Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Mencari Alex



Gavin membopong Sophia. Membaringkannya di sofa. Ibu Marisa dan Claudya sibuk mengoleskan minyak angin di tangan dan kaki Sophia. Sedangkan Kakek David menelpon Dokter pribadi Keluarga Sebastian.


"Kasihan Kak Sophia pasti sangat terpukul karena semua ini," ujar Claudya. Matanya berkaca-kaca. Dia kasihan dengan Sophia yang seharusnya bahagia akan menyambut kelahiran buah cintanya dengan Alex justru malah harus menelan pil pahit.


"Iya, Sophia pasti syok dengan pemberitaan tadi," tambah Ibu Marisa sambil mengelus tangan Sophia biar hangat.


Perlahan mata Sophia terbuka. Dia melihat ke sekeliling. Sophia mengingat kembali apa yang tadi terjadi. Air matanya kembali memenuhi matanya.


"Kak Sophia," ucap Claudya. Memegang tangan Sophia. Dia senang melihat Sophia sudah siuman.


"Sophia," kata Ibu Marisa lega melihat Sophia baik-baik saja. Dari tadi Ibu Marisa mencemaskan keadaan Sophia.


"Bu, Claudya," ucap Sophia pelan. Menatap keduanya. Dia masih lemas dan tak berdaya dengan kabar tentang Alex.


"Iya Sophia," jawab Ibu Marisa. Matanya berkaca-kaca melihat Sophia. Sedangkan Claudya hanya mengangguk. Dia tak kuasa menahan kesedihannya melihat Sophia yang tampak lemah.


"Bu ini teh hangat, biar enakkan Kak Sophianya," ujar Maria sambil membawa nampan berisi gelas teh hangat yang dibuatnya.


Ibu Marisa menoleh ke arah Maria. Dia mengambil gelas teh hangat itu.


"Makasih Maria," ucap Ibu Marisa


"Iya Bu," jawab Maria.


Segera Claudya membantu Sophia duduk. Biar dia lebih relax.


"Sophia minum teh hangatnya biar badanmu bertenaga dan hangat," kata Ibu Marisa memberikan teh hangat pada Sophia.


"Iya Bu," jawab Sophia pelan. Dia memegang teh hangat itu. Meneguknya perlahan. Meskipun hatinya sedang bersedih. Sophia tetap harus memikirkan bayi dalam kandungannya. Buah cintanya bersama Alex. Sophia meminum teh hangat itu sampai habis.


"Alhamdulillah," ucap Sophia.


"Yang sabar ya Kak," kata Claudya. Memegang bahu Sophia.


"Iya Sophia, kau harus kuat demi bayi di dalam kandungan mu," tambah Ibu Marisa. Dia berusaha menyemangati Sophia agar tetap kuat menghadapi ujian yang menimpanya.


Sophia mengangguk. Meski kenyataan sangat menyedihkan dan menyakitkan, hidup harus terus diperjuangkan. Apalagi ada bayi yang akan lahir. Sophia harus bisa melindunginya sendiri.


Tak lama Dokter pribadi Keluarga Sebastian datang. Dokter memeriksa Sophia kemudian memberi resep obat untuknya. Kemudian Dokter itu meninggalkan rumah Keluarga Sebastian.


"Alhamdulillah, kau baik-baik saja Sophia," ujar Kalek David. Dia senang tidak terjadi apa-apa pada Sophia.


"Iya, syukurlah. Lagi hamil besar jangan banyak pikiran," tambah Pak Ferdi.


Sophia mengangguk. Meskipun jauh relung hatinya dia mencemaskan semuanya.


"Aku akan berangkat ke Pangandaran," ujar Gavin. Dia tidak tega melihat keadaan Sophia. Gavin harus bisa menemukan kakaknya. Apapun caranya.


"Ayah juga ikut, aku tidak bisa tenang kalau Alex belum ketemu," tambah Pak Ferdi. Sebagai ayah dia tidak bisa tenang mendengar sesuatu terjadi pada anaknya.


"Aku juga, kakak ipar harus ketemu," tambah Tuan Matteo. Dia ingin membantu mencari Alex.


Mereka semuanya berencana untuk menyusul ke Pangandaran. Untuk mencari di mana keberadaan Alex.


"Baiklah, kalian pergi cari Alex, Kakek di sini memantau keadaan," kata Kakek David.


Semua orang mengangguk.


"Sophia ikut ya," ucap Sophia ingin ikut ke Pengandaran.


"Tidak Sophia, perjalanan ke Pengandaran lumayan jauh. Tidak baik untuk kehamilanmu," sanggah Kakek David. Kalau Sophia ikut dikhawatirkan akan membahayakan kehamilannya. Butuh satu hari perjalanan untuk sampai di Pengandaran.


"Tapi aku ingin memastikan Mas Alex baik-baik saja Kek," ujar Sophia. Air mata kembali jatuh di pipinya.


"Sophia, jika Alex ada dia juga takkan mengizinkanmu pergi, terlalu berbahaya untuk ibu hamil," kata Kakek David.


Sophia mengangguk. Meskipun perih. Benar yang dikatakan Kakek David. Terlalu berbahaya jika dia ikut.


Sore hari itu juga Gavin dan yang lainnya memutuskan untuk pergi ke Pangandaran. Gavin juga menelpon Luki untuk memberi tahukan semua ini.


"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.


"Wa'alaikumsallam," sahut Luki.


"Vin, gue mau ke Pantai Pengandaran buat nyari Kak Alex," kata Gavin.


"Itu sebabnya kita mau nyari Kak Alex. Dia ke sana dan dinyatakan hilang," ujar Gavin.


"Astagfirullah, Ya udah Vin gue ikut. Tar gue kasih tahu Papa juga," sahut Luki.


"Iya," jawab Gavin.


Akhirnya pembicaraan itu diakhiri, Luki juga ikut melakukan pencarian keberadaan Alex. Luki segera menemui Pak Harry yang duduk bersantai di ruang tamu. Dia menceritakan apa yang tadi diberi tahu Gavin.


"Apa? Alex putraku hilang?" Pak Harry terkejut.


"Iya Pa," jawab Luki.


"Ayo kita cari dia ke Pengandaran," ajak Pak Harry.


"Kita akan ikut Gavin dan rombongan Pa," kata Luki.


Pak Harry mengangguk.


Luki dan Pak Harry pun bergegas bersiap. Mereka juga akan mencari keberadaan Alex.


***


Dua minggu berlalu. Usaha Keluarga Sebastian dan Keluarga Harold untuk mencari Alex tak membuahkan hasil. Bahkan mereka sampai mencari ke seluruh daerah di pangandaran. Begitupun Rudi dan timnya. Tak pernah ada yang menemukan keberadaan Alex. Alex dinyatakan hilang bersama para warga yang terbawa arus pasang.


Pagi itu Sophia berdiri di depan Pantai Pangandaran yang luas. Menatap birunya air dan deburan ombak yang menyapa. Angin sepoi-sepoi berhembus ke kanan dan kiri. Sophia ditemani Claudya-Tuan Matteo dan Gavin-Maria mengunjungi tempat itu.


"Kak Sophia," sapa Claudya memegang pundaknya. Berdiri di sampingnya.


"Aku sudah ikhlas," jawab Sophia. Matanya berkaca-kaca melihat hamparan air laut di depannya.


"Jika Kak Alex masih hidup dia pasti akan kembali," ujar Claudya. Dia berusaha menahan air matanya. Dia tak ingin menambah duka Sophia. Claudya tahu betul apa yang dirasakan Sophia saat ini. Hatinya pasti sangat terluka. Meski dia tampak tegar dan tabah menghadapi semuanya.


"Aku akan menunggunya sampai dia kembali, atau bertemu di alam akhirat nanti," sahut Sophia. Aira matanya tak bisa dibendung lagi. Menetes di pipi kemerahannya. Perih dan getir jika harus mengingat semua kenangan yang sudah berlalu.


"Mas terimakasih atas semua kenangan indah yang kau berikan untukku, aku akan selalu merindukanmu," kata Sophia. Air mata membanjiri pipinya. Menandakan isi hatinya yang sedang terluka.


Claudya tak kuasa menahan kesedihannya. Dia sampai berbalik. Berjalan menghampiri Tuan Matteo yang ada di belakangnya. Claudya langsung memeluk suaminya dan menangis.


"Kenapa-kenapa ini harus terjadi, ke mana Kak Alex? Kasihan Kak Sophia," keluh Claudya sambil menangis tersedu-sedu. Dia memang bukan Sophia yang sedang diuji tapi dia lebih tak tega melihat ketegaran Sophia.


Tuan Matteo tak berbicara apapun. Hanya diam. Matanya memerah. Dia juga merasakan duka yang sama dengan Claudya.


Sementara di samping Claudya-Tuan Matteo, Gavin yang menangis di bahu istrinya Maria.


"Sedih banget, kasihan Kak Sophia. Aku nonton drakor aja tak sesedih ini," kata Gavin. Seharusnya Maria yang bersandar yang menangis ini malah Gavin. Kebalik, udah kaya ibu ngekeping anaknya mau tidur.


"Bang, gantian sedihnya," ujar Maria.


"Sayang mau sedih juga?" tanya Gavin.


"Dari tadi mataku udah bengkak," jawab Maria.


Gavin bangun menatap mata istrinya. Terkejut mata Maria seperti panda.


"Aku nangis semalam, gak tega mau nganter Kak Sophia ke sini," kata Maria.


Gavin langsung memeluk Maria. Ternyata bukan dia saja. Maria juga ikut sedih dengan apa yang dirasakan Sophia.


Tiba-tiba Sophia mengeluh sakit di perutnya. Claudya langsung menghampirinya.


"Kak, kenapa?" tanya Claudya.


"Perutku sakit sekali Claudya," jawab Sophia.


"Kak Sophia pasti mau melahirkan," sahut Maria yang datang menghampiri keduanya.


"Iya ya, kakak mau melahirkan pasti," kata Claudya.


Sophia hanya mengangguk.


"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit," ajak Tuan Matteo.


Semuanya mengangguk. Membawa Sophia masuk ke dalam helikopter yang dibawa dari Jakarta. Helikopter itu terbang meninggalkan Pantai Pengandaran kembali ke Jakarta.