Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Frank Howard



Malam itu Alex dan Sophia sedang berdiri di balkon kamar mereka. Memandangi langit malam yang cerah tanpa mendung. Bintang-bintang berkelap-kelip dan bulan bersinar terang. Alex memeluk Sophia dari belakang. Sesekali mencium pipi istrinya.


"Sayang malam ini cantik banget sih," puji Alex. Sophia memang sengaja berdandan cantik dengan dress minimnya. Setiap hari hunting dress minim untuk dipakai di depan suaminya. Dia sengaja membeli dress seksi yang mengekspose bagian-bagian pentingnya. Semua demi memanjakan suaminya.


"Kan buat Mas, suka?" tanya Sophia.


"Suka banget. Bikin panas dingin," jawab Alex.


Sophia berbalik. Menatap wajah tampan Alex. Dari pertama bertemu Alex memang selalu memikat hatinya. Sang casanova memiliki aura pemikat hati wanita.


"Mas juga bikin Sophia dak dik dug s€r," sahut Sophia.


"Kalau kaya gini produksi anak terus kita sayang," ujar Alex. Udah naik semua bulu kuduk liat Sophia seksi udah kaya wanita remang-remang minta dicolek.


Sophia tersenyum. Senyumannya manis membuat Alex makin mabuk kepayang.


"Dulu ku pikir wanita berhijab itu kaku, gak asyik, ternyata kalau sudah di kamar wow," ujar Alex.


"Jadi bikin penasarankan? Boleh dihijab tampak anggun di luar tapi di dalam bilik bersama suami kita menunjukkan kelasnya," sahut Sophia.


Alex mengangguk. Memegang pipi Sophia. Merabanya, wanita cantik di depannya itu begitu menggoda. Rambutnya panjang, tubuhnya sempurna, begitupun akhlaknya. Alex benar-benar beruntung memiliki Sophia.


"Mas mau gak? Sophia siap," kata Sophia.


"Mau banget sayang, kalau kaya gini tiap hari. Aku takut tanggal merah," sahut Alex.


"Takut kenapa Mas?" tanya Sophia.


"Takut gak bisa nahan kalau deket kamu sayang," jawab Alex.


Sophia tersenyum. Dia tahu betapa sulitnya Alex menahan setiap Sophia datang bulan. Untung Alex puasa setiap Sophia datang bulan. Semua ini demi meredam nafsunya.


"Tapi nafsuku hanya untuk kamu sayang," ujar Alex. Pernah ada wanita seksi yang menggodanya bahkan nekad, tapi tak sedikitpun Alex bernafsu. Karena nafsunya sudah berlindung di hati Sophia. Bidadari tak bersayap yang mampu menaikkan nafsunya.


Sophia langsung memberi hadiah Alex dengan ciuman. Begitupun Alex membalasnya. Malam-malam indah itu berubah panas. Bulan dan bintang menjadi saksi. Alex dan Sophia merajut cinta. Merubah dingin jadi hangat. Menumbuhkan biji jadi tanaman. Berkembang naik dan melebar. Berakar dari satu bagian ke bagian. Menusuk setiap permukaan. Merambat di beberapa bagian. Semakin lama semakin memuncak ke atas dan menghasilkan bunga-bunga bermekaran. Suara-suara sahut menyahut bagai angin yang berhembus tanpa diundang. Menyuarakan setiap perasaan yang mendalam. Menghasilkan buah-buah cinta dari indahnya kenikmatan dunia.


Akhirnya dua jam penuh tanam menanam sudah dilaksanakan. Mereka beristirahat sambil memeluk buah cinta diantara keduanya. Arfan menjadi buah cinta pertama mereka, menjadi saksi cinta yang ada di hati Alex dan Sophia.


"Mas besok mau bertemu Frank Howard?" tanya Sophia.


"Iya sayang, besok aku akan bertemu dengan Frank Howard di rumahnya," jawab Alex.


"Apa aku temani ya Mas?" ujar Sophia.


"Gak usah sayang, aku belum tahu seperti apa orangnya. Isu yang beredar dia aneh. Aku tidak ingin membawamu dalam bahaya, apalagi kau sedang hamil buah cinta kita," sahut Alex. Dia tidak tahu seperti apa Frank Howard, itu sebabnya Alex tidak mau membawa Sophia. Sejauh ini desas-desus tentang Frank Howard sangat aneh. Akan lebih baik dia datang sendiri bersama Kenan.


"Baiklah, tapi Mas harus hati-hati. Semoga Allah senantiasa melindungi Mas," kata Sophia.


"Amin," sahut Alex.


Mereka berdua pun tidur bersama. Tak lupa mencium buah cinta mereka Arfan. Alex juga mencium buah cintanya di perut Sophia kemudian mereka menutup mata dengan berpegangan tangan.


***


Pagi itu Alex dan Kenan ditemani dua bodyguard Pak Harry untuk bertemu Frank Howard. Mereka satu mobil dengan Alex. Wajah Alex tampak kesal ketika ayahnya memaksanya untuk membawa dua bodyguard unfaedah itu.


"Bos mereka malfungsi untuk apa dibawa," ujar Kenan.


"Papa memaksa, dia bilang korbankan dua bodyguard kalau ada anjing galak," sahut Alex.


"Oh, mereka ini tumbal proyek ya Bos?" tanya Kenan.


"Sepertinya," jawab Alex.


Kenan tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Melihat kedua bodyguard Pak Harry yang duduk di kursi paling belakang mobil.


"Mereka ngorok Bos, katanya bodyguard, berasa kita yang ngasuh," ujar Kenan.


"Biarkan saja, mereka nanti akan jadi umpan kalau ada bahaya," sahut Alex.


Kenan tertawa kecil lagi. Untung bukan Kenan yang jadi umpannya.


"Memang anjingnya kebelet gak ada WC?" tanya Alex balik. Biasanya batu kecil untuk menghambat si kuning ke luar.


"Gak sih Bos tapi buat nempuk anjingnya," jawab Kenan.


"Pemikiran yang smart, setelah ditimpuk kita dikejar begitukan?" tanya Alex.


Kenan tertawa lagi. Nimpuk gak seberapa, dikejar anjing lebih menakutkan.


Tak lama mereka masuk ke dalam halaman rumah Keluarga Howard. Padang rumput luas menjadi halaman rumah Keluarga Howard. Untuk menuju rumah utama lumayan jauh dari gerbang masuk.


"Bos aku dengar seluruh Keluarga Howard mati, hanya tersisa Frank Howard," ujar Kenan.


"Mati semua? Kenapa?" tanya Alex.


"Aku tidak tahu pasti, tak satupun media boleh memberitakan Keluarga Howard. Hanya satu malam semuanya mati, tinggal Frank Howard," jawab Kenan.


Alex terdiam. Orang yang ditemuinya mungkin memiliki sebuah misteri tersembunyi. Dia harus berhati-hati. Pantas saja Pak Harry menyuruhnya membawa dua bodyguard unfaedah itu.


"Bos banyak anjing, serem," ujar Kenan melihat anjing di padang rumput itu.


Alex menatap kaca mobilnya. Beberapa anjing ada di padang rumput. Mereka sedang memakan daging segar.


"Bos apa mungkin Frank Howard membunuh semua keluarganya?" tanya Kenan.


"Jangan suudzon dulu. Belum tentu yang kau katakan itu benar," jawab Alex.


"Iya Bos," sahut Kenan.


Alex hanya terdiam menatap halaman yang cukup luas. Terpencil dari rumah penduduk. Seakan si empunya sengaja menjauhi keramaian dan memilih ketenangan.


***


Erisa duduk di ranjang. Dia memikirkan ucapan neneknya. Dari dulu dia ingin tahu siapa ayah kandungnya. Kakeknya tidak pernah memberitahu siapa nama ayahnya karena ancaman neneknya. Tapi kali ini Erisa penasaran.


"Aku harus menemui nenekku," ujar Erisa. Dia sudah membulatkan tekatnya untuk bertemu dengan neneknya apapun resikonya. Dia harus tahu siapa ayahnya.


Erisa ke luar dari kosannya. Dia naik bus menuju rumah neneknya. Sepanjang perjalanan Erisa hanya diam. Memikirkan kakeknya yang sudah meninggal. Air matanya menetes di pipinya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan tisu. Erisa menoleh ke atas. Ternyata lelaki yang dicopet olehnya.


"Leon," ucap Erisa.


Dokter Leon langsung duduk di samping Erisa kebetulan kursinya kosong. Dia mengenakan baju biasanya. Seragamnya ada di dalam ransel yang dibawanya. Dokter Leon meletakkan tisu di paha Erisa.


"Jangan menangis, sebelum aku memenjarakanmu," ucap Dokter Leon.


"Apa? Kau akan memenjarakanku?" tanya Erisa terperanjat.


"Iya, karena kau sudah mencuri dua hal dariku," jawab Dokter Leon.


Erisa mengernyitkan alisnya dengan ucapan Dokter Leon.


"Perasaan aku cuma nyopet dompetmu ya," sahut Erisa. Dia merasa hanya mencopet dompet Dokter Leon itupun hilang lagi entah ke mana.


"Ada satu lagi yang kau copet," kata Dokter Leon.


"Apa?" tanya Erisa.


Dokter Leon tersenyum tipis. Membuat Erisa semakin penasaran.


"Hei jawab!" pekik Erisa.


"Aku turun dulu, tempat kerjaku di depan, sampai jumpa besok," ujar Dokter Leon. Dia berharap besok bertemu Erisa kembali.


"Aku tidak akan bertemu denganmu lagi," sahut Erisa.


"Aku akan naik bus lagi, jadi kita bertemu di bus ini lagi," kata Dokter Leon.


"Sejak kapan orang kaya naik bus?" tanya Erisa. Dia tahu Dokter Leon kaya untuk apa naik bus.


"Sejak kenal pencopet cantik," bisik Dokter Leon kemudian bangun meninggalkan kursi itu. Dia turun dari bus begitu saja. Tinggal Erisa tersenyum malu-malu.