
Ibu Marisa masuk ke dalam toilet wanita. Dia masuk ke dalam, menguncinya. Kemudian duduk di atas WC duduk. Mengambil sebuah kalung yang masih disimpannya dalam dompet miliknya. Kalung dengan liontin love. Di dalamnya ada foto Ibu Marisa dengan lelaki yang dicintainya. Dia membuka liontin itu. Terlihat ada foto lama di dalamnya. Air matanya tak terasa menetes di pipinya.
"Kau membuat aku seperti ini?" ucap Ibu Marisa.
"Kenapa kita harus berpisah? Aku mencintaimu dan membencimu," ucap Ibu Marisa sambil menangis.
"Aku akan kaya, apakah kita bisa bersama? Aku bukan Marisa yang miskin," ujar Ibu Marisa. Sesak di dadanya teringat masa lalunya. Masa indah saat bersama orang yang dicintainya. Namun waktu mengikis semuanya. Jarak telah memisah sejauh mungkin. Bahkan perbedaan status menjadi benteng yang tak mungkin membuatnya bisa kembali lagi.
Ibu Marisa menangis. Jika dia bisa, dia akan pergi sejauh mungkin ke tempat di mana dia dan orang yang dicintainya bisa bersama. Tapi semua itu hanya angan yang tertiup angin tak menyisakan secerca harapan.
"Tidak, aku tidak perlu menangis lagi, aku kaya, tidak dihina lagi, aku terhormat," ujar Ibu Marisa. Menghapus air matanya. Melupakan semuanya. Mengubur semuanya dalam ingatannya seorang. Biar hanya menjadi file yang akan terus tersimpan dan entah kapan akan dibuka.
"Huh ..., aku Marisa, menantu dari Keluarga Sebastian, terpandang dan kaya raya," ucap Ibu Marisa menyemangati dirinya. Kembali bersemangat. Memasukkan kalung itu ke dalam dompetnya. Memoles kembali wajahnya dengan make up tebal, agar tak ada satu pun tahu siapa dia.
"Hasil pemeriksaan darah itu tak mungkin sama, Alex bukan anak Ferdi, lagi pula itukan dulu, bisa saja salah," ujar Ibu Marisa. Dia memasukkan kembali alat make up-nya ke dalam tas. Kemudian berjalan ke luar dari toilet. Dia menghampiri Alex dan yang lainnya. Berpura-pura bersedih dengan kondisi Pak Ferdi. Dia duduk bersama Claudya yang matanya terlihat bengkak karena menangis sendari tadi. Claudya menyandarkan kepalanya ke bahu Ibu Marisa.
"Bu, apa Ayah akan baik-baik saja?" ujar Claudya.
"Iya," jawab Ibu Marisa menjawab singkat.
"Kalau bisa mati aja dia, untuk apa dia hidup menyusahkanku," batin Ibu Marisa. Dia tidak menyukai Ferdi. Hanya karena uang saja Ibu Marisa bertahan. Tahu sendiri seperti apa bejatnya Pak Ferdi, dia sama sekali tak menyukainya.
"Semoga darahku, Kak Alex atau Kak Gavin ada yang cocok dengan ayah," ucap Claudya berharap.
"Iya," sahut Ibu Marisa malas. Jangankan salah satu dari mereka yang cocok, kalau bisa jangan ada yang mendonorkan darah pada Pak Ferdi.
Tak lama suara admin laboratorium memanggil Alex. Segera Alex yang sedang duduk bersama Sophia langsung berdiri. Berjalan menuju konter administrasi laboratorium. Alex mengambil hasil pemeriksaan golongan darah. Dari arah depan Gavin dan Claudya menyusul Alex. Mereka menghampirinya.
"Kak mana hasilnya?" tanya Claudya.
"Nih buka aja sendiri-sendiri," jawab Alex memberikan amplop putih itu pada masing-masing adiknya.
"Oke," sahut Claudya. Sedangkan Gavin hanya diam saja.
Claudya dan Gavin membuka amplop hasil pemeriksaan golongan darah mereka masing-masing. Sedangkan Alex masih terdiam. Ragu untuk membukanya. Dia sudah tahu kalau dia bukan anak kandung Pak Ferdi. Tak mungkin memiliki golongan darah yang sama dengannya.
"Yah darahku A," keluh Claudya. Tadinya dia berharap dialah yang mendonorkan darah untuk ayahnya. Tapi ternyata golongan darahnya A sama dengan golongan darah Ibu Marisa.
"Aku juga A," sahut Gavin. Dia memperlihatkan kertasnya pada Claudya.
"Kak Gavin juga A, terus gimana dong?" ujar Claudya bingung.
"Masih ada Kak Alex, belum dibuka tuh," sahut Gavin menunjuk ke arah Alex yang masih memegang amplop miliknya.
"Kak Alex ... Kak," panggil Claudya berkali-kali.
"Iya apa?" tanya Alex.
"Buka dong amplopnya," pinta Claudya.
"Iya," jawab Alex singkat. Perlahan dia membuka amplop putih itu. Ada rasa takut dan malas untuk membuka amplop miliknya. Dia sudah memprediksi isinya terlebih dahulu. Untuk apa melihatnya lagi.
"Buruan dong Kak, kelamaan, sini aku aja," ucap Claudya mengambil amplop putih di tangan Alex, dia gemas melihat Alex kelamaan membuka amplop putih itu.
Alex tak bisa menahan Claudya mengambil amplop putih miliknya. Dia membiarkan Claudya membaca hasilnya.
"Aku jadi penasaran," ucap Claudya. Segera dia membuka amplop putih itu. Gavin yang berada di sampingnya juga mendekat, ikut melihat hasil pemeriksaan itu.
"Alhamdulillah golongan darah kakak Rh-null," ucap Claudya.
"Apa?" Alex terkejut.
Deg
Jantung berdebar kencang. Tubuhnya panas dingin. Seolah apa yang didengarnya seperti terompet yang berbunyi keras ditelinganya secara tiba-tiba. Hingga membuat Alex terkejut setengah mati.
"Ini loh, darah kakak Rh-null," ucap Claudya memperlihatkan hasil pemeriksaannya pada Alex.
Tadinya Alex tak percaya tapi saat melihatnya sendiri, dia percaya hasil pemeriksaan itu benar. Tak mungkin salah. Hasil laboratorium pasti akurat.
"Iyakan kak?" ujar Claudya.
Alex masih terdiam. Memperhatikan tulisan di depannya. Meski itu benar seperti tak masuk ke dalam logikanya.
"Aku bukan anak ayah, darah Rh-null itu langka, apa ini kebetulan? Atau apa?" batin Alex penuh tanya melihat kenyataan di depan matanya.
"Berarti Kak Alex bisa mendonorkan darahnya ke ayah," ucap Gavin.
"Iya," sahut Claudya.
Alex masih terdiam. Antara percaya atau tidak. Dialah yang bisa mendonorkan darahnya pada Pak Ferdi. Meskipun penuh kejanggalan dan pertanyaan yang tak bisa dijawab olehnya. Namun untuk saat ini, keselamatan Pak Ferdi lebih penting dari pada perdebatan batinnya. Dan kebingungannya tanpa dasar.
Akhirnya Pak Ferdi dibawa ke ruang operasi. Alex mendonorkan darahnya untuknya. Di luar ruangan operasi, Alex dan yang lainnya berharap cemas dengan kelancaran operasi itu. Ada yang duduk dan ada yang berdiri mondar mandir.
"Mas, lebih baik kita sholat dzuhur dulu, biar tenang," ajak Sophia.
"Aku juga mau sholat," ujar Claudya.
"Kakek juga, nanti kelewat waktunya tidak baik," kata Kakek David.
"Yang lain?" tanya Alex pada Gavin dan Ibu Marisa.
"Kau tahukan Ibu tak pernah sholat, pergilah," ujar Ibu Marisa.
"Bu sholat itu kewajiban, mari kita sholat bersama," ajak Alex.
"Tidak usah memaksa Ibu, kalau dia tak mau," celetuk Gavin.
Alex melihat ke arah Gavin yang berdiri tak jauh dari Ibu Marisa yang sedang duduk.
"Kau tak sholat Gavin?" tanya Alex.
Gavin terdiam. Tak membalas pertanyaan Alex.
"Semoga Allah memberimu hidayah secepatnya," ucap Alex.
"Amin," sahut Sophia, Claudya dan Kakek David.
Mereka berempat pergi ke mushola yang berada di lantai dasar dekat basemant. Mereka sholat, berdzikir dan berdoa untuk kesembuhan Pak Ferdi. Sophia dan Claudya sholat di tempat sholat wanita. Usai sholat Claudya menangis. Sophia mendekatinya. Dan merangkul Claudya seperti adiknya sendiri.
"Kak Sophia, Ayah akan baik-baik sajakan?" tanya Claudya.
"Insya Allah, makanya kita berdoa agar Allah memberi keselamatan dan kesembuhan," jawab Sophia.
"Amin," sahut Claudya.
"Selama ini kami tak pernah menjadi keluarga yang seutuhnya, kalau ayah pergi, selamanya aku tidak akan pernah merasakan keluarga yang utuh," keluh Claudya.
"Claudya, hidup mati seseorang sudah ditangan Allah SWT, jika ayah memang masih diberi umur, Insya Allah kita bisa mewujudkan mimpimu, dan jika tidak, ikhlaskan," ujar Sophia.
Claudya menangis. Dia takut kehilangan ayahnya. Meskipun Pak Ferdi tak pernah memperdulikan keluarganya.
Setelah sholat, mereka semua kembali ke lantai tiga. Tempat ruangan operasi berada. Kembali duduk di kursi tunggu. Operasi itu berjalan selama dua jam penuh. Alex dan yang lainnya terus berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Pak Ferdi.
Tak lama perawat memanggil Alex ke dalam ruang operasi. Dia berbicara dengan Dokter hasil operasi ayahnya. Dokter menjelaskan Pak Ferdi akan sulit berjalan untuk beberapa bulan ke depan. Kakinya harus dipasang pen dan gibs. Untuk sementara waktu Pak Ferdi tidak bisa berjalan normal. Dia harus duduk di kursi roda hingga kakinya sembuh.
"Baiklah Dok, terimakasih," ucap Alex.
"Semoga ayah anda cepat pulih dan jangan lupa untuk control secara rutin," ujar Dokter.
"Iya Dok," sahut Alex. Dia ke luar dari ruangan operasi. Menghampiri keluarganya. Menceritakan apa yang tadi disampaikan Dokter padanya.
"Syukurlah kalau Ferdi baik-baik saja, semoga ini jadi teguran agar dia kembali ke jalan yang benar," ucap Kakek David.
"Kenapa dia gak mati sekalian sih? lumpuh, menyusahkan aku nantinya," batin Ibu Marisa kesal.
Setelah selesai operasi dan observasi, Pak Ferdi dibawa ke ruang rawat inap. Dia sudah mulai sadar. Pak Ferdi melihat seluruh anggota keluarganya ada menemaninya. Pak Ferdi belum tahu seperti apa kondisinya. Dia ingin bangun tapi Alex melarangnya.
"Berbaring saja Yah," ucap Alex.
"Aku ingin bangun, aku sudah sehat," sahut Pak Ferdi kekeh. Dia berusaha bangun. Menggerakan kakinya. Namun rasanya sangat sakit, sulit digerakkan. Karena penasaran kenapa, Pak Ferdi membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.
Terkejut.
Melihat kakinya digibs. Pak Ferdi menggelengkan kepalanya. Dia tak percaya apa yang terjadi pada kakinya.
"Kakiku kenapa? Kakiku kenapa?" Pak Ferdi marah. Melihat kakinya.
"Ya kakimu gak bisa jalanlah, kan patah, remuk lagi sebagian," ketus Ibu Marisa.
"Apa? Aku gak bisa jalan?" Pak Ferdi terkejut. Dia tak percaya kalau dia tak bisa jalan. Pak Ferdi memaksakan diri menggerakkan kakinya untuk bangun dan berjalan namun Alex berusaha menghentikannya.
"Hentikan ayah, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Alex memarahi ayahnya.
"Tidak, aku tidak mungkin lumpuh, aku bisa jalan," ucap Pak Ferdi. Dia tak terima kakinya tidak bisa untuk berjalan. Pak Ferdi berusaha bangun. Mengerakkan kakinya.
"Hentikan ayah! Kakimu baru saja dioperasi," ucap Alex.
"Ferdi!" teriak Kakek David.
Pak Ferdi terdiam. Teriakkan Kakek David sudah menunjukkan kalau dia marah.
Pak Ferdi tak bisa menggerakkan kakinya karena rasa sakit yang teramat.
"Apa yang kau dapatkan sekarang itu karena kesalahanmu sendiri, seharusnya kau bersyukur hanya kakimu yang patah, setidaknya kau masih bisa bertobat," ujar Kakek David.
Pak Ferdi terdiam. Dia merasa tak berguna. Kakinya tak bisa berjalan. Kesombongannya dulu hancur sudah tak bersisa. Kini dia hanya lelaki yang tidak bisa berjalan.