Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Sulit Bertemu



Usai sholat, semuanya berdzikir. Berdoa pada Allah SWT dengan keinginan masing-masing yang dipanjatkan pada Sang Pencipta. Untuk pertama kalinya Pak Ferdi mengucapkan permintaan maafnya pada seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan itu. Begitupun dengan Gavin. Dia merasa selama ini banyak dosa dan kesalahan.


"Alhamdulillah kau dapat hidayah Gavin, kalau gak gue cekokin ketek mak lampir biar kapok," ucap Alex.


"Buset dah Kak, mesti ke gunung merapi dulu, padahalkan kuncinya cuma Humaira," ujar Gavin.


"Oh, ternyata hidayah ada maunya, paling juga tar ditolak," ledek Claudya.


"Sembarangan, bukannya doain yang baik, aku kan baru saja bertemu bidadariku," jawab Gavin.


"Om Gavin sama Kak Humaira kaya minyak sama comberan," celetuk Dodo.


"Ha ha ha. Betul, paling juga dapetnya Humaira KW di pasar Gembrong," ledek Alex.


Sophia langsung menepuk lengan Alex yang seneng banget Gavin dibulli ramai-ramai.


"Mas, gak boleh begitu, lupa siapa diri sendiri dulu?" ujar Sophia.


"Beda dong sayang, akukan tampan dan kerja, lah Gavin, pengangguran sejati," ucap Alex.


"Yah Kak, jangan bawa profesi, besok Gavin akan cari kerja," gumam Gavin.


"Om mau jadi pengusaha cireng ya Om, Dodo bisa bantuin buletin adonannya," sahut Dodo.


"Iya tuh cocok jadi pengusaha cireng, jualannya di pengkolan sama Dodo biar banyak yang kasihan, Dodo kan imut dan banyak makan," ledek Claudya.


"Ide bagus juga, jadi pengusaha cireng tapi gimana cara mencari penanam sahamnya," ujar Gavin.


"Pengusaha cireng gak perlu penanam saham Kak, cukup panas-panasan dan kaki dempor seharian jalan, terus teriak nawarin cireng, udah cukup," ujar Claudya.


"Awas aja jangan sampai besar pasak dari pada tiang dengan adanya Dodo," ledek Alex.


"Yah berat, udah bangkrut duluan dong, untung sehari seratus ribu, jajannya Dodo dua ratus ribu, kok malah nombok bukannya kaya," sahut Gavin.


"Tenang Om, kita nambah jualan bepe-bepean buat sampingan, anak-anak suka tuh Om," usul Dodo.


"Tenang Gavin, kakek akan jadi penanam saham pertama kalau kau punya usaha," ucap Kakek David.


"Alhamdulillah, ini namanya rejeki orang yang mau nikah," ucap Gavin.


Dodo malah mengipasi Gavin dengan buku. Seperti Firaun yang duduk di singgasananya.


"Semoga Om cepat sadar, karena Kak Humaira belum tentu mau, apalagi Dokter Randi jauh lebih mapan," ucap Dodo.


Yang lainnya tertawa. Melihat tingkah Gavin dan Dodo.


"Oh Humaira udah ditaksir sama Dokter Randi, kenal tuh Claudya, yah berat Kak saingannya," ujar Claudya.


"Belum usaha, Ayah yakin kau bisa mendapatkan Humaira, asal kau tetap berusaha dan menunjukkan kelayakkanmu," ucap Pak Ferdi memberi support.


"Iya Yah, Gavin akan usaha dan pantang menyerah untuk mendapatkan Humaira," sahut Gavin.


"Semangat Gavin kita mendukungmu, tapi jangan lupa nikahannya bukan endorse dari kakak ya, buktikan kau mampu," ucap Alex.


"Yaelah, Kak Alex lebih parah dari Kak Gavin kali, nikah gratis sama Kak Sophia, udah untung banyak tuh," ledek Claudya.


"Inilah kalau tampan, banyak yang naksir, khususnya bidadariku Sophia," ucap Alex sambil merangkul Sophia di sisinya.


Sophia hanya tersenyum manis. Membiarkan Alex membanggakan dirinya dalam gurauan itu.


Semuanya tertawa. Setidaknya mereka bisa mengobrol bersama sambil bercanda.


Usai mengobrol, Alex dan Kakek David duduk berdua di sofa. Semua orang sudah kembali ke kamarnya masing-masing.


"Lex, meskipun kau bukan cucuku, dan asalmu tak diketahui dari mana, kakek tetap menyayangimu seperti cucu kakek sendiri," ujar Kakek David.


"Terimakasih Kek, itu sangat berarti untuk Alex, meskipun Alex bukan cucu kakek, bagi Alex, kakek tetaplah kakek terbaik untuk Alex," ucap Alex.


Kakek David mengangguk.


"Semoga rumah ini jadi wadah kebahagiaan keluarga kita, lebih hangat dan harmonis lagi," ujar Kakek David.


"Amin," sahut Alex.


Akhirnya Kakek David dan Alex sepakat untuk tetap menjalin hubungan mereka meskipun tanpa ikatan darah. Baik kakek atau Alex percaya sebuah keluarga tidak melulu harus memiliki ikatan darah. Namun cinta dan ketulusan akan membuat perbedaan itu menjadi sebuah hubungan yang akan selalu terjalin selamanya.


***


Pagi itu Sophia sudah rapi mengenakan pakaian kerjanya. Sebuah gamis kerja berwarna toska dipadu padankan dengan hijab putih panjang menutup dadanya hingga ke perut. Sophia mengambil koper miliknya. Di antar Alex sampai teras rumah. Di depan Sekretaris Wang sudah menunggunya.


"Paman sudah sampai?" tanya Sophia.


"Iya, aku harus memastikan semua keperluanmu tersedia dengan baik," jawab Sekretaris Wang.


"Pagi Paman," sapa Alex.


"Pagi," jawab Sekretaris Wang singkat. Dia belum sepenuhnya percaya pada Alex. Bagi Sekretaris Wang, Sophia sangat berharga, sangat disayangkan jika Alex sampai mengecewakannya.


"Aku titip Sophia ya Paman, secepatnya aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai," ujar Alex.


"Iya, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu," jawab Sekretaris Wang.


Sophia meraih tangan Alex, menciumnya dengan lembut. Alex membalasnya dengan mengusap kepala Sophia dengan lembut juga. Kemudian mereka saling menatap. Mata emerald itu begitu berat meninggalkan sang casanova. Mungkin karena mereka terbiasa bersama


"Semoga Allah senantiasa melindungimu istriku," ujar Alex.


"Terimakasih Mas, assalamu'alaikum," ucap Sophia.


"Wa'alaikumsallam," jawab Alex.


Sophia berangkat bersama Sekretaris Wang. Alex berdiri di depan teras melihat kepergian mobil Alpard hitam milik Sophia.


Setelah itu, Alex juga pergi ke perusahaan. Pagi itu dia ingin menemui Tuan Matteo ke rumahnya. Alex janjian dengan Kenan bertemu di kantor namun Alex malah bertemu Kenan sedang berdiri di halte bus.


Alex memarkirkan mobilnya. Menghampiri Kenan yang ada di halte bus.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam, Alhamdulillah ada Bos, kalau tidak semakin miris nasibku," ucap Kenan.


"Dari lahir juga sudah miris nasibmu, ditambah bertemu denganku yang selalu menindasmu, semakin miris deh," jawab Alex.


"Gak masalah Bos, dari pada peristiwa menakutkan tadi," ucap Kenan.


"Ban mobil saya bocor Bos, turunlah dari mobil, malah ditawan sama banci, diajak ngompreng bareng," ucap Kenan.


"Kok bisa?" tanya Alex.


"Itu karena saya salah pakai celana Bos, ini celana bini saya, lihat ada rok pendeknya di celananya," ucap Kenan sambil menunjukkan celana yang modelnya ada rok.


Alex tertawa. Sepagi itu sudah ada yang mengocok perutnya.


"Ya sudah nanti ganti celana milikku di mobil, kita harus bertemu Tuan Matteo," ucap Alex.


Kenan mengangguk. Mereka masuk ke dalam mobil. Berangkat ke rumah Tuan Matteo. Di jalan Kenan memberikan informasi tentang seperti apa Tuan Matteo. Agar Alex tahu caranya membuat Tuan Matteo tertarik dengan tawarannya.


"Jadi Tuan Matteo sangat suka yang berbau alam?" tanya Alex.


"Iya Bos, beliau suka sekali alam, dulu beliau seorang pendaki gunung terbaik, hampir semua gunung di Indonesia pernah dia daki saat muda, jadi Bos harus ngerti tentang alam," ucap Kenan.


Alex mengangguk. Tak lama sampai juga di rumah besar Tuan Matteo. Alex dan Kenan turun dari mobil. Masuk ke dalam rumah besar dan megah bergaya Eropa itu. Mereka duduk di sofa menunggu kedatangan Tuan Matteo. Namun ternyata bukan Tuan Matteo yang menemuinya tapi sekretarisnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam," sapa Alex dan Kenan.


Sekretaris itu duduk bersama Alex dan Kenan. Dia mulai berbicara.


"Tuan Matteo tidak ingin bertemu dengan anda Tuan Alex Sebastian, jika itu berhubungan dengan bisnis sebaiknya anda jangan menemui Tuan besar."


"Kedatangan saya ke sini dengan niat baik, ingin menjalin kerjasama yang akan menguntungkan bersama," ujar Alex.


"Tuan Matteo tidak tertarik berbisnis dengan anda."


"Gimana Bos, ini harapan terakhir kita," bisik Kenan.


"Berikan saya kesempatan bertemu dengannya meski sepuluh menit saja," ujar Alex.


"Maaf keputusan beliau tidak bisa diganggu gugat."


"Baiklah, terimakasih atas waktunya," ucap Alex.


Kenan memegang lengan Alex. Mengisyaratkan pertemuan ini penting, jangan sampai gagal. Tapi Alex tak bisa berbuat apa-apa. Tuam Matteo memang sulit ditemui siapapun.


Alex dan Kenan kembali masuk ke dalam mobil. Mereka berbincang di mobil dalam perjalanan ke kantor.


"Bos, kalau kita tak segera mendapat modal, perusahaan kita bisa bangkrut, PHK tak bisa dihindari," ujar Kenan.


"Mungkin aku terpaksa jual sebagian saham perusahaan," ucap Alex.


"Apa Bos jual saham perusahaan. Terus kita memulai dari bawah lagi, itu berarti pemangkasan karyawan akan sangat banyak," ujar Kenan.


Alex terdiam. Memikirkan ucapan Kenan. Dia juga merasa belum ada ide yang bisa menyelamatkan perusahaannya.


Kenan mengambil nafas gusarnya. Dia beralih ke handphone di tangannya. Sambil melihat-lihat Instagram dan media sosial lainnya. Tak sengaja melihat seorang aktivis pecinta alam memposting kebersamaannya bersama Tuan Matteo.


"Bos ini Tuan Matteo," ucap Kenan kegirangan melihat Tuan Matteo berusaha menunjukkan ke Bosnya.


"Apa sih Kenan?" tanya Alex yang tadi sedang melamun namun tersadar karena suara bising Kenan yang terus memanggilnya. Dia melihat ke layar handphone milik Kenan.


"Iya itu Tuan Matteo, sepertinya sedang di Bandung," ujar Alex.


"Kenapa kita gak nyusul ke Bandung Bos, sepertinya seru, mojang Bandung cantik-cantik Bos," ujar Kenan bersemangat.


"Kau yakin mojang Bandung cantik? Mau digergaji istrimu sampai habis?" sindir Alex.


"Iya juga, istriku bisa berubah jadi ibunya sincan yang menakutkan atau kak rose kakaknya upin ipin, serem juga," ucap Kenan.


"Suami takut istrimah udah terima nasib pakai kaca mata kuda," sindir Alex.


Kenan tertawa kecil. Bisa aja Bosnya yang tampan itu memberi sindiran.


"Sophia ada di Bandung, lebih baik aku susul sekalian bulan madu dan bertemu Tuan Matteo, paket hemat," ucap Alex.


"Nasib saya gimana Bos? tak ada pasangan, di Bandung dingin Bos," ujar Kenan.


"Minta kekepin manusia jerami aja, beli nanti di jalan," ledek Alex.


"Ya ampun ngenes amat nasibku Bos, dikekepin jerami," ucap Kenan.


Alex tertawa. Setidaknya sekretaris unfaedah itu ada gunanya di saat sulit. Ada aja idenya, bisa-bisanya di saat buntu dia melihat handphone dan menemukan keberadaan Tuan Matteo.


***


Perusaahaan Harold Group. Harry sedang duduk di kursi dengan arogan. Dia lelaki dengan jambang di bawah pipinya, berkumis, dan terlihat menakutkan untuk orang yang baru melihatnya. Tatapan matanya dingin menusuk siapa saja yang dia tatap dengan tajam. Kini dia sedang menatap foto lama di meja. Fotonya bersama seorang wanita di masa lalunya. Harry terlihat begitu mencintainya. Namun jarak dan waktu memisah. Tiba-tiba masuklah seorang sekretaris bernama Indra Lesmana. Dia orang kepercayaan Harry.


"Bos ada kabar penting yang ingin ku sampaikan," ujar Indra.


"Kabar apa?" tanya Harry.


"Saham Perusahaan Big Lion Group anjlok. Para pemegang saham bergabung dengan perusahaan kita, kemungkinan besar Alex akan menjual sahamnya atau mencari penanam saham baru," jawab Indra.


"Siapa yang akan jadi penanam saham barunya?" tanya Harry.


"Tuan Matteo Renaldi, konglomerat Jakarta," jawab Indra.


"Matteo Renaldi, dia sangat berpengaruh, kalau Alex dapet berkerja sama dengannya, perusahaannya akan kembali naik," ucap Harry.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bos?" tanya Indra.


"Jangan sampai mereka bertemu," jawab Harry.


Indra terdiam. Dia memikirkan cara untuk menghentikan Alex bertemu dengan Tuan Matteo.


"Hubungin ketua Gengster Serigala, aku butuh bantuannya," ucap Harry.


"Bos akan menyingkirkannya?" tanya Indra.


"Sedikit bermain sepertinya seru, sudah lama tak ada yang menarik," jawab Harry.


"Baik," jawab Indra. Dia mundur. Indra tahu hubungan antara Bosnya dengan Gengster Serigala. Bahkan untuk membebaskan lahan saja Bosnya menggunakan cara kejam dengan bantuan Gengster Serigala untuk membabat habis yang menghalangi jalannya.


Harry hanya tersenyum licik. Dia bermain dengan sebuah busur kecil lalu melemparnya ke sebuah foto di dinding. Foto Ferdi dan Alex.