Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menyusulmu



Erisa dan kenet bus menarik Sari untuk masuk ke dalam, dari luar di bantu penumpang untuk mendorong tubuh belakang Sari.


"Erisa belum apa-apa badanku sakit semua, gepeng bukannya kurus," keluh Sari.


"Makanya udah gendut jangan bawa muatan lagi, bikin pintu bus rusak nih," sahut Erisa.


"Loh kok bukan aku yang dicemaskan justru pintu bus sih," sahut Sari.


"Kau sudah biasa nyangkut sana sini, kalau pintu bus baru kali ini tersiksa karenamu," jawab Erisa.


Kenet dan penumpang yang lainnnya tertawa mendengar ucapan Erisa.


"Aduh kalau kaya gini perutku mules Erisa, aku mau buang hajat," ucap Sari.


"Jangan dulu, kau akan membuat banyak orang menderita, belum lagi kemacetan karena bus ini belum jalan juga," sahut Erisa.


Sari sudah tak tahan. Dia membuang gas sepuasnya. Orang yang mendorongnya dari luar pingsan semua mencium bau gas dari bokong Sari.


Bluuug ... bluuug ... bluuug...


"Astagfirullah pada pingsan." Penumpang melihat tim penolong pingsan semua di tepi jalan.


"Sabar bapak-bapak, ibu-ibu, siapa yang bersedia menggantikan tim penolong yang pingsan. Kita butuh pendorong selanjutnya," ucap kenet bus.


"Gak sanggup Mas."


"Beban hidupku terlalu berat jangan ditambah berat lagi."


"Aku baru saja putus dari pacarku.


"Aku baru bercerai."


"Aku baru ditinggal kucing kesayanganku."


"Sapiku baru saja disembelih."


Satu persatu orang menolak menolong Sari. Beban hidup mereka sudah berat tak ingin ditambah berat.


"Maaf bapak-bapak, ibu-ibu, jangan curhat di sini, saya juga belum bisa bayar hutang. Mana istri saya mau minta motor, anak saya minta bebek-bebekan, kakek saya minta kawin lagi." Kenet itu ikut-ikutan curhat.


"Astaga, beban hidup si kenet lebih berat dari kita."


"Pantas dia kurus kering."


"Woi, buruan tolongin si gendut, bukannya pada curhat. Ini bus bukan acara gosip," ucap supir bus naik darah.


"Sabar Bos, baru juga curhat, belum ada solusinya nih."


"Mau sampai kapan? Bus gakkan berangkat nih," sahut supir bus.


"Iya-iya."


Mau tak mau para penumpang bahu membahu menarik dan mendorong Sari supaya masuk ke dalam bus.


"Alhamdulillah." Semua orang bersyukur Sari bisa masuk. Namun baru saja masuk sudah membuang gas kembali.


Pruuut ...


Semua orang di bus kebauan. Sebagian mabuk, mual dan pingsan.


"Sari lain kali kita naik kontener aja, lebih aman untuk beban hidupmu," ucap Erisa.


Sari tersenyum. Dia duduk di kursi yang berbeda dari Erisa.


"Erisa aku kecepit, gak bisa duduk atau ke luar dari kursi nih," ucap Sari terjepit di kursi bus.


Semua orang pura-pura tidur. Tak mau membantu Sari, mereka takut kena kentut lagi.


"Sabarlah di situ sampai Garut Sari," ucap Erisa.


"Tapi aku gak bisa gerak nih," sahut Sari.


"Tidurlah dulu, nanti ku bangunkan kalau sudah sampai," ucap Erisa.


"Ta-tapi aku mau makan dan minum susah," sahut Sari.


"Belum ada penumpang baru, kalau penumpang lama udah gak sanggup membantu. Nanti ya kita cari penumpang baru yang belum jadi korbanmu," ucap Erisa.


Sari mengangguk. Menunggu penumpang baru yang belum terkena gas beracun darinya.


Satu jam perjalanan sampai di Purwakarta. Banyak penumpang turun dan naik ke dalam bus. Barulah Erisa menarik Sari bersama kenet dan penumpang yang belum tercemar limbah beracun. Namun mereka heran kenapa semua penumpang mengenakan masker. Bahkan ada yang menutup mulanya dengan plastik saat mereka membantu menarik Sari. Ternyata setelah Sari berhasil ditarik, gas beracun itu meledak di mana-mana. Memenuhi seluruh ruangan bus. Untung Erisa dan yang lainnya sudah persiapan dengan masker dan plastik penutup muka. Sedangkan penumpang baru belum ada persiapan, mereka langsung pingsan.


"Astaga Sari seharusnya kau botolin kentutmu itu, biar tak mencemari lingkungan," ucap Erisa.


"Tahu gitu aku pakai APD, biar aman," keluh penumpang itu.


Akhirnya demi keamanan dan ketertiban, Sari duduk di kursi paling belakang biar tidak terjepit sulit bergerak lagi.


"Busnya sudah masuk tol, rest area masih jauh, tahan," ujar Erisa. Mereka naik bus kelas ekonomi yang tidak ada toilet di dalamnya.


"Untung aku bawa toilet sendiri," ucap Sari.


"Apa?" Erisa terkejut mendengar ucapan Sari.


"Lihat," ucap Sari.


Erisa menoleh ke belakang. Dia melihat Sari mengeluarkan WC duduk yang digunakan untuk perjalanan. WC duduk itu dikeluarkan dari ransel gunung miliknya.


"Pantas bawaanmu berat dan banyak, WC segala kau bawa?" ujar Erisa.


"Kan aku sudah bilang, kita harus bersiap," sahut Sari.


Erisa hanya menggeleng melihat Sari yang aneh-aneh aja. Tanpa pikir panjang, Sari menutup tubuhnya dengan kain berwarna hitam kemudian buang air kecil di WC duduk yang dibawanya.


"Lega," ucap Sari.


"Neng boleh pinjem juga gak?" tanya penumpang di depan Sari.


"Gak bisa Bang, tahan aja," sahut Sari.


Erisa hanya tersenyum melihat Sari. Kok bisa dia berteman dengannya. Dibawa ke mana-mana nyusahin orang. Tapi Sari setia kawan. Dia mau menemani Erisa ke Garut demi bertemu Dokter Leon.


***


Sampai di Terminal Garut, Erisa dan Sari turun dari bus setelah proses panjang tari menarik yang menyusahkan. Mereka berdiri di tepi jalan. Bingung mencari alamat yang diberikan Ibu Jesica.


"Sar kita ke mana lagi?" tanya Erisa.


"Naik elef tuh," jawab Sari.


"Naik bus saja gak muat masuk pintunya apalagi naik elef, bisa-bisa kau abadi di pintu elef gak pulang ke Jakarta," sahut Erisa.


"Eh iya, nanti yang ngabisin nasi di Depok siapa kalau aku gak ada?" jawab Sari sambil tersenyum.


"Ya udah kita cari kontener atau mobil box buat ngangkut dirimu," ucap Erisa sambil berjalan ke depan.


"Becak aja atau delman lebih tradisional," jawab Sari mengikuti langkah kaki Erisa.


"Bisa punah becak dan delman kalau kau naik," sahut Erisa.


"Kalau gitu naik ojeg gimana?" tanya Sari.


"Beban hidup mereka sudah berat, kalau kau naik tambah berat," jawab Erisa.


Sari mengangguk. Setahun ini berat badannya memang naik drastis. Dulu masih bisa naik taksi atau mobil sekarang ke mana-mana mesti naik mobil box atau mobil yang sudah dimodifikasi agar dia bisa masuk dan duduk dengan tenang dan nyaman.


Erisa dan Sari bertanya pada warga yang ditemui di jalan. Karena mereka tidak tahu di mana alamat yang diberikan Ibu Jesica.


"Oh, ini Cidatar. Masih jauh dari sini. Kalau mau naik elef atau angkot yang jurusan ke sana. Nanti bilang aja ke kenetnya mau turun di Cidatar. Baru tanya lagi sesuai alamat ini."


"Makasih ya Pak," ucap Erisa.


Bapak itu mengangguk.


Erisa dan Sari kembali berjalan. Mencari mobil box yang mau disewa untuk pergi ke alamat itu. Mereka tak mungkin naik elef atau angkot.


"Tuh Sar, ada mobil box kosong," kata Erisa.


"Eh iya, ayo Erisa kita sewa," sahut Sari.


Erisa mengangguk. Mereka berdua menghampiri mobil box yang parkir di tepi jalan.


"Bang bisa bisa antar kita ke Cidatar gak?" tanya Erisa.


"Bisa, kita juga dari Cidatar, kebetulan searah Neng," jawabnya


"Berapa?" tanya Erisa.


"Gak usah, kita juga mau pulang. Tadi pagi habis ngangkut sayur dari Cidatar ke Pasar Garut," jawabnya.


"Kalau begitu makasih ya Bang," ucap Erisa.


"Sama-sama," jawabnya.


Erisa dan Sari pun naik mobil box. Mereka duduk di belakang sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah kota Garut.


"Seger udaranya ya Erisa, gak ada polusi," ujar Sari.


"Iya, di sini daerah pegunungan dan masih banyak pepohonan," jawab Erisa.


"Pantes Dokter Leon betah ninggalin kamu sampai satu tahun," ujar Sari.


Erisa hanya terdiam. Mungkin Dokter Leon sudah betah di tempat itu dan mungkin sudah memiliki seseorang yang membuat dirinya betah.