Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Diikuti Gengster



Pekerjaan kantor yang menumpuk selama perusahaan bermasalah membuat Alex dan Kenan harus menyelesaikannya terlebih dahulu. Barulah pukul 10 malam mereka berangkat dari Jakarta ke Bandung. Mereka tidak jadi naik pesawat karena ingin touring sekalian. Alex membawanya sendiri bergantian dengan Kenan menyetir dari Jakarta ke Bandung.


"Bos berasa ABG lagi, ini baru hidup bebas dari segala beban," ucap Kenan sambil berdiri memegang kaca mobil depan. Alex sengaja membuka atap mobil biar berasa beneran touring.


"Iya sih, kau tak masuk angin teriak-teriak dari tadi?" tanya Alex.


"Masuk angin sih enggak Bos, tapi kok berasa ke masukan apa gitu mulutku," jawab Kenan.


"Paling jangkrik atau kumbang, ya masih enaklah dikala lapar tak ada yang bisa dimakan," celetuk Alex.


"Sepet dikit, lumayan buat obat, asal gak keracunan," ucap Kenan.


"Gimana kalau itu beracun, ini malam terakhirmu Kenan, ku maafkan semua kesalahanmu padaku," ujar Alex.


Kenan langsung duduk. Tersedak berkali-kali.


"Bener-bener, ini mah belalang, kok bisa masuk mulutku juga," ucap Kenan memperlihatkan belalang yang ke luar dari mulutnya.


"Makannya, duduk! Udah tahu lagi di jalan, mau ditilang?" ujar Alex.


"Sorry Bos, baru kali ini setelah sekian lama tak sesenang ini bisa touring bareng Bos," ungkap Kenan.


"Yaudah, kita muter-muter dulu pasti seru, jarang-jarang jadi lajang," ucap Alex.


"Bos baru juga nikah, masih anget-angetnya kali," ujar Kenan.


"Iya dong, makanya nyusul cintaku ke Bandung," sahut Alex.


Mereka terus mengendarai mobilnya ke luar dari tujuan utama. Menelusuri jalanan yang mulai sepi karena beranjak pukul 1 malam. Kenan menyetir gantian dengan Alex yang duduk di kursi penumpang. Lamborgini hitam itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Bos berasa ada yang ngikutin mobil kita, dua mobil tuh Bos," ucap Kenan melihat ke arah spion mobil.


"Masa?" Alex menengok ke belakang. Benar saja dua mobil Jeep mengikuti mobil mereka. Alex merasa mereka sengaja mengikuti ke manapun mobil yang mereka tumpangi belok.


"Kenan naikkan kecepatan!" perintah Alex.


"Beneran Bos? ini di jalan raya loh, bukan jalan tol," ucap Kenan.


"Naikkan!" perintah Alex.


"Oke Bos," sahut Kenan.


Mobil itu melaju dengan kecepatan yang dinaikkan dari sebelumnya. Kedua mobil di belakang juga sama. Terus mengekor. Namun satu mobil lainnya menghilang. Tinggal satu mobil yang mengikuti mobil yang dinaiki Alex dan Kenan.


"Bos tinggal satu, ke mana satunya? Apa jangan-jangan mobil hantu?" tanya Kenan.


"Kau keseringan nonton film horor, jadi pikiranmu ke arah sana," sanggah Alex.


Kenan sesekali melihat mobil yang tadi membuntutinya. Namun menghilang juga. Dia merasa aneh. Tadi kedua mobil itu terus mengikuti dan hampir memepet mobilnya. Kali ini hilang tanpa jejak.


"Bos apa ini malam jumat?" tanya Kenan.


"Iya, memang kenapa? Oh ..., waktunya itu ma istri ya?" tanya Alex balik.


"Yah Bos pikirannya malah jorok," ucap Kenan.


"Memang kenapa?" tanya Alex.


"Apa kita ada di alam lain, dikejar-kejar hantu kaya di film-film horor?" ujar Kenan.


Alex malah tertawa. Bisa-bisanya Kenan mikirin hantu. Padahal hantu juga takut melihat Kenan lebih menakutkan dari pada dirinya.


Tiba-tiba satu mobil itu memblokir jalan di depan mereka. Kenan putar balik mobil, namun ternyata di belakangnya sudah ada mobil juga.


"Bos kita dikepung," ucap Kenan.


Alex melihat ke sekeliling. Memang benar mereka di kepung. Beberapa orang turun dari ke dua mobil. Mereka berpakaian hitam. Mengenakan slayer ikat kepala dengan logo Serigala. Tangannya bertato dan berjambang. Mereka terlihat menakutkan dan galak. Membawa parang, kapak dan golok di tangannya.


"Mau apa sih mereka?" ujar Alex.


"Bos banyak, apa kita kabur?" tanya Kenan.


"Kabur? Gak gentle banget," sahut Alex.


"Mau melawan mereka Bos?" tanya Kenan.


Alex tak menjawab pertanyaan Kenan. Mengeluarkan pistol yang disimpan di mobilnya. Kenan tercengang melihat Alex memiliki pistol.


"Bos, pistolnya sudah berijin?" tanya Kenan.


"Jangan banyak tanya, ayo turun!" ajak Alex sambil bersiap-siap menembak. Tangannya mengudara mengacungkan pistol.


Alex dan Kenan turun dari mobil. Mereka semua berjalan mendekat. Jadi satu, berada di depan Alex dan Kenan. Mereka bersiap dengan senjata tajam mereka.


"Bos tajam, leher bisa putus," ucap Kenan sambil menelan ludahnya berkali-kali melihat benda tajam itu.


"Kenan hitungan ketiga serang," bisik Alex.


"Kita menyerang Bos, gimana kalau jadi rempeyek?" tanya Kenan.


"Jangan takut, Allah bersama kita," ucap Alex.


Kenan meringis. Udah kebayang tuh benda tajam kalau terkena salah satu anggota tubuhnya bisa jadi ayam sayur yang dicincang terus digulai deh.


"Bos Kenan gak bisa bertarung, paling mentok merosotin kolor," ucap Kenan.


"Sebisa kamu aja, ada kolor perosotin, ada rok tarik," ujar Alex.


"Memangnya mereka ngondek juga Bos?" tanya Kenan.


"Gak tahu tuh, ayo sikat," ucap Kenan.


Anggota Gengster Serigala itu tertawa melihat Alex dan Kenan yang hanya berdua. Paling dibikin perkedel juga beres semenit. Gak perlu susah-susah bawa pasukan tempur.


"Dia bawa pistol Sob."


"Satu doang, gampang dilumpuhkan."


"Mau diapain?"


"Sesuai permintaan Ketua."


Sementara itu Alex dan Kenan bersiap untuk menyerang. Mereka mulai menyusun strategi.


"Satu ... dua ... ti- ...," teriak Alex.


Kenan langsung berlari ke depan. Namun tak mendengar langkah kaki Alex berlari ke depan. Dia menengok ke belakang. Ternyata Alex kabur.


"Bos tunggu Kenan ...," teriak Kenan yang akhirnya berbalik. Berlari bersama Alex menjauh dari anggota Gengster Serigala.


Mereka terus berlari di kejar anggota genster itu. Berlari sekuat tenaga. Ke sana sini. Tak peduli menerobos apapun.


"Bos kok lari? Katanya melawan?" tanya Kenan.


"Gila aja melawan segitu banyak, tinggal nama nanti pulang," jawab Alex.


"Ini pistol mainan buat nakut-nakutin doang," ucap Alex.


"Astaga hampir aja aku jadi tumbal rencana imitasi Bos," sahut Kenan.


"Kita andelin kaki aja buat lari, itu jalan yang terbaik untuk sekarang," ujar Alex.


Alex dan Kenan terus berlari. Memasuki kebun-kebun kacang panjang, tomat, jagung, jambu dan lain-lainnya.


"Bos gatel banyak ulet bulunya," ucap Kenan.


"Lupakan penderitaan yang itu, bahaya di belakang lebih dari itu," ujar Alex.


Kenan berlari sambil makan tomat. Dia tak sengaja metik satu tomat saat berlari bersama Alex dikejar para anggota gengster.


"Kenan tomat siapa?" tanya Alex.


"Boleh metik tadi Bos," jawab Kenan.


"Dosa loh, ngambil tanpa izin," ucap Alex.


"Namanya juga dalam peperangan Bos apapun bisa terjadi," sahut Kenan.


"Gimana kalau ditomat itu dipasang obat untuk perangkap tikus, bisa mati kamu," ujar Alex.


Kenan langsung tersedak. Memuntahkan kembali tomatnya.


"Udah pakai google maps kita harus berlari ke arah kota, kalau ramai mereka akan mundur," usul Alex.


"Sip Bos," sahut Kenan. Dia mengambil handphone di sakunya. Memencet sesuatu di layar handphone miliknya. Kemudian muncul suara panduan.


"Belok kanan."


Alex dan Kenan belok kanan sesuai panduan.


"Belok kiri."


Mereka berdua belok kiri. Anggota genster itu terus mengejar tak ada matinya. Mereka bahkan terlihat berpencar.


"Belok kanan, di depan rumah simpanan pastikan dulu istri tidak tahu atau mengikuti mobil anda, tak selamanya selingkuh itu indah jadi kehati-hatian sangat dibutuhkan."


"Kenan itu google maps?" tanya Alex.


"Sorry Bos, ini nada dering dari mantan pacar," ucap Kenan.


"Udah capek-capek belok kanan, belok kiri, gak tahunya nada dering," ujar Alex.


"Maaf Bos," ucap Kenan.


Alex melihat sebuah gudang besar di depan. Dia berpikir untuk bersembunyi di dalam gudang itu dari pada lari lagi tenaga mereka sudah terkuras.


"Masuk gudang," ucap Alex.


"Gudang terbengkalai itu Bos?" tanya Kenan.


"Iyalah, mana lagi?" tanya Alex.


Mereka berdua masuk ke dalam gudang. Banyak tumpukan peti barang dan lemari yang tak terpakai. Alex dan Kenan masuk ke dalam. Bersembunyi di dalam lemari. Nafas mereka tersengal-sengal.


"Atur nafas," bisik Alex.


"Iya Bos," sahut Kenan.


Anggota gengster itu juga masuk ke dalam gudang. Mereka yakin Alex dan Kenan ada di dalam.


"Mereka berdua pasti belum jauh, aku yakin ada di sini."


"Iya ke mana lagi?"


"Berpencar, cari!"


"Siap!"


Alex dan Kenan terdiam di dalam lemari. Mereka menutup mulut dengan satu tangan mereka. Berusaha tenang meskipun nyawa mereka terancam.


Braaak ...


Lemari itu di pukul dengan tangan salah satu anggota gengster yang berkeliling di dalam gudang, mencari keberadaan mereka.


"Bos," ucap Kenan takut.


Deg


Jantung Alex berdebar. Dia juga merasa sedikit takut. Bukan tak berani melawan namun kalah jumlah. Alex belum pernah bertarung dengan banyak orang meskipun dia sering bertarung dengan siapapun.


"Tenang Kenan," bisik Alex.


"Ada sesuatu masuk ke dalam bajuku Bos," bisik Kenan.


"Mungkin ...," pikir Alex.


"Kecoak?" batin Alex. Dia merinding. Namun berusaha tetap tenang. Satu suara keras akan memancing mereka tahu keberadaannya.


"Bos geli, pengen pipis jadinya," bisik Kenan.


"Pipis dulu di celana," bisik Alex.


"Tapi Bos?" ujar Kenan.


Mau tak mau Kenan harus menahan. Tapi justru hal lain yang ingin dikeluarkan. Dia sudah tak tahan. Ketakutan membuatnya memproduksi lebih banyak gas.


Pruuut ...


"Legaaaa ...," bisik Kenan. Dia merasa lega namun Alex mabuk kentut Kenan.


"Bos kenapa gak ada suara?" tanya Kenan.


"Hhmmmm ... hhhmmm ..." Alex hanya mengeluarkan isyarat.


Tiba-tiba lemari itu dibuka oleh anggota genster. Udah deh bau kentut kenan yang tadi memenuhi lemari menyebar terhirup ke segala arah.


"Bau."


"Buset ini apaan?"


Anggota genster itu mundur. Hal ini dimanfaatkan Alex dan Kenan untuk ke luar. Mereka berdiri saling membelakangi masing-masing.


"Kenan tidak ada cara lain lagi, bertarung atau mati ditangan mereka," ujar Alex.


"Siap Bos."


Alex maju ke depan bertarung dengan anggota gengster yang ada di depannya. Baku hantam tak terelakkan di antara mereka.