
Siang itu Gavin dan Dodo masih berkeliling menawarkan jamu dan obat-obatan tradisional. Mereka terus berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu RT ke RT lainnya. Tanpa lelah menawarkan dagangannya.
Gavin dan Dodo masih berkeliling mencari konsumen. Dia mulai masuk ke klinik-klinik, lalu ke rumah sakit hingga dia berkeliling di perumahan padat penduduk dan tepi-tepi jalan raya. Panas terik dan rasa lelah tak membuat Gavin dan Dodo menyerah. Mereka tetap bersemangat dan berusaha. Mencari uang halal memang tak mudah, bukan berarti harus menyerah.
"Obat sakit kepala, asam urat, pegal linu, darah tinggi, kolesterol dan penyakit lainnya ada obatnya," teriak Gavin.
"Obat kudisan, jerawat batu, bisulan, kurap, panuaan, bau ketetek, dan kentut bau juga ada," tambah Dodo.
"Do terlalu ekstrim penyakit yang kau sebutkan," ujar Gavin.
"Justru penyakit itu banyak diminati Om, penyakit yang merakyat," ujar Dodo.
Gavin mengangguk. Setuju dengan pendapat Dodo. Mereka kembali berjalan. Berkeliling di antara rumah-rumah penduduk. Tiba-tiba seorang bapak menanggil mereka.
"Mas-mas," panggil Bapak itu.
"Om ada yang manggil, mungkin pembeli atau mau nagih utang," ujar Dodo.
"Benar juga, kira-kira dia orang bukan?" tanya Gavin.
"Kalau setan mulutnya bau Om," jawab Dodo.
Bapak itu menghampiri Dodo dan Gavin. Membuka senyuman manisnya. Gigi kuning tak pernah digosok itu meringis. Aroma baunya tercium oleh Gavin dan Dodo.
"Do, dia hantu pasti, bau banget mulutnya, padahal jarak dua meter juga," ujar Gavin.
"Iya Om, coba timpuk, kalau kesakitan berarti manusia kalau enggak dipastikan hantu Om," ujar Dodo.
"Eh saya bukan hantu, cuma mulutnya bau aja."
"Oh bukan hantu, bener juga siang-siang mana ada hantu," ujar Gavin.
Dodo hanya mengangguk. Benar juga siang-siang mana ada hantu. Setan banyak.
"Jual obat ya mas?" tanya Bapak itu.
"Iya," jawab Gavin.
"Obat apa saja?" tanya Bapak itu.
"Obat segala macam penyakit," ucap Gavin. Dia menunjukkan beberapa sampel obat itu pada calon pembeli. Sekalian menerangkan manfaat jamu dan obat tradisional itu.
"Kalau buat penyakit jiwa ada gak mas?" tanya Bapak itu.
"Penyakit jiwa apa ya pak?" tanya Gavin.
"Jiwa istri saya yang suka main handphone terus dan shopping mulu," jawab Bapak itu.
"Yah pak itu mah harapan semua bapak-bapak kalau ada juga saya mau beli," ucap Gavin.
"Kirain ada, habis capek liat istri saya bukannya rajin ngurus suami dan anak malah rajin ngurusin followers," ujar Bapak itu.
Gavin mendengar keluh kesah bapak itu. Dia curhat pada Gavin semua masalah istrinya.
"Jadinya tiap hari nongkrongin handphonenya. Belum lagi shopping mulu buat di upload di media sosial biar keliatan baru gitu," ucap Bapak itu.
"Itu masalah suami seluruh dunia pak, bukan bapak aja," ucap Gavin.
"Terus gimana solusinya? Harus disembur atau bertapa di Gunung Merapi?" tanya Bapak itu.
"Pak de sembur aja, pasti kapok, pastikan jangan gosok gigi satu bulan lagi, manjur," saran Dodo.
"Benar juga, semakin bau lebih manjur ya," sahut Bapak itu.
"Solusi yang cerdas Do," ujar Gavin mengacungi Dodo jempol.
"Ini uang untuk biaya konsultasinya, makasih ya," ujar Bapak itu memberi uang selembar seratus ribu pada Dodo kemudian pergi.
Dodo dan Gavin bengong melihat uang seratus ribu.
"Do kita jualan obat atau psikolog ya? perasaan dapet duit konsultasi nih," ujar Gavin.
"Iya Om, kok berasa kita ini paranormal sih," sahut Dodo.
Setelah berbincang dengan bapak itu, Gavin dan Dodo kembali berjalan menawarkan obat-obatannya pada setiap orang yang dia temui. Ada seorang wanita memanggilnya.
"Mas penjual obat tunggu," ucap Wanita itu mendekati Gavin.
"Ada apa mba?" tanya Gavin.
"Ada obat supaya hidung mancung, pipi tirus, bibir seksi dan dagu jadi lancip gak?" tanya Wanita itu.
"Ada mba," jawab Gavin.
"Beneran ada?" tanya Wanita itu.
"Operasi plastik aja beres semuanya," jawab Gavin.
"Yah mas, operasi plastik mahal, saya mau yang murah-murah aja," ucap Wanita itu.
"Aduh mba, muka kok buat percobaan barang murah sih," ucap Gavin.
"Habis saya pengen cantik tapi gak keluar duit banyak gitu," sahut Wanita itu.
"Diedit aja mukanya dihandphone juga beres," ucap Gavin.
"Itu mah setiap hari," gumam Wanita itu.
"Pantesan di FB keliatannya cantik," ucap Gavin.
"Kira-kira obatnya apa nih Mas?" tanya wanita itu.
"Udah Tante obatnya percaya diri, gak usah neko-neko, cantik itu relatif, inner beauty lebih penting dari itu," jawab Dodo.
"Bener juga, kau pintar sih bocah," ucap wanita itu. Dia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. Memberikannya pada Dodo kemudian pergi.
"Om kita jualan obat atau curhat dong mama?" tanya Dodo.
"Gak tahu, tapi dah dapet dua ratus ribu," jawab Gavin.
Setelah berbincang dengan wanita itu, Gavin kembali berjalan menelusuri jalan. Dia tetap semangat, begitupun dengan Dodo. Mereka terus menawarkan jamu dan obat-obatan tradisional.
"Mas-Mas," panggil gadis seksi yang baru datang menghampiri Gavin.
"Iya ada apa Mbak?" tanya Gavin.
"Mas jodoh saya bukan?" tanya gadis seksi.
"Om sejak kapan dikirim Tuhan untuk jadi jodoh gadis seksi?" tanya Dodo.
"Gak tahu, mungkin ini yang dinamakan durian jatuh," ujar Gavin.
"Mas punya tabungan minimal 100 juta?" tanya gadis seksi.
"Om belum apa-apa udah matre, hempaskan, dari pada berujung gelandangan," bisik Dodo.
Gavin mengangguk.
"Gak Mba," jawab Gavin.
"Punya simpanan emas atau barang berharga?" tanya gadis seksi.
"Tidak juga," jawab Gavin.
"Kere, buang-buang waktu saja," ucap gadis seksi lalu meninggalkan Gavin.
"Eh, kita kan belum kenalan juga dah pergi aja," ucap Gavin.
"Siapa ya? aku gak kenal. Awas berani menghubungiku lagi, najis," ucap gadis seksi.
"Kaya jalangkung ya Om, datang tak diundang pulang tak diantar," ujar Dodo.
Gavin mengangguk.
"Kak Humaira jualan kue," ucap Dodo.
"Iya, Dodo mau?" tanya Humaira.
"Boleh, tapi Dodo beli, kan Kak Humaira jualan," ujar Dodo.
"Gak papa, kebetulan Kak Humaira sudah selesai jualannya, ini masih sisa buat Dodo aja," ujar Humaira.
"Makasih Kak," ucap Dodo.
Humaira mengangguk.
Dodo senang sekali mendapat kue gratis dari Humaira. Sedangkan Gavin masih terdiam. Mematung.
"Mas mau kuenya juga?" tanya Humaira.
"Eee, iya boleh," jawab Gavin grogi.
"Kita duduk di sebelah sana sekalian makan kuenya," ujar Dodo.
Mereka mengangguk. Berjalan menuju kursi panjang di tepi jalan. Mereka duduk dan menikmati kue.
"Humaira kuenya enak, bikin sendiri?" tanya Gavin.
"Iya," jawab Humaira singkat.
"Ya enaklah Om, namanya juga dibuat dengan cinta, gratis pula," ujar Dodo.
Gavin langsung merangkul Dodo.
"Ndut diem gak, gue sumpel pakai kue basah mau?" tanya Gavin.
"Iya Om, gendut pasti diem," ujar Dodo.
Gavin melepas Dodo kembali berbincang dengan Humaira.
"Tiap hari dagang di daerah sini?" tanya Gavin.
Humaira mengangguk.
"Sama dong, aku juga dagang di daerah sini," ucap Gavin.
"Dagang apa?" tanya Humaira.
"Jamu dan obat-obatan tradisional," jawab Gavin.
Humaira hanya tersenyum menunduk.
"Humaira setelah ini mau ke mana?" tanya Gavin.
"Mau pulang," jawab Humaira.
"Mau di antar gak?" tanya Gavin.
"Tidak usah, mau naik bus," jawab Humaira.
"Gak papa, sekalian kita belajar naik bus biar terbiasa," ujar Gavin.
"Iya Kak Humaira," tambah Dodo.
"Baiklah," jawab Humaira.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa pede kate," batin Gavin.
Mereka bertiga naik bus. Pergi mengantar Humaira. Karena bus penuh mereka berdiri. Dodo juga berdiri kegencet karena gemuk.
"Om, Dodo gak bisa gerak, lemak Dodo kecepit," ujar Dodo.
"Sabar aja Do, sepanjang perjalanan akan begitu, sabar aja siapa tahu kurusan habis kejepit," ujar Gavin.
"Iya sih Om tapi Dodo mau kentut," ujar Dodo..
"Tahan dulu, jangan kentut sembarangan," saran Gavin.
"Gak kuat Om, perut Dodo kecepit," ujar Dodo. Kemudian kentut. Aromanya memenuhi seluruh ruangan bus. Tapi justru Gavin yang tertuduh.
"Mas kalau kentut, lapor dulu, jangan asal kentut."
"Iya, bikin status dulu, kitakan persiapan."
"Atau paling tidak kasih sirine lah kita bisa sedia payung sebelum hujan."
"Maaf ya semuanya, lain kali saya lapor Pak RT dulu kalau mau kentut," jawab Gavin.
Semua orang kembali damai. Tujuan pun sampai. Gavin, Dodo dan Humaira turun dari bus. Mereka berjalan di tepi jalan hingga ke depan rumah besar Keluarga Harold.
"Ini rumahmu Humaira?" tanya Gavin.
"Rumah keluargaku," jawab Humaira.
"Gede banget, kaya rumah Om Ga-," ujar Dodo namun ditutup mulutnya sama Gavin.
"Humaira masuklah, pasti lelah ya," ujar Gavin.
"Makasih ya, kalian tidak mau bertamu?" tanya Humaira.
"Gak usah," jawab Gavin.
Tiba-tiba sebuah mobil BMW berhenti di dekat mereka. Kaca mobil itu turun. Pak Harry melihat Gavin dan Humaira sedang mengobrol.
"Humaira!" panggil Pak Harry.
Humaira terkejut. Menengok ke arah mobil.
"Masuk!" titah Pak Harry.
"Baik Pa," jawab Humaira. Segera Humaira pamit pada Gavin dan Dodo kemudian pergi meninggalkan mereka. Masuk ke dalam rumah besar itu.
Pak Harry turun dari mobilnya. Menghampiri Gavin dan Dodo yang masih berdiri.
"Siapa kau berani sekali mendekati putriku?" tanya Pak Harry.
"Saya Gavin Sebastian Om," jawab Gavin.
Pak Harry tersenyum tipis mendengar nama Sebastian disebut.
"Anak Keluarga Sebastian ada di sini," ujar Pak Harry.
Gavin hanya tersenyum.
"Haram untuk anakku dekat dengan anggota Keluarga Sebastian, tinggalkan tempat ini! Jangan pernah temui anakku!" titah Pak Harry.
"Kenapa Om? Saya serius menyukai putri Om," ujar Gavin.
"Pergi! Atau kau akan menyesal!" ancam Pak Harry.
Dodo menarik lengan Gavin.
"Om ayo pulang, dia menyeramkan," ujar Dodo.
"Aku tidak akan mundur, aku akan tetap mengejar Humaira," ujar Gavin.
"Sampai kau matipun aku tidak akan merestui anakku bersamamu," ujar Pak Harry.
Gavin akhirnya pergi meninggalkan tempat itu setelah Dodo terus menariknya.