Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
ENDING 1



Pagi itu Alex bangun pagi. Dia melihat pemilik mata emerald masih tidur setelah sholat subuh pagi tadi. Alex mencium perut Sophia. Mendoakan kesehatan dan keselamatan istri dan anak dalam kandungannya.


"Sophia, bidadariku, tetaplah bersamaku, aku sangat mencintaimu," ucap Alex. Dia mendekati bibir merah delima itu. Menciumnya. Menatap wajah Sophia yang begitu tenang dan meneduhkan meski dalam keadaan tidur.


Perlahan Sophia membuka matanya. Menatap suaminya yang sedang memandangi wajah cantiknya.


"Pagi cinta," ucap Alex.


"Pagi Mas," sahut Sophia.


"Cantiknya bidadariku," ujar Alex.


"Pasti ada maunya, iyakan?" sahut Sophia.


"Iya, mau banget, tapi sayangku lagi ada dedenya, semalam juga udah lama, jadi aku mau kasih hadiah aja," ucap Alex.


"Hadiahnya apa Mas?" tanya Sophia.


"Bangun dulu," jawab Alex.


Sophia mengangguk.


Alex menarik tangan istri tercintanya perlahan. Mengajaknya berdiri. Dia mengambil sebuah kain panjang dan tipis.


"Untuk apa Mas?" tanya Sophia.


"Ada deh," jawab Alex.


"Jadi penasaran," sahut Sophia.


"Harus," jawab Alex.


Sophia tersenyum. Senangnya pagi itu Alex sudah bangun lebih dulu dan akan memberinya hadiah.


Alex menutup kain itu menutup mata Sophia. Mencium pipinya. Lumayan lama.


"Mas katanya mau dikasih hadiah, kok malah mesum ya," ujar Sophia.


"Eh iya, habis melihatmu seksi begini pikiranku traveling ke mana-mana?" ucap Alex.


"Hadiahnya di kamar atau ke luar kamar?" tanya Sophia.


"Di luar kamar," jawab Alex.


"Kalau begitu aku ganti baju dan berhijab dulu," sahut Sophia.


"Oya, aku lupa. Aku buka dulu ya penutupnya sayang," ujar Alex.


Sophia mengangguk.


Alex membuka kain penutup yang menutupi mata Sophia. Menunggu pemilik mata emerald itu mengenakan gamis panjang dan hijabnya. Gamis berwarna baby pink senada dengan hijabnya membuat Sophia yang berkulit putih semakin tambah cantik dan anggun.


"Cantiknya, gimana gak jatuh cinta berat kalau kaya gini," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Dibucinin suaminya terus. Untung dede bayi masih mangkal di perut mami. Bisa mabok ngedenger bokapnya bucin akut. Udah terhipnotis sama kecantikan fisik dan hati Sophia yang tak ada duanya.


"Ayo sayang saatnya jadi tawananku lagi," ujar Alex.


Sophia mengangguk. Membiarkan suaminya kembali memasang kain di matanya.


"Nah Princess Sophia, biarkan Pangeran Alex membawamu," ucap Alex.


"Mas geli dengernya," sahut Sophia.


"Sukakan?" tanya Alex.


Sophia mengangguk.


Alex memegang tangan Sophia. Menuntunnya berjalan ke luar kamar. Menuruni tangga. Sampai dibawah. Alex membawa Sophia ke ruang keluarga. Membukakan penutup matanya.


"Surprise!" teriak semua anggota Keluarga Sebastian. Mereka semua sudah kompak mengenakan baju pink dan biru. Wanita mengenakan baju berwarna pink dan laki-laki mengenakan baju berwarna biru.


Sophia tercengang. Tersenyum melihat semua anggota keluarga menyambutnya hangat. Ruangan itu dipenuhi balon berwarna pink dan biru. Begitupun dengan dekorasi dua warna senada. Di tambah bunga-bunga kertas berwarna pink dan biru. Terlihat indah dan menarik. Semua anggota keluarga memegang sebuah kado di tangan mereka.


"Selamat datang bumil," ucap semuanya.


"Semoga sehat, tambah cantik, sholeha dan tambah sukses," ucap semuanya.


"I Love You," ucap semuanya.


Sophia tersenyum. Tak menyangka pagi itu dapat surprise ucapan selamat atas kehamilannya. Dulu pertama menginjakkan kaki di Keluarga Sebastian, dia begitu dibenci. Hanya Alex dan Kakek David yang menerima kehadirannya. Tapi sekarang melihat senyuman semua anggota keluarga, Sophia merasa dia sudah diterima penuh seluruh anggota Keluarga Sebastian.


"Selamat ya sayang, sehat selalu, aku mencintaimu," ucap Alex.


Sophia mengangguk. Alex mendekat mencium keningnya. Tersenyum memandang mata emerald yang berkaca-kaca karena bahagia.


"Semua ini hadiah karena kau sudah membawa cahaya di rumah ini," ujar Alex.


Sophia mengangguk. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Segera Alex mengusap air mata Sophia.


"Hari ini hari bahagia, air matamu terlalu berharga," ujar Alex.


Sophia tersenyum.


Satu per satu anggota keluarga maju ke depan sambil membawa kado. Sophia berdiri menghadap ke depan. Menatap mereka.


"Sophia, terimakasih, kau sudah membuat keluarga ini menjadi satu dan bahagia," ucap Kakek David.


"Iya Kek, Sophia juga bahagia ada di sini, aku sayang semuanya," sahut Sophia.


"Ini hadiah untuk cicitku, dia akan jadi raja di Keluarga Sebastian," ucap Kakek David sambil memberikan kado untuk Sophia.


"Terimakasih Kek," sahut Sophia memegang kado dari Kakek David.


Kakek David mengangguk. Berjalan ke samping bergantian dengan yang lainnya.


"Sophia, menantuku, kau menantu yang terbaik, Alex beruntung memilikimu, terimakasih sudah sabar berada di sisinya," ucap Pak Ferdi.


"Iya Ayah," jawab Sophia.


Pak Ferdi mengusap hijab di kepala Sophia.


"Semoga kau sehat selalu, tetap memberi cahaya di rumah ini," ujar Pak Ferdi.


Sophia mengangguk.


"Terimakasih ayah," sahut Sophia menerima kado itu.


Pak Ferdi mengangguk dan tersenyum. Berjalan ke samping. Gantian Ibu Marisa sang doi maju ke depan.


"Sophia, ibu sering memarahimu, maafkan ibu ya, padahal kau sangat baik, pantas Alex tergila-gila padamu," ujar Ibu Marisa.


"Iya Bu," sahut Sophia.


"Kalau Alex nakal lagi, biar ibu jewer telinganya," kata Ibu Marisa.


"Astaga ibu, telingaku panas duluan sebelum ibu jewer," sahut Alex.


Ibu Marisa dan Sophia tersenyum.


"Ini hadiah untuk kebaikanmu selama ini, tak seberapa dengan apa yang kau berikan untuk kami tapi ini pantas untukmu," ujar Ibu Marisa memberikan kado untuk Sophia


"Makasih Bu," sahut Sophia menerima kado itu.


Di saat masa antrian itu. Dodo berdiri di depan Gavin dan di belakang Claudya.


"Gendut kadomu kecil amat tak sebanding dengan badanmu yang lebar," ujar Gavin.


"Om kecil begini Dodo nyelengin dari uang jajan, sampe diet segala gak jajan cilok, cacing-cacing capek demo jadi migrasi karena Dodo diet," ujar Dodo.


"Baguslah gak cacingan lagi, berarti kamu dikitkan makannya?" ujar Gavin.


"Nah itu dia Om, gara-gara cacing-cacing pada migrasi, Dodo jadi sering laper Om," jawab Dodo.


"Alasan, ada atau tidak cacing-cacing itu kau tetap gembul saat makan," sahut Claudya.


"Gak juga Tante, waktu ada cacing makan Dodo lima piring, tiga telor, dua paha ayam, satu potong daging, bla .. bla ....," ucap Dodo menceritakan apa saja yang dimakan saat cacing belum migrasi.


"Belum kelar pidatonya, keburu ujan nih," ujar Gavin yang udah bosen denger Dodo ngomongin makanan yang dimakan saat cacing belum migrasi.


"Kurasa satu buku juga belum kelar si gendut ngomongin makanan," sahut Claudya.


"Itu baru makanan pokok Om, belum makanan pendamping ASI-nya," ujar Dodo.


"Buset, ada makanan pendamping ASI segala," jawab Gavin.


"Ada Om, mau Dodo sebutkan juga, mumpung Dodo kurusan nih," sahut Dodo.


"Turun baru 0,01 kg aja bangga, bilang kurusan," jawab Claudya.


"Itu udah kemajuan Tante, biasa naik 1 kg," sahut Dodo.


"Kenapa juga ada ponakan kaya lo? rumah ini berasa sempit," sahut Claudya menggeleng.


"Tapi senengkan? Makanan di rumah ini tak ada yang terbuang, Dodo menampung semuanya sebelum basi," jawab Dodo.


"Bukannya yang basi juga kau makan?" tanya Gavin.


"Iya, kepepet masih laper Om," jawab Dodo.


Gavin dan Claudya menggeleng.


Setelah Ibu Marisa beranjak, Claudya maju. Mendekati Sophia.


"Kak Sophia, selamat ya atas kehamilannya, doain Claudya moga nyusul," ucap Claudya.


"Iya, makasih Claudya. Kakak doain semoga cepat dipinang Tuan Matteo," sahut Sophia.


"Amin," jawab Claudya.


"Ini kado untuk ponakan Claudya, bukanya jangan sama Kak Alex, tar dia bulli aku," ujar Claudya sambil memberikan kado untuk Sophia.


"Takut nih, paling juga belinya dari duit yang dikasih kakak," ledek Alex.


"Tuhkan, Kak Alex gitu, nyebelin," sahut Claudya.


Sophia hanya tersenyum. Kakak adik itu memang sering berdebat. Sudah biasa kalau mereka tak bisa akur.


"Kak makasih ya, dah menginspirasi Claudya untuk berhijab, memperbaiki sikap untuk menjadi wanita sholeha kaya kakak," ujar Claudya.


"Iya, kakak yakin Claudya bisa lebih baik dari kakak," jawab Sophia.


"Amin," sahut Claudya.


Dodo maju ke depan setelah Claudya. Dia memberikan kado miliknya pada Sophia.


"Tante Sophia, jangan melihat sampulnya tapi isinya juga tak jauh dari sampulnya, Dodo udah pilih yang paling bagus meski harus diet dulu buat belinya," ujar Dodo.


Sophia tersenyum.


"Ndut diet berapa lama? Perasaan masih bulet aja?" tanya Alex.


"Tiga hari Om, timbangan aja ketakutan kalau Dodo liat," sahut Dodo.


Alex dan Sophia tertawa. Begitupun yang lainnya.


"Gendut semenit aja dietnya, timbangan pasti kabur," ledek Gavin.


Mereka semua tertawa. Hadirnya Dodo menambah hangat Keluarga Sebastian.


Kini giliran Gavin maju ke depan. Membawa kado untuk Sophia.


"Kak Sophia maafin sikapku selama ini, kakak orang yang baik. Di manapun tempat kakak berada membuat tempat itu penuh kebahagian dan kehangatan, karena cahaya terang kakak pancarkan," ujar Gavin.


"Iya, kau juga akan menerangi tempat di mana kau berada sebagai seorang imam dan hamba Allah," sahut Sophia.


"Amin," jawab Gavin.


"Ini kado untuk Kak Sophia dan ponakanku," ujar Gavin memberikan Sophia kado.


"Makasih Gavin," ucap Sophia menerima kado itu.


Gavin mengangguk.


Pagi itu semua orang bahagia. Kehadiran Sophia menjadi cahaya penerang yang menerangi rumah itu dan memberi kehangatan dari dinginnya hubungan yang sempat retak tak beraturan. Ketulusan Sophia membuat semua bisa merasakan indahnya cinta dan kasih sayang keluarga. Rumah Keluarga Sebastian kini menjadi tempat paling ternyaman dan tempat mengukir kenangan indah.