
"Sorry Bro, gue nikah baru setahun ya wajarlah kalau masih proses, guekan perjaka karatan," sahut Tuan Matteo.
"Eh iya, lo kelamaan kali."
"Asah dulu ke Mak Erot dijamin tajem."
"Tiap malam udah gue asahlah, bini gue kan cantik dan masih muda masa dianggurin," kata Tuan Matteo.
"Buset tiap malem Bro?"
"Itulah enaknya belum punya anak, pagi siang sore lancar jaya, mau di mana aja gak ada hambatan, mulus kaya jalan tol," ujar Tuan Matteo. Dia membanggakan hubungannya dengan Claudya yang masih kaya orang pacaran. Bisa minum obat tiga kali gak pusing. Sampai ranjang s0ak juga yang penting as0i geb0y. Di g0yang terus sampai pagi.
"Bener juga sih, gue kalau mau check in ma bini mesti nunggu anak-anak tidur."
"Apalagi gue, nunggu gajian bini baru mau dandan."
"Gue lebih parah, seminggu sekali itu pun mesti cepet karena istri gue kecapean ngurus bocil."
"Gue baru mau tanam eh anak keburu bangun. Langsung gulung tikar, pedagang bangkrut."
Tuan Matteo tersenyum. Ada hikmahnya belum dikasih cepet sama Allah SWT. Mungkin Allah ingin Tuan Matteo dan Claudya lebih lama lagi berbulan madu dan menikmati waktu berdua.
***
Tuan Matteo pulang ke rumah. Dia tersenyum sumringah. Ternyata belum dikasih momongan ada nilai lebihnya. Kalau mendengar nasib teman-temannya, Tuan Matteo jadi lebih bersyukur. Dia masih bisa bermesraan kapanpun jam berapapun. Gak ada gangguan. Mungkin kalau nanti punya anak bisa jadi dia tidak bisa tanam pohon singkong tiap hari.
Tuan Matteo masuk ke kamarnya. Claudya sedang menidurkan Ezar di ranjang tidur milik Arfan. Ranjang itu berada di kamar mereka berdua. Berukuran lebih kecil dari ranjang yang ditidurinya bersama Tuan Matteo.
"Assalamu'alaikum," sapa Tuan Matteo.
"Wa'alaikumsallam," sahut Claudya.
Tuan Matteo menghampiri Claudya. Mencium keningnya.
"Arfan tidur di sini sayang?" tanya Tuan Matteo.
"Bukan Arfan, tapi Ezar," jawab Claudya.
"Ezar?" Tuan Matteo terkejut. Melihat anak kecil mirip Arfan. Meski tak seratus persen mirip. Ada perbedaan di rambut dan bentuk wajah.
"Iya, namanya Ezar. Anak panti asuhan yang dibawa Kak Sophia," sahut Claudya.
"Kok bisa ya mirip Arfan," kata Tuan Matteo yang mulai duduk di samping Claudya.
"Gak tahu, makanya besok Kak Alex mau test DNA Ezar, siapa tahu anaknya," sahut Claudya.
"Bisa jadi sih, kakakmu dulukan casanova," kata Tuan Matteo. Dia tahu betul siapa Alex. Di klub malam tempat para pengusaha nongkrong, siapa yang tak kenal Alex. Begitupun Tuan Matteo.
"Makanya dari pada menduga-duga, lebih baik melakukan test DNA, biar jelas Ezar anak Kak Alex atau bukan," sahut Claudya.
"Iyalah, test DNA paling akurat. Dari pada mencari informasi sana sini," ujar Tuan Matteo. Hasil test DNA yang akan menentukan lebih cepat dan tepat dari pada mencari informasi yang akan memakan waktu yang lama.
"Nanti ujung-ujungnya kaya disinetron ada yang ngaku ibunya, terus jadi istri keduanya, dan lain sebagainya," keluh Claudya.
"Hafal bener, sering nonton ya sayang?" tanya Tuan Matteo sambil menggoda dan mencolek dagu Claudya.
"Kalau lagi gabut, emosi jiwa tiap nontonnya. Bikin stok tisu berkurang," sahut Claudya.
Tuan Matteo langsung mencium bibir mungkil istri kecilnya.
"Baru pulang kok udah nyosor," ujar Claudya.
"Mumpung masih berdua, seringin sayang, ternyata kalau udah bertiga bakal jarang," ujar Tuan Matteo sambil menatap wajah cantik istrinya.
"Masa? Siapa yang bilang?" tanya Claudya.
"Temen-temen yang udah terjun di lapangan," jawab Tuan Matteo.
"Kalau gitu ayo sayang, besokkan libur sampai pagi juga siap," kata Claudya.
"Semangat! Kalau gitu minum obat kuat dari Gunung Merapi dulu ya?" kata Tuan Matteo.
"Jangan ah, tar terombang-ambing tanpa kepastian," jawab Claudya. Dia udah tahu kegagalan Gavin dan Luki. Takkan terulang lagi. Meski itu obat kuat beneran.
"Iya ya, staminaku juga udah kuat, minggu lalu aja sampai pagi ya sayang?" ujar Tuan Matteo.
"Jangan kenceng-kenceng sayang, Ezar baru tidur, tar bernasib seperti teman-temanmu," sahut Claudya.
Tuan Matteo mengangguk. Dia langsung membopong Claudya pindah ke ranjang peraduan. Tempat mereka berdua. Tuan Matteo udah siap menanam singkong di kebun eh Ezar bangun.
"Astaga, baru mau nanam singkong, ada iklan juga?" keluh Tuan Matteo yang baru mau buka kancing kemeja. Ezar udah bangun minta susu.
"Sabar ya sayang, tar habis Ezar minum $u$u ya," ujar Claudya.
Tuan Matteo mengangguk. Benar kata teman-temannya. Sudah punya anak bisa jadi waktu ind€h0y-nya berkurang. Mesti iklan bolak-balik sampai kering berujung hari esok tak pasti. Terombang-ambing di lautan.
"Ternyata bersyukur itu kuncinya. Ketika Allah belum memberi keturunan, mungkin Allah ingin memberi banyak waktu untuk berdua dengan istri, Ya Allah ampunilah hamba yang sudah berburuk sangka dengan nikmat yang kau berikan," batin Tuan Matteo. Dia baru menyadari apapun yang Allah SWT berikan itu sudah yang terbaik untuk manusianya. Allah SWT tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuannya. Apapun akan indah pada waktunya.
***
Alex dan Sophia sudah rapi. Mereka membawa Arfan dan Ezar ke rumah sakit ditemani Claudya. Arfan anteng digendongan Alex. Dari pagi dia tak mau lepas dari ayahnya. Mungkin karena Arfan belum lama ini bersama Alex. Dia selalu ingin tidur dipeluk ayahnya.
"Arfan nempel terus ma Kak Alex," ujar Claudya yang menggendong Ezar.
"Iya dong, kita couple Dad and son paling ganteng, jadi harus nempel terus," jawab Alex.
"Mulai dah bawa-bawa kegantengan," sahut Claudya.
Sophia tersenyum. Dia sudah biasa mendengar suaminya yang selalu bicara soal level ketampanannya. Apalagi setelah memiliki Arfan.
"Kak Sophia, aku lupa bawa botol susunya Ezar," ujar Claudya. Dia lupa membawa tas untuk wadah botol susu.
"Ya udah nanti biar Ezar m€nyu$u padaku," sahut Sophia.
"Makasih ya Kak," ujar Claudya.
"Iya," sahut Sophia.
Mereka berempat menuju laboratorium. Alex dan Ezar masuk ke dalam. Sedangkan Sophia, Arfan dan Claudya duduk di luar.
"Kak kalau Ezar memang anak Kak Alex gimana?" tanya Claudya.
"Aku sudah siap menerima Ezar, lagi pula hubungan darah tidak bisa dipisahkan, Ezar berhak mendapatkan pengakuan dari Mas Alex kalau itu benar," jawab Sophia.
Claudya langsung memegang tangan Sophia.
"Kak Alex sangat beruntung memiliki Kak Sophia, gak ada wanita yang bisa menerima Kak Alex dengan masa lalunya, dan hanya Kak Sophia yang bisa menaklukkan hatinya," ujar Claudya. Dia tahu Sophia adalah matahari yang menerangi hidup Alex begitupun pada keluarganya. Datangnya Sophia menerangi Keluarga Sebastian sampai membuat semua anggota keluarganya kembali berkumpul dan bahagia.
Sophia hanya tersenyum pada Claudya. Semua yang dilakukannya ikhlas karena Allah. Dia yakin apapun bisa dirubah asal mau berusaha dan berdoa.
Tak lama Alex dan Ezar ke luar dari laboratorium. Ezar langsung berlari ke arah Claudya. Sudah seperti ibunya sendiri.
"Bunda," ujar Ezar memanggil Claudya.
"Ezar memanggil Bunda?" Claudya terharu Ezar memanggilnya bunda. Kata yang selalu ingin didengar olehnya. Arfan saja tak pernah memanggil bunda. Dari bayi Claudya sudah memposisikan dirinya sebagai tante agar saat Sophia sadar dia tahu ibunya bukan Claudya tapi Sophia.
Ezar tertawa kecil khas anak kecil.
"Lucunya," ujar Claudya langsung mencium pipi cabinya. Arfan juga ikut-ikutan. Dia menempelkan pipinya pada Sophia.
"Arfan mau dicium Mama ya?" ujar Sophia.
Arfan tertawa kecil. Bergegas Sophia mencium pipi cabi Arfan. Senangnya Arfan mendapat ciuman dari ibunya.
"Papa enggak dicium?" kata Alex.
Arfan turun dari pangkuan Sophia. Menghampiri Alex. Lalu mencium pipinya.
"Papa sayang Arfan," ujar Alex. Mencium gantian pipi Arfan.
Mereka semua terlihat bahagia. Tak ada kebahagian yang sempurna tanpa adanya sebuah keluarga. Karena tempat ternyaman yang kita butuhkan adalah bersama mereka.
***
Tiga hari berlalu. Alex dan Sophia pergi ke rumah sakit bersama Claudya dan Tuan Matteo yang sengaja cuti untuk menemani istrinya. Begitupun Arfan dan Ezar yang asyik berjalan-jalan di lorong langai bawah rumah sakit di depan laboratorium.
Alex mengambil hasil test DNA di konter pengambilan hasil laboratorium. Sebuah amplop putih dibawa Alex menuju tempat Sophia dan yang lainnya berada.
"Ayo buka Kak Alex, penasaran nih," ujar Claudya yang udah penasaran.
"Iya Mas," tambah Sophia.
"Oke," jawab Alex. Tangannya membuka amplop putih itu. Dia membaca hasil test DNA itu.
Sophia dan yang lainnya terlihat tegang dan penasaran ingin tahu hasil test DNA itu.
"Ezar-Ezar bukan anakku," ujar Alex.