
"Bu," sapa Gavin pada ibu tua itu. Dia tak membalas sapaan Gavin. Tetap menatapnya tajam.
"Aneh, aku sapa tetep aja diem," batin Gavin. Dari pada bingung lebih baik Gavin segera menemui si cantik Maria.
Gavin berjalan ke teras rumah Mak Ros. Harum kue lemet tercium di hidungnya. Membuat perutnya keroncongan lagi.
"Harumnya, bikin laper lagi," ujar Gavin. Dia bersemangat maju ke depan. Kebetulan pintu rumah Mak Ros memang selalu terbuka kecuali sang empunya tidur atau pergi. Rumah bergaya betawi itu tampak sederhana dan asri.
"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.
"Wa'alaikumsallam," sahut Mak Ros.
Gavin masuk ke dalam. Melihat Mak Ros sedang mendinginkan kue lemet di tampah. Kue lemet adalah kue tradisional berbahan dasar singkong parut ditambah kelapa dan diisi gula merah ditengahnya. Dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus.
"Eh calon mantu, ayo duduk sini! Mak lagi bikin kue lemet nih," ujar Mak Ros seneng banget melihat Gavin datang.
"Bukan Mak kali yang bikin kuenya, tapi Kak Maria," jawab Vera yang terlihat rapi mengenakan seragam dari Perusahaan Asuransi Sejahtera. Dia berdiri di depan Mak Ros merapikan dandanannya.
"Bener Maria yang bikin Mak cuma bungkusin," ujar Mak Ros tersenyum malu.
"Wah kayanya enak Mak," ucap Gavin sambil duduk tak jauh dari Mak Ros. Melihat kue lemet buatan Maria di tampah besar itu.
"Enaklah, kau belum pernah makan ya?" tanya Vera.
"Belum, makanya penasaran," jawab Gavin.
"Ambil satu bayar sejuta ya," sahut Vera.
"Mahal amat, calon kakak ipar nih, gratis pasti," sanggah Gavin.
Vera menyisir rambutnya di depan cermin yang ada di ruang tamu. Sambil berbicara dengan Gavin dan Mak Ros.
"Justru karena calon kakak ipar mesti bayar mahal," sahut Vera.
"Ya ampun baru calon udah berbayar," jawab Gavin.
Vera tertawa bersama Mak Ros.
"Cobain Nak Gavin, rasanya enak dan manis," kata Mas Ros.
"Iya Mak, penasaran aku," sahut Gavin. Dia melihat kue lemet yang dibungkus daun pisang itu. Berjejer memenuhi tampah dari bambu. Masih hangat dan harumnya membuat lidahnya berkecap beberapa kali. Ingin segera dimanjakan dengan rasanya.
Gavin hendak mengambil satu kue lemet tapi Mak Ros memberinya kue lemet pilihannya.
"Ayo makan Nak Gavin, mumpung hangat," ujar Mak Ros.
"Iya Mak," sahut Gavin sambil memegang kue lemet di tangannya. Tak sabar ingin menyantapnya.
"Baca doa makan dulu, biar dilindungi dari apapun yang akan kau makan," saran Vera.
"Eh iya, baca doa dulu, makasih Vera," ujar Gavin.
"Oke," sahut Vera yang masih berdandan di depan cermin.
Gavin membaca doa makan. Kemudian menyantap kue lemet itu. Menikmati setiap rasa dan kelembutan kue itu bercampur di dalam mulutnya.
"Enak Mak," puji Gavin.
"Alhamdulillah kalau kau suka," sahut Mak Ros.
Gavin kembali menyantap makanan itu sampai terburu-buru karena saking enaknya. Tiba-tiba dia tersedak.
"Eeeeek ... eeeek ... eeeek ..." Gavin memegangi lehernya. Melihat itu segera Vera dan Mak Ros mendekat.
"Nak Gavin kenapa?" tanya Mak Ros.
Gavin tak menyahut terus memegang lehernya.
"Mak dia kesedak kali," sahut Vera.
"Iya kayanya," jawab Mak Ros.
Vera berdiri di belakang Gavin menepuk punggung di bawah leher belakangnya. Menepuk beberapa kali.
"Uuueeekk ..." Gavin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Criing ...
Suara peniti yang terjatuh di lantai.
"Astaghfirullah peniti," ucap Mak Ros.
"Kok bisa ada peniti?" ujar Vera.
Gavin masih mengatur nafasnya. Hampir saja dia tak bisa bernafas. Dia melihat sebuah peniti berukuran sedang ada di lantai. Benda itu yang tadi membuatnya tersedak.
"Peniti?" Gavin terkejut. Melihat besi kecil itu bisa ada di makanan yang mau dimakannya.
"Vera ambil air putih!" titah Mak Ros.
Tiba-tiba Maria ke luar membawa air putih di gelas.
"Tuh Kak Maria bawa air Mak," sahut Vera menunjuk ke arah Maria yang datang mendekat.
"Cepet kasih Gavin Maria!" titah Mak Ros.
"Iya Mak," jawab Maria. Dia menghampiri Gavin. Duduk di depannya. Memberikan gelas di tangannya pada Gavin.
"Makasih Maria," ucap Gavin menerima gelas itu.
"Iya, ayo minum Mas," sahut Maria dengan suara lembutnya.
Gavin mengangguk. Meminum air putih di gelas itu.
Glek ... glek ... glek ...
"Gimana Mas udah enakkan?" tanya Maria.
"Iya," sahut Gavin melihat pemandangan segar di depan mata.
"Pagi aja udah aduhai gini, bikin naik semuanya," batin Gavin berpikir jorok.
"Astagfirullah, gak tahan, harus segera dihalalin," batin Gavin. Dari pada matanya tercemar dosa terus. Lebih baik boyong Maria ke pelaminan.
"Nak Gavin maafkan Mak ya, jadi gak enak," ujar Mak Ros.
"Gak papa Mak, aku baik-baik saja," sahut Gavin.
"Biasa kesedak trukkan?" ledek Vera.
"Bukan truk tapi apartemen," sahut Gavin.
"Berarti peniti masih enaklah, belum seberapa apatemenkan?" ledek Vera lagi.
"Iyalah, guekan mantan pemain debus, udah biasa makan besi," jawab Gavin.
Vera tertawa. Sedangkan Mak Ros dan Maria hanya tersenyum.
"Jadi perginya?" tanya Mak Ros.
"Jadi Mak, minta izin bawa Maria dulu ya," pinta Gavin.
"Iya, semoga keluargamu bisa menerima Maria," sahut Mak Ros.
"Amin," jawab Gavin, Maria dan Vera.
"Bawa kue lemetnya ya?" tanya Mak Ros.
"Boleh," jawab Gavin.
Mak Ros langsung mengambil mika plastik berukuran besar. Memasukkan kue lemet itu ke dalam mika plastik. Kemudian memasukkannya ke dalam goodie bag. Dan memberikannya pada Gavin.
"Makasih Mak," ujar Gavin.
"Sama-sama, moga aja pada suka," kata Mak Ros.
Gavin mengangguk.
"Pamit dulu Mak, Vera," ujar Gavin.
"Iya," jawab Mak Ros dan Vera.
Gavin mengalihkan pandangannya pada gadis cantik di depannya.
"Ayo Maria," ajak Gavin.
Maria mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke luar dari rumah Mak Ros. Gavin tersenyum. Dia bingung ingin berbicara apa. Maria bukan wanita yang suka digombalin. Dia pendiam dan tak banyak mengeluarkan ekspresi di wajahnya.
"Maria," ujar Gavin.
"Ya," sahut Maria.
"Pagi ini kau cantik banget," puji Gavin.
"Makasih," jawab Maria.
"Kita pergi ke butik dulu mau gak?" tanya Gavin.
"Boleh," jawab Maria.
"Aduh jantung gue berdebar terus. Tuh dada bikin salfok," batin Gavin.
"Astagfirullah, pikiran gue jorok lagi, mesti pakai kaca mata kuda nih," batin Gavin beristighfar lagi.
Gavin dan Maria berjalan menuju mobil Gavin yang ada di pelataran dekat jalan. Di depan ada sekelompok ibu-ibu sedang mengerumuni tukang sayur keliling.
"Lihat tuh ibu-ibu, Maria dapet mangsa baru."
"Iya heran, yang deketin selalu yang ganteng dan tajir."
"Malah dulu ada yang anak pejabat."
"Tapi kasian nasib mereka tragis gara-gara Maria si pembawa sial itu."
"Kapan dia berhenti memangsa, kasihan tuh bocah ganteng paling mati juga."
"Astagfirullah ibu-ibu jangan menggosip, dosa loh, inget kata Pak Ustad ghibah sama saja memakan bangkai saudaramu, mau?" tanya tukang sayur.
"Ya elah abang, ini kenyataan, dia itu udah berapa kali mau nikah eh calonnya mati mengenaskan."
"Hidup mati manusia itu ada di tangan Allah ibu-ibu, jangan sampai nih gerobak saya jadi lapak untuk menambah dosa, nauzubillah min dzalik," ujar tukang sayur.
"Gak gaul nih abang."
Maria menunduk malu. Dia sudah terbiasa mendengar suara-suara sumbang itu. Maria sudah kenyang dan tak mau menanggapinya. Dia hanya diam. Melihat itu Gavin iba. Maria pasti sangat terluka dengan ucapan ibu-ibu bigos.
"Maria, aku tidak akan mundur, aku akan menikahimu," ujar Gavin.
"Tapi aku pembawa sial Gavin," sahut Maria.
"Kau bidadari cantik bukan pembawa sial, takdir manusia ada di tangan Allah SWT," jawab Gavin.
Maria menangguk.
"Ayo," ajak Gavin sambil membuka pintu mobil belakangnya.
"Iya," jawab Maria dengan lembut. Dia masuk ke dalam. Duduk di kursi belakang. Sedangkan Gavin duduk di kursi kemudi. Mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.