Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Perjodohan



Erisa membuka dompet yang dicopet olehnya. Di dalam dompet itu ada ktp, atm, uang lima juta, dan sebuah kertas. Ada foto wanita cantik berhijab dan sebuah cincin berlian.


"Oh ini cincin pasti buat cewek yang di foto," ujar Erisa. Karena rasa penasaran yang tinggi dia membuka kertas itu dan membacanya.


"Semoga tahun ini aku menikah. Ingin rasanya mencium wanita cantik yang membuat jantungku berdebar. Kalau bisa dadanya besar," ujar Erisa membaca kertas itu.


"Ih, dia mesum. Jangan-jangan dari tadi nikmatin dadaku? Tahu gitu aku gak di belakangnya," kata Erisa. Fokusnya teralih ke cincin berlian yang indah.


"Kalau dijual pasti mahal. Tapi kenapa aku suka ya melihatnya?" Erisa ragu untuk menjual cincin berlian itu. Dia mengenakan cincin berlian itu di jari manisnya.


"Cantik, jadi sayang kalau dijual," ucap Erisa sambil mengangkat tangannya ke udara. Cincin itu begitu cocok di jari manisnya. Tiba-tiba teringat sebuah pernikahan yang indah. Namun sayangnya di dalam bayangannya Dokter Leon muncul.


"Astaga, apa gara-gara aku mencopet dompetnya jadi kepikiran wajahnya?" ujar Erisa. Dia menurunkan tangannya. Dan tetap mengenakan cincin itu.


"Lumayan banget isinya. Uang lima juta, jam branded, dan atm bisa ku akalin sebelum diblokir," ujar Erisa.


Tak lama sahabatnya datang. Menghampiri Erisa yang sedang duduk di gubuk sawah.


"Erisa!"


"Sari ngapain Lo ke sini?" tanya Erisa.


Sari sahabat Erisa dari dia masih kaya sampai menjadi orang miskin.


"Aku punya job untukmu," ujar Sari.


"Job, jangan bilang ketemuan sama bapak-bapak? Ogah," sahut Erisa. Sudah menjadi kebiasaan Sari mencari jodoh. Tubuhnya yang gemuk membuatnya sulit mendapatkan lelaki idaman. Mau tak mau mengikuti biro perjodohan online.


Sari langsung duduk di samping Erisa.


"Gaklah kali," jawab Sari.


"Aku gak mau lagi disuruh jadi kamu dan bertemu jodoh aneh-anehmu," ujar Erisa.


"Kalau ku bayar sejuta gimana? Job fantastis nih," kata Sari. Sudah menjadi kebiasaan Erisa selalu dijadikan umpan duluan untuk menemui lelaki yang akan berkencan dengannya. Agar dia tahu seperti apa lelaki itu.


"Gak butuh, kondisi perekonomianku sudah membaik, sultan untuk beberapa hari ke depan," sahut Erisa.


"Beneran gak mau? Dua juta gimana?" tanya Sari.


"Gak, males nanti ujung-ujungnya kakek-kakek beruban," sahut Erisa. Terakhir saja bapak-bapak perut buncit yang sesak nafas. Takut dia mati, Erisa langsung kabur.


"Kalau lima juta gimana? Banyak nih. Jarang-jarang aku nyawer, habis jual tanah 1 hektar," ujar Sari. Dia orang kaya di Depok. Tanah dan sawah milik keluarganya hektaran. Belum lagi usaha kuliner yang merajai jalanan.


"Gak tergoda, mulai hari ini aku gak mau gantiin kamu lagi, titik," ujar Erisa.


"Tujuh juta."


"Deal mau!" sahut Erisa.


"Tadi aja gak mau," kata Sari. Tak disangka itu hanya trik Erisa untuk menaikkkan harga.


Erisa hanya tersenyum. Lumayan dapet tujuh juta, makan gratis cuma suruh ketemu cowok doang. Masalah bapak-bapak atau aki-aki belakangan. Asal duit berterbangan.


"Sore ini, jangan lupa. Tampil seksi," ujar Sari.


"Tapi tar cowoknya gak kaget kalau lihat keadaanmu yang sebenarnya?" tanya Erisa.


"Gampang tar ku pelet dia," canda Sari.


"Kasihan, korban pelet dong dia. Kalau peletnya abis langsung gila liat Lo yang sebenarnya," ujar Erisa.


Sari tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Erisa sahabatnya.


"Erisa, gimana kondisi kakekmu?" tanya Sari.


"Gitulah, belum membaik," jawab Erisa.


"Kenapa Lo gak ikutin kemauan nenekmu menikah dengan calon pilihannya. Kau tak perlu pusing-pusing mikirin biaya untuk kakekmu," ujar Sari. Dia tahu Erisa akan dijodohkan tapi menolak. Jadi semua biaya rumah sakit mesti ditanggung olehnya.


"Gak, gue mau nikah sama cowok yang gue cinta," sahut Erisa. Dia tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Apalagi lewat perjodohan.


"Tapi dari pada hidupmu kaya jalangkung, aku gak tega melihatnya," ujar Sari.


"Tenang, gue happy," jawab Erisa.


"Gaklah, ini hasil copetanku," jawab Erisa. Menunjukkan cincin di hari manisnya pada Sari.


"Kau masih nyopet?" tanya Sari.


"Sampingan," jawab Erisa sambil tersenyum tipis. Dia tahu Sari pasti ngoceh.


"Balikin dompet dan isinya, nanti ku ganti," ujar Sari.


"Sayang, banyak isinya," sahut Erisa. Sari sudah beberapa kali mengganti isi copetannya. Dan menyuruh Erisa berhenti mencopet. Hanya saja biaya rumah sakit yang terus membengkak dan hasil kerjanya tak cukup untuk membayar semua itu. Terpaksa sesekali Erisa mencopet.


"Kau benar-benar menyebalkan, kenapa gak nikah aja sama calon dari nenekmu, biar gendut dan jelek juga asal kau menimang uang setiap hari," ujar Sari.


"Gak mau, nenekku terlalu memaksa. Dia cuma mau aku mengeruk harta lelaki gendut itu, aku gak mau jadi alat untuknya," sahut Erisa.


"Ya sudah, cepatlah bertobat sebelum kiamat," kata Sari.


"Insya Allah secepatnya. Doain aku kaya biar cepet ganti hasil copetanku," ujar Erisa.


"Masih kau catat hasil copetanmu?" tanya Sari.


"Iya dong, dompetnya saja masih ku simpan," sahut Erisa.


Sari menggeleng. Ada gitu pencopet kaya Erisa. Nyopet yang pinjem duit dulu tar dibalikin kalau dah punya duit.


***


Sore itu Erisa pergi ke sebuah restoran. Dia mengenakan dress minim. Paha jengjangnya terekspose sempurna begitupun dadanya. Dia berjalan berlenggak lenggok percaya diri. Semua yang dikenakannya fasilitas dari Sari. Dari kaca mata sampai heels. Dia tersenyum senang akan mendapatkan uang tujuh juta hanya untuk sekali berkencan menemui lelaki yang ikut perjodohan dengan Sari.


"Tadi Sari bilang meja tujuh belas ya?" ujar Erisa. Kedua netranya menyapu seluruh meja di restoran itu.


"Itu meja tujuh belas," tambah Erisa. Dia melihat ke meja nomor tujuh belas. Ada seorang lelaki duduk di meja itu. Dia terlihat masih memandangi layar handphone miliknya.


"Astaga, mati aku. Diakan?" ujar Erisa. Jantungnya berdebar tak karuan melihat lelaki yang duduk di meja tujuh belas.


"Kabur ah!" batin Erisa. Mau tak mau dia ke luar lagi dari restoran itu. Tak lupa menelpon Sari temannya.


"Assalamu'alaikum," sapa Sari.


"Wa'alaikumsallam, aku gak jadi nemuin cowok itu, batal ya," sahut Erisa.


"Gak bisa gitu, kitakan sudah deal," ujar Sari.


"Tapi ini urgen," sahut Erisa.


"Memang kenapa?" tanya Sari. Tak biasa Erisa menolak job yang sudah deal.


"Aku haid," sahut Erisa.


"Haidmu tanggal tiga, ini baru tanggal dua puluh," jawab Sari.


"Sial dia hafal tanggal haidku," batin Erisa. Sari tahu banyak tentang dirinya. Alasan haid tidak mempan.


"Rumah sakit nelpon," ujar Erisa.


"Aku lagi di rumah sakit, jenguk kakekmu, butuh apa?" tanya Sari.


"Sial, dia kenapa dia ada di sana? Susah mau ngibulinnya," batin Erisa. Dia bingung mencari alasan yang tepat.


"Udah temuin aja. Ku tambah tiga juta lagi, jadi sepuluh juta. Mumpung aku lagi crazy rich nih," ujar Sari.


"Deal!" Soal uang mengalahkan segalanya di saat kondisi perekonomiannya terdesak.


"Dasar mata duitan," canda Sari.


"Transfer langsung, biar semangat menghadapi bahaya yang menerjang," ujar Erisa. Dia meminta ditransfer temannya.


"Udah dari tadi, sisanya semenit lagi sampai," sahut Sari.


"Oke," sahut Erisa.


Pembicaraan keduanya pun diakhiri. Setelah mendapatkan tambahan uang Erisa mau tak mau menemui lelaki itu.


"Demi dollar, hadapi lelaki itu, tapi ..." Erisa terdiam. Bagaimana caranya menghadapi lelaki yang ada di meja tujuh belas itu.