
Malam semakin larut. Pesta dansa mulai sepi. Beberapa orang meninggalkan gedung itu. Sebagian masih bertahan untuk mengobrol dan berfoto. Begitupun dengan Claudya. Dia berjalan mencari Kakek David, Gavin dan Dodo. Namun tak satupun menemukan mereka. Justru malah bertemu teman-temannya.
"Claudya nyariin siapa?"
"Kakekku," jawab Claudya.
"Memangnya kenapa?"
"Mau pulang," jawab Claudya.
"Sama kita aja."
Claudya mengangguk. Dia setuju dengan ajakan teman-temannya.
"Tapi aku telpon kakek dulu," ujar Claudya.
"Oke."
Claudya menepi. Dia mengeluarkan handphone dari tas pesta miliknya. Menyalakan layar handphone miliknya. Langsung menelpon kakeknya.
"Assalamu'alaikum Kek," ucap Claudya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Kakek David.
"Kek, aku pulang bareng temenku ya," ujar Claudya.
"Iya, tapi ingat jangan malam-malam!" ucap Kakek David.
"Siap Bos," sahut Claudya.
Setelah bicara dengan kakeknya, Claudya menutup telponnya. Namun ketika melihat layar handphone-nya Claudya melihat handphone miliknya lowbat.
"Aduh lowbat lagi?" keluh Claudya. Dia membuang nafas gusarnya. Sedikit kecewa saat mengetahui handphone miliknya lowbat.
Alih-alih ingin kembali berkumpul dengan temannya. Claudya berpikir untuk mengecas handphone miliknya karena dia lupa bawa power bank. Claudya berjalan meninggalkan teman-temannya. Mencari tempat mengecas handphone meskipun sebentar. Dia sangat membutuhkan handphone untuk berjaga-jaga.
Claudya berjalan menuju ruangan beristirahat yang ada di gedung itu. Di dalam ruangan itu hanya ada beberapa sofa dan meja. Claudya masuk ke dalam. Mengecas handphone-nya. Tiba-tiba lampu mati. Pintu ruangan itu tertutup. Claudya berlari ke arah pintu tapi saat dia memutar gagang pintu, ternyata pintunya terkunci. Tak bisa dibuka.
"Kenapa sih nih pintu gak bisa dibuka, mana lampu mati lagi," ujar Claudya. Dia mengetuk-ngetuk pintu sambil meminta tolong. Berharap ada orang yang mau menolongnya.
Di luar pintu Luki tersenyum. Dia memegang kunci ruangan itu.
"Gadis kecil berani sekali kau mengambil mainanku, tanggung akibatnya," ucap Luki. Rasa cemburunya sudah membuatnya ingin membalas Claudya. Dengan begitu dia baru puas. Takkan ada satupun yang boleh mendekati Tuan Matteo. Luki meninggalkan tempat itu. Membiarkan Claudya di dalam ruangan itu.
Di dalam Claudya mulai resah. Ruangan gelap yang ditempati olehnya, membuat bulu kuduknya berdiri. Claudya ketakutan. Dia terduduk di lantai bersandar ke pintu.
Tiba-tiba muncul sesuatu berwarna putih mendekat. Claudya terkejut.
"Aaaaa ...," teriak Claudya.
"Ha ha ha." Tuan Matteo tertawa.
Mendengar suara tertawa, Claudya langsung berdiri memukul Tuan Matteo.
Dug ... dug ... dug ...
"Aw ... aw ... aw ..., sakit," keluh Tuan Matteo.
"Rasain, biar hantu juga aku tidak boleh takut," sahut Claudya.
"Aku bukan hantu, ini aku sayangku," ujar Tuan Matteo.
Claudya tak menggubris penjelasan Tuan Matteo, dia tetap memukulnya dengan kepalan tangannya.
"Gadis kecil ini aku lelaki mesummu," ucap Tuan Matteo.
"Lelaki mesum?" Claudya berhenti. Sepertinya kata-kata itu sering dia ucapkan untuk lelaki yang beberapa hari ini mengusik hidupnya.
"Oh, kau lelaki mesum, kau mengerjaiku iyakan?" tanya Claudya.
"Tidak sayang, aku ada di sini tadi mengecas handphone terus ketiduran di belakang lemari," jawab Tuan Matteo.
"Aku tidak percaya, oya jangan manggil aku sayang-sayang, memangnya kita ini pasangan," guman Claudya.
"Gak peduli, dari pertama kita bertemu, kau sudah jadi sayangku," ujar Tuan Matteo.
"Hih," ucap Claudya kesal. Cemberut meskipun dalam kegelapan.
"Gadis kecil kau takut?" tanya Tuan Matteo yang berdiri di depannya. Mereka harus gelap-gelapan bersama.
"Gak, mana mungkin aku takut," sahut Claudya.
"Yang bener?" tanya Tuan Matteo menggoda.
"Iya, mana mungkin aku ...," ujar Claudya.
"Hi hi hi." Suara hantu terdengar kencang.
"Suara apa itu? Jangan-jangan hantu," ujar Claudya ketakutan.
"Sering-sering takut ya sayang, biar nempel terus," ucap Tuan Matteo.
Claudya baru ingat dia berada di dekat lelaki mesum yang menyebalkan. Dia langsung menjauh kembali.
"Ih siapa juga yang mau nempel, aku tadi cuma kaget," ucap Claudya.
"Kalau takut, ada aku, di sini menemanimu," ujar Tuan Matteo.
Perkataan itu sweet banget didengar Claudya. Entah kenapa dia senang mendengarnya. Claudya tersenyum. Untung saja gelap jadi Tuan Matteo tak melihatnya. Dia bisa tersenyum sepuasnya.
Tuan Matteo menyalakan lampu di handphone miliknya. Tempat itu menjadi terang.
"Cantiknya kalau tersenyum," puji Tuan Matteo.
Claudya langsung menutup senyumannya dan mengerucutkan bibirnya. Bersikap masam kembali.
"Senyuman itu untukku?" tanya Tuan Matteo.
"Pede banget, gak mungkinlah aku tersenyum untuk lelaki mesum sepertimu," ujar Claudya.
Tuan Matteo tersenyum. Yang penting dia tahu tadi Claudya tersenyum karena ucapannya.
"Mau duduk di sofa?" tanya Tuan Matteo.
Awalnya Claudya gengsi. Namun kakinya lelah. Mau tak mau dia mengikuti Tuan Matteo duduk di sofa. Mereka duduk berseberangan.
"Bagaimana caranya ke luar. Pintu terkunci," keluh Claudya.
"Aku justru senang pintunya terkunci, kita bisa berduaan," ucap Tuan Matteo.
"Jangan-jangan kau sengaja, atau ini rencana licikmu?" tanya Claudya sambil menatap sinis Tuan Matteo.
"Sumpah, aku gak sejahat itu sayang," ucap Tuan Matteo.
"Masa? Kau ingin berbuat mesum padaku, seperti di film-film," ketus Claudya.
Tuan Matteo berdiri. Menghampiri Claudya. Semakin mendekat. Claudya langsung mundur-mundur ke tepi sofa.
"Kau mau apa lelaki mesum? Tadi aku bercanda, jangan aneh-aneh," ucap Claudya sambil menghalangi tubuh Tuan Matteo agar tak mendekat dengan tanggannya.
"Aku mau berbuat mesum, mumpung kita berduaan," ucap Tuan Matteo.
"Ampun jangan, aku masih kecil, dagingku alot," ujar Claudya.
Tuan Matteo terlihat dingin. Semakin mendekat. Membuat Claudya ketakutan dan berteriak. Kemudian menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Ha ha ha." Tuan Matteo tertawa. Dia senang melihat Claudya ketakutan.
"Takut ya gadis kecil?" tanya Tuan Matteo.
Claudya perlahan membuka tangannya. Melihat Tuan Matteo terlihat senang. Dia cemberut. Tak menyangka lelaki mesum itu kembali mengerjainya.
"Kau mengerjaiku lagi lelaki mesum," keluh Claudya.
"Oke, aku tidak akan mengerjaimu lagi, asalkan kita damai gimana?" tanya Tuan Matteo. Dia ingin Claudya bersikap manis padanya.
"Gak mau," ucap Claudya. Berdamai dengan lelaki mesum akan membuatnya semakin menindasnya. Claudya tak ingin bersikap manis padanya.
"Aku akan ...," ucap Tuan Matteo kembali mendekat.
"Oke-oke," jawab Claudya.
"Kalau begitu besok aku akan bertamu ke rumahmu, masaklah yang banyak untuk calon suamimu," ujar Tuan Matteo.
"Hih, memaksa," keluh Claudya.
Tuan Matteo tersenyum.
"Aku suka makan apa saja, yang penting kau yang masak," ucap Tuan Matteo.
"Siapa yang nanya," gumam Claudya.
"Kau harus tahu kebiasaan calon suamimu, biar saat menikah nanti kita tinggal bermesraan," ucap Tuan Matteo.
"Ogah, aku gak mau ya jadi istrimu," sahut Claudya.
"Terserah aku tidak peduli, kau tak bisa menikahi dengan siapapun selain aku, kau miliku," terang Tuan Matteo.
Claudya hanya mengerucutkan bibirnya, dia kesal. Lelaki mesum itu selalu mendominasi.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka. Seseorang masuk ke dalam. Tuan Matteo dan Claudya terkejut. Melihat ke arah pintu.