Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Dekat Terus



"Loh kenapa Arfan?" tanya Emily.


Arfan memegang kedua lengan Emily dan menatap wajahnya.


"Emily, aku mencintai wanita lain sebelum kita menikah. Kau tahukan pernikahan kita karena kesalahpahaman," jawab Arfan. Dia tidak tega tapi hatinya sudah tertambat pada Annisa sudah sejak lama.


"Arfan aku gak mau cerai, aku ingin sama Arfan," keluh Emily langsung memeluk Arfan.


"Emily, aku melakukan ini karena aku sayang padamu. Aku tidak ingin kau hidup dengan lelaki yang tidak mencintaimu, kau akan bahagia hidup bersama orang yang mencintaimu," sahut Arfan. Tangannya ragu untuk menyentuh Emily.


"Arfan, Emily maunya sama Arfan," kata Emily. Dia semakin erat memeluk Arfan. Tidak ingin diceraikan olehnya.


Arfan melepas pelukan Emily. Menatap wajahnya.


"Emily, aku tidak ingin melukaimu ke depannya. Jika hatiku untuk orang lain, bagaimana aku bisa membuatmu bahagia," ujar Arfan. Dia ingin Emily bahagia dengan orang yang dicintainya.


"Kalau begitu beri waktu untuk Emily membuat Arfan jatuh cinta," sahut Emily.


"Gak bisa Emily. Dari dulu aku sudah mencintai Annisa. Ini kesempatanku untuk bersamanya, kau tahukan apa yang ku rasakan hari ini?" ujar Arfan.


"Emily gak mau bercerai! Aku maunya sama Arfan," sahut Emily.


Arfan menarik nafas panjangnya. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada Emily agar dia mau bercerai dengannya.


"Emily maafkan aku. Kita harus tetap bercerai demi kebaikan kita berdua," ujar Arfan.


"Gak mau, Emily gak mau cerai," sahut Emily. Dia justru memegang tangan Arfan.


"Emily, aku harus mengejar orang yang ku cintai," kata Arfan. Dia tidak ingin bersama Emily, dia tidak mencintainya.


"Arfan mau itu dulu gak? Siapa tahu berubah pikiran. Emily siap," ujar Emily menggoda Arfan sambil memegang tangannya.


"Gak, gak tertarik," sahut Arfan membuang muka.


"Masa? Emily cantik dan seksi, Arfan gak mau? Atau mau Emily duluan?" tanya Emily sambil mendekat dan meraba dada Arfan.


"Emily, jangan aneh-aneh." Arfan menangkap tangan Emily menghentikan tindakannya.


"Kok aneh-aneh kitakan memang sudah nikah, emang Arfan gak mau?" tanya Emily sambil mengedipkan mata.


"Gak, cinta Arfan cuma untuk Annisa seorang," jawab Arfan. Dia tidak tergoda dengan rayuan manis Emily.


"Masa?" Emily melepaskan tangannya dari tangan Arfan kemudian mencium pipi Arfan.


Cup


Seketika Arfan terkejut mendapatkan ciuman pipi dari Emily. Dia langsung menghapus ciuman itu dengan tangannya.


"Emily lain kali jangan asal cium," keluh Arfan.


"Mau lagi?" tanya Emily.


"Gak, gak mau, jangan dekat-dekat denganku," jawab Arfan. Dia mundur ke belakang.


"Emily mau cium Arfan lagi, sini!" ucap Emily. Mendekati Arfan yang mundur ke belakang.


"Emily jangan genit! Hatiku hanya untuk Annisa seorang," sahut Arfan. Dia berusaha menghindari Emily.


"Arfan gak mau? Yakin? Istri nih, udah halal disentuh," ucap Emily mendekat dan semakin mendekat.


Arfan berlari ke luar dari kamar namun Emily tetap mengejarnya. Mereka kejar-kejaran di kontrakkan.


"Arfan!" seru Emily.


"Gak mau!" Arfan terus menghindar. Dia tidak ingin Emily menerkamnya. Singa betina yang ingin kawin lebih agresif membuat Arfan harus mengencangkan sabuk pengaman.


Bruuug ...


Arfan terjatuh ke ranjang. Begitupun Emily. Mereka berdua berbaring di ranjang dan tertawa bersama.


"Arfan mau gak?" tanya Emily menatap wajah tampan Arfan.


"Gak mau, titik!" tolak Arfan. Dia tidak ingin mengkhianati cintanya pada Annisa. Hanya Annisa di hati Arfan seorang.


"Memang kenapa denganku?" tanya Emily. Dia ingin tahu kenapa Arfan tidak mau padanya.


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Arfan. Tidak ada yang salah dari Emily bahkan sikap manjanya pun Arfan tidak terlalu mempermasalahkan soal itu, meski terkadang membuatnya kesal.


"Apa bedanya aku dan Annisa? Kenapa kau tidak bisa menerimaku?" tanya Emily.


"Jadi karena Annisa sholeha dan baik hati jadi Arfan cinta sama Annisa?" tanya Emily.


"Bukan karena itu. Tapi hati gak bisa dipaksakan Emily, hatiku sudah memilih Annisa lebih dulu, maafkan aku," jawab Arfan. Bukan karena Annisa sholeha dan baik hati Arfan jatuh hati padanya tapi Annisa sudah lebih dulu mencuri hatinya.


"Berarti Emily harus bisa mencuri hati Arfan dari Annisa ya?" tanya Emily.


"Gak juga, cinta tidak semudah itu Emily," jawab Arfan. Dia tidak bisa mencintai Emily dengan mudahnya, jika di hatinya ada Annisa.


Emily mendekati Arfan tidur di bahunya.


"E-Emily," ucap Arfan risih.


"Ngantuk," jawab Emily. Kemudian menutup matanya. Berbaring di bahu Arfan.


"Malah tidur, sudah dibilang menjauh malah mepet terus," ucap Arfan. Dia membuang nafas gusarnya. Percuma mengusir Emily kalau dia parasit yang terus menempel.


"Bagaimana aku bisa lepas dari Emily? Aku hanya mencintai Annisa," batin Arfan. Dia bingung cara meninggalkan Emily. Meski dia sudah memberitahu soal Annisa, Emily tak bergeming. Dia tetap menempel seperti parasit di pohon.


***


Dodo dan teman-temannya sedang berkumpul di warung makan. Sudah lama tak reonian bersama mereka, teman semasa kuliah. Dodo kini sudah tampan dan keren. Semua wanita tergila-gila padanya. Namun Dodo galau menentukan pilihan dan memilih menjomblo sampai menemukan wanita tercantik yang diinginkannya. Dodo memiliki tiga teman. Roma, Turki Spanyol dan Nepal Pakistan.


"Bro main ke rumah kakek gue yuk!" ajak Dodo.


"Gak ah, tar disuruh pakai hijab, guekan masih ingin bermaksiat," sahut Roma.


"Bermaksiat kok bangga. Emang amal ibadah Lo cukup buat ke surga?" tanya Dodo.


"Gak juga, tapi gue belum hafal bacaan sholat tar kalau disuruh sholat pakai bacaan apa?" keluh Roma yang belum juga hafal bacaan sholat.


"Aku sih sedia contekan jadi aman," jawab Turki.


"Bro sholat mana boleh nyontek sih," sahut Dodo.


"Tapi Om Lo galak, kalau gue gak sholat bisa disembur sepanjang bertamu," ujar Nepal.


"Udah pikirkan solusinya nanti, pokoknya gue tunggu di rumah ya," sahut Dodo.


Ketiga temannya mengangguk.


Dua jam kemudian Dodo dan teman-temannya datang ke rumah Keluarga Sebastian. Mereka berniat bersilaturahmi sekalian main badminton di halaman belakang.


"Do, temanmu cewek semua?" tanya Alex. Menatap ketiga teman Dodo yang berhijab.


"Gak Om, satu doang yang cewek," jawab Dodo.


"Terus sisanya baking vokal ya?" tanya Alex menatap mereka bertiga.


Dodo menatap ketiga temannya. Bener juga kata Alex, kenapa temannya berhijab semua.


"Turki, Nepal, ngapain kalian berhijab juga?" tanya Dodo.


"Lahkan Roma bilang mesti berhijab kalau ke rumah kakek Lo," jawab Turki.


"Aku hanya ikut trend doang," tambah Nepal.


"Yang pakai hijab ya Roma, bukan kalian berdua juga, ngerti gak sih?" ujar Dodo. Teman-temannya memang rada-rada. Sudah biasa miskomunikasi dan miskin jadi mereka sudah terlatih menghadapi situasi dan kondisi sesulit apapun.


"Aduh tahu gitu gue gak nyomot daster emak gue," sahut Turki.


"Gue punya tetangga yang lagi di jemur, tar gue balikin kalau dia udah merasa kehilangan," tambah Nepal.


"Udah salah daster comotan lagi," ujar Alex.


"Maaf Om, kita hanya menampilkan yang terbaik sebelum ke sini," jawab Turki.


"Iya Om," tambah Nepal.


"Aku sudah bilang pakai koko bukannya daster," kata Roma. Memarahi kedua rekannya yang salah kostum.


"Koko gak punya daster banyak," sahut Turki.


"Kebetulan tetangga cuma jemur daster mau gak mau," tambah Nepal.


"Astaga kalian memalukanku," sahut Dodo.


Alex hanya menggeleng dengan kelakuan teman Dodo yang aneh.