai kuda? Kok bisa?" tanya Alex.


"Maklum Bos bertemu mantan gebetan waktu SMA, ditolak sampai sembilan puluh sembilan kali," ujar Kenan.


"Kasihan, sekali lagi genap seratus tuh," ujar Alex.


"Nanti kalau dah ketok palu rencana sih mau ngejar dia lagi, kali aja satu kalinya keterima Bos," ujar Kenan.


"Aku kok gak yakin, dompetmu isi gopean, tidur di pos kampling, mandi di toilet umum, masa depan bersamamu suram, apa dia mau?" tanya Alex.


"Iya ya Bos, ngenes," sahut Kenan.


"Sudahlah, setelah jadi duda kau harus berguru pada Suhu," ujar Alex.


"Siapa Suhunya Bos?" tanya Kenan.


Alex tersenyum pada Kenan.


"Bos saya masih waras, Bos punya Sophia, jangan sekong Bos," ucap Kenan.


"Kenan, smart dikit, kau tak melihat kharisma ku sebagai mantan casanova?" tanya Alex.


"Benar juga, hormat pada Suhu," jawab Kenan menunduk memberi hormat pada Alex


"Oke, mulai besok setelah kau duda, tanya padaku cara menaklukkan wanita dengan dompet isi tempemu itu," ujar Alex.


"Iya Bos, jangan sebut tempenya, kebetulan pagi ini saya naruh tempe di dompet buat ganjel perut," sahut Kenan.


Alex tertawa kecil. Ada aja tingkah Kenan. Setidaknya penatnya pagi itu memudar.


Nada baru saja masuk ke perusahaan milik Alex. Dia berjalan dengan satu sepatu. Beberapa orang memperhatikannya. Untung saja Nada mengenakan kaca mata dan memberi tahi lalat buatan di pipinya saat di dalam bus tadi, jadi mereka tak menyadari itu Nada Harumna seorang mantan model papan atas.


"Itu siapa? Kok cuma pakai satu sepatu."


"Karyawan baru kali."


"Gak tahu apa peraturan perusahaan."


Nada cuek. Dia masuk lift naik ke lantai atas. Sampai lantai 15, Nada ke luar. Dia berjalan menuju ke ruangan HRD. Tak sengaja berpapasan dengan Kenan.


"Astaga, kenapa makhluk ini ada di sini?" batin Nada. Dia terkejut saat melihat Kenan berjalan berpapasan dengannya.


"Karyawan baru," sapa Kenan ramah pada karyawan yang dianggapnya baru.


Nada hanya tersenyum. Agar Kenan tak curiga. Namun Kenan melihat ke bawah. Wanita di depannya mengenakan satu sepatu.


"Kok pakai sepatunya cuma satu?" tanya Kenan. Sambil memperhatikan sepatu Nada.