
Pagi itu Hanan ke luar dari rumahnya. Dia mengendarai mobilnya ke luar pagar. Ternyata di depan sudah banyak wartawan. Hanan susah untuk ke luar. Sekuriti rumahnya coba membubarkan wartawan. Namun karena wartawannya begitu banyak. Hanan terpaksa ke luar dari mobilnya mengenakan kaca mata hitam dan masker. Dia menghadapi wartawan itu.
"Hanan Al Malik apa benar Anda terlibat dalam penyalahgunaan dana untuk desa terpencil?"
"Pak Budi Roberto sudah ditahan, dia mengatakan Anda terlibat, bagaimana tanggapan Anda?"
"Apa perceraian Anda dan mantan istri terkait kasus yang menyeret Anda?"
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan. Seakan Hanan didakwa secara terang-terangan. Hanan hanya terdiam. Dia sangat malu.
"Maaf, no comment," jawab Hanan singkat. Dia berjalan melewati kerumunan wartawan. Tiba-tiba seseorang melempar batu ke arahnya.
Dug ...
Batu itu mengenai pelipisnya sampai berdarah.
"Aw ...," keluh Hanan. Dia tak tahu siapa yang melempar karena begitu banyak orang. Hanan bergegas berjalan menjauh. Melewati jalanan. Sampai ke halte bus. Semua terlevisi memberitakan kasus korupsi yang melibatkan dirinya.
Hanan membuang nafas gusarnya. Naik ke dalam bus. Berjalan di lorong. Mencari tempat duduk. Hanan duduk di kursi yang berada di tengah. Ternyata televisi di dalam bus itu juga memberitakan kasus korupsi yang melibatkan dirinya. Beberapa orang di bus berkomentar.
"Lihat, dulu aja janji-janji, sekarang ingkar janji."
"Iya makan duit rakyat, seharusnya untuk rakyat malah untuk menuhin perutnya."
"Gak nyangka yang alim aja korupsi."
"Siapa aja kalau gak bisa bentengin diri, terjerumus."
"Ganteng-ganteng koruptor."
"Peselingkuh lagi."
"Selingkuhnya sama Deva Kleriza, yang model itu loh."
"Bininya lagi hamil malah ditinggalin selingkuh, emosi aku."
Hanan menunduk. Malu dengan hujatan demi hujatan yang mereka katakan. Telinganya begitu panas. Dia bahkan membiarkan luka di pelipisnya. Padahal lukanya cukup serius. Karena mereka terus membicarakannya, Hanan berdiri. Berjalanan beberapa langkah ke belakang. Tiba-tiba seorang pedagang asongan melewatinya, dagangannya diangkat ke atas mengenai muka Hanan hingga kaca mata dan masker yang dipakainya terlepas. Semua orang melihat ke arahnya.
"Bukannya itu Hanan Al Malik?"
"Iya."
"Huh ... tukang korupsi."
"Peselingkuh."
"Tikus berdasi."
Cibiran demi cibiran menghangatkan kembali telinganya. Beberapa orang melempari Hanan dengan makanan, sandal, topi, dan barang-barang lainnya.
"Sudah-sudah tidak boleh menghakimi, biar menjadi urusannya yang berwajib," ucap kenek bus berusaha menenangkan masa.
Hanan langsung ke luar dari bus setelah masa dihentikan kenek bus. Dia berjalan menuju rumah Keluarga Wijaksana.
Di tempat yang berbeda, Sophia menemani Nada duduk di teras sambil menikmati hangatnya matahari pagi yang mulai menyapa hari. Sophia duduk sambil memakan camilan. Semenjak hamil, Sophia jadi suka makan apapun. Mudah lapar dan senang bersih-bersih. Pagi itu Alex sudah berangkat kerja. Berbeda dengan Sophia yang memilih cuti untuk menemani kakaknya.
"Sophia wajahmu lebih cantik saat hamil, lebih bugar, dan segeran," ucap Nada.
"Banyak yang bilang gitu Kak, aku juga merasa lebih sehat saat hamil," sahut Sophia. Tak hanya Nada yang mengatakan Sophia lebih cantik dan segar tapi semua orang yang melihat Sophia bilang seperti itu.
"Kau juga demen makan ya sekarang," ucap Nada melihat Sophia sering makan. Pagi-pagi saja sudah nyemil setelah sarapan.
"Iya, laper mulu bawaannya, makanya aku ngemil," sahut Sophia.
"Aku senang, hidupmu sekarang bahagia bersama Alex, dia juga sudah berubah," ujar Nada. Dia bisa melihat Alex sekarang sangat berbeda dari Alex dulu. Rajin sholat, sopan, ramah, sayang keluarga dan selalu di rumah menemani Sophia.
"Kakak benar, Mas Alex memang sudah berubah, apalagi ada buah hati di antara kami," sahut Sophia.
Nada tersenyum sambil mengelus perut Sophia. Dia senang adiknya sudah bahagia. Selama ini Sophia selalu sibuk bekerja dan mengurus urusan kemanusiaan. Dia selalu mengesampingkan urusan pribadinya sampai akhirnya menikah dengan Alex.
"Kayanya kakak akan kerja lagi," ucap Nada. Dia merasa dengan bekerja luka di hatinya lama-kelamaan akan terobati. Mungkin dia juga bisa menata hidupnya kembali. Menatap masa depan baru.
"Nesa bagaimana?" tanya Sophia.
"Bibi Fatimah akan merawat Nesa, lagi pula aku harus mandiri, sekarang aku single parents, aku harus bisa menafkahi anakku," jawab Nada.
"Bagaimana kalau kerja di perusahaan kita?" tanya Sophia.
Nada terdiam. Dia memang bisa saja bekerja di perusahaan keluarga. Tapi Nada ingin mandiri. Selain itu sikapnya yang suka mengatur, dia tak ingin terlibat konflik dengan Sophia dan juga dia tak ingin bergantung pada keluarga. Apa yang sudah terjadi mengajarkan pada dirinya untuk bekerja keras, jangan bergantung warisan dan harta keluarga. Dunia modeling juga tak bisa diandalkan apalagi sekarang dia sudah tak secantik dan seseksi dulu.
"Aku tidak tertarik di perusahaan kita, mungkin perusahaan lain," jawab Nada.
"Gimana kalau di perusahaan Mas Alex? bagian HRD ada lowongan Kak," ujar Sophia.
"Boleh, kakak lebih suka dibagian itu dari pada di akunting, pusing ngitung duit," sahut Nada.
"Ya udah, nanti aku bilang Mas Alex," ujar Sophia.
"Tapi gak papa aku kerja di sana?" tanya Nada.
"Gak papa, memang lagi butuh di bagian HRD," jawab Sophia.
"Tapi jangan bilang aku saudaramu pada karyawan di sana, aku mau jadi orang biasa aja, biar bisa berbaur," sahut Nada.
"Oke," sahut Sophia.
"Assalamu'alaikum," sapa Hanan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Nada dan Sophia.
"Untuk apa kau ke sini? Mau mentertawakanku lagi? Masih kurang?" tanya Nada.
"Bang Hanan ada urusan apa ke sini? kalau untuk menyakiti hati Kak Nada, sebaiknya Abang pulang, saya tak segan mengusir Abang," ujar Sophia. Dia tak rela melihat kakaknya yang sudah move on terluka lagi hatinya.
Hanan maju ke depan. Berlutut di depan Nada. Menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Nada, maafkan aku, maafkan aku," ucap Hanan.
"Maaf? Mudah sekali, kau lupa kemarin bilang apa padaku?" ujar Nada.
"Aku menyesal Nada, aku menyesal. Aku yang bodoh, sudah meninggalkanmu," ucap Hanan.
"Menyesal? Baru sekarang setelah kau mau masuk penjara?" ujar Nada.
"Aku memang salah, aku pantas di penjara, tapi maafkan aku," kata Hanan.
Sophia terdiam. Membiarkan keduanya bicara selama Hanan tidak melukai kakaknya.
Mata Hanan berkaca-kaca. Tangannya hendak memegang tangan Nada namun ditampik Nada.
"Jangan sentuh aku! Aku bukan istrimu lagi," tegas Nada.
"Nada aku masih mencintaimu," ujar Hanan.
"Ha ha ha ..., cinta? Setelah kau meludahiku, sekarang kau ingin menjilat ludahmu sendiri?" ucap Nada.
Hanan terdiam. Benar kata Nada. Dialah yang meninggalkan Nada, kenapa sekarang mengemis cinta di depannya.
"Bisakah kita bersama lagi? Aku akan memperbaiki semuanya, aku janji," ujar Hanan.
"Sorry, aku tidak ingin jadi istri koruptor yang di penjara, aku rasa aku harus menyambut hidup baruku," jawab Nada.
"Nada ..., ku mohon, ada Nesa, anak kita," bujuk Hanan.
"Nesa memang anak kita, tapi bukan berarti aku harus menjadi istrimu, terimakasih Mas Hanan sudah menceraikanku, sekarang aku bebas dari lelaki parasit sepertimu," ujar Nada sambil tersenyum.
"Pergilah Bang Hanan! percuma kau mengemis cinta Kak Nada, kau sendiri yang sudah menyakitinya, dan meninggalkannya, apa kau lupa?" ujar Sophia.
Hanan terdiam. Sulit untuk membujuk Nada kembali. Menggunakan Nesa juga tak mempan.
"Nada kau boleh memukulku sepuasmu, tapi ku mohon kembalilah padaku," pinta Hanan.
Nada terdiam. Matanya berkaca-kaca tapi ditahan. Tak boleh satu tetesanpun terjatuh untuk lelaki yang sudah mengkhianatinya itu. Air matanya sangat berharga tak pantas menangisi seorang yang sudah menyakitinya demi orang lain yang baru dikenalnya.
Tak lama mobil polisi berhenti di pelataran rumah Keluarga Wijaksana. Beberapa polisi dari BKN dan polisi dari kantor kepolisian kota ke luar dari mobil. Mereka menghampiri ketiganya.
"Selamat pagi."
"Pagi," sahut ketiganya.
"Apa benar ini kediaman Keluarga Wijaksana? Kami membawa surat perintah untuk membawa
Saudara Hanan Al Malik ke kantor polisi."
"Iya benar," sahut Sophia dan Nada. Sedangkan Hanan terdiam. Dia tahu maksud kedatangan polisi-polisi itu.
Salah seorang petugas memberikan surat perintah penangkapan pada Nada. Segera Nada membaca surat itu. Surat yang berisi penangkapan Hanan terduga korupsi penyalahgunaan dana untuk desa terpencil.
Nada menutup kembali surat itu. Dia menatap sesaat ke arah Hanan yang terdiam tak berani berkata apapun. Dia sudah tahu ini akan terjadi. Tadinya dia berharap Nada mau rujuk dan menantinya sampai dia bebas tapi ternyata Nada sudah terlanjur sakit hati.
"Silahkan Pak! bawa saja Hanan Al Malik," ujar Nada.
"Nada," ucap Hanan.
"Semoga kau menyadari kesalahanmu, saat di dalam penjara nanti Mas," kata Nada.
Hanan menggeleng. Dia ingin Nada membelanya ternyata tidak.
"Nada, kita sudah menikah tujuh tahun, apa tak ada sedikitpun rasa cinta lagi?" ucap Hanan. Kedua tangannya di pegang polisi.
"Saudara Hanan kami mohon Anda kooperatif, mari ikut kami!"
"Tidak, aku harus bicara dengan mantan istriku dulu," tolak Hanan.
"Sebaiknya Anda menurut, jangan mempersulit tugas kami."
Hanan tak bisa mengelak. Dia sudah tahu kalau dia memang salah. Tak ada lagi yang harus disangkal olehnya hanya saja dia masih ingin bicara dengan Nada.
Akhirnya mau tak mau Hanan menyerah. Polisi membawanya masuk ke dalam mobil. Semua kenikmatan dan kebahagiaannya dulu bersama Nada sirna sudah. Ketamakan sudah membuatnya buta mata buta hati. Ketulusan dan cinta dari istri dan keluarganya disia-siakan. Hanya penyesalan yang tersisa.
Mobil-mobil itu meninggalkan rumah Keluarga Wijaksana. Tinggal Sophia dan Nada yang berdiri di depan teras. Untungnya Nesa tak melihat penangkapan ayahnya karena sedang berangkat sekolah di antar Paman Harun dan Bibi Fatimah.
Sophia mendekat, memeluk Nada.
"Aku baik-baik saja Sophia, Hanan memang harus membayar kesalahannya," ujar Nada.
Sophia tersenyum ternyata kakaknya tak dibutakan cinta lagi. Dia sudah tahu mana yang harus diperjuangkan. Bukan lelaki yang sudah menyakitinya dan menyusahkan rakyat kecil. Dana yang seharusnya untuk membangun desa tapi disalahgunakan untuk kepentingan pribadinya. Penjara adalah tempat yang tepat untuk menghukumnya di dunia.