Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Datang Bersamamu



"Iya, tapi aku harus izin Papa dulu," jawab Humaira.


"Baiklah, aku tunggu," jawab Luki.


Humaira mengangguk. Kemudian meninggalkan berlalu.


"Yes, jalanku semakin lenggang," ucap Luki kegirangan.


Luki masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya berseri-seri. Terpancar kebahagiaan yang begitu besar dari dalam dirinya. Merasakan jatuh cinta pada seorang wanita. Hal yang baru untuknya.


"Gak sabar pengen halal, apa yang Mamat katakan aku akan tahu," ujar Luki yang masih penasaran dengan ucapan provokatif Mamat. Maklum sebelumnya cuma menghafal dan memperdalam anatomi lelaki, dia begitu acuh dengan anatomi wanita. Tentu penasarannya tinggi.


"Tidak, Humaira gadis sholeha, aku harus lembut dalam memperlakukannya," ujar Luki.


"Berguru pada siapa ya? aku ingin bisa membaca Al Qur'an," ucap Luki. Dia ingin bisa memperdalam ilmu agamanya baik membaca Al Qur'an ataupun memahami tuntunan agama Islam lainnya.


"Eh bukannya Tuan Matteo juga mau berguru, aku ikut saja," gumam Luki.


Sambil mengenakan pakaian, Luki terus mengoceh. Tak bisa dipungkiri dia begitu bahagia. Humaira mau menghadiri acara bersamanya.


Di sisi lain, Humaira masuk ke ruang kerja ayahnya. Dia menghampiri ayahnya yang sedang duduk mengerjakan segudang pekerjaan yang menumpuk karena hari ini tidak ke kantor.


"Assalamu'alaikum," sapa Humaira.


Pak Harry hanya diam. Jarang sekali menjawab salam dari Humaira.


"Pa menjawab salam hukumnya wajib," sahut Humaira.


"Sholat saja tidak untuk apa menjawab salam?" jawab Pak Harry.


"Tapi Papa seorang muslim," ujar Humaira.


"Itu karena Papa menikahi ibumu," jawab Pak Harry.


Dulu alasan Pak Harry masuk Islam hanya karena menikahi ibu Humaira. Saat itu membantu Pak Harry yang putus asa karena ditinggal orang yang dicintainya. Ibunya Humaira bernama Annisa Nur Azizah. Annisa meninggal saat melahirkan Humaira, sejak saat itu Pak Harry menduda hingga sekarang.


Humaira terdiam. Setiap meminta ayahnya untuk membalas salam, sholat ataupun hal-hal lainnya tentang tuntunan agama Islam, Pak Harry selalu membahas Annisa. Itu membuat Humaira sedih.


"Oke maafkan Papa," sahut Pak Harry.


Humaira masih terdiam.


"Wa'alaikumsallam," ucap Pak Harry. Dia menurunkan egonya. Humaira adalah putri semata wayangnya. Dia juga mandiri dan tak pernah sekalipun minta uang pada ayahnya semenjak duduk di bangku SMP. Dia selalu mengerjakan apa saja untuk mendapatkan uang asalkan halal. Humaira tidak sejalan dengan pemikiran ayahnya yang selalu ingin berkuasa dengan berbagai cara kotor. Itulah sebabnya Humaira memilih jalannya sendiri. Bekerja menghidupi kebutuhannya setiap hari.


Sedikit senyuman terpancar di balik cadar saat ayahnya membalas salamnya.


"Kenapa kau menemuiku?" tanya Pak Harry.


"Pa, Arfan mengajakku datang ke acara temannya, bolehkah Humaira ikut?" tanya Humaira.


"Pergilah!" jawab Pak Harry.


Humaira mengangguk.


"Papa jangan lupa sholat Isya ya," ucap Humaira.


"Iya," jawab Pak Harry malas.


Humaira mendekat. Meraih tangan Pak Harry. Menciumnya dengan lembut.


"Assalamu'alaikum," ucap Humaira.


"Wa'alaikumsallam," jawab Pak Harry yang tidak ingin berdebat lagi dengan putri semata wayangnya.


Humaira berjalan ke luar dari ruangan itu. Masuk ke kamarnya. Dia mengganti gamis syar'i-nya dengan warna yang kalem. Warna hijau pistachio yang dipilihnya. Humaira tak pernah berdandan. Hanya pelembab bibir itu pun tertutup cadarnya.


Setelah selesai berganti baju, Humaira ke luar dari kamarnya. Di depan kamarnya Luki sudah menunggu.


"Assalamu'alaikum ukhti," sapa Luki.


"Wa'alaikumsallam Oppa," sahut Humaira menunduk malu.


"Ayo berangkat," ajak Luki.


Humaira mengangguk.


Tiba-tiba Nenek Carroline datang menghampiri keduanya.


"Humaira mau ke mana?" tanya Nenek Carroline.


"Mau pergi ke acara Nek," jawab Humaira.


"Sama, Nenek juga mau pergi," sahut Nenek Carroline yang sudah cantik mengenakan hijab.


"Masya Allah, Nenek cantik banget," puji Humaira.


"Iya dong, Nenekkan mau jadi wanita sholeha kaya kamu," sahut Nenek Carroline.


"Alhamdulillah, semoga Nenek istiqomah," ujar Humaira. Senang melihat neneknya mau berhijab meskipun di usia tuanya. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, Allah SWT Maha Pemaaf asalkan benar-benar bertaubat dan beristiqomah di jalanNya.


"Amin, doain ya," jawab Nenek Carroline.


"Iya Nek," sahut Humaira.


Mata Nenek Carroline beralih pada lelaki tampan yang mirip artis Korea itu.


"Humaira, dia siapa? kok ada Oppa Korea di sini?" tanya Nenek Carroline mendekati Luki. Dia seharian di kamar, galau mau berhijab atau tidak. Jadi tidak tahu ada Luki di rumah itu.


"Nek, ini Arfan Edward, tamunya Papa," jawab Humaira.


"Arfan, senang bertemu nenek," ujar Luki memperkenalkan diri sambil menunduk.


"Aduh gantengnya Oppa, saranghaeyo," ucap Nenek Carroline terkena demam K-Pop. Maklum salah satu pecinta drakor sejati. Saat bertemu Luki udah deh berasa ketemu artis favoritnya.


"Makasih Nek," jawab Luki.


"Nek, jangan genit, udah punya Kakek David," ujar Humaira risi melihat neneknya mendekati Luki.


"Eh iya, lupa kalau ketemu yang bening," sahut Nenek Carroline tersenyum.


Humaira menggeleng. Bisa disambar neneknya Luki kalau terus diem di tempat.


"Nek, Humaira pergi dulu ya," ujar Humaira.


"Nenek foto dulu dengan Oppa," sahut Nenek Carroline.


"Buat apa? Nenek udah punya banyak foto Oppa Korea," sahut Humaira.


"Buat pamerin sama teman-teman sosialita, calon cucuku Oppa Korea," ujar Nenek Carroline.


"Nenek, ada-ada aja, kita belum ...," sahut Humaira.


"Aku akan menikahi cucu Nenek secepatnya," ujar Luki memotong pembicaraan Humaira. Gadis bercadar itu terkejut. Terdiam mematung.


"Setuju, nenek dukung Oppa," sahut Nenek Carroline kegirangan cucunya ada yang mau meminangnya.


Humaira hanya diam. Menunduk malu. Sedangkan Nenek Carroline asyik berfoto dengan Luki yang dianggapnya Oppa Korea.


"Makasih Oppa, saranghaeyo," ujar Nenek Carroline.


"Iya Nek, sama-sama," jawab Luki.


"Sampai jumpa Oppa, Nenek mau kencan dulu," ujar Nenek Carroline.


Luki mengangguk.


Nenek Carroline pun pergi meninggalkan tempat itu. Tinggal Humaira dan Luki yang masih berdiri.


"Oppa maaf ya, Nenek suka begitu kalau ketemu Oppa Korea," ujar Humaira malu.


"Gak papa, nenekmu nenekku juga setelah kita menikah nanti," jawab Luki.


Humaira terdiam malu.


"Oke, kita berangkat cantik," ujar Luki.


Humaira mengangguk.


Mereka berdua berjalan ke luar dari rumah. Berjalan hingga ke halte kemudian naik bus. Humaira duduk di kursi sedangkan Luki berdiri di depan kursinya karena penumpang begitu padat. Ini kali pertama setelah sekian lama Luki tak pernah naik angkutan umum lagi.


***


Rumah Keluarga Sebastian begitu ramai. Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu. Ruangan itu sudah di dekorasi seperti tempat lamaran pada umumnya. Nuansa silver pink mendominasi ruangan itu. Semua kursi sudah dipinggirkan ke tempat lain. Semua orang duduk lesehan di karpet yang digelar di lantai.


Alex duduk di barisan pria bersama Kakek David, Pak Ferdi, Gavin dan Dodo. Sedangkan Sophia duduk di barisan wanita bersama Claudya, Ibu Marisa dan Nenek Carroline. Di dalam mereka mengobrol sambil menunggu.


"Marisa lihat tas keluaran baru," ujar Nenek Carroline memperlihatkan online shop langganannya. Dia dan Ibu Marisa sudah mulai berdamai. Melupakan masa lalu kelam.


"Iya Mi, aku juga naksir, tapi tasku dah banyak," sahut Ibu Marisa melihat tas branded di layar handphone Nenek Carroline.


"Tumben kau tak tertarik?" tanya Nenek Carroline.


"Takut dihisab nanti di akhirat kalau kebanyakan apalagi gak terpakai," jawab Ibu Marisa.


"Aduh Mami juga takut, mana udah mau mati," sahut Nenek Carroline.


"Iya Mi, lebih baik nabung buat di akhirat," ucap Ibu Marisa.


"Caranya?" tanya Nenek Carroline.


"Gimana kalau besok kita dan teman sosialita buat kegiatan amal?" usul Ibu Marisa.


"Setuju, Mami juga ingin nabung buat di akhirat, toh mati tas gak dibawa ya," ujar Nenek Carroline.


"Betul Mi," sahut Ibu Marisa.


Mereka tersenyum bersama. Meski dulu pernah bersitegang tapi kini mereka akan jadi keluarga jadi berusaha untuk berdamai dan melupakan masa lalu.


Di halaman depan Keluarga Sebastian, Tuan Matteo baru datang. Begitupun Luki dan Humaira. Mereka berdua menghampiri Tuan Matteo yang berdiri di depan mobil BMW berwarna hitam miliknya bersama anak buahnya yang membawa seserahan.


"Assalamu'alaikum," sapa Luki dan Humaira.


"Wa'alaikumsallam," sahut Tuan Matteo.


"Tuan baru datang?" tanya Luki.


"Iya," jawab Tuan Matteo sambil memperhatikan gadis bercadar di samping Luki.


"Tuan, perkenalkan ini Humaira," ujar Luki memperkenalkan Humaira pada bosnya.


"Humaira Az Zahra, senang bertemu anda," ujar Humaira sambil menundukkan pandangannya.


"Tuan Matteo Renaldi, saya juga senang bisa denganmu," sahut Tuan Matteo.


Tuan Matteo senang melihat Luki sudah tak belok lagi, mencintai dirinya. Sekarang ada bidadari di sampingnya. Luki juga terlihat begitu menyukai Humaira, gadis bercadar itu.


"Ayo masuk!" ajak Tuan Matteo.


Luki dan Humaira mengangguk.


Mereka semua berjalan memasuki rumah Keluarga Sebastian. Masuk ke dalam ruang tamu yang begitu indah.


"Assalamu'alaikum," ucap Tuan Matteo dan yang lainnya saat memasuki ruang tamu itu.


"Wa'alaikumsallam," sahut Alex dan yang lainnya yang ada di dalam.


Terkejut.


Saat Gavin melihat Humaira ada di belakang Tuan Matteo dan berdiri sejajar dengan Luki. Lelaki tampan berwajah Korea itu.