Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Lelaki Bertopeng



"Sophia, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tak menceritakan semua padaku?" batin Alex saat membaca pesan dari Sophia yang hanya mengatakan dia akan melelang barang-barangnya.


Alex terdiam. Mungkin Sophia sengaja merahasiakan masalahnya, agar Alex tak mengkhawatirkannya. Namun justru Alex merasa Sophia sedang dalam masalah besar.


"Apa ini ada sangkut pautnya dengan masjid itu?" batin Alex. Dia memikirkan Sophia dengan masalah masjid. Dia tahu istrinya tak mungkin tinggal diam dengan masalah ini.


"Kenan!" panggil Alex.


"Iya Bos," sahut Kenan menjawab cepat. Mumpung dia ada gunanya.


"Cari tahu permasalahan Masjid Agung Al Iman di Jalan Jayakarsa, aku ingin tahu semua informasinya sore ini juga," ujar Alex menegaskan dengan serius tak ada penawaran.


"Siap Bos!" sahut Kenan sambil memberi penghormatan pada Alex selayaknya pemimpin upacara. Maklum kalau salah ya cari muka biar si Bos tak menendangnya ke langit ke tujuh.


Alex berjalan ke luar dari ruangannya. Ke luar dari perusahaan. Dia pergi menggunakan mobil miliknya.


***


Acara pelelangan itu baru dimulai. Semua orang yang mengikuti acara itu berasal dari kalangan menengah ke atas. Barang yang akan ditawarkan nilainya juga lumayan mahal. Dari lima puluh juta sampai di atas 1 Milyar untuk berlian. Sophia duduk di antara hadirin yang hadir di acara tersebut bersama Aiko. Dia terlihat tenang. Meskipun Aiko merasa kasihan, melihat Sophia yang harus menjual semua aset-aset miliknya.


"Sophia," ucap Aiko melihat ke samping.


Sophia hanya tersenyum manis. Dia tahu sahabatnya itu sangat peduli padanya. Sophia hanya mengangguk. Memberi tahu kalau dia baik-baik saja.


"Ya Allah hamba ikhlas, semua pemberianmu, kembali padamu, hamba hanya sebatas dititipi," batin Sophia.


Moderator acara pelelangan itu naik ke atas podium. Segera memulai acara dan sambutan. Dia memberikan beberapa kata untuk menandakan dibukanya pelelangan itu.


Sophia sendiri selaku pemilik barang. Maju ke depan menyampaikan sepatah dua kata untuk memberikan ucapan terimakasih karena hadirin bersedia hadir dalam acara pelelangan itu dan menjamin keaslian barang yang akan dijualnya. Dengan menyediakan sertifikat barang tersebut jika sudah resmi diterima pemenang lelang.


Setelah itu Sophia turun. Kembali duduk. Moderator kembali memimpin jalannya acara. Dia mulai membuka pelelangan itu.


"Ladies and gentleman, sore ini kita akan melelang semua barang milik Sophia Thalia, barang-barang berkualitas tinggi dan dijamin keasliannya. Lelang diawali dari tas herm€s croco berwarna putih. Harga dibuka mulai dari 50 juta, silahkan melakukan penawaran!" ucap moderator.


"60 juta."


"75 juta."


"100 juta."


"200 juta."


Satu per satu mengangkat tangan memberi penawaran tertinggi. Mereka semua ingin memiliki tas yang telah dipakai Sophia. Mereka ingin membeli bukan karena kebutuhan akan tas itu tapi tas itu pernah dipakai Sophia, seorang pebisnis wanita yang sukses, cantik dan sholeha. Banyak orang mengidolakannya.


Satu per satu tas milik Sophia terjual hingga habis. Berlanjut ke logam mulia miliknya. Dulu Sophia membeli logam mulia itu hanya untuk simpanan disaat sulit. Harganya fantastis. Bahkan sampai ada yang 1 Milyar. Kini Sophia merelakan logam mulia itu dilelang demi menyelamatkan tempat ibadah.


Hanya dalam waktu satu jam, logam mulia itu ludes terjual. Berlanjut perhiasan milik Sophia. Beberapa gelang, kalung dan cincin emas sudah terjual jual. Tinggal berlian milik Sophia, yang termasuk berlian dengan harga fantastis. Blue diamond, pink diamond, dan beberapa diamond lainnya. Sophia sudah ikhlas, hanya cara itu yang sekarang bisa dilakukannya.


Di sela-sela penawaran blue diamond. Seorang lelaki bertopeng berjalan di tengah hadirin. Mengangkat tangannya. Memberikan penawaran tertinggi. Dia bahkan ingin memborong semua diamond milik Sophia. Semua mata tertuju pada lelaki bertopeng itu. Mereka sampai tercengang, tak percaya ada orang yang ingin memborong diamond yang dimiliki Sophia.


"Baik, tak ada yang menawar lebih tinggi lagi, jadi Tuan yang terhormat pemilik blue diamond ini," ucap moderator.


Semua orang membicarakan lelaki bertopeng yang membeli berlian itu. Bukan hanya satu tapi semua berlian yang ada. Sophia dan Aiko juga tercengang. Mereka penasaran dengan lelaki bertopeng itu. Siapa gerangan yang berani membeli semuanya dengan harga fantastis.


Lelaki bertopeng itu menengok ke arah Sophia. Namun Sophia langsung merendahkan pandangannya ke bawah. Dia tak ingin matanya bertautan dengan lelaki yang dianggapnya bukan mahromnya.


Selesai acara. Sophia meminta Aiko pulang duluan. Dia kasihan melihat Aiko kelelahan membantunya dari pagi. Beberapa menit kemudian, Aiko pulang naik mobil kantor yang dipesan Sophia untuk menjemputnya. Di dalam, Sophia menghitung semua pemasukan yang didapatnya hasil pelelangan.


"Baru 4 Trillion, masih kurang 1 Trillion lagi," batin Sophia


"Aku pasti bisa mendapatkan sisanya," ucap Sophia optimis. Selalu ada jalan untuk meraih kebenaran. Keyakinannya selalu ditanamkan. Allah takkan menguji manusia di luar batas kemampuannya.


Sophia berjalan ke luar dari gedung pelelangan. Supir membuka pintu mobil otomatis. Baru Sophia mau masuk, tiba-tiba lelaki bertopeng itu ikut masuk ke dalam sambil menangkap tubuh Sophia. Terkejut bukan main. Sophia yang ada dipangkuannya berusaha memberontak.


"Lepas! anda siapa?" ujar Sophia kesal.


"Pak Amin tolong!" pinta Sophia pada supirnya. Namun supirnya mengacuhkan Sophia. Membuat sang pemilik mata emerald itu tak habis pikir. Ada orang melecehkannya di dalam mobil kenapa supirnya malah cuek.


"Lepas! Saya akan teriak!" bentak Sophia.


"Mas," panggil Sophia.


"Iya sayang," sahut Alex.


"Astagfirullah, Sophia pikir siapa?" ujar Sophia lega. Tangannya yang tadi memberontak. Kini memegang lengan Alex yang memeluk pinggangnya dengan lembut.


"Tuan apa saya turun dulu?" tanya Pak Amin.


"Pak Amin tahu aja, boleh," jawab Alex.


"Pak Amin, di sini saja," ucap Sophia malu dengan kejujuran Alex pada Pak Amin.


"Saya ngerti kok Non, lanjutkan!" ucap Pak Amin tersenyum lalu ke luar dari mobil.


"Pak Amin!" panggil Sophia. Namun sayang, Pak Amin sudah ke luar.


Mumpung Pak Amin turun, Alex semakin erat memeluk Sophia.


"Sayang, cuma ada kita berdua," ucap Alex.


Sophia tak bisa menolak. Suaminya sudah bermanja padanya. Kepala Alex sudah menyandar di dadanya. Sophia tersenyum. Mengelus kepala Alex.


"Mas kenapa pakai topeng seperti ini?" tanya Sophia.


"Kejutan," jawab Alex.


"Jadi tadi Mas beli semua berliannya untuk apa?" tanya Sophia.


Alex bangun dari dada Sophia. Melepas topengnya. Kemudian mencium bibir merah delima yang dirindukannya seharian tadi. Menikmati ciuman itu beberapa saat. Melepasnya perlahan. Menatap mata emerald yang indah itu.


"Untukmu sayang, waktu kita menikah dulu kau tak meminta apapun hanya seperangkat alat sholat, kau ingat?" ujar Alex.


Sophia tersenyum.


"Kalau ada masalah bilang padaku, jangan membuat beban di pundakmu sendiri," ucap Alex.


"Mas, aku ...." Bibir Sophia ditahan dengan jari telunjuk Alex.


"Aku tahu," sahut Alex. Kemudian kembali mencium Sophia.


"Aku kangen, pulang yuk," ajak Alex.


Sophia mengangguk. Bebannya terasa ringan saat Alex datang padanya. Mungkin benar kata Alex, seharusnya Sophia membagi bebannya dengan suaminya. Tak bisa selamanya dirinya memendam masalah sendirian. Kini ada suami yang ada dihidupnya.


Alex dan Sophia pulang ke rumah. Mereka masak berdua kemudian makan bersama dengan keluarganya. Setelah itu Alex mengajak Sophia kembali ke kamar. Baru pukul 7 malam Alex sudah merengek.


"Mas sholat isya dulu ya," pinta Sophia.


"Oke sayang, tapi nanti itu ya," pinta Alex.


Sophia tersenyum. Mengangguk. Membuat Alex semakin gemas. Dan menyandarkan kepalanya di bahu Sophia yang masih mengenakan mukena putihnya.


Adzan isya berkumandang. Beberapa menit kemudian mereka sholat berjamaah. Berdzikir dan mengaji. Sophia perlahan mengajari Alex membaca Iqra. Banyak huruf Hijaiyah yang dilupakannya dan bacaan tajwidnya masih banyak yang salah dan belum tahu. Dengan sabar Sophia mengajarinya meskipun setiap bisa, Alex selalu menyombongkan dirinya.


"Sayang kenapa kau tersenyum?" tanya Alex sambil menatap sang pemilik mata emerald yang juga menatapnya.


"Mas hebat, tetap berusaha meskipun sulit," jawab Sophia.


"Dulu saat masih kecil kakek mengajariku baca Iqra tapi saat SMP, aku gaul, tak pernah ada di rumah," ujar Alex.


Sophia memegang tangan Alex. Meyakinkannya. Bahwa tiada kata terlambat untuk mengaji kembali meskipun dari awal. Allah lebih suka orang bodoh yang terus berusaha dari pada orang pintar tapi berdiam diri, tak ingin membagi ilmu dan merasa cukup dengan ilmunya tak ingin belajar kembali. Karena di atas langit tentu ada langit. Ilmu tak akan ada batasannya, luas seluas langit bahkan kau takkan selesai mempelajarinya. Meskipun kau belajar sampai habis usiamu.


Alex berbaring di pangkuan Sophia. Sambil mendengar Sophia sholawatan. Suaranya merdu, menyejukkan jiwa. Membuat Alex merasa damai dan tenang. Lebih enak dari pada mendengarkan lagu-lagu di diskotik yang begitu ramai.


"Mas sudah ngantuk?" tanya Sophia yang melihat Alex begitu nyaman di pangkuannya sampai tertidur.


"Apa? gak dong sayang, kan mau itu," jawab Alex langsung terbangun dan duduk. Menatap Sophia.