
Tiga hari kemudian
Keluarga Sebastian dan Keluarga Harold berkumpul di ruang tamu. Mereka menunggu Alex dan Tuan Matteo yang pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Pak Harry dan Sora tampak tegang menunggu hasilnya. Mereka hanya diam. Tidak bicara apapun dari tadi.
"Pa, apapun hasilnya pasti itu yang terbaik untuk Papa dan Nona Sora begitupun dengan Ezar," ujar Humaira yang duduk di samping ayahnya.
"Iya, makasih Nak. Kau selalu mensupport Papa," sahut Pak Harry. Dia senang memiliki anak seperti Humaira yang selalu memberinya semangat dan dukungan. Itu yang menjadi kekuatan untuknya.
Humaira mengangguk dan tersenyum.
"Harry, kalau Ezar memang anakmu berarti cucu terkecilku," ujar Kakek David.
"Iya Pa," jawab Pak Harry. Dia sendiri merasa lucu jika Ezar anaknya. Pak Harry memiliki tiga anak. Alex dan Humaira yang sudah dewasa, sekarang Ezar yang masih balita. Perbedaan usia mereka jauh sekali.
"Masih mending kakek tetep dipanggil kakek, lah Ezar dipanggil Om sama Arfan padahal seumuran. Udah gitu tar kalau Arfan punya anak, Ezar dipanggil kakek. Kasihankan!" sahut Gavin.
"Gak kebayang kalau Ezar masih lajang, Arfan udah nikah dan punya anak. Ezar udah dipanggil kakek, laku aja belum," tambah Claudya. Tak hanya Gavin, Claudya juga merasa lucu dengan silsilah keluarga mereka.
"Baru cewek mau deket, kabur duluan pas tahu Ezar udah jadi kakek," kata Pak Ferdi.
"Iya ya," sahut Ibu Marisa.
Mereka semua mulai menyambung-nyambungkan hubungan kekerabatan di antara semua anggota keluarga.
"Aku yang selama ini jadi bundanya Ezar akan manggil Ezar dengan sebutan kakak, benar-benar dunia terbalik," ujar Claudya.
"Moga aja Ezar bukan anaknya kakek, lebih parah lagi status Ezar di mata dunia," ucap Gavin.
"Kalau Ezar anak kakekmu, Arfan akan manggil Ezar kakek. Dan kau manggil Ezar Om," jawab Pak Ferdi.
Sophia dan yang lainnya tersenyum. Memikirkan silsilah yang tak biasa. Tak lama Alex dan Tuan Matteo datang. Mereka berdua duduk di sofa. Alex duduk di samping Sophia dan Tuan Matteo duduk di samping Claudya.
"Ini hasil tes DNA-nya, ada dua, milik Sora dan miliknu," ucap Alex sambil meletakkan amplop putih di atas meja.
Semua orang menatap amplop berwarna putih itu. Penasaran dengan isinya.
"Buka Pa!" ujar Humaira. Dari pada hanya dipandangi lebih baik dibuka.
Pak Harry mengambil dua amplop putih di atas meja. Dia masih memegang amplop putih itu. Sedikit ragu tapi sudah saatnya dia dan semua orang tahu hubungannya dengan Ezar. Pak Harry mengambil kertas di dalam kedua amplop itu dan membacanya satu per satu.
"Gimana Om?" tanya Claudya penasaran. Dia ingin tahu Ezar anaknya beneran anak Pak Harry dan Sora atau bukan.
Pak Harry terdiam. Seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
"Pak tua bukan hanya kau yang penasaran. Kita semua penasaran," ujar Alex.
"Udah kaya ikut ujian nasional nih Om, bagi contekkannya," tambah Gavin.
"Aku dan Ezar memang ayah dan anak, begitupun dengan Sora dan Ezar. Mereka ibu dan anak," jawab Pak Harry.
"Alhamdulillah." Semua orang langsung mengucapkan rasa syukur. Setidaknya status Ezar jelas.
"Berarti Om pelaku pemerkosaan Sora?" Gavin asal ceplos. Maria langsung menutup mulut Gavin dengan kue nastar.
"Mulutnya Kak Gavin gak bisa difilter. Mesti dibungkam pakai nastar baru tahu deh." Claudya menggeleng lihat kelakuan Gavin.
"Gavin benar akulah pelaku pemerkosaan Sora, aku memang ayahnya Ezar," jawab Pak Harry merasa bersalah.
"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan baik kecil maupun besar. Tapi itu bukan berarti kita terus-menerus menyalahkan diri sendiri.. Lebih baik memperbaiki diri dan bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah dibuat," kata Kakek David.
Pak Harry mengangguk. Kemudian bangun dan berlutut di depan Sora. Dia menundukkan kepalanya.
"Sora maafkan semua perbuatanku padamu. Aku minta maaf. Apapun yang harus ku tanggung akan ku lalukan," ujar Pak Harry.
Sora melihat Pak Harry lalu melihat Ezar yang terlihat bahagia bermain dengan Arfan. Beberapa menit melihat Ezar lalu menatap Pak Harry di depannya.
"Iya, aku memaafkanmu Pak Harry," jawab Sora. Dia merasa kebahagiaan Ezar jauh lebih penting dari pada rasa benci dan marahnya Sora pada Pak Harry.
"Alhamdulillah." Semua orang di ruangan itu mengucapkan rasa syukur.
Pak Harry bergegas menghampiri Ezar. Memeluk anak itu layaknya seorang ayah pada anaknya.
"Kakek Papanya Ezar," ucap Pak Harry.
"Panggil Papa!" pinta Pak Harry mulai mengajari Ezar menyebut namanya dengan Papa.
"Papa!" Untuk pertama kalinya Ezar memanggil Papa. Pak Harry sampai menangis. Tak disangka Ezar akan mau memanggilnya Papa.
"Papa sayang padamu," ujar Pak Harry. Sama seperti pada Alex dan Humaira, Pak Harry juga sayang pada Ezar.
Tak hanya Pak Harry, Sora juga menghampiri Ezar yang masih berbicara dengan Pak Harry. Air mata jatuh di pipi Sora tak mampu dibendung lagi. Ezar memang anaknya. Bayi yang sempat dibuang ibunya.
"Ezar ini Mama," ujar Sora. Dia membuka kedua tangannya berharap Ezar datang padanya.
Ezar yang sedang bercengkrama dengan Pak Harry menatap ke arah Sora. Namun dia juga menoleh ke arah Claudya yang selama ini jadi ibunya.
"Itu Mama Ezar, peluk Mamamu Ezar!" titah Claudya. Matanya berkaca-kaca. Sudah lima bulan merawat Ezar. Sudah banyak yang dilakukan bersama dan mengukir kenangan yang indah.
"Bunda!" Ezar memanggil Claudya.
"Ayo ke Mama!" titah Claudya. Meski berat. Tapi Sora memang ibunya Ezar.
"Iya Ezar, itu Mamanya Ezar," tambah Pak Harry menunjuk ke arah Sora.
Ezar memberanikan diri menghampiri Sora. Dia menatap wajah Sora.
"Mama!" panggil Ezar.
Air mata Sora kembali jatuh di pipinya. Terharu mendengar Ezar memanggilnya Mama.
"Ezar!" lirih Sora. Dia langsung memeluk buah hatinya. Walaupun Ezar anak hasil pemerkosaan Pak Harry padanya tapi Ezar tetaplah anaknya. Sembilan bulan Sora mengandung. Dia merasakan sendiri betapa sakitnya melahirkan. Ezar sangatlah berarti untuknya.
"Mama sayang Ezar," ucap Sora sambil memeluk Ezar. Dia begitu merindukan anaknya itu. Sedangkan Ezar bersandar di bahunya. Seakan nyaman dalam pelukan Sora.
Di sudut ruangan Ibu Nita menangis. Dia merasa sangat bersalah. Dialah yang sudah membuang Ezar ke tempat sampah.
Ibu Nita memberanikan diri menghampiri Sora dan Ezar yang sedang bercengkrama.
"Ezar maafkan Nenek ya," ucap Ibu Nita. Matanya berurai air mata. Rasa bersalah memenuhi benaknya.
"Ezar, itu nenek Ezar," ujar Sora memberitahu Ezar tentang Ibu Nita.
"Nenek!" ucap Ezar.
Ibu Nita langsung mendekat. Dia ingin sekali memeluk Ezar namun Pak Harry menghentikannya.
"Jangan sentuh anakku. Kau sudah membuang anakku!" Pak Harry marah besar. Dia tidak bisa membayangkan jika saat itu Ezar tak ada yang menemukan. Mungkin mati kedinginan, digigit semut, kelaparan dan dimakan hewan buas.