Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Bangunlah Sophia



Di dalam mobil Kenan menutup hidungnya dengan tangannya. Dia tak menyangka Bos yang dikenalnya sangat maskulin. Ini hampir mirip orang gila.


"Bos apa kita nyalon dulu?" tanya Kenan. Mungkin kalau Bosnya nyalon akan kembali tampan dan keren.


"Aku harus segera bertemu dengan Sophia," jawab Alex. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Sophia.


"Tapi Bos, gimana kalau Sophia sadar melihat Bos seperti ini bisa-bisa koma lagi," kata Kenan. Dia membayangkan jika Alex dan Sophia bertemu. Bayangannya itu tampak jelas. Seolah menonton sinetron Istriku Koma Baru Sadar Koma Lagi.


"Sayang kau sudah sadar," ucap Alex menatap Sophia. Seprei di ranjang sudah dipenuhi kutu. Ruangan penuh bau.


"Kau!" Sophia terkejut melihat sesosok monster di depannya. Dia langsung tak sadarkan diri lagi.


"Sayang ... sayang ...ini aku suamimu hik hik hik ...." Alex menangis melihat Sophia yang baru sadar koma lagi.


Kenan tertawa membayangkan lamunan liarnya. Tak bisa dipungkiri mungkin saja kenyataannya juga akan seperti itu.


"Kenan kenapa kau tertawa? Heh!" Alex menatap tajam Kenan.


"Maaf Bos, lebih baik rapikan dulu penampilan Bos, kasihan Sophia dia bisa syok melihat Bos seperti ini," ucap Kenan.


Alex terdiam. Memikirkan saran dari Kenan. Benar juga jika dengan penampilan gembel seperti ini menemui Sophia, dia pasti pingsan lagi.


"Oke, ayo antar aku ke salon dulu," kata Alex. Dia harus tampil seperti pangeran yang membangunkan putri salju yang tertidur. Bukannya seperti monster yang akan menakuti mangsanya. Auto milih koma dari pada ketemu dirinya.


"Nah gitu Bos, kita make over Bos kembali ke habitatnya, jadi buaya penghuni sungai Amazon," sahut Kenan. Dia bersemangat mendengar jawaban Bosnya.


"Kau mau ku potong gajimu?" Alex kembali menindas seperti biasanya.


"Astaga, kembali tertindas saat Bos kembali," sahut Kenan tepok jidat.


Akhirnya Kenan mengajak Alex ke salon Beauty Skin Care. Alex dan Kenan mengabadikan momen di saat Alex sedang berada di titik terjeleknya. Jarang-jarangkan Alex jelek, biasanya juga tampan maksimal.


Cekrek


"Nah Bos, ini kenang-kenangan di saat Bos mencari kitab suci," ujar Kenan sambil menunjukkan hasil jepretannya.


Alex tertawa. Dia tak menyangka ternyata dirinya benar-benar gembel. Pantas semua orang pingsan saat bertemu dengannya.


"Kenan kau tak pingsan mencium bau mulutku? Satu tahun aku tak menggosok gigi," kata Alex.


Bluuug ....


Kenan pingsan. Dia baru ngeh mulut Alex memang bau sekali. Pantas salon yang tadinya antri mendadak sepi. Pengunjung kabur menyelamatkan hidungnya.


"Kenan! Kenan!" pekik Alex sambil duduk membangunkan Kenan. Terpaksa Kenan dibawa ke ruang rilexsasi. Dia butuh istirahat. Sedangkan Alex duduk di depan cermin. Rambut, kumis, jambangnya dicukur. Petugas salon mengenakan APD lengkap bak astronot, biar tak mencium bau mulut, ketek, keringat, dan baju yang satu tahun penuh belum ganti.


Satu jam berlalu, Alex selesai dicukur. Dia kembali berwajah Alex Sebastian yang tampan.


"Bos, sudah selesai."


"Iya terimakasih," jawab Alex.


"Tadi sekretaris Anda memesankan paket premium untuk seluruh tubuh dari rambut sampai ke ujung kaki, sekarang anda mandi dulu biar lebih fresh."


Alex mengangguk. Dia masuk ke ruang perawatan kecantikan. Di dalam Alex mandi, luluran, berendam air susu dan madu ditambah bunga dan buah-buahan. Pijat refleksi, mani pedicure, keramas dan creambath. Tak lama Kenan yang sudah sadar membawa pakaian baru untuk Alex yang sudah tampan dan wangi kembali.


"Bos, sudah selesai?" tanya Kenan berdiri di belakang Alex memegang baju milik Alex.


"Sudah dong, kau tak lihat aku kembali ke zaman modern," jawab Alex yang baru neninggalkan zaman prasejarah. Di mana rambut gimbal memiliki nilai artistik tersendiri pada zamannya.


"Ingat Bos, kemarinkan Anda nyasar ke zaman megalitikum, pantas saja di zaman modern Anda tak ditemukan," sahut Kenan.


"Iyalah, aku bersilaturahmi dulu ke rumah manusia purba dan menjenguk peliharaan ku tiranosaurus," sahut Alex. Bergurau seperti biasa dengan Kenan.


"Ha ha ha ... Bos ada-ada saja, aku rindu saat-saat seperti ini," ujar Kenan. Dia selalu rindu saat bercanda dan bekerja bersama Alex. Pergi ke manapun dengannya.


"Sudahlah, jangan sedih, mana bajuku?" sahut Alex.


"Siap!" jawab Kenan. Dia memberikan baju setelan jas hitam pada Alex. Baju kebanggaannya. Selalu jadi ciri khas Bos besar.


Alex mengenakan setelan jas rapi. Tampan dan keren seperti biasanya.


"Bos, Sophia pasti cepat sadar kalau melihat Bos setampan ini lagi," puji Kenan. Teringat tadi saat Bosnya gembel. Berbanding terbalik dengan yang sekarang.


"Aku memang tampan dari lahir, wajar kalau Sophia terpikat pesonaku," ujar Alex membanggakan diri seperti biasa.


Kenan hanya bisa geleng-geleng. Bosnya udah kembali ke dunia nyata, sebelumnya nyasar di alam ghaib.


Alex berlari ke dalam rumah sakit. Dia tak peduli orang mau mengiranya kesetanan. Yang penting harus segera bertemu Sophia. Bayang-bayang wajah Sophia tersenyum padanya tampak jelas dalam ingatannya. Sophia selalu hidup di hati dan pikirannya meski jarak dan waktu sempat memisahkan keduanya.


"Sophia tunggu aku! Aku sudah pulang sayang," batin Alex sambil berlari. Matanya berkaca-kaca. Rindu akan sosok Sophia. Penyejuk hatinya. Tempatnya berbagi segalanya.


"Aku akan segera kembali Sophia," kata Alex. Matanya berkaca-kaca. Dia tak tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.


"Iya Mas, sampai kapanpun aku akan menunggumu, aku tidak akan pergi sebelum kau kembali," ujar Sophia. Air matanya menetes di pipi kemerahannya.


Bayangan satu tahun lalu kembali berputar. Masih terasa seperti baru kemarin. Senyumannya, suaranya, pelukannya, masih bisa Alex dengar dan rasakan.


"Sophia aku datang sayang, aku kembali," batin Alex terus berlari sepanjang lorong.


Sampai di ruang ICU. Alex masuk ke ruangan di mana Sophia dirawat. Alex melangkah. Langkah demi langkah membuat jantung Sophia berdebar. Seakan penantiannya sudah terbalas.


"Sayang ini aku," ujar Alex mendekati Sophia yang berbaring tak berdaya di ranjang. Matanya masih menutup. Tampak lemah dan pucat.


Alex berdiri di samping ranjang. Mencium kening Sophia. Memegang tangannya.


"Aku sudah kembali sayang, bangunlah!" kata Alex. Suaranya sendu. Dia begitu sedih melihat Sophia seperti itu.


Alex duduk di kursi. Menciumi tangan Sophia. Dia begitu rindu padanya.


"Bangunlah sayang, maafkan aku baru kembali setelah sekian lama kau menungguku," ujar Alex. Air matanya tumpah juga. Tak mampu membendungnya. Alex menatap wajah Sophia.


"Aku mencintaimu, aku merindukanmu, ku mohon bangunlah!" ujar Alex. Berharap Sophia segera bangun.


Alex memeluk tubuh Sophia. Lama sekali dia tak memeluk Sophia yang selalu dirindukannya setiap hari. Jauh di tempatnya saat itu berada dia selalu berharap diberi kesempatan untuk kembali bertemu dan hidup bersama Sophia.


"Aku selalu menantikan saat-saat ini sayang, jauh di tempatku terdampar, setiap malam ku tatap langit kesepian. Hanya wajahmu yang teringat dalam bayanganku," kata Alex.


"Aku melewati hari demi hari yang begitu menyiksa hati dan pikiranku, aku rindu tapi tak bisa bertemu, rasanya aku ingin mati, putus asa," kata Alex. Air matanya kini membanjiri pipinya. Tangan Sophia masih dipegangnya erat.


"Aku tak pernah ingat hari, yang ku ingat hanya hari di mana kita bisa bertemu, aku ingin berlari tapi jarah membentang, memisahkan kita," ujar Alex. Perih saat dia ingin bertemu dengan segala usaha tapi kenyataan membentangkan jarak dan tembok besar yang memisahkan.


"Aku mendengar suaramu memanggilku, aku rindu pelukan dan kasih sayangmu, aku rindu semuanya," ujar Alex.


Tangan Sophia bergerak sesaat. Alex sampai terkejut. Bahkan air mata jatuh di ujung matanya.


Hanya saja mesin monitoring berkata lain. Bunyinya semakin lemah dan menghilang. Bahkan grafiknya berubah lurus.


Alex menggeleng. Tak percaya melihat itu.


"Tidak, kau tidak boleh mati, aku sudah kembali sayang, bangunlah!" pekik Alex. Di belakangnya Dokter Leon memegang bahunya.


"Sophia sudah pergi, dia sudah menyelesaikan penantian panjangnya," kata Dokter Leon.


"Tidak, Sophia bangunlah! Aku mencintaimu," ujar Alex memeluk Sophia. Menangis tersedu-sedu.


"Ikhlaskan Sophia, biar dia kembali dengan tenang," kata Dokter Leon. Matanya berkaca-kaca. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Alex. Kehilangan Sophia.


"Sayang, aku jangan tinggalkan aku. Kau bisa kau akan menungguku, aku sudah kembali bangunlah!" pinta Alex.


Dokter Leon menunduk. Dia tahu apa yang sekarang dirasakan Alex. Hatinya pasti sangat hancur dengan kepergian Sophia. Mereka berdua saling menunggu dan ingin bertemu di titik yang sama. Sekarang penantian itu terbayarkan. Hanya saja Sophia harus pergi.


"Tidak, kau harus hidup, kita akan membesarkan Arfan bersama-sama," ujar Alex.


Dokter Leon mendekat. Menarik tubuh Alex dari Sophia.


"Lepas! Aku harus membangunkan Sophia!" pekik Alex. Dia berusaha melepas tubuhnya dari Dokter Leon.


"Sadarlah! Sophia sudah pergi, aku tahu kau kehilangan, akupun juga sama," kata Dokter Leon.


Alex terdiam. Dia menangis. Tubuhnya merosot ke bawah. Terduduk di lantai. Alex menangis. Menundukkan kepalanya ke bawah. Air matanya terjatuh tetes demi tetes. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa berdiri lagi. Semangatnya terasa patah. Hancur berkeping-keping.


Kenan yang baru masuk ke ruang ICU hanya terdiam. Berdiri di depan pintu. Matanya berkaca-kaca melihat Alex kehilangan Sophia. Dia tidak bisa berkata apapun. Sophia begitu berharga untuk Alex. Dia matahari yang selalu menerangi jalannya selama ini. Kini hidupnya seakan kehilangan cahaya itu.


"Sophia ... terimakasih atas semua waktu. Kebaikanmu, perhatianmu, cinta dan kasih sayang tulusmu padaku," kata Alex sambil menangis.


Dokter Leon yang berdiri di belakang Alex hanya menunduk. Dia tidak tahu bagaimana cara menyemangati Alex. Dia pun tak bisa menyemangati dirinya sendiri.


Alex menunduk. Tak ada kata lagi. Semua kata sudah mati bersama Sophia. Hanya tetesan air mata yang terus menetes.


"Mas!" panggil Sophia dengan suara pelan. Seketika Alex terkejut mendengar suara yang lembut dan menyejukkan hati itu terdengar di telinganya.