
Tak lama suara Frank Howard terdengar disebalik layar. Dia menyambut mereka dengan diawali salam dan beberapa pembicaraan santai. Dia juga menjamu para tamu dengan makanan dan minuman yang disuguhkan pelayannya.
"Terimakasih atas jamuannya, kami menikmati semua hidangan yang disajikan," ucap Alex usai menikmati jamuan yang disajikan.
"Iya, sama-sama Bos Alex," jawab Frank.
"Maksud kedatangan kami untuk memenuhi janji sebelumnya," ujar Alex.
"Jadi anda sudah membawa seseorang untukku?" tanya Frank. Dia ingin tahu siapa yang dibawa Alex bersamanya. Seseorang yang harus bisa menerima Frank apa adanya.
"Iya, aku sudah membawa seseorang yang anda inginkan," jawab Alex. Dia sudah membawa Aiko untuk bertemu Frank.
"Kalau begitu tinggalkan kami berdua!" titah Frank.
"Untuk apa?" tanya Alex. Apa tujuan Frank ingin berdua dengan Aiko.
"Aku harus bicara empat mata dengannya, kita harus saling mengenalkan?" jawab Frank.
Alex terdiam. Haruskah dia mengizinkan Aiko bersama lelaki yang tidak dikenalnya bahkan Alex sendiri tidak mengenal Frank.
"Baiklah, aku siap!" jawab Aiko. Dia siap berbicara empat mata dengan Frank. Mungkin benar dia dan Frank harus saling mengenal.
"Aiko kau yakin?" tanya Sophia menoleh ke arah Aiko. Dia mengkhawatirkan sahabatnya.
Aiko mengangguk.
"Aiko gimana kalau dia mau berubah jadi vampire dan menghisap darahmu?" bisik Kenan.
"Kalau begitu aku minta Frank menggigitmu duluan, bereskan?" sahut Aiko.
Kenan langsung memegang lehernya. Ngilu kalau dia digigit vampire Frank.
"Karena Aiko sudah menyetujuinya. Kami akan meninggalkan kalian berdua," jawab Alex. Tadinya dia ingin menolak tapi karena Aiko sudah menyetujuinya sendiri, Alex hanya bisa mengikutinya.
Alex, Sophia dan Kenan ke luar dari ruangan itu. Tinggal Aiko dan Frank yang ada di dalam ruangan itu. Aiko mengepal tangannya yang gemetaran. Dia mengatur nafasnya yang tak beraturan. Dan berusaha menenangkan dirinya. Dari tadi jantungnya berdebar tak karuan sejak Alex dan Sophia ke luar dari ruangan itu.
"Siapa namamu?" tanya Frank dengan suara beratnya.
"A-A-A ..." Aiko terbata-bata mengucapkan namanya sendiri. Dia ketakutan dengan orang dibalik layar. Apalagi tadi Kenan menyebut vampire pengisap darah.
"Namamu A3 ya?" tanya Frank.
"Bu- ..." Aiko coba menjelaskan. Namun mulutnya sulit berucap.
"ABU." Frank menyatukan hurup A dengan Bu.
"Aduh kenapa jadi salah kaprah, malah Abu," batin Aiko. Frank salahfaham dengan nama Aiko.
"Baiklah Abu, sekarang giliranku memperkenalkan diri. Namaku Frank Howard, senang bertemu denganmu," ujar Frank.
"Oh, tapi namaku bukan Abu," sahut Aiko.
"Jadi namamu bukan Abu tapi AaaBu ya?" tanya Frank.
"Bukan, namaku Aiko bukan Abu," jawab Aiko menjelaskan
"Aku pikir malah upik abu," sahut Frank.
"Kau bilang apa? Upik abu?" Aiko emosi. Baru bertemu lelaki itu sudah sangat menyebalkan. Posisinya yang tadi duduk jadi bangun. Padahal udah belajar kalem dan manis sejak berhijab tapi lelaki dibalik layar membangunkan sifat aslinya.
"Itu lebih bagus kedengarannya dari pada Aiko," sahut Frank.
"Kau ya! Baru kenal udah seenaknya," ucap Aiko.
"Aku hanya lebih suka memanggilmu upik abu dari pada Aiko, gak masalahkan?" tanya Frank.
Bruuug ...
Tirai itu terjatuh ke bawah. Dia melihat seseorang duduk membelakanginya. Dia terlihat mengenakan topi.
"Nona kau berani juga, tendanganmu juga cukup kuat, sepertinya aku tidak butuh tukang pukul lagi," ucap Frank.
"Kau akan mencoba tendanganku lebih dulu sebelum semua barang yang ada di ruangan ini," sahut Aiko. Untung saja dia mengenakan celana. Memudahkan gerakannya.
"Silahkan Nona upik abu!" ledek Frank.
Aiko mengepalkan tangannya. Dia kesal dengan lelaki yang duduk membelakanginya itu. Aiko maju ke depan. Dia menendang kursi agar lelaki itu bangun.
Dug ...
Lelaki itu tetap duduk di kursi. Padahal Aiko sudah menendang kursi itu dengan keras. Dia penasaran kemudian mendekat. Menatap lelaki di depannya. Wajahnya tertutup topi.
"Kau takut wajahmu diketahui semua orang?" tanya Aiko tersenyum sinis.
"Aku lebih takut Nona upik abu mengamuk," sahut Frank.
"Kau! Aku akan membuat semua orang tahu seperti apa wajah yang selalu kau sembunyikan itu," ujar Aiko.
"Silahkan kalau Nona upik abu berani! Atau kau akan lari terbirit-birit saat melihat wajahku," tantang Frank.
Aiko menarik nafas panjangnya. Kali ini sudah tak bisa ditahan olehnya. Dia harus membuat perhitungan dengan lelaki yang duduk menutup mukanya dengan topi.
"Waktunya semua orang tahu siapa dirimu!" pekik Aiko sambil melompat dan kayang ke arah lelaki yang duduk. Mengambil topinya dan kembali berdiri di posisi semula. Dia masih berdiri membelakangi lelaki yang duduk itu.
"Topi sudah ada di tanganku, mari kita lihat seperti apa wajahmu," ucap Aiko. Dia berbalik. Melihat lelaki yang duduk di kursi. Seketika Aiko terbelalak melihat apa yang ada di depannya.
"Boneka?" Ternyata sesosok lelaki yang duduk di kursi hanya sebuah boneka barbie. Bukan Frank Howard.
"Kenapa? Kau sudah melihat wajahku Nona upik abu?" tanya Frank.
"Pengecut, jadi selama ini hanya sebuah boneka yang selalu menemui banyak orang," jawab Aiko. Dia tidak menyangka dari tadi bicara dengan boneka.
"Iya, kau penasaran ingin bertemu denganku?" tanya Frank.
"Untuk apa? Paling wajahmu lebih jelek dari boneka bisu ini," jawab Aiko. Dia tidak tahu Frank ada di mana. Tapi suaranya terdengar jelas di telinganya.
"Jelek? Kau penasarankan?" tanya Frank.
"Gak, gak penasaran," jawab Aiko. Dia merapikan pakaiannya kembali.
"Kau tidak ingin bertemu denganku Nona upik abu?" tanya Frank.
"Gak, untuk apa? Tadinya aku berpikir kita berjodoh, tapi aku tidak tertarik lagi padamu," jawab Aiko. Dia sudah tidak ingin bermain-main lagi. Apalagi dengan lelaki yang tidak ingin dilihat olehnya.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja, saat kau masuk. Berarti kau jadi milikku," jawab Frank.
"Aku akan ke luar, aku tidak takut padamu," sahut Aiko. Dia tidak takut pada ancaman Frank.
"Aku suka wanita sepertimu, tahan banting dan pemberani," jawab Frank.
"Tidak usah memuji, tadi kau meledek namakukan?" sahut Aiko kesal. Dia tidak ingin dipuji lelaki yang baru saja meledeknya.
"Oke, aku datang padamu. Tunggu aku!" ujar Frank.
"Aku tidak butuh! Aku mau mau pulang!" pekik Aiko. Dia sudah tidak ingin bertemu dan melihat Frank.
Aiko berjalan menuju pintu. Baru mau memutar gagang pintu, suara langkah kaki membuatnya terdiam. Tangannya melepas gagang pintu itu. Aiko melihat ke arah langkah kaki itu berada. Dia melihat sesosok lelaki tinggi dan maco di depannya. Hanya saja ada sesuatu yang membuatnya terkejut saat melihat wajahnya.
"Kau Frank Howard?" tanya Aiko. Menatap lelaki yang menghampirinya. Setengah wajahnya terdapat bekas sayatan benda tajam dari dahi sampai pipinya.