
"Setiap mau menikah calon suaminya pasti meninggal," ucap Vera.
"Kok bisa?" tanya Gavin.
"Aku juga gak tahu. Sehari sebelum nikah calon suami kakakku pasti meninggal, ada yang keracunan, tertabrak mobil, kesetrum listrik, dan jatuh ke jurang," jelas Vera. Sebenarnya dia sedih harus menceritakan kejadian buruk yang menimpa kakaknya.
"Oh karena itu kakakmu dibilang pembawa sial, kasihan juga," sahut Gavin.
"Iya, itu sebabnya, maukah kau jadi suami kakakku? paling tidak kau sudah membuat asuransi, matipun tak rugi-rugi amat," ujar Vera.
"Enak saja kau bilang aku mati, tapi ..., aneh juga, miris banget kematian mereka," ujar Gavin. Tak terbayangkan olehnya kematian calon suami kakaknya Vera begitu tragis.
"Iya, anehkan. Kalau kau menikah dengan kakakku siapa tahu kematianmu lebih terhormat," ujar Vera.
"Maksudmu terhormat?" tanya Gavin.
"Mungkin kau akan mati di medan perang atau terseret arus air laut karena menyelamatkan anak kecil yang tenggelam," ujar Vera.
"Astaga itu menakutkan, kau tak salah? semuanya tragis banget," jawab Gavin.
"Gimana kalau mati setelah kau bersedekah? Biar masuk surga?" tanya Vera.
"Astagfirullah, iya sih tapi UUM juga tuh," jawab Gavin.
"Untung Udah Menikah ya, matipun dalam kondisi bahagia," jawab Vera.
"Bukan," sahut Gavin.
"Usaha Untuk Mati, istilah gaulnya bunuh diri, iyakan?" tanya Vera. Dia kembali menebak pertanyaan Gavin.
"Salah, sok tahu," jawab Gavin.
"Terus apa? Utang Udah Menumpuk, Usaha Ujungnya Miskin, Uuh UAN Menakutkan, atau Umi Urang Mendua?" tebak Vera.
"Bukan, Ujung-Ujungnya Mati," jawab Gavin.
Vera tertawa. Benar juga kata Gavin. Semoga Gavin tidak mati dan menikahi kakaknya.
"Udahlah kan belum usaha, kalau mati juga, aku turut berduka cita," ujar Vera.
"Sembarangan, kau pikir nyawaku ada serepnya?" tanya Gavin.
"Mungkin, kucing aja nyawanya ada 9, berarti nyawamu bisa digandakan, kaya duit yang berganda-ganda," jawab Vera.
"Maunya, tapi kalau sekali tebas melayang ngilu juga," ujar Gavin.
"Itu karena nyawamu cuma satu, udah tabung dulu nyawamu kali aja berbunga kaya duit," sahut Vera.
"Kalau nyawaku banyak aku pengen naik ke tiang listrik," ujar Gavin.
"Buat benerin listrikkan?" tanya Vera.
"Salah," jawab Gavin.
"Paling buat jemur CD di atas kabel," tebak Vera.
"Terlalu sederhana, itu pernah ku lakukan saat SMP," jawab Gavin.
"Wah, berarti stok umurmu udah berkurang satu, jangan bilang ini nyawa terakhirmu," sahut Vera.
"Enak aja kok bilang begitu," jawab Gavin.
"Terus kenapa? kok punya cita-cita aneh, jangan sampai jadi pocong penunggu tiang listrik karena semasa hidupmu penasaran naik ke tiang listrik," ujar Vera.
"Betul, pocongkan mana bisa manjat, lompat aja sampai kapan naik ke atas tiang listrik, mungkin minta bantuan nenek sihir biar diajak terbang," jawab Gavin.
"Teori yang rumit, copot dulu aja jubah pocongmu, panjat tiang listrik, aku jamin gak penasaran lagi," jawab Vera.
Gavin tertawa. Perutnya terkocok habis.
"Terus apa alasanmu ingin manjat tiang listrik?" tanya Vera.
"Pengen tahu kenapa burung gak kesetrum setiap hinggap di tiang listrik, kalau aku yang hinggap bernasib sama atau?" jawab Gavin.
"Jadi bebek panggang gitu?" tebal Vera.
"Betul," sahut Gavin.
Mereka berdua tertawa. Setidaknya mengurangi penat setelah seharian bekerja.
"Berarti banyak orang yang takut menikahi kakakmu?" tanya Gavin.
"Itulah, maukah kau bertemu kakakku, mana tahu jodoh," sahut Vera.
Gavin terdiam sesaat. Memikirkan apa yang dikatakan Vera. Dia belum tahu kakaknya Vera cantik atau tidak. Tapi rasa penasarannya membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Oke aku mau," jawab Gavin.
"Ayo berangkat," ajak Vera.
Gavin mengangguk. Menyudahi tegukan kopi terakhirnya. Dia membayar semua tagihan kopinya. Kemudian meninggalkan warkop bersama Vera.
Mereka berdua berjalan menuju rumah Vera. Sepanjang jalan Gavin lumayan tegang. Seperti dia mau bertemu binatang yang buas.
Sampai di rumah Vera, Gavin diajak masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu cukup sederhana. Tak ada barang mahal dan mewah seperti di rumah Gavin. Ruang tamunya saja hanya berukuran 4×4 meter. Kursinya masih kursi bambu tempo dulu. Hanya foto keluarga di dinding yang memperlihatkan anggota keluarga di rumah itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.
"Wa'alaikumsallam." Suara lembut terdengar di telinga Gavin. Saat mendekat. Gadis berambut panjang selutut. Dengan pipi lesung dan mata hazel yang begitu indah. Seketika Gavin tercengang dengan wanita yang begitu cantik.
"Kak Maria, aku pulang," ucap Vera. Tersenyum melihat kakaknya.
Maria Selena kakak kandung Vera. Dia gadis pendiam yang tak banyak bicara. Jarang ke luar rumah. Tidak bicara saat tak diajak bicara. Kalem dan parasnya sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang sampai lutut. Belum dipotong semenjak pernikahan pertamanya gagal.
Melihat Gavin dan Vera, Maria menunduk. Dia malu bertemu lelaki yang tak dikenalnya.
"Kak Maria, ini Gavin teman satu hari Vera," ujar Vera.
"Gavin Sebastian, senang bertemu denganmu," ucap Gavin.
"Maria Selena, terimakasih," sahut Maria.
Vera langsung menghampiri kakaknya. Merangkulnya yang dari tadi menundukkan kepala.
"Cantik banget, kaya orang India, montok, dadanya gak nahan, astagfirullah ngebayangin apa," batin Gavin. Dia melihat tubuh Maria yang begitu menggoda seperti Vera. Berasa nonton majalah dewasa. Kedua wanita dengan body yang aduhai.
Maria mengangguk.
"Oke Gavin, titip kakakku," ujar Vera.
"Beres," jawab Gavin.
Vera melepas tangannya dari punggung kakaknya. Dia masuk ke dalam. Tinggal Gavin dan Maria di ruang tamu.
"Maria boleh duduk?" tanya Gavin.
Maria mengangguk.
"Astaga sepi banget kaya kuburan, beda banget sama Vera yang kaya terompet tahun baru," batin Gavin. Dia duduk di kursi. Begitupun Maria. Mereka berdua duduk bersebrangan.
"Maria cuaca di luar cerah ya," ujar Gavin.
Duaaaar ....
Suara petir terdengar di luar. Cuaca mendung mulai turun hujan.
"Astaga langit tak bisa kompromi," batin Gavin.
"Hujan," sahut Maria.
"Rumahnya rapi ya," ujar Gavin.
Pluuuk ... Braaak ...
Lukisan dan buku di atas laci berjatuhan.
"Astaga mereka tak merestui ucapanku," batin Gavin. Sepertinya pendekatannya tak semulus jalan tol.
"Maaf," ucap Maria.
"Iya, gak papa. Yang penting di rumah ini nyaman," ujar Gavin.
Kukuruyuuuk ... petok-petok ... petok ...
Sepasang ayam jantan dan betina jalan cantik dan santai melewati ruang tamu. Tak lupa tinggalkan jejak cinta di lantai.
Cruuut ...
"Ya ampun ayam jaga kesopananmu, emosiku naik nih," batin Gavin melihat kedua ayam menyebalkan. Gak mau ke toilet dulu. Malah buang kotoran sesuka hatinya. Tahu aja ke toilet harus bayar dua ribu.
"Maaf itu ayam peliharaan kami," ujar Maria.
"Gak papa tempat ini lebih hangat karena ada ayam," ujar Gavin.
Mbeeek ... mbeeeek ... moooo .... moooo ...
Tiba-tiba kambing dan sapi berukuran sedang berjalan dari dalam ke ruang tamu. Berlenggok seperti sedang berjalan di karpet merah.
"Ramai ya, mereka peliharaanmu juga?" tanya Gavin.
"Bukan, punya tetangga silaturahmi ke sini," jawab Maria pelan.
"Astaga hewan tetangga meresahkan, pasti minta makan minum gratis, pantes gemuk," batin Gavin melihat dua ekor binatang meresahkan.
"Maria ...," ucap Gavin bingung mau ngomong apa. Apakah alam akan ngambek lagi.
"Iya," jawab Maria.
"Kaku banget nih kaya kanebo, belum dipanasin," batin Gavin.
"Maria ayo kita ..," ujar Gavin.
"Tehnya datang!" teriak Vera.
"Menikah," celetuk Gavin gara-gara terkejut mendengar teriakkan Vera. Yang muncul dadakan.
"Beneran kau mau mengajak kakakku menikah?" tanya Vera.
"Astagfirullah salah ngomong, gara-gara kaget, gimana ini?" batin Gavin.
"I-iya," jawab Gavin. Tersudut mau ralat kok gak enak. Udah terlanjur ngomong walau tak sengaja.
"Alhamdulillah, makasih Gavin," ujar Vera.
Maria hanya tersenyum dan menunduk.
"Kalau gitu aku harus bilang Mamakku dulu," ujar Vera.
"Mamakmu?" Gavin terkejut.
"Iya, Mak-Mak!" panggil Vera.
"Ada apa?" Seorang wanita tua datang dengan membawa sebaskon semur jengkol.
"Wah Mamak tahu aja, mau nyambut calon menantu ya," ucap Vera.
"Iya, ini hidangan legend keluarga kita."
"Gavin ini Mamakku," ucap Vera mengenalkan ibunya.
"Kenalkan saya Gavin Sebastian Bu," ujar Gavin memperkenalkan diri.
"Saya Mak Rosmalia ibunya Vera dan Maria, panggil Mak Ros aja," ujar Mak Ros.
"Iya Mak," jawab Gavin.
"Ayo makan, ada semur jengkol, rendang jengkol, tumis jengkol dan sate jengkol," ujar Mak Ros.
"Asyik jengkol semua ya, unik," ujar Gavin. Padahal mengelus dada. Kok bisa semua menu bahan dasarnya jengkol.
"Mari Nak Gavin selagi hangat, jangan sungkan," ujar Mak Ros.
"Calon menantu harus mencoba masakan Mak, pasti ketagihan, apalagi ikan asin bakar buatan Kak Maria," ujar Vera.
"Iya," sahut Gavin.
"Astaga mau gak mau nikahin Maria, cakep sih, tapi mati gak ya gue?" batin Gavin.