Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Bunga Aster



"Tadi ngejar tikus got," jawab Dokter Leon. Dia berbicara sambil tersenyum mengingat wajah pencopet cantik yang menyebalkan itu.


"Oh, tapi ngapain ngejar tikus got?" tanya Aiko. Dia heran kenapa Dokter Leon ngejar tikus got.


"Tadi dia mencuri hatiku," ucap Dokter Leon keceplosan.


"Apa? Tikus got mencuri hati Dokter Leon?" sahut Aiko. Bagaimana bisa tikus got mencuri hati Dokter Leon.


"Eh, maksudku tikus got mencuri uangku," jelas Dokter Leon. Hampir saja bibirnya ember. Masa iya dia harus bilang pencopet cantik itu sudah mencuri hatinya padahal dompet dan jam tangannya dicuri olehnya.


"Oh, kirain," sahut Aiko.


"Mau ke mana?" tanya Dokter Leon.


"Mau membeli bunga aster tapi tokonya tutup. Sophia minta bunga aster buat ditaruh di halaman rumahnya," sahut Aiko. Tadi sore Sophia nitip beli bunga aster. Semenjak hamil Sophia jadi suka berbagai bunga untuk di tanam di halaman rumah maupun kantor. Bahkan halaman kantornya dipenuhi bunga.


"Tumben minta bunga aster? Biasanya suka bunga mawar," jawab Dokter Leon. Dia tahu banyak hal tentang Sophia. Dari dulu menyukainya bahkan berharap jadi suaminya meski terpaksa merelakannya pada Alex Sebastian.


"Sekarangkan Sophia lagi hamil, dia lagi nyidam menanam berbagai bunga," jawab Aiko.


"Kalau gitu mending ke rumahku. Ada banyak bunga di halaman rumah," sahut Dokter Leon. Dari pada Aiko gak berhasil mendapatkan bunga pesanan Sophia, lebih baik mengambil bunga di halaman rumahnya.


"Boleh, tapi beneran nih Dok?" tanya Aiko. Dia senang sekali mendapatkan tawaran dari Dokter Leon.


"Iya," jawab Dokter Leon.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa dapet juga," sahut Aiko. Kegirangan akan mendapatkan bunga aster pesanan Sophia.


Mereka berdua pun naik taksi sampai di sebuah perumahan elit yang cukup besar. Rumah Dokter Leon ada di ujung gang. Rumahnya lebih besar dari yang lainnya karena membeli tanah lebih yang ada di samping rumahnya.


"Aiko ini rumahku," ujar Dokter Leon.


"Besar juga rumah Dokter," sahut Aiko. Menatap rumah yang cukup besar. Di depannya dipenuhi tanaman hijau dan bunga yang berwarna-warni.


"Ini rumah ayahku," jawab Dokter Leon.


"Oh," sahut Aiko.


"Ayo masuk!" ajak Dokter Leon. Dia mengajak Aiko masuk ke pekarangan rumahnya. Ternyata benar kata Dokter Leon. Ada bunga aster di halaman rumahnya.


"Wah banyak juga bunga asternya Dok," ujar Aiko.


"Iya, kebetulan ibuku suka bunga aster," sahut Dokter Leon.


Aiko mengangguk. Baru kali ini dia datang ke rumah Dokter Leon. Meski sudah lama mengenalnya.


"Ayo masuk! Minum dulu di dalam!" ajak Dokter Leon. Dia begitu ramah pada Aiko, karena Aiko asisten Sophia. Dari dulu mereka sudah sering mengobrol dan bertemu.


Aiko mengangguk.


Kedua orang itu masuk ke dalam. Kebetulan ibu Dokter Leon sedang ada di ruang tamu. Dia selalu menunggu anaknya pulang ke rumah. Ibunya Dokter Leon bernama Jesica Kristiani.


"Sore Tante," sapa Aiko pada wanita tua yang duduk di sofa.


"Sore," sahut Ibu Jesica.


Dokter Leon menghampiri ibunya dan mencium keningnya barulah duduk di sofa begitupun Aiko.


"Bunda ini Aiko, asistennya Sophia," kata Dokter Leon memperkenalkan Aiko pada ibunya.


"Aiko Tante, senang bertemu dengan Tante," ujar Aiko memperkenalkan diri padanya.


"Tante Jesica, senang juga bertemu denganmu," sahut Ibu Jesica.


Mereka berdua sama-sama berkenalan dengan ramah.


"Mau minum apa?" tanya Ibu Jesica.


"Apa saja Tante," jawab Aiko.


"Ya udah Tante buatkan jus jeruk ya?" tanya Ibu Jesica.


Aiko mengangguk. Bergegas Ibu Jesica meninggalkan tempat itu. Dia masuk ke dalam dapur membuatkan jus jeruk untuk Aiko.


"Aiko, gak papakan ditinggal dulu," ujar Dokter Leon.


Aiko mengangguk.


Dokter Leon pun berlalu begitu saja. Dia ingin mandi dan berganti pakaian. Tinggal Aiko di ruang tamu itu. Sambil duduk dia melihat-lihat foto di dinding. Ada foto keluarga Dokter Leon dengan semua anggota keluarganya. Beberapa penghargaan yang sudah diraihnya dan foto Dokter Leon yang berseragam Dokter.


"Kalau dilihat-lihat Dokter Leon ganteng juga," batin Aiko.


"Maaf ya lama," sahut Ibu Jesica masuk ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi jus jeruk di gelas panjang.


"Gak kok Tante. Saya yang justru merepotkan Tante," jawab Aiko.


Ibu Jesica meletakkan jus jeruk itu di atas meja. Dan kembali duduk di sofa seperti sebelumnya.


"Ayo diminum Aiko!" titah Ibu Jesica.


"Alhamdulillah," ucap Aiko. Kemudian meletakkan gelas kosong itu di atas meja.


"Tante dengar kau sahabatnya Sophia ya?" tanya Ibu Jesica. Dia tahu banyak Sophia dari anaknya. Dokter Leon sering bercerita tentang Sophia pada ibunya. Termasuk tentang perasaan cintanya.


"Iya Tante," sahut Aiko.


"Oya bagaimana kabar Sophia?" tanya Ibu Jesica.


"Alhamdulillah baik Tante, sekarang Sophia sudah sehat dan beraktivitas seperti biasanya. Malah sedang hamil anak keduanya," jawab Aiko.


"Syukurlah kalau Sophia semakin sehat, Tante ikut senang mendengarnya. Apalagi kabar kehamilannya," sahut Ibu Jesica. Meskipun putranya tidak berhasil mendapatkan Sophia tetap saja Ibu Jesica ikut senang dengan kabar baik itu.


"Iya Tante, justru kedatangan saya ke sini. Untuk meminta bunga aster. Tadi mau beli eh tokonya tutup," sahut Aiko.


"Di depan banyak, ambilah! Tante sendiri yang menanamnya loh," jawab Ibu Jesica. Dia menyukai bercocok tanam. Di sekeliling rumah besarnya terdapat tanaman.


"Terimakasih Tante, maaf jadi merepotkan," kata Aiko.


"Tidak, justru Tante senang bisa membantu," sahut Ibu Jesica.


Tak lama Dokter Leon masuk ke ruang tama. Dia begitu tampan dan keren mengenakan pakaian santai. Dengan kaos panjang berwarna putih dan celana celana pendek berwarna senada dengan kaosnya.


"Ayo Aiko, biar ku temani!" ujar Dokter Leon.


Aiko mengangguk.


Dokter Leon menemani Aiko mengambil bunga aster untuk Sophia. Setelah itu Aiko pamit pulang. Dia harus memberikan bunga aster pesanan Sophia.


Dokter Leon kembali masuk ke dalam rumah. Dia masuk ke ruang makan dan makan bersama menemani ibunya.


"Aiko gadis yang baik dan ramah, apa kau tak tertarik?" tanya Ibu Jesica.


"Belum, gak tahu ke depannya Bun," sahut Dokter Leon. Dia masih mengosongkan hatinya.


"Leon, usiamu sudah tak muda lagi. Apa kau tak ingin berumah tangga. Ibu tidak masalah kau menikahi seorang muslim. Karena kakekmu juga seorang muslim," kata Ibu Jesica.


"Pengen Bun, tapi belum ada yang sreg," jawab Dokter Leon.


"Apa mau Bunda jodohkan saja?" tanya Ibu Jesica. Dia ingin mencarikan jodoh untuk putranya.


"Terserah Bunda, asal aku suka. Langsung nikah," sahut Dokter Leon.


"Kalau gitu mulai besok Bunda mau berburu menantu," ujar Ibu Jesica. Dari pada bosan di rumah lebih baik berburu calon mantu buat anaknya.


Dokter Leon hanya menggeleng. Ibunya pasti menggunakan cara-cara aneh seperti sebelumnya. Hampir saja Dokter Leon menikahi anjing orang gara-gara perjodohan yang dilakukan ibunya.


"Jangan salah ngisi form lagi Bun, aku tidak ingin menikahi anjing atau kucing, apalagi singa," ujar Dokter Leon.


"Itu hanya kesalahan teknis. Kali ini tidak akan, pasti orang beneran," sahut Ibu Jesica. Dia teringat saat menjodohkan Dokter Leon sebelumnya. Udah seneng mau jodohin dengan anak temannya. Gak tahunya anjing.


"Sepertinya seru kalau nyari di biro perjodohan, bisa pilih cewek sesuai kriteria, nanti Bunda carikan yang dadanya besar, cantik dan pintar bicara ya?" ujar Ibu Jesika.


"Ugh ... ugh ... ugh ..." Seketika Dokter Leon terbatuk. Dia bergegas minum. Kata-kata ibunya mengingatkannya pada pencopet cantik berdada besar.


"Kenapa? Bukannya lelaki suka yang dadanya besar biar ..."


"Stop Bun! Leon bisa panas dingin tar susah ngademinnya, kan belum ada," sahut Leon. Repot kalau bayangin yang akan diucapkan ibunya. Pikiran bersihnya bisa tercemar.


"Loh kamu kok mikir ngeres? Bunda mau ngomong biar enak dipandang," jawab Ibu Jesika


Dokter Leon tersenyum. Dia sendiri yang pikirannya sudah ngeres gara-gara mikirin pencopet cantik itu.


"Leon, temen Bunda nemu jodoh di biro perjodohan online, mau gak? Bunda penasaran pengen nyoba buat kamu," ujar Ibu Jesica.


"Astaga Bun, aku ini orang bukan barang yang bisa dicoba-coba. Gimana kalau cewek gak jelas. Misal dia pencopet cantik gitu," ujar Dokter Leon.


"Pencopet cantik? Kok kamu ngomongnya ngelantur, emang ada gitu pencopet cantik?" tanya Ibu Jesica.


"Adalah, mana dadanya gede, bikin ..." Dokter Leon hampir keceplosan.


"Leon kau tidak gila gara-gara belum kawin juga?" tanya Ibu Jesica. Dia bangun langsung memeriksa putranya dengan termometer. Kemudian memeriksa tekanan darah dan detak jantungnya.


"Bun, aku tidak sakit apalagi gila," sahut Dokter Leon.


"Jantungmu sedang tidak sehat, berdebar lebih cepat dari biasanya. Kau sedang terkena virus cinta," ujar Ibu Jesica.


"Diagnosa apa itu coba?" sahut Dokter Leon. Hal seperti ini biasa dilakukan ibunya kalau Dokter Leon membicarakan seorang wanita.


"Obatnya hanya menikah, biar ibu dapet cucu," kata Ibu Jesica.


"Iya ya, aku kalah. Terserah Bunda. Asal cantik dan dadanya besar aku mau," sahut Dokter Leon.


"Ngeres, Bunda pikir kau Dokter tidak mesum. Ternyata ..." Ibu Jesica tak menyangka meski Dokter, anaknya tetap manusia biasa. Punya hasrat yang sama dengan lelaki lainnya.


Dokter Leon hanya tersenyum malu mendengar ucapan ibunya. Sejak bertemu pencopet cantik itu, pikirannya mesum.