
"Kau jahat! Kau jahat!" Sora terus mengatakan kata jahat pada Pak Harry.
Karena Sora terus memukul dadanya. Pak Harry menangkap tangannya. Mencengkram dengan erat.
"Jahat? Jahat kenapa?" tanya Pak Harry. Dia menatap mata Sora yang berurai air mata.
"Kau sudah memperkosaku!" seru Sora. Dia mengeluarkan semua yang mengganjal di dalam hatinya. Selama ini Sora sudah menyembunyikan kesedihannya demi ibu dan calon anaknya. Tapi sekarang Sora tak bisa lagi menutupi semua itu di depan lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
"Apa? Aku memperkosamu Nona?" Pak Harry terkejut saat mendengar dirinya telah memperkosa Sora.
"Kau pura-pura lupa? Dasar brengsek! Kau tidak ingin mengakui kesalahanmu," ujar Sora. Kecewa Pak Harry seolah tidak ingat dengan apa yang sudah dia lakukan pada dirinya.
Pak Harry terdiam. Dia coba mengingat semua yang sudah terjadi. Mungkinkah dia mengenal Sora atau mungkin pernah bertemu dengannya. Sedangkan Sora hanya menangis. Dia merasa menjadi korban dari apa yang sudah dilakukan Pak Harry.
"Kapan aku bertemu wanita ini? Kenapa dia mengatakan kalau aku yang memperkosanya?" batin Pak Harry penuh tanya. Dia bukan tak ingin mengakui bahwa dirinya telah memperkosa Sora tapi dia tidak ingat apapun.
"Nona, maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak ingat apapun," sahut Pak Harry. Dia bingung mau bicara apa lagi. Sudah jelas dia tidak tahu tentang kejadian permerkosaan itu.
"Tidak ingat?" Sora marah. Pak Harry tidak ingat apapun yang sudah dilakukannya.
"Aku tidak bohong, aku tidak ingat apapun," sahut Pak Harry. Meskipun begitu dia tidak menyangkalnya. Karena wajah Sora seperti tak asing baginya. Hanya saja Pak Harry tidak ingat dengan kejadian yang dimaksud Sora.
Akhirnya dengan penuh air mata Sora menceritakan kejadian yang memilukan itu.
Saat itu Sora pergi bekerja di sebuah hotel bintang lima. Sora bekerja sebagai office girls di hotel itu. Kebetulan hari itu jadwal Sora masuk sip tiga. Seperti biasa Sora membersihkan bagian lorong hotel di beberapa lantai. Semakin malam semakin sepi. Malam itu lantai dua puluh terasa sepi. Apalagi waktu menunjukkan pukul dua malam. Sora harus mengepel lantai. Sekalian membersihkan tempat sampah yang ada di lorong itu.
Sora selalu bekerja dengan sebaik mungkin. Selain karena membutuhkan pekerjaan itu, dia juga membutuhkan uang untuk biaya kuliah. Sora sengaja meminta part time. Dia mendapatkan bagian sip tiga agar bisa tetap kuliah di pagi hari. Sora biasa tidur setelah kuliah sampai sebelum berangkat kerja.
Meski pekerjaan itu tak mudah. Sora tetap bersemangat menjalani semuanya. Dia yakin suatu hari nanti nasibnya akan indah seperti di negeri dongeng.
Sora selalu bekerja sambil mendengarkan musik menggunakan headset miliknya. Agar tidak kesepian dan menghilangkan rasa takutnya. Setiap malam untuk orang biasa sepertinya lorong hotel cukup membuat bulu kuduknya berdiri karena rasa iseng yang sering menggodanya.
Dengan semangatnya yang terus menggelora, Sora mengepel lantai dengan rajin. Tak ada keluhan ataupun rasa lelah. Sora berusaha ikhlas, dengan pekerjaan itu dia bisa memenuhi kebutuhannya.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba seorang lelaki menarik tangan Sora. Dia membawa Sora masuk ke dalam kamar hotelnya. Sora sudah berusaha melawan dari tadi namun apa daya tenaga lelaki itu sangat kuat. Dia membanting Sora ke ranjang yang ada di dalam kamar hotel.
Bruuug ...
Lelaki itu tak bicara apapun. Dia hanya melepas kancing kemeja miliknya. Melempar kemeja itu sembarangan.
Dengan cepat menerkam Sora yang tanpa persiapan apapun. Sora berusaha melawan tapi lelaki itu begitu kuat. Tubuhnya juga panas. Nafasnya memburu.
"Sepertinya dia terkena obat mujarab," batin Sora.
Lelaki yang menerkamnya tidak hanya mabuk biasa tapi terkena obat mujarab.
Sora berusaha berteriak dan melawan sekuat tenaga. Namun hasrat yang tinggi dari lelaki itu tak bisa membuatnya bangun. Sora harus kehilangan kesuciannya secara paksa. Bahkan lelaki itu begitu kasar menggagahinya. Dia tak hanya sekali bahkan berkali-kali sampai Sora tak bertenaga lagi.
Setelah lelaki itu puas, dia berbaring di samping Sora. Awalnya Sora hanya menangis. Meratapi nasibnya. Harus kehilangan kesuciannya secara paksa hanya dalam hitungan menit. Namun dia tidak ingin berada di dalam kamar hotel itu bersama lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Sora mengambil pakaiannya yang berserakan tak beraturan. Ada sebagian yang sudah robek juga. Tak peduli dengan itu, Sora mengenakan kembali mengenakan pakaiannya. Dia berjalan ke luar dari kamar hotel itu.
Sejak saat itu Sora tidak berani menceritakan apa yang terjadi padanya. Bahkan dia juga menutupi kehamilannya hingga usia kandungannya sudah enam bulan. Untung saja kehamilan Sora tak sebesar wanita hamil lainnya. Perutnya terlihat kecil, jadi Sora bisa menutupinya dengan mengenakan jaket setiap hari. Namun lama-lama ibunya tahu. Sora sempat ingin bunuh diri dan menyerah tapi melihat ibunya sangat bersedih dari pada dirinya. Dia mengurungkan niatnya. Sora memutuskan untuk cuti kuliah untuk beberapa bulan. Sampai Sora melahirkan. Sayangnya putranya hilang satu bulan setelah Sora melahirkannya.
Sora menangis tersedu-sedu saat menceritakan hidupnya yang begitu terluka atas perbuatan Pak Harry. Karena perbuatan Pak Harry, Sora kehilangan kehormatan yang sudah dijaganya selama ini.
Pak Harry terdiam. Dia tidak pernah mabuk meskipun dirinya sering jahat pada siapapun. Sekalinya mabuk saat dia kumpul bersama teman-temannya itupun dia terpaksa karena gengsi. Padahal Pak Harry tidak bisa minum alkohol. Setiap minum alkohol dia selalu hilang kendali. Mungkin teman-temannya juga brengsek telah menaruh obat mujarab di minumannya, mereka melakukan itu Pak Harry terkenal jomblo di usianya yang sudah tua.
Pak Harry bersimpuh di kaki Sora. Dia menunduk dan meminta maaf. Meski Pak Harry tak ingat dengan jelas kejadian itu tapi dia yakin Sora memang pernah dinodai olehnya.
"Sora! Maafkan aku! Maafkan aku! Biarkan aku menebus kesalahanku," ujar Pak Harry matanya berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan betapa sulitnya hidup Sora saat kehilangan masa depannya dan mengandung benih darinya.
Sora hanya diam dan menangis. Dia sangat terluka dengan apa yang sudah terjadi padanya.
"Aku minta maaf Sora, apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku?" tanya Pak Harry. Dia tidak tahu harus berbuat apa atau melakukan apa untuk menebus semua kesalahan atas perbuatan mesumnya.
Sora hanya diam. Air matanya terus menetes di pipi kemerahannya.
"Nona! Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu memaafkanku?" tanya Pak Harry. Dia ingin membuat Sora bahagia setelah apa yang sudah dilakukannya pada Sora. Tak hanya merenggut kesucian Sora, dia juga sudah menanam benih yang membuat masa depan Sora hancur berantakan.
Sora masih menangis. Dia sudah menceritakan semua hal pahit yang dia rasakan selama ini. Sora harus menanggung malu dan hampir kehilangan masa depannya.