Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Jika Berjodoh



Dokter Leon terdiam. Dia belum bisa memilih sesuatu yang besar di dalam hidupnya. Antara agama dan cinta.


"Dan aku tidak ingin kau memaksakan sesuatu yang tidak dari hatimu," tambah Erisa. Dia tidak ingin memaksakan apapun pada Dokter Leon. Perbedaan keyakinan sangat mendasar dalam sebuah hubungan. Dia tidak ingin memaksakan agamanya untuk calon imam untuknya.


"Aku juga tidak ingin kau berubah karena aku, bukan dari hatimu. Akan menjadi masalah dikemudian hari jika itu bukan dari hatimu sendiri," tambah Erisa. Dia tidak ingin Dokter Leon memaksakan sesuatu yang tidak berasal dari hatinya.


Dokter Leon mendengarkan apa yang dikatakan Erisa.


"Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu. Jika jalan ini berbeda. Biarlah kita berjalan masing-masing," kata Erisa. Kemudian berjalan lebih dulu masuk ke dalam taman.


Dokter Leon masih mematung di tempat. Dia baru sadar ada perbedaan yang begitu mendasar di antara keduanya. Antara Istiqlal dan Katedral.


Di dalam taman Milea melihat-lihat bunga yang bermacam-macam. Dia terlihat ceria seperti biasanya. Perlahan Dokter Leon berjalan menghampiri Erisa. Dia membawa satu tangkai bunga yang dibelinya saat masuk taman bunga.


Dokter Leon memberikan bunga mawar itu pada Erisa sambil berkata, "Bunga yang cantik untuk Erisa yang cantik." Erisa menerima bunga pemberian Dokter Leon.


"Bunga ini akan ku simpan sebagai kenangan, makasih ya Dokter," sahut Erisa.


Dokter Leon tersenyum. Ini awal dari kisah cintanya bersama Erisa. Entah apa yang akan terjadi ke depannya.


"Leon, lihat bunga yang di sana yuk!" ajak Erisa.


Dokter Leon mengangguk. Dia mengikuti Erisa berjalan menuju bunga-bunga matahari yang berjejer di sebelah kanan. Ketika mereka sedang berjalan ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang duduk. Yang laki-laki mengenakan kalung salib dan perempuan berhijab. Dokter Leon dan Erisa mendengarkan apa yang mereka sedang bicarakan.


"Hubungan kita harus berakhir di sini, maafkan aku."


"Tapi kita sudah sepuluh tahun bersama. Apa semuanya harus berakhir?"


"Kita tidak mungkin bersama di atas perbedaan keyakinan."


"Apa kita tidak bisa mempertahankan semua ini? Aku sudah cocok denganmu."


"Mau sampai kapan? Kita hanya digantung waktu, tanpa kepastian. Aku seorang muslim dan kau seorang nasrani. Kita tidak mungkin bersama. Jika tetap dipaksakan akan banyak yang tersakiti."


Erisa meneteskan air mata melihat dua orang orang yang saling mencintai tapi terhalang perbedaan keyakinan. Melihat itu Dokter Leon memberi Erisa sapu tangan miliknya.


"Hapus air matamu!" titah Dokter Leon.


Erisa mengangguk sambil memegang sapu tangan dari Dokter Leon. Kemudian menyeka air matanya.


"Mungkin jika kita bersama akan seperti mereka," kata Erisa. Jika tetap memaksakan menjalani hubungan beda agama pasti akan berujung seperti sepasang kekasih yang sudah sepuluh tahun bersama.


"Digantung waktu dan tanpa kepastian," tambah Erisa. Dia sadar betul jika terus bersama hanya akan digantung waktu tanpa kepastian seperti apa masa depannya.


Dokter Leon terdiam. Benar yang dikatakan Erisa, mereka tidak mungkin bersama di atas perbedaan agama. Hanya digantung waktu tanpa kepastian.


"Aku mau pulang, sampai jumpa lain waktu," ucap Erisa.


"Boleh aku mengantarmu sampai rumah?" tanya Dokter Leon.


Erisa mengangguk.


Mereka berdua pun ke luar dari taman bunga. Naik taksi meninggalkan tempat itu. Erisa hanya diam menatap ke arah jalanan dari kaca mobil di sampingnya. Begitupun dengan Dokter Leon. Mereka sama-sama bingung terperangkap dalam keadaan yang sama.


Sampai di rumah Keluarga Harold, Erisa turun dari taksi bersama Dokter Leon. Mereka berusaha tersenyum seraya berjalan masuk ke dalam rumah besar Keluarga Harold.


"Assalamu'alaikum," sapa Erisa saat masuk ke dalam rumah.


Erisa menghampiri Pak Harry, meraih tangan kanannya lalu mencium tangannya itu.


"Papa lagi santai?" tanya Erisa.


"Iya Nak, baru Papa pulang dari rumah Keluarga Sebastian," jawab Pak Harry.


Erisa mengangguk dan tersenyum.


"Ayo duduk! Ajak temanmu sekalian," ucap Pak Harry.


Erisa mengangguk. Kemudian mengajak Dokter Leon duduk bersamanya di sofa.


"Pa, ini Dokter Leon Alviano," ucap Erisa memperkenalkan Dokter Leon pada Pak Harry.


"Sore Om, saya Leon Alviano. Senang bertemu dengan Om," ujar Dokter Leon memperkenalkan diri secara langsung.


"Sore. Aku Harry Harold, senang juga bertemu denganmu anak muda," sahut Pak Harry.


"Kita pernah bertemu di rumah sakit ya Om?" ujar Dokter Leon. Mereka pernah bertemu saat Sophia koma.


"Iya, kau Dokternya Sophiakan?" tanya Pak Harry memastikan.


"Betul Om," jawab Dokter Leon.


"Kalau gitu Erisa naik dulu ya Pa. Mau mandi dan ganti baju," ucap Erisa pamit. Dia ingin mandi dan ganti baju dari kemarin belum sempat mandi.


"Iya Nak," jawab Pak Harry.


"Leon aku tinggal dulu," ucap Erisa pada Dokter Leon.


"Iya," jawab Dokter Leon.


Erisa pun meninggalkan ruang tamu. Tinggal Pak Harry dan Dokter Leon yang ada di ruang tamu. Mereka berdua tampak tegang dan masih menatap satu sama lain.


"Dokter Leon, aku tahu siapa kau dan seperti apa latar belakangmu," ujar Pak Harry.


Dokter Leon mengangguk.


"Aku tidak ingin melarangmu mendekati putriku tapi harus garis bawahi. Putriku seorang muslim. Jangan sampai ini membuat kau dan dia terluka kedepannya." Pak Harry menegaskan. Dia tidak ingin mereka akan sama-sama terluka jika terus bersama.


"Iya aku tahu Om," jawab Dokter Leon.


"Akan sulit bersama di atas perbedaan agama, jadi dari pada hubungan ini terlanjur jauh, lebih baik cukup sampai di sini. Om tidak melarang kalian berteman tapi untuk menjadi pasangan sebaiknya jangan," ujar Pak Harry. Dia melakukan semua ini demi kebaikan mereka berdua. Pak Harry tidak ingin mereka menjalani hubungan yang justru akan menyulitkan hidup mereka ke depan.


Dokter Leon mengangguk. Apa yang dikatakan Pak Harry karena tugasnya sebagai seorang ayah yang ingin memberi yang terbaik untuk putrinya. Dia tidak ingin putrinya terluka.


"Dulu saat aku masih remaja, aku juga pernah menjalani hubungan beda agama. Dan itu sulit, lebih banyak menguras air mata dari pada kebahagiaannya. Aku tidak ingin Erisa mengalami hal itu. Sebagai ayah aku ingin putriku bahagia," ujar Pak Harry.


"Iya Om aku mengerti, aku tidak akan mendekati anak Om. Jika aku bukan seorang muslim. Terimakasih Om," jawab Dokter Leon. Dia faham apa yang diinginkan Pak Harry. Jika dia diposisi Pak Harry mungkin akan melakukan hal yang sama.


"Jika kalian memang berjodoh, pasti ada akan jalannya," ujar Pak Harry. Jodoh tidak akan ke mana pasti akan ada jalan jika mereka berjodoh.


Dokter Leon mengangguk.