Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ternyata Kamu



Sophia berpikir untuk melawan. Dia takut orang yang menutup matanya berniat tidak baik padanya. Dari aroma tubuhnya asam dan bau. Sophia menginjak kaki orang itu. Dia langsung melepas Sophia.


"Aw ... sakit sayang," keluh Alex sambil memegang satu kakinya.


"Mas!" Sophia terkejut mendapati orang yang tadi menutup matanya Alex. Suami yang dicemaskan dan dirindukannya. Sophia langsung memeluk Alex. Tak peduli aroma tubuhnya yang asam dan bau.


"Mas aku kangen," ucap Sophia.


Alex membalas pelukan Sophia dengan erat. Menghirup aroma tubuh Sophia yang membuat lelahnya menghilang. Kehangatan yang dari tadi ingin dirasakannya dan lebih lama lagi menghabiskan kemesraan dengan pemilik mata emerald itu.


"Aku juga kangen sayang, makanya nyusul ke Bandung," sahut Alex.


Baju yang dikenakan Alex kotor dan basah kuyup karena keringat yang dari tadi membanjiri tubuhnya. Membuat Sophia merasa ikut basah.


"Mas kok bau dan asem gini? basah kuyup lagi, memangnya habis keujanan?" tanya Sophia.


"Gak sayang, ini basah keringatku," jawab Alex.


Sophia melepas pelukannya. Menatap mata suaminya.


"Kok bisa keringetan sebanyak itu?" tanya Sophia.


"Tadi Mas abis dari rumah cewek cantik," canda Alex.


Sophia mengerucutkan bibirnya cemberut dengan jawaban Alex. Dia terlihat cemburu.


"Cantiknya istriku ketika cemburu, lagi sayang, cemberut lagi," ujar Alex.


"Mas ..., beneran pengen liat Sophia cemberut?" tanya Sophia.


Alex langsung membopong Sophia berjalan masuk ke dalam villa. Sambil menatap mata emerald itu.


"Mas ...," lirihnya.


"Mas gak mungkin mampir ke cewek lain, udah paten sama yang satu ini," ucap Alex. Mendaratkan satu kecupan di kening Sophia.


"Aku tahu itu Mas," balas Sophia sambil tersenyum. Senyuman yang terbit di bibir merah delimanya.


Alex membawa Sophia masuk ke kamar mereka. Berbaring di ranjang bersama Sophia. Memeluk tubuh seksi Sophia.


"Kangennya meluk kamu sayang," ucap Alex.


"Kan baru sehari kita berpisah Mas," sahut Sophia.


"Habis nagih kalau sama kamu, apalagi tarian India yang kemarin," ucap Alex.


Sophia tersenyum malu. Pipinya memerah. Sophia menyembunyikan rasa malunya dari suaminya. Dia ingat betul tarian India itu membuat Alex tak tahan dan panas dingin. Langsung ngajak olahraga bersama.


"Mas," ucap Sophia menatap mata Alex. Menyentuh dada bidangnya.


"Iya sayang?" tanya Alex.


"Kok basah kuyup gini kenapa?" tanya Sophia.


"Tadi aku dan Kenan dikejar-kejar orang-orang pakai baju hitam, mirip preman, ngeri deh," ujar Alex.


"Dikejar-kejar kenapa Mas?" tanya Sophia.


Alex akhirnya menceritakan apa yang dialaminya tadi bersama Kenan. Dia tahu ini akan membuat istrinya cemas tapi Alex tidak ingin Sophia berpikir yang aneh-aneh karena bajunya yang kotor dan bau.


Sophia langsung memeluk Alex. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada suaminya. Perasaan cemasnya tadi ternyata beralasan itu karena Alex memang dalam bahaya.


"Iya sayang, Alhamdulillah," sahut Alex sambil mengusap punggung Sophia.


Sophia mencium dada Alex. Dibalas Alex dengan meraih bibir merah delima itu. Alex menciumnya. Mereka berciuman cukup lama. Hingga memasuki ke tantangan selanjutnya. Menelusuri setiap labirin memecahkan setiap misteri dan mengambil setiap hadiah. Benang-benang terjatuh sembarangan. Kedua sejoli itu dimabuk asmara. Meluapkan semua cinta dan kasih sayang. Melampiaskan semua kenikmatan. Baik Sophia dan Alex memadu cinta di akhir malam itu. Suara angin semilir berhembus bersamaan suara-suara merdu dari kamar villa itu. Ranjang ikut bergoyang seakan jadi saksi si empunya sedang beraktifitas yang khusus dilakukan secara berduaan. Bintang-bintang iri melihat dua sejoli memadu cinta hingga mereka tak tahu berapa kali mengulangnya. Ruangan itu jadi saksi bisu betapa indahnya cinta di antara mereka yang memiliki tak ingin disudahinya.


Setelah lelah, Sophia dan Alex tidur bersama dalam satu selimut tebal. Alex memeluk Sophia. Tak ingin jauh dari pemilik mata emerald yang sudah membuatnya candu, tak bisa jauh darinya. Maunya nempel terus kemanapun mereka pergi.


***


Pagi itu Harry sedang sarapan di ruang makan bersama anggota keluarganya. Ibunya Nyonya Carroline Harold duduk di kursi dengan angkuhnya. Dia seorang keturunan bangsawan terbiasa hidup dengan segala kemewahan. Dia memang angkuh dan sombong. Paling tidak menyukai orang miskin. Ada peristiwa di masa lalunya yang membuatnya begitu membenci orang miskin. Di seberang ibunya duduk seorang gadis bercadar. Dia adalah Humaira Az Zahra. Putri semata wayang di Keluarga Harold.


"Humaira bagaimana hubunganmu dengan Dokter Randi?" tanya Nenek Carroline.


"Baik," jawab Humaira.


"Dokter Randi itu kandidat paling cocok untuk menikah denganmu, selain anak dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta, dia sangat berpendidikan," ujar Pak Harry.


Humaira hanya diam mendengarkan. Tak ingin membantah atau membela diri.


"Jangan sampai kau dekat dengan orang miskin, mereka tak selevel dengan kita yang darah biru," lirih Nenek Carroline.


"Nek, Pa, Humaira berangkat dulu," ucap Humaira pamit.


"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Pak Harry.


"Kau ingin berjualan kue basah lagi? Mau ditaruh di mana harkat dan derajat keluarga kita?" ujar Nenek Carroline. Dia tak terima cucunya harus berjualan kue basah. Padahal mereka keluarga ningrat.


"Jualan kue basah? Lihat ada berapa uang di dompetmu? Tidak bisa mencukupi hidupmu, lebih baik kau kerja di perusahaan Papa," usul Pak Harry.


"Aku ingin mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku sendiri dan halal," sahut Humaira berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi kau mau bilang uang dari Papa haram?" tanya Pak Harry.


"Aku tidak berkata seperti itu. Aku hanya ingin mandiri Pa," ujar Humaira.


"Assalamu'alaikum," ucap Humaira. Dia berjalan meninggalkan ruang makan. Ketegangan ayah dan anak itu akhirnya berhenti. Humaira tidak ingin memperpanjang masalah. Lebih memilih pergi. Berdebat dengan ayahnya tidak akan membuatnya menang. Lebih baik pergi untuk kebaikan bersama.


Ruang makan itu kembali hening. Pak Harrry kembali memakan makanannya meskipun tadi sempat emosi.


"Kau harus bersikap lebih lembut pada Humaira," usul Nenek Carroline.


Pak Harry hanya diam. Terus memakan makanannya. Dia tahu Humaira memang tak ingin menggunakan fasilitas dari ayahnya sejak tak sepaham mengenai cara memandang hidup.


Harry lebih menyukai menyelesaikan apapun dengan kekerasan sedangkan Humaira begitu lembut dan baik. Dia tidak ingin menyakiti siapapun apalagi melakukan kekerasan.


"Aku dengar perusahaan pesaing kita bangkrut?" tanya Nenek Carroline.


"Ibu tahu siapa yang sudah membuatnya bangkrut," ujar Pak Harry.


"Kau melakukan semua ini tidak ada tujuan lainnya?" tanya Nenek Carroline.


"Memangnya tujuan apa?" tanya Pak Harry.


"Untuk membalas seseorang misalnya?" tanya Nenek Carroline.


"Haruskah aku mengatakan kalau aku ingin menghancurkan Alex dan Ferdi?" tanya Pak Harrry.


Nenek Carroline hanya tersenyum. Dia terus menyantap makanannya. Ada sesuatu yang dipikirkannya dan hanya dia yang tahu.