
Pemakaman Kamboja Merah
Sore itu Erisa berdiri di depan nisan kakeknya. Hanya ada dua palayat. Erisa dan Sari. Air mata ikut jatuh di pipi Erisa mengantarkan kakeknya ke peristirahatan yang terakhir. Erisa hanya diam. Selama ini kerja pontang panting, bahkan sampai mencopet untuk memenuhi biaya rumah sakit kakeknya tapi takdir berkata lain. Allah lebih sayang pada kakeknya.
"Kek, makasih atas cinta dan kasih sayang yang kakek berikan padaku. Erisa tidak pernah lupa semua kenangan indah yang kita lalui bersama. Semoga Allah mengampuni segala dosa kakek, diterima segala amal ibadah kakek dan ditempatkan di tempat yang terbaik, amin," ujar Erisa.
"Amin," sahut Sari.
Erisa duduk. Mencium nisan kakeknya dan mengelusnya.
"Aku pasti akan merindukan kakek. Insya Allah Erisa akan sering berziarah ke sini," ujar Erisa.
Sari merangkul Erisa. Hanya dia seorang yang selalu ada di saat suka dan duka. Kalau dia tidak ada Erisa akan benar-benar sendirian melewati semua ini.
"Erisa ayo pulang!" ajak Sari.
"Pulang ke mana? Aku tidak punya tujuan hidup lagi semenjak kakek pergi," sahut Erisa.
"Kakekmu pergi karena dia sayang padamu. Dia tidak ingin memberatkanmu lagi. Jauh di sana dia selalu melihatmu, percayalah kelak kau dan kakekmu akan berkumpul di jannah," ujar Sari. Saat ini Erisa benar-benar down. Dia butuh penyemangat dan orang yang selalu ada di sisinya.
"Amin," jawab Erisa.
"Ayo! Nanti kita bicara lagi," ajak Sari.
Erisa mengangguk. Mereka berdua ke luar dari tanah makam itu. Berjalan masuk ke dalam taksi yang dipesan Sari kemudian pergi ke sebuah kosan.
"Nah Erisa, tinggallah di sini untuk sementara waktu," ujar Sari.
"Aku akan merepotkanmu, kau sudah banyak membantuku Sari," ujar Erisa.
"Itulah gunanya teman. Tak hanya ada dikala susah aja. Di saat berduka pun harus tampil paling depan, iyakan?" ujar Sari.
"Sari," sahut Erisa terharu. Sari memang sahabat yang baik. Selalu perhatian. Meski lebih seringnya Erisa menghindar karena tidak ingin merepotkannya.
"Ayo masuk jangan dipandangi, nanti kosannya menghilang," ujar Sari.
"Siap!" sahut Erisa.
Mereka berdua masuk ke kosan dua lantai itu. Kebetulan kosan milik Erisa ada di lantai dua paling ujung. Mereka masuk ke dalam kosan dan duduk di ranjang.
"Gimana kosannya Erisa? Nyaman gak?" tanya Sari.
"Nyaman, makasih ya Sari," jawab Erisa.
Sari mengangguk.
Erisa terdiam. Matanya masih bengkak. Dia terlihat sedih kehilangan kakeknya, orang yang paling berarti di dalam hidup Erisa.
"Erisa bagaimana lelaki itu?" tanya Sari. Dia ingin mengalihkan fokus Erisa biar tidak memikirkan kesedihannya terus.
"Sari, parah. Lelaki itu suka wanita dengan dada XL tahu, udah gitu mesum," ujar Erisa.
"Masa? Berarti pas dong sama kamu," sahut Sari.
"Kok sama aku?" tanya Erisa terkejut.
Sari merangkul Erisa tersenyum padanya.
"Sebenarnya aku memang mendaftarkanmu perjodohan online itu, biar hidupmu tidak ngenes terus. Kali aja ada yang cocok," sahut Sari.
"Apa? Jadi perjodohan itu untukku?" tanya Erisa. Dia tidak tahu kalau perjodohan online itu untuknya. Sari sengaja menjebaknya agar mau mengikuti perjodohan online ikut dengan senang hati.
"Ini identitasku, kau sengaja ya?" tanya Erisa sambil melihat layar handphone yang menyala itu. Tak disangka foto profil dan semua data miliknya yang didaftarkan di akun itu.
"Habis aku kasihan denganmu. Mungkin saja kalau ada yang tampan dan kaya bisa merubah hidupmu dari gembel jadi putri raja," sahut Sari. Dia kasihan melihat Erisa, mungkin dengan perjodohan yang dilakukannya untuk Erisa bisa membuat Erisa bertemu lelaki tajir dan tampan sesuai kriteria Erisa.
"Iya sih, tapi kalau aku kemarin bilang oke sama bapak-bapak perut buncit masa iya aku nikah sama dia," kata Erisa.
"Itu resiko, aku turut berduka," sahut Sari.
"Selamet, untung aku gak pilih kakek-kakek penyakit kuning," kata Erisa.
"Nambah daftar yang harus kau urus selain kakekmu dong," sahut Sari.
Erisa tertawa. Gak kebayang bila dia bilang oke dengan sembarang laki-laki yang dikencaninya.
"Tapikan kau untung kali ini, cowok ganteng dan kayakan?" ujar Sari.
"Iya tapi masalahnya dia mesum. Udah gitu aku berkenalan dengannya pakai namamu," sahut Erisa.
"Itu mah gampang diatur. Lagi pula semua cowok mesum. Bedanya ada yang jaim atau ada juga yang blak-blakan," kata Sari. Semua lelaki pasti memiliki otak mesum karena wanita memang perhiasan dunia yang indah.
"Iya sih," sahut Erisa.
"Yang penting kau suka, dan dia sesuai kriteriamu. Kaya, tampan, dan mesum," kata Sari.
"Parah Lo ya Sari," sahut Erisa.
Mereka berdua tersenyum. Di saat Erisa berduka ada Sari yang membuatnya tersenyum bahagia. Meski itu hal kecil.
"Tapi dia bukan seorang muslim Sari," ujar Erisa.
"Bukan muslim ya?" sahut Sari.
Erisa mengangguk. Aqidah satu hal yang tidak bisa ditawar. Perbedaan usia, pendapat, suku, dan lainnya masih bisa ditolerir. Tapi perbedaan aqiqah satu hal yang sangat mendasar. Sulit untuk disatukan.
"Gimana ya?" Sari juga bingung.
"Apa aku batalkan saja ya. Kita cari lagi yang lain," jawab Erisa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sari.
Erisa mengangguk. Dia lebih memilih mempertahankan aqiqahnya. Meski Dokter Leon memiliki segalanya. Tampan, kaya dan baik hati.
"Aku bangga, kau mempertahankan aqidah mu dari pada dunia yang fana ini," kata Sari. Dia bangga pada Erisa. Meski hidupnya sulit bukan berarti aqidah bisa ditawar.
Erisa tersenyum. Mungkin dia dan lelaki itu tak berjodoh. Lagi pula baru bertemu. Dari pada perasaan terlanjur jauh lebih baik diputuskan dari sekarang. Agar tidak menorehkan rasa sakit di kemudian hari. Menjalani sesuatu yang sudah jelas tak mungkin bersatu dari awalnya.
"Baiklah, aku batalkan. Jadi kau tak perlu bertemu dengannya lagi ya," ujar Sari.
Erisa mengangguk. Dia sudah mantap untuk mengakhiri perjodohan online itu.Dia memilih mempertahankan aqidahnya.
Di tempat lain Dokter Leon sedang bersantai di ranjang kamarnya. Dia memeriksa perjodohan online yang didaftarkan ibunya kemarin. Baru membukanya sudah terlihat pembatalan dari pihak wanita.
"Aku tidak akan melepaskanmu meski kau membatalkannya, kau tidak hanya mencuri dompetku, jadi tanggungjawab," ujar Dokter Leon sambil tersenyum tipis. Dia melihat foto profil Erisa. Dari pertama melihat wajahnya, Dokter Leon sudah jatuh hati. Meski dia pencopet. Perasaan tidak bisa dijabarkan oleh logika.
"Dokter jatuh cinta pada pencopet, lucu ya," ujar Dokter Leon. Tak disangka hatinya sudah dicopet bukan sekedar dompet miliknya.
"Aku akan memenjarakanmu dalam hatiku cantik," gumam Dokter Leon. Tak jenuh memandang foto Erisa meski sedang buluk. Dia juga membayangkan saat Erisa berhijab seperti Sophia. Wanita berhijab yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya