
Pagi itu Alex dan Sophia berangkat bersama menuju parkiran mobil yang ada di depan rumah besar Keluarga Sebastian. Mereka berhenti di depan teras. Kali ini Alex memiliki kebiasaan baru. Dia berlutut, mencium perut datar Sophia. Mendoakan buah hatinya yang ada di rahim Sophia dan pamit sebelum pergi.
"Dede Papa berangkat dulu, baik-baik ya di perut Mama," ucap Alex.
Sophia mengelus kepala Alex yang masih bermain dengan bayi di perutnya yang masih berupa janin itu.
"Papa berangkat dulu, nanti Papa nyusul ya, Dede harus anteng ya," ujar Alex.
Sophia tersenyum. Melihat Alex begitu bahagia dengan kehamilannya.
"Aku ingin melihat kebahagiaan ini lebih lama lagi Ya Allah," batin Sophia.
Alex berdiri. Mencium bibir merah delima pemilik mata emerald itu. Mencium keningnya. Menatap mata indah di depannya.
"Sayang gimana kalau sore ini kita pergi ke rumah keluargamu, mereka harus tahu kehamilanmu," ujar Alex.
Sophia mengangguk. Tersenyum manis. Matahari itu terbit di bibir cantiknya.
"Kalau begitu ayo berangkat, ku antar sampai mobil," ucap Alex.
"Iya Mas," sahut Sophia.
Alex mengantar Sophia sampai masuk ke dalam mobil Alphard milik Sophia. Dia menemani Sophia sampai masuk ke dalam mobilnya. Sophia pamit dan mencium tangan Alex.
"Assalamu'alaikum," ucap Sophia.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.
Pintu mobil Alphard itu bergeser menutup. Alex melambai saat mobil itu meninggalkan pelataran rumahnya. Kemudian dia juga berangkat ke perusahaan miliknya menggunakan mobil BMW miliknya.
Pukul 8 pagi Alex sampai di perusahaan. Di lobi Kenan sudah menunggunya seperti biasa. Alex menghampiri Kenan, sejak pulang dari Bandung mereka belum sempat bertemu lagi.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam Bos," sahut Kenan.
"Kenan bajumu kurang bahan?" tanya Alex yang melihat baju Kenan ngepas.
"Bos ini baju lama, semenjak ke Bandung Kenan terpaksa pisah ranjang," jawab Kenan.
"Kenapa? Kau ketahuan selingkuh sama nenek-nenek?" tanya Alex.
"Kok tahu Bos?" tanya Kenan.
Alex tertawa. Dia tahu selera Kenan ya nenek-nenek tua tukang pijat.
"Pasti gara-gara kejadian malam itu kau pesan nenek-nenekkan?" tanya Alex.
"Iya Bos, eh lagi enak-enak dipijat, bini nyusul ke Bandung, ketahuan deh lagi berduaan sama nenek-nenek, mana posenya mantep lagi, udah bini berubah jadi dinosaurus Bos," ujar Kenan.
"Ha ha ha." Alex kembali tertawa.
"Bos, saya dari kemarin tidur di pelataran masjid, ngenes deh, mana dompet ketinggalan di rumah, terpaksa makan dedaunan hijau boleh nyomot di kebon Bos," ujar Kenan.
"Kasihan nasibmu selalu berujung derita, sepertinya mandi dulu di dalam laut biar beruntung," usul Alex.
"Mandi di dalam laut? Mati dong Bos, kalau ada lumba-lumba mau nolongin tapi kalau ketemu hiu dicaplok Bos," jawab Kenan.
Alex tersenyum. Kasihan juga sekretarisnya yang satu ini udah tidur diemperan masjid, ngunyah dedaunan selama jadi gelandangan.
"Oya Tuan Matteo sudah ada kabar?" tanya Alex.
"Sudah Bos, Tuan Matteo sedang menuju ke sini," jawab Kenan.
"Kalau begitu kita tunggu di ruang meeting," ujar Alex.
"Baik Bos," jawab Kenan.
Mereka berdua berjalan menuju ke dalam. Naik lift. Menuju ke ruang meeeting.
Pagi itu Claudya terpaksa menyusul Alex ke kantornya. Ada berkas kontrak kerja sama yang ketinggalan di rumah. Claudya diminta Kakek David untuk menyusul. Dia mengendarai mobilnya sampai ke perusahaan. Turun dari mobil berjalan ke lobi. Claudya berjalan menuju lift, tak sengaja dia bertemu lelaki yang malam itu bertemu dengannya.
"Najis, kenapa ada lelaki mesum itu lagi? Jangan-jangan dia membuntutiku," batin Claudya. Dia berjalan dengan menutupi wajahnya dengan berkas yang dibawanya agar lelaki itu tak melihatnya.
Claudya berjalan menuju lift, ternyata Tuan Matteo juga masuk ke dalam lift yang sama bersama sekretarisnya.
"Loh kok dia ada di lift yang sama, aduh gimana ini?" batin Claudya.
"Nona silahkan duluan!" ujar Tuan Matteo mempersilahkan Claudya menekan tombol duluan untuk naik ke lantai yang diinginkan.
"Tuan saja duluan, saya santai," jawab Claudya.
"Nyebelin banget sih, sok perhatian, memang buaya selalu mengincar buruannya," batin Claudya.
"Oke," jawab Claudya. Dia maju ke depan. Namun justru kakinya terpeleset karena heels yang dikenakan cukup tinggi.
"Eh ...," ucap Claudya hampir jatuh, untung Tuan Matteo menangkapnya. Wajahnya yang tadi ditutupi berkas jadi terlihat jelas.
"Gadis kecil," sapa Tuan Mateo melihat Claudya.
Segera Claudya melepas tubuhnya dari tangan Tuan Matteo.
"Kenapa ya Tuan selalu muncul? Apa Tuan jin mesum, sengaja mengikutiku, jangan-jangan Tuan penyuka anak kecil?" ujar Claudya kesal.
Tuan Matteo tersenyum kecil saat Claudya marah padanya.
"Awas ya jangan sekali-kali mengikutiku lagi, aku gak mempan dimesumin," ujar Claudya.
Tuan Matteo hanya diam dan tersenyum melihat tingkah Claudya yang menganggapnya mesum.
"Siapa Tuan, apa dia gadis gila?" tanya Luki.
"Apa? Gadis gila?" Claudya semakin kesal lelaki di samping Tuan Matteo menyebutnya gila.
Tuan Matteo hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Claudya yang semakin kesal.
"Apa perlu panggil sekuriti biar dibawa ke rumah sakit jiwa?" tanya Luki.
"Rumah sakit jiwa? Heh kau, aku ini masih waras, lihat aku cantik dan seksi, lagian orang gila tak mungkin secantikku dan seksi sepertiku," ujar Claudya marah pada Luki yang menyebutnya gila.
"Tuan Matteo tak mungkin tergoda rayuan wanita murahan dan gila sepertimu," ujar Luki.
"Murahan, gila? Kau lebih menyebalkan dari lelaki mesum itu, iiih ...," ujar Claudya.
Tiba-tiba pintu lift terbuka. Claudya langsung ke luar tak peduli turun di lantai berapa dia sangat kesal pada dua lelaki yang baru saja di temuinya.
Di dalam lift Tuan Matteo tertawa sambil menutup mulutnya. Dia begitu menikmati kekesalan Claudya.
"Tuan ada yang lucu?" tanya Luki.
"Tidak," jawab Tuan Matteo.
"Gadis itu sudah mencuri senyuman Tuan Matteo," batin Luki. Tangannya mengepal karena rasa kesal pada Claudya.
Lift itu terus naik ke lantai atas. Tuan Matteo hanya tersenyum sambil menunggu, Luki tidak menyukai senyuman di wajah Tuan Matteo. Dia tahu senyuman itu untuk gadis tadi.
Tak lama pintu lift terbuka. Luki mempersilahkan Tuan Matteo ke luar duluan. Kemudian dia ke luar mengikuti Tuan Matteo. Mengekor di belakangnya. Mereka berjalan menuju ruang meeting sesuai arahan staf yang berjaga untuk menyambut kedatangan Tuan Matteo. Dia mengantarkan Tuan Matteo dan sekretarisnya sampai masuk ke dalam ruang meeting. Kemudian keduanya duduk bersama Alex dan Kenan. Mereka mulai membicarakan kontrak kerja sama di antara mereka. Namun saat hendak penandatanganan Alex baru ingat berkas kontrak kerjasama itu tertinggal di rumahnya. Semalam dia mengecek kembali berkas itu agar tidak ada yang salah.
"Kenapa Bos Alex?" tanya Tuan Matteo.
"Gimana ini berkas kontrak kerjasamanya tertinggal di rumah," batin Alex.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Alex. Dia terlihat cemas.
"Ada apa Bos?" bisik Kenan di telinga Alex.
"Kontrak kerjasamanya tertinggal di rumah," bisik Alex pada Kenan.
"Apa kita alihkan dulu hiburan dangdutan, atau senam ayo bangkit?" bisik Kenan.
"Sekalian kau alihkan mereka keliling dunia selama aku siapkan kontraknya," bisik Alex.
"Kalau begitu izinkan Kenan pesan pintu Mbah dukun biar semua beres," bisik Kenan.
"Oke, oya pergilah sekalian ke pluto beli dodol buat suguhannya," bisik Alex.
Kenan geleng-geleng. Dia tak yakin balik lagi kalau sudah terlanjur ke pluto. Kalau dimangsa alien gimana? Atau jadi raja pluto dengan seribu istri aliennya, sibuk ngurus kawinnya gak kelar-kelar.
Saat Alex masih berbicara empat mata dengan Kenan, pintu ruang meeting diketuk. Alex menyuruh Kenan membuka pintu. Segera Kenan menjalankan perintah Bosnya. Dia membuka pintu. Ternyata Claudya sambil memegang berkas di tangannya.
"Bos Alex ada?" tanya Claudya.
"Ada, Nona kecil mau bertemu dengan Bos?" tanya Kenan.
"Iya, aku hanya mau memberikan berkas ini," ujar Claudya.
"Kalau begitu masuklah!" ucap Kenan.
"Baik, terimakasih," jawab Claudya.
Kenan mempersilahkan Claudya masuk ke dalam. Saat langkah kaki Claudya mendekat ke arah meja, dia terkejut melihat lelaki mesum sedang duduk satu meja dengan kakaknya.