
Demi mengamankan amukan masa yang tak terima karena akad nikah season two masih harus berlangsung, Gavin bersabar. Mengambil permen sebagai gantinya.
"Makasih ya Do permennya, kau memang anakku," kata Gavin salut di saat syahwat naik pengen nyium Maria dapat dicegah dengan permen lolipop.
"Om sebenarnya tadi Dodo bawa permen itu buat dibuang, tapi Om main ambil aja, Dodo belum jelaskan sejarah permen itu," jawab Dodo.
"Memang sejarah permen ini apa?" tanya Gavin yang masih memakan permen lolipop itu.
"Sebenarnya permen itu bukan permen Dodo, tapi permen yang dikasih orang gila di depan masjid tadi Om," jawab Dodo.
"Emang orang gila bagi-bagi permen?" tanya Gavin. Dia belum berspekulasi aneh-aneh. Wajarlah kalau orang gila bagi-bagi sembako murah apalagi permen gratis.
"Gak juga Om, tapi itu permen bekasnya orang gila itu Om, sempet diketekin lagi, selebihnya gak mau tahu diapain lagi," kata Dodo.
Gavin melongo. Mulutnya terbuka lebar. Bengong mendengar penjelasan dari Dodo. Bagai disambar petir. Gak nyangka permennya bekas orang gila. Udah di€mu£, diketekin, mungkin buat garuk bokong selagi cacingan.
"Tadi Dodo kasihan, ya Dodo kasih snack Om, eh Dodo malah mau dikasih permennya, tadinya Dodo mau buang eh Om Gavin main ambil aja," ujar Dodo.
Gavin menelan ludahnya berkali-kali. Kirain bisa menggantikan bibir seksi Maria dengan permen untuk sementara waktu ternyata dia malah dapet permen legend dari orang gila. Udah rasanya lebih dari sekedar indah.
"Om kayanya orang gilanya gak gosok gigi selama dia gila, mulutnya bau banget jadinya, kasihan deh Om," ujar Dodo.
Gavin langsung memegang lehernya. Mungkin dia kena serangan jantung dadakan.
"Om, jangan mati dulu, nanti Tante Maria nikah lagi," ujar Dodo yang duduk di samping Gavin. Mengkhawatirkan keadaannya.
"Gak jadi mati deh Do, sayang tar malam mau unboxing," sahut Gavin.
"Iya sih Om, tapi kenapa permennya masih di mulut Om, emang enak ya Om?" tanya Dodo.
"Ugh ... ugh ... ugh ..." Gavin langsung mengeluarkan permen itu dan terbatuk. Terbayang dari tadi begitu menikmati permen itu sampai menikmati rasa asem kecut padahal permen coklat. Kurain permen varian coklat strawberry tapi ternyata varian coklat ketek.
"Om minum dulu nih," ujar Dodo memberikan air minum pada Gavin.
"Makasih Do," sahut Gavin. Dia langsung meneguk air putih yang diberikan Dodo.
"Alhamdulillah, tapi airnya agak lengket ya Do," ujar Gavin setelah menghabiskan air di dalam gelas itu.
"Loh mana gelas punya anakku?" Seorang lelaki mencari gelas miliknya.
"Itu dia gelasnya, kok ada di Mas pengantin ya?" lelaki itu terkejut gelas miliknya ada di tangan Gavin.
"Tadi saya minum Pak," kata Gavin.
"Astaga, itu tadi gelas buat nampung air liur anak saya Mas pengantin."
Dodo langsung menepuk lengan Gavin. Menyemangatinya.
"Sabar Om, siapa tahu air liur bocah obat buat Om Gavin, biar sehat wal'afiat," ujar Dodo menyemangati Gavin.
Gavin hanya meringis. Ketiban apes dua kali gara-gara kebelet nyium Maria. Mau tak mau menerima ujian ini dengan kesabaran maksimal.
Di sisi lain Luki sudah duduk bersama penghulu. Bersiap untuk ijab qobul. Luki terlihat tegang. Tampak dari wajahnya yang selalu berkeringat. Dia gugup. Ini pertama kalinya dia memutuskan menikahi seorang wanita. Melihat itu Tuan Matteo menghampirinya. Duduk di sampingnya.
"Luki, semangat! Biar tar malem belah duren," bisik Tuan Matteo.
"Berarti mesti sedia golok ya Tuan?" tanya Luki.
"Kau gak paham? Gak kursus sama Mamat?" tanya Tuan Matteo.
"Kursus, cuma dia bilang tutup pintu, buka baju, mati lampu, gitu rumusnya Tuan," jawab Luki pelan.
Tuan Matteo mengernyitkan alisnya. Tak disangka Mamat membekali rumus jitu itu. Tapi masalahnya Luki paham atau gak?
"Praktekkan rumus dari Mamat, dijamin mantap," bisik Tuan Matteo.
"Siap Tuan," jawab Luki.
Tuan Matteo sebenarnya meragukan kemampuan tempur Luki. Tapi biarin secara alami menyambung arus positif dan negatif. Kalau dipaksa nanti konsleting.
"Sudah siap?" tanya penghulu.
"Insya Allah siap," jawab Luki.
"Baik kita mulai ijab qobulnya," kata penghulu.
Luki mengangguk. Pak Harry bersiap jadi wali nikah Humaira. Dia duduk di depan Luki.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Luki Andara bin Hajun Andara dengan anak saya yang bernama Humaira Az Zahra binti Harry Harold dengan mas kawin cincin berlian pink seberat 5 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Pak Harry sambil menyalami Luki.
"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Az Zahra binti Harry Harold dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Luki.
"Sah."
"Alhamdulillah."
Rasa syukur dan tepuk tangan terdengar riuh sahut menyahut. Semua orang ikut bahagia di pernikahan itu.
Penghulu langsung membacakan doa untuk mempelai pengantin. Semua orang ikut mengaminkan setiap lantunan doa untuk mempelai pengantin itu.
Setelah akad nikah selesai. Baik Maria dan Humaira ke luar dari tempat tunggu. Menghampiri suami mereka. Gavin sudah tak sabar mencium bibir merah yang seksi itu. Orang mah nunggu dulu sampai. Dia lagsung tancap gas, menghampiri Maria. Mengajaknya duduk.
"Maria, mojok, biar puas nyiumnya," kata Gavin memperlihatkan sudut masjid.
"Malu, ciumannya nanti saja, kening dulu aja ya," jawab Maria.
"Sabar, aku aja nanti di mobil pas mau ke gedung sekalian," kata Luki yang tiba-tiba di samping Gavin. Bak jalangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar.
Maria hanya tersenyum. Begitupun Humaira yang berdiri tak jauh dari Maria.
"Sabar Kak, duduk lagi! Tar kesampean juga," kata Claudya.
Para tamu undangan akad nikah tersenyum sampai tertawa kecil melihat kelakuan Gavin.
Akhirnya baik Gavin dan Luki bisa mencium kening istri mereka.
"Maria, sekarang kau istriku, nanti malam kita bikin anak ya," ujar Gavin.
Maria tersenyum malu-malu. Sedangkan Gavin menelan ludahnya melihat dada Maria gede banget.
"Maria itu asli?" tanya Gavin.
"Pelan bisa gak Vin? aku gak fokus mau ngomong sama Humaira," ucap Luki yang duduk tak jauh dari Gavin dan Maria.
"Lo ngomong aja, kenapa mesti dengering gua?" ujar Gavin.
"Gue mau ngomong isi hati jadi ukuran BH-kan? Lo sih," keluh Luki.
"Pikiran lo aja, ngebayangin apa yang gue katakan tadi," ujar Gavin.
"Astagfirullah," sahut Luki.
"Mau bilang poloskan? tuh tangan udah di dada Humaira Luk," ujar Gavin.
Luki langsung melihat tangannya yang ada di dada Humaira. Meski tak memegang tapi menempel.
"Astagfirullah," ujar Luki langsung menarik lengannya. Beristigfar terus.
"Masih aliman juga gue, otak boleh ngeres tangan masih polos," gumam Gavin.
"Bang, tangannya kena bokong bapak itu," ujar Maria memperingatkan Gavin. Tangannya menempel di bokong bapak tua yang ada di dekatnya. Membelakangi Gavin.
"Astagfirullah," ucap Gavin beristighfar.
"Masih normalan gue megang dada bini sendiri, udah halal. Dari pada bokong orang diraba, udah tahu satu jenis," balas Luki.
Maria dan Humaira tersenyum melihat kelakuan suami mereka. Ada-ada aja tingkah Gavin dan Luki.
***
Gedung Feronika
Pernikahan itu berlanjut di gedung yang luas dan megah. Dekorasi pelaminan bernuansa putih baby pink terlihat mewah dan indah. Bunga-bunga menghiasi ruangan di dalam gedung itu. Ada bunga-bunga sakura yang berdiri di beberapa bagian ruangan itu. Pihak wedding organizer juga menyediakan tempat berfoto selfi atau foto keluarga yang khusus ditujukan untuk tamu. Ruangan itu dipadati tamu undangan dari keluarga, sahabat, kenalan dan rekan bisnis. Ada beberapa pejabat yang datang. Semua tamu undangan mengucapkan selamat dan mendoakan pernikahan dua pasang sekaligus.
Gavin-Maria dan Luki-Humaira berdiri di atas pelaminan menyalami tamu undangan yang tak pernah habis. Sangat banyak yang tak kunjung berkurang.
Di saat seperti itu Kenan dan Nada berdiri di tengah keramaian. Melihat kedua pasang pengantin yang berbahagia.
"Kau ingin pernikahan kita seperti ini?" tanya Kenan.
"Sederhana saja di rumah, selebihnya syukuran," jawab Nada.
"Kenapa tidak seperti ini, lebih meriah," kata Kenan.
"Yang penting ikatan kita yang tetap dijaga, pesta hanya pelengkap," jawab Nada.
"Kalau gitu secepatnya kita menikah ya?" tanya Kenan.
Nada mengangguk. Dia sudah siap membangun rumah tangga bersama Kenan. Mereka sama-sama pernah disakiti.
Bersambung ...