
Tuan Matteo terdiam sesaat. Jantungnya berdebar kencang. Nafasnya tersengal-sengal. Apa yang sudah terjadi mengejutkannya.
"Sepertinya aku menabrak orang," ucap Tuan Matteo. Dia menghela nafas panjangnya. Coba menenangkan hati dan pikirannya.
Tuan Matteo turun dari mobil. Menghampiri kerumunan masa di depan mobilnya. Beberapa orang menolong wanita itu dan mereka meminta pertanggungjawabannya. Wanita itu terluka parah, kakinya berdarah dan dia tidak sadarkan diri.
"Baiklah, saya akan bertanggung jawab. Saya akan membawanya ke rumah sakit," ujar Tuan Matteo menenangkan massa yang mulai marah dan mengecamnya.
Sebelum semua orang anarkis, Tuan Matteo segera membawa wanita itu ke rumah sakit.
Di rumah sakit Sora langsung mendapatkan perawatan. Tuan Matteo hanya diam dan menunggunya di ruang UGD.
"Ya Allah selamatkanlah nyawa wanita itu," gumam Tuan Matteo. Dia berharap Sora bisa selamat dan tidak terjadi hal buruk padanya.
Karena luka yang Sora alami cukup parah, rumah sakit menghubungi keluarganya. Tak lama Ibu Nita datang. Dia menandatangani surat perjanjian operasi. Sora pun akhirnya menjalani operasi.
Di ruang tunggu Ibu Sora tak henti-hentinya menangis. Ini kali pertama Sora operasi dan mengalami kecelakaan. Ibunya sangat cemas dengan keadaan Sora. Tuan Matteo menghampiri Ibu Nita yang duduk tak jauh darinya. Dia ingin meminta maaf atas kesalahan yang menyebabkan Sora celaka.
"Ibu, saya minta maaf, ini semua salah saya telah menyebabkan anak ibu celaka," ucap Tuan Matteo.
"Oh kamu ya yang membuat anak saya seperti ini, kamu penjahat!" ketus Ibu Nita marah. Emosinya meledak-ledak. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya, itu sebabnya dia tidak bisa menerima permintaan maaf dari Tuan Matteo.
"Saya minta maaf." Tuan Matteo kembali meminta maaf. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Sora.
"Saya tidak akan memaafkanmu, kau telah membuat anak saya celaka," sahut Ibu Nita. Dia tidak terima atas kesalahan Tuan Matteo. Bu Nita sangat marah sampai tidak mau memaafkan Tuan Matteo. Walaupun kecelakaan ini tidak disengaja tapi itu karena kelalaiannya.
Tuan Matteo hanya diam. Dia tidak bisa memaksa Ibu Nita untuk memaafkannya. Saat ini wanita tua itu pasti sedang memikirkan anaknya. Tuan Matteo hanya menunggu sampai emosi Ibu Nita stabil. Percuma dia bicara saat Ibu Nita sedang emosi.
Dua jam berlalu, operasi selesai. Sora dibawa ke ruang rawat inap setelah proses observasi. Dokter mengajak Ibu Nita bicara ke ruangannya. Sora mengalami cidera tulang belakang yang akan menyebabkan kelumpuhan. Kakinya juga mengalami patah tulang. Mendengar itu Ibu Nita sangat sedih dengan penjelasan Dokter. Ibu Nita menangis setelah ke luar dari ruangan Dokter. Dia merasa tubuhnya tidak memiliki tenaga lagi, semua semangatnya hilang. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Sora jika sadar nanti. Di saat seperti itu Tuan Matteo menghampirinya.
"Bu maaafkan saya," ucap Tuan Matteo kembali minta maaf.
"Ini semua salahmu, gara-gara kamu anak saya menjadi lumpuh!" sahut Ibu Nita sambil menangis.
"Saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab atas biaya pengobatan Sora sampai sembuh," ujar Tuan Matteo.
"Semua itu percuma anak saya lumpuh sekarang, semua mimpinya akan terkubur dalam-dalam. Bagaimana saya memberitahunya dan menghadapinya," ucap Ibu Nita yang masih menangis.
Tuan Matteo terdiam. Dia merasa sangat bersalah.
"Harusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan untuknya, tapi sekarang menjadi hari yang paling buruk untuknya," ujar Ibu Nita.
Tuan Matteo hanya diam. Dia tahu Ibu Nita sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada anaknya.
"Bertahun-tahun lamanya dia berjuang keras untuk hari ini tapi sekarang semuanya hancur," kata Ibu Nita. Dia ingat betul perjuangan Sora untuk bisa kuliah demi menggapai cita-citanya.
Tuan Matteo tak berani mengatakan apapun. Dia merasa sangat bersalah karena membuat mimpi-mimpi Sora tak bisa digapai olehnya.
Tuan Matteo hanya mendengarkan semua unek-unek Ibu Nita. Seolah semua isi hatinya tumpah ruah di saat itu. Kesedihannya sudah tak terbendung.
Sora mulai sadar, dia melihat ke sekelilingnya. Dia baru sadar sedang berada di rumah sakit. Dia mulai mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Dalam ingatannya hari ini, dia akan pergi bekerja tapi ada sebuah mobil yang menabraknya setelah itu dia tak sadarkan diri.
Ibu Nita kembali ke ruang rawat inap tempat Sora berada. Dia melihat Sora menangis segera mendekatinya dan memeluknya.
"Sudah nak jangan menangis ibu di sini,"ucap Bu Nita. Berusaha menyemangati pegawainya.
"Bu apa yang terjadi pada kakiku? kenapa tak bisa digerakkan?" tanya Sora . Dia takut hal buruk terjadi padanya.
"Tidak apa-apa nanti kita akan berusaha supaya kau bisa sembuh dan pulih lagi," jawab Ibu Nita.
"Katakan yang jujur Bu!" titah ucap Sora.
"Ibu tak kan membiarkanmu seperti ini Sora, percayalah!" ucap Ibu Nita.
"Bu jawab cepat!" sahut Sora mulai marah.
Ibu Nita terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sora.
"Kakiku sakit sekali dan seperti tidak memiliki tenaga, lemas dan mati rasa saat mencoba menggerakkannya walau sedikit," ucap Sora.
"Bu jawab aku mohon, jangan buat Sora bingung dan bodoh," ucap Sora kembali menangis.
"Kamu akan lumpuh nak," sahut Ibu Nita singkat.
"Apa,? Lumpuh!" ucap Sora kaget mendengar kata-kata ibunya.
Ibu Nita menangis, dia tidak bisa melihat putri kesayangannya menderita. Sora menangis dan histeris. Dia begitu marah dan hancur hatinya. Tangannya berusaha membuang semua barang di sisinya dan mencoba memukul kakinya. Dia merasa tidak berguna dan gagal, ibunya langsung menghalangi niatnya memukul kakinya, dan memeluknya erat. Sora menangis kencang dipelukan ibunya.
***
Tuan Matteo pulang ke rumahnya, dia meninggalkan kartu nama pada Ibu Nita jika ada apa-apa. Dia seperti tidak ada semangat, karena permasalahan yang menyebabkan Sora kecelakaan karenanya. Tuan Matteo tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia merasa beban berat menimpanya secara bersamaan. Claudya melihat Tuan Matteo yang baru pulang dengan wajah yang kusut dan murung, membuat Claudya penasaran. Claudya berusaha mencari tahu apa yang dirasakan suaminya. Dia membuntuti Tuan Matteo sampai ke kamarnya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Claudya.
"Tidak apa-apa sayang, cuma lelah saja," jawab Tuan Matteo. Dia belum ingin menceritakan masalahnya pada Claudya. Dia butuh waktu.
"Bukannya tadi Mas mau berangkat ke perusahaan ya?" tanya Claudya.
Tuan Matteo terdiam. Dia bingung harus berkata apa yang benar.
"Sayang!" panggil Claudya ulang karena suaminya tak berkata apapun.
"Iya sayang," jawab Tuan Matteo yang duduk di ranjang sambil melamun.
Claudya menghampirinya duduk di sampingnya. Dia merasa suaminya memiliki masalah. Hanya saja dia ragu unt menceritakannya.
"Sayang apa yang sedang terjadi? Cerita padaku," ujar Claudya .
Tuan Matteo masih terdiam. Dia bingung harus cerita atau tidak pada istrinya.