
Erisa berpikir keras tidak mungkin bertemu dengan wajah seperti itu. Dokter Leon pasti mengenalinya.
"Aa ... Aku punya ide," ujar Erisa. Dia ke luar dari restoran. Mencari butik terdekat. Kebetulan di depan restoran ada butik ternama. Erisa langsung masuk ke dalam butik itu. Mencari pakaian yang pas untuk menemui lelaki yang duduk menantinya.
Erisa berputar-putar di antara baju-baju yang dipajang. Melihat label harga baju-baju itu.
"Astaga, mahal-mahal. Upahku aja sepuluh juta, baju di sini jutaan semua. Rugi bandar, mau untung kenapa jadi buntung," keluh Erisa. Dia kembali mencari baju termurah. Cari diskonan.
"Ada yang diskon tapi inikan baju ..." Erisa berpikir dari pada beli yang gak didiskon mahal. Lebih baik beli yang didiskon meski dia belum pernah memakai baju itu.
Erisa membawa baju itu masuk ke ruang ganti. Dia memakai baju itu dan menatap dirinya di depan cermin.
"Assalamu'alaikum," ucap Erisa mengenakan gamis, hijab dan cadar.
"Ini paling cocok untuk bertemu dengan lelaki itu," ujar Erisa. Dengan pedenya dia ke luar dari butik. Menyeberang jalan dan masuk ke dalam restoran itu.
Erisa melihat Dokter Leon masih duduk menunggunya. Dia menghampiri lelaki tampan berkaca mata itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Erisa.
Dokter Leon yang dari tadi asyik menatap layar handphone-nya mengalihkan pandangan matanya ke atas. Sesosok wanita bercadar dengan mata indahnya berdiri di depannya.
"Maaf aku bukan muslim, jadi tidak bisa menjawab salammu," sahut Dokter Leon.
"Oh, justru saya yang minta maaf. Tidak tahu kalau anda bukan seorang muslim," sahut Erisa.
"Silahkan duduk!" titah Dokter Leon.
Erisa mengangguk. Dengan anggun dan sopan duduk di kursi.
"Perkenalkan aku Leon Alviano, senang bertemu denganmu," ucap Dokter Leon sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Sari Sridevi, senang juga bertemu dengan anda," sahut Erisa hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Melihat itu Dokter Leon justru terkesan. Wanita di depannya sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang muslim yang baik.
Dokter Leon menarik kembali tangannya
"Sebenarnya aku ikut perjodohan ini karena ibuku, semoga kita bisa saling mengenal," ujar Dokter Leon.
"Iya, aku juga ikut perjodohan ini karena dibayar 10 juta," celetuk Erisa.
"Apa? Dibayar 10 juta?" tanya Dokter Leon.
"Bukan harga dalamanku yang sepuluh juta," jawab Erisa.
"Ugh ... ugh ... ugh ..." Dokter Leon terbatuk mendengar dalaman.
"Bibir kau ngomong apa? Masa wanita bercadar ngomongin dalaman?" batin Erisa. Malu sekali mulutnya gak bisa diajak kompromi sedangkan otaknya mikir duit terus.
"Saya akan memanjakan wanita yang ku cintai termasuk soal membeli **********," ujar Dokter Leon.
"Tapi dalamanku ukuran XL," celetuk Erisa. Lagi-lagi mulut dan otaknya tak singkron.
"Ugh ... ugh ... ugh ..." Dokter Leon kembali terbatuk. Terperanjat mendengar ukuran dalaman wanita bercadar di depannya.
"Maaf besar ya?" tanya Erisa.
"Tenang, justru aku suka yang besar enak dipegangnya," jawab Dokter Leon.
"Ih cabul banget pembicaraan ini, yang benar saja Sari akan berjodoh dengan lelaki penyuka dalaman berukuran XL," batin Erisa. Dia membuang nafas gusarnya.
"Begitu ya, gimana kalau ukuran lain yang XL, misal badanku?" tanya Erisa.
"Aku akan menerimamu apa adanya, mau bagian manapun yang XL," sahut Dokter Leon.
"Ini orang belum dipelet Sari kenapa udah kepelet duluan, apa ada pawang lele di depan restoran?" batin Erisa. Padahal obrolannya agak ngawur untuk yang baru bertemu.
"Begitu ya, anda lelaki sejati menerima wanita apa adanya," sahut Erisa. Dia tidak bisa membayangkan jika lelaki itu menikah dengan Sari. Udah jelas XL dari atas sampai bawah.
"Kau mau pesan makanan atau minuman? Mumpung kita lagi di restoran," ujar Dokter Leon.
"Apa saja saya suka kok," sahut Erisa.
Bukan hanya satu jenis makanan atau minuman, Erisa memesan banyak sampai memenuhi meja. Dokter Leon sampai syok melihat makanan dan minuman yang begitu banyak di atas meja.
"Ayo dimakan!" kata Dokter Leon.
"Iya, dengan senang hati," jawab Erisa.
Dokter Leon terlihat cemas. Wajahnya seperti orang kebingungan.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Dokter Leon.
Erisa mengangguk.
Dokter Leon bangun. Meninggalkan tempatnya dulu. Berlalu begitu saja. Sedangkan Erisa mulai memakan makanan dan minuman yang dipesannya. Dia membuka cadarnya. Makan dengan lahap.
"Enak, semuanya enak, benar-benar untung banyak, udah dibayar 10 juta, makan gratis sepuasnya lagi," ucap Erisa. Dia merasa benar-benar untung kencan di perjodohan kali ini. Meski lelaki yang dikencaninya orang yang pernah dicopet olehnya.
Erisa sudah menghabiskan semua makanan di atas meja. Perutnya sangat kenyang. Dia sampai bersandar di sandaran kursi hampir tertidur namun Dokter Leon kembali.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Dokter Leon.
"Sudah, makasih ya," jawab Erisa. Cadarnya sudah dikenakan kembali setelah makan tadi.
"Begini, sebenarnya aku gak enak mengatakan hal ini dipertemuan pertama kita tapi kita tidak bisa ke luar dari restoran kalau aku tidak mengatakannya," ujar Dokter Leon. Wajahnya tampak serius saat berbicara. Membuat Erisa penasaran.
"Memangnya kenapa?" tanya Erisa.
"Kemarin dompetku baru saja dicopet, aku lupa kalau dompetku sudah tak ada. Jadi aku tidak membawa uang. Bisakah kau bayarkan duluan. Nanti ku ganti?" tanya Dokter Leon. Terlihat memohon. Dia merasa tidak enak pada Erisa.
"Begitu ya, berapa?" tanya Erisa.
"Lima juta," jawab Dokter Leon.
"Apa? Lima juta?" Erisa terperanjat. Dia mencopet uang Dokter Leon lima juta ujung-ujungnya kehilangan uang lima juta juga.
"Iya, maaf ya," jawab Dokter Leon.
Mau tak mau Erisa harus membayar apa yang dimakannya tadi. Dengan berat hati kembali duduk bersama Dokter Leon.
"Oya, kau kerja apa?" tanya Dokter Leon.
"Ampun dia tanya pekerjaan lagi? Udah jelas aku yang nyopet dompetmu," batin Erisa. Tangannya sedikit menggenggam.
"Pekerjaanku tukang pijat, apa kau tak masalah?" tanya Erisa. Mungkin dengan begitu Dokter Leon akan ifeel.
"Ugh ... ugh ... ugh ..." Dokter Leon kembali terbatuk.
Melihat Dokter Leon terbatuk. Erisa langsung memijat pundaknya. Memberi Dokter Leon air minum.
"Minum-minum!" Erisa memberikan Dokter Leon botol air mineral yang ada di atas meja. Segera Dokter Leon minum air dari botol itu.
"Sudah enakkan?" tanya Erisa.
Dokter Leon mengangguk. Erisa kembali ke kursi miliknya. Menatap lelaki yang ada di depannya.
"Ngomong-ngomong pijatanmu enak, siapa saja yang sering kau pijat?" tanya Dokter Leon. Dia ingin tahu.
"Nenek-nenek, Tante-tante, Mbak-mbak, dan Eneng-eneng," jawab Erisa.
"Paling habis ini kabur nih orang, mana ada yang suka tukang pijat," batin Erisa. Dia tersenyum disebalik cadarnya.
"Aku ingin dipijat bisa tidak?" tanya Dokter Leon.
Erisa langsung mematung. Tak disangka lelaki di depannya justru meminta dipijat olehnya.
"Astaga tersambar petir apa lelaki ini?" batin Erisa.
Beberapa menit kemudian. Erisa sudah berada di depan rumah Dokter Leon. Dia masih berdiri mematung. Menatap rumah besar di depannya.
"Ayo masuk!" ajak Dokter Leon.
"I-iya," jawab Erisa. Dia masih kebingungan. Perasaan baru bertemu kenapa sudah diboyong ke rumah lelaki itu.
"Bagaimana ini? Kenapa jadi seserius ini? Akukan cuma peran figuran di sini," batin Erisa.