Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Teman Lama



Rumah Keluarga Abimayu


Emily Haseena anak semata wayang dari Keluarga Abimayu. Ayahnya bernama Yuga Abimayu dan ibunya bernama Karina Nagita. Mereka salah satu keluarga terpandang di Jakarta. Siang itu Pak Yuga sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca majalah bisnis dan menikmati secangkir kopi. Ibu Karina memghampiri Pak Yuga dan duduk di sampingnya.


"Pi, apa kita pergi menemui Emily? Mami kangen," keluh Ibu Karina.


"Mi, kalau kita terus begini Emily akan terus manja. Sudah saatnya kita sedikit memberi Emily pelajaran," sahut Pak Yuga.


"Tapi Pi, Emily tidak pernah hidup susah. Masa sweet baby tinggal di kontrakkan?" kata Ibu Karina. Sudah dari kecil Emily selalu dimanja karena hanya anak satu-satunya. Itupun melalui bayi tabung.


"Mi, Emily sudah punya suami kalau dia masih seperti anak kecil bagaimana dia mengurus suami dan anaknya nanti," jawab Pak Yuda. Dia ingin Emily dewasa dan mandiri. Agar Emily bisa hidup seperti manusia pada umumnya tidak bergantung pada orangtua atau siapapun.


"Papi kok gitu. Emily itu anak kita satu-satunya. Kalau terjadi sesuatu padanya gimana? Mami kangen Pi," ujar Ibu Karina. Pak Yuda melarang Ibu Karina menemui Emily agar putrinya tidak manja lagi.


"Kalau Mami ke sana, Emily akan manja minta ini itu. Sampai kapan dia akan begitukan?" ujar Pak Yuga.


"Ya namanya juga anak semata wayang wajarkan Pi?" sahut Ibu Karina. Dia merasa sikap Emily wajar karena dia anak satu-satunya.


"Wajar saat dia masih kecil. Tapi Emily sudah besar Mi, kalau kita terus memanjakannya Emily selamanya dia akan terus manja," kata Pak Yuga.


"Gimana kalau Emily kelaperan? kulitnya gatal-gatal, sakit atau tidak bahagia Pi?" tanya Ibu Karina.


"Ada suaminya. Dia akan menjaga dan menyayangi Emily," jawab Pak Yuga. Meski di lubuk hatinya dia juga mengkhawatirkan anak semata wayangnya itu.


"Gimana kalau suaminya gak sayang sama Emily? Merekakan nikah dadakan Pi, kenal juga enggak," sahut Ibu Karina. Dia tahu Emily dan Arfan nikah dadakan. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Itulah sebabnya Ibu Karina sangat mengkhawatirkan Emily.


"Apapun perlu waktu Mi. Dulu memang kita saling menyayangi seperti sekarang? Bertemu saja saat mau akad. Tapi kita bahagia dan memiliki Emily," sanggah Pak Yuga. Dia merasa cinta akan tumbuh di hati Arfan dan Emily seiring berjalannya waktu.


"Tapikan dulu kita tinggal di rumah orangtua jadi ada yang menasehati kita. Sedangkan mereka tidak Pi. Bisa sajakan Arfan menyakiti Emily atau punya wanita lain yang dia cintai?" sahut Ibu Karina. Dia berpikir bisa saja Arfan sudah memiliki orang yang dia cintai sebelum menikahi Emily.


"Hm. Jangan berpikir terlalu jauh. Papi lihat Arfan anak yang baik. Papi yakin dia bisa menjaga, mendidik dan menyayangi Emily," ujar Pak Yuga. Dia optimis Arfan bisa melakukan yang terbaik untuk anaknya.


"Papi tega, kejam sama Emily," sahut Ibu Karina yang begitu khawatir pada Emi


Ibu Karina terdiam. Dia terlihat kecewa. Bibirnya mengerucut. Memalingkan wajahnya dari Pak Yuga.


"Oya Mi, aku mau reonian dengan teman SMA. Nanti kita bicara lagi," ucap Pak Yuga.


Ibu Karina hanya diam. Tak menggubris ucapan Pak Yuga. Dia tetap memalingkan wajahnya.


Pak Yuda pun pergi meninggalkan tempat itu. Dia mengendarai mobilnya pergi ke sebuah kafe tempat reonian dengan teman-teman semasa SMA-nya. Meski tak ingat semuanya tapi ada beberapa yang diingatnya. Paling teman beda kelas atau yang jarang dekat dengannya yang mungkin saja dia lupa atau tidak ingat namanya ataupun wajahnya yang sekarang.


Pak Yuga masuk ke dalam kafe itu. Di dalam sudah ramai. Banyak teman-teman SMA-nya. Mereka terlihat sedang mengobrol, foto bersama bernyanyi dan bergoyang. Ada juga yang hanya senyum-senyum melihat tingkah konyol teman-temannya. Beberapa hanya diam di tempat dan diam. Selain itu ada yang masih mengurus kerjaannya disela-sela kumpul bersama dan ada yang asyik main handphone hanya hadir doang.


"Assalamu'alaikum," sapa Pak Yuga.


"Wa'alaikumsallam." Semua orang membalas salam Pak Yuga.


Semua orang menyambut kedatangan Pak Yuga dengan suka cita. Mereka bersalaman dan berpelukan. Kebetulan hanya laki-laki yang mengikuti acara reonian itu.


"Yuga dah lama banget kita tak kumpul bareng gini."


"Iya, seneng bisa nyambung silaturahmi lagi," sahut Pak Yuga. Dia senang sekali bisa menyambung silaturahmi dengan teman lama.


"Gimana? Dah punya anak berapa?"


"Satu. Cewek," jawab Pak Yuga.


"Aku juga cewek."


"Sekarang kau sudah sukses ya Yuga?"


"Ayo duduk!"


Pak Yuga mengangguk. Duduk bersama teman-teman yang lainnya. Mereka mulai mengobrol, bercanda dan bercengkrama layaknya sahabat lama.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex saat masuk ke dalam kafe.


"Wa'alaikumsallam," sahut semua orang yang ada di dalam kafe. Mereka tersenyum melihat Alex.


Alex menyalami semua teman-temannya. Dia cukup populer saat masih SMA dulu. Hampir semua teman SMA mengenal Alex.


"Lex sini!"


Alex mengangguk. Bergegas menghampiri meja di mana teman-teman sekelasnya berada. Dia menyalami semua temannya dan bertegur sapa.


"Duduk Lex!"


Alex mengangguk. Lalu duduk bersama mereka semua.


"Lama gak ketemu masih casanova gak nih?"


"Gaklah. Bini gue sholeha, cantik dan baik mana mungkin ke lain hati," jawab Alex. Dia sudah memiliki Sophia mana mungkin berpaling ke lain hati apalagi gonta-ganti ranjang.


"Alhamdulillah, sudah tobat."


"Iya dong. Sekarang hidupku jauh lebih bahagia ada istri dan anak," jawab Alex. Hidupnya kini sempurna memiliki istri dan anak. Keluarga besarnya yang rukun dan solid membuat Alex tidak memiliki kekurangan lagi justru harus banyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.


"Wah udah ada pawangnya, buaya tak perlu ke Amazon."


"Ha ha ha ..." Alex dan yang lainnya tertawa.


"Lex, masih kenal Yuga gak nih?" Salah satu teman menunjuk ke arah Pak Yuga.


"Yuga rival di kelas ya?" tanya Alex. Dulu di kelas mereka selalu saingan untuk mendapatkan juara pertama di kelas.


"Iya siapa lagi? Kaliankan yang selalu juara."


"Hai Yuga dah lama gak ketemu," sapa Alex. Dia menatap Yuga yang duduk di seberangnya.


"Iya dah lama gak ketemu, aku sampai lupa. Saking lamanya," sahut Pak Yuda. Sudah sangat lama sampai Pak Yuga lupa siapa Alex bahkan namanya juga sudah lupa.


"Kalau gitu ayo makan dulu, kita rayakan kebersamaan kita selagi masih ada umur dan bisa bersilaturahmi."


Semuanya mengangguk. Mereka makan bersama. Bersuka cita bisa makan bersama dengan teman-teman lama.


Setelah satu jam berlalu, beberapa orang pulang. Beberapa masih mengobrol, berfoto dan hanya diam.


Alex berpindah duduk di dekat Pak Yuga. Dia merasa tidak enak hati dulu selalu bersitegang dengannya saat ujian.


"Yuga, sorry ya yang dulu," ucap Alex.


"Aku malah sudah lupa. Bahkan nama dan wajahmu juga lupa, faktor umur," sahut Yuga.


"Serius nih?" tanya Alex. Ternyata ingatannya masih tajam dibanding Yuga. Padahal dulu Yuga rivalnya di kelas. Mereka selalu memperebutkan juara umum di sekolah.


"Serius, aku hanya ingat beberapa teman," jawab Yuga.


"Berarti kau lupa namaku juga?" tanya Alex. Dia ingin tahu apakah Yuga ingat namanya atau tidak.