Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Mirip Denganku



Pak Harry hanya diam tak membalas salam Kakek David.


"Seorang muslim wajib menjawab salam, Harry," ujar Kakek David.


"Siapa kau berani mengaturku?" tanya Pak Harry. Tatapan matanya dingin menatap lelaki kepala tujuh itu. Seakan seorang musuh yang tak patut diikasih hati dan tata krama.


"Aku ayahmu, kau anakku!" tegas Kakek David.


Pak Harry yang tadinya duduk berdiri. Berjalan menghampiri Kakek David yang masih berdiri. Dia berdiri tepat di depan Kakek David. Memangku tangannya.


"Ayah? Di mana kau selama ini?" tanya Pak Harry. Rasa kecewanya masih sangat besar pada Kakek David. Apa yang sudah terjadi padanya dan ibunya membuat Pak Harry sakit hati.


"Aku memang bersalah, untuk itu aku ingin menebusnya," jawab Kakek David. Semua waktu yang tersisa mungkin tak bisa menebus semua kesalahannya tapi setidaknya sedikit waktu itu bisa mengukir kenangan indah sebelum menutup matanya.


"Kau pikir dengan menikahi ibuku, kau bisa menebus semuanya?" ujar Pak Harry.


"Tidak, bahkan seumur hidup pun aku tidak bisa menebus semua kesalahanku," jawab Kakek David. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia teringat saat meninggalkan Nenek Carroline. Padahal wanita itu begitu mencintainya. Dan bersedia hidup bersamanya apapun yang terjadi.


"Lalu untuk apa kau kembali?" tanya Pak Harry.


"Untuk menyambung ikatan yang terputus menjadi sebuah keluarga yang utuh," jawab Kakek David.


"Keluarga? Aku dan kau?" tanya Pak Harry tersenyum licik.


"Menikah atau tidak, aku tetap ayahmu," jawab Kakek David.


"Kau tahu seberapa besar kerinduanku saat itu padamu? Sampai rasa rindu itu berubah jadi benci," kata Pak Harry.


Kakek Davin membuang nafas gusarnya. Mengontrol emosinya. Dia tidak ingin terbawa emosi.


"Kau boleh membenciku, tapi berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya," sahut Kakek David.


Pak Harry tertawa kecil mendengar ucapan Kakek David. Dia meremehkan lelaki kepala tujuh itu.


"Sebenarnya aku tidak mau kau hadir lagi dihidupku, tapi karena ibuku, aku membiarkan kau bersamanya," ujar Pak Harry.


Kakek David terdiam. Menatap mata Harry, kedua netra putranya itu dipenuhi kebencian dan kekecewaan. Masa lalu telah mengukir pagar tinggi di antara keduanya. Tak semudah itu menjamah tanah di seberangnya. Butuh kesabaran dan waktu untuk mengembalikan semuanya menjadi lebih baik.


"Besok aku menikah, ku harap kau datang dan menyaksikan pernikahanku dan ibumu," kata Kakek David.


Pak Harry tak menjawab permintaan Kakek David, dia justru berjalan meninggalkan private room itu.


Masuk ke dalam toilet pria. Pak Harry mencuci tangannya sambil melihat wajahnya di cermin. Ternyata lelaki di sampingnya itu Alex. Dia juga melihat ke arah kaca.


"Alex Sebastian, kalau dilihat dari dekat seperti ini, kenapa mukanya sedikit mirip denganku waktu muda dulu," batin Pak Harry memperhatikan wajah Alex dicermin di depannya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Alex.


"Heh, bocah kemarin sore, siapa yang melihatmu?" bantah Pak Harry. Tak mungkin dia mengatakan pada Alex kalau dia memperhatikan wajah Alex dengan seksama.


"Aku memang tampan, wajar kalau kau iri padaku," sahut Alex.


"Saat aku seusiamu dulu, wajahku lebih tampan darimu sampai ibumu saja tergila-gila padaku," ujar Pak Harry menyombongkan dirinya. Tak mau kalah dengan Alex yang memproklamirkan wajahnya tampan.


"Yang jelas aku lebih tampan, banyak wanita yang mengejarku, sedangkan kau hanya ibuku," sahut Alex.


"Sombong sekali kau bocah, kau belum tahu wajahku saat muda sepertimu," kata Pak Harry. Garis dahinya mengkerut ke tengah, menyatu. Menggambarkan rasa kesalnya pada sosok anak muda berwajah mirip dengannya saat muda dulu.


"Hoaks kalau kau tampan dulu, buktinya sampai sekarang kau jomblo, malah lakuan juga kakekku," jawab Alex.


Pak Harry tambah kesal. Tangannya mengepal. Ingin rasanya menonjok lelaki muda bermulut pedas itu.


"Kenapa marah? Udah kaya cewek aja ngambek," tambah Alex.


"Huh ... huh ... huh ..." Pak Harry mengatur nafasnya.


"Kalau mau sakit jangan di dekatku, aku takkan menolongmu," ujar Alex.


"Kau bocah mencari masalah denganku tanggung akibatnya," kata Pak Harry.


"Aku tidak takut, kau sudah sering melakukan hal itu padaku, terakhir rem mobilku blong," sahut Alex.


Deg


Pak Harry terkejut Alex mengetahui rencana busuknya yang sudah berlalu. Ternyata lelaki muda itu sengaja diam saja di saat mengetahui kebenaran yang dilakukannya.


"Bagus kalau kau tahu, aku tak perlu lagi sembunyi-sembunyi membalasmu," jawab Pak Harry. Dia berusaha biasa saja. Meskipun ada rasa khawatir jika Alex melapor polisi.


Alex tersenyum tipis. Dia tidak takut pada lelaki di sampingnya.


"Silahkan! Kalau ingin jadi pengecut selamanya," sahut Alex.


"Besar juga nyalimu, sama sepertiku disaat seusiamu dulu," kata Pak Harry.


"Jangan samakan aku denganmu, aku beristri kau jomblo kesepian, makanya kau selalu iri pada orang lain yang bahagia," ujar Alex.


Pak Harry makin naik darah mendengar ucapan Alex. Dia tak terima disebut jomblo kesepian meskipun benar adanya.


"Bocah kau semakin berani padaku!" seru Pak Harry.


"Kenapa harus takut? Kau juga manusia sepertiku, bedanya aku tampan dan muda, kau jelek dan tua," jawab Alex.


"Aku tidak jelek, sewaktu muda aku tampan lebih darimu," kekeh Pak Harry.


Alex tertawa. Seolah tak percaya lelaki di sampingnya pernah tampan. Mukanya saja ditekuk terus. Mana mungkin tampan yang ada tua sebelum waktunya.


"Mana? buktikan kalau kau dulu tampan, paling wajahmu tak jauh beda dari sekarang," ketus Alex.


Mereka berdebat, tak ada yang ingin mengalah. Untung di toilet private room itu cukup sepi. Hanya ada mereka berdua yang sedang berdebat.


"Aku akan membuktikan popularitas ku sebagai Babang Tampan pada jaman itu lebih dari darimu," sahut Pak Harry.


"Ayo buktikan!" tantang Alex.


Pak Harry mengeluarkan dompet miliknya. Ada foto lamanya di dompet. Foto masa mudanya yang selalu disimpan di dalam dompet untuk kenang-kenangan bahwa dirinya pernah jadi Babang Tampan pada zaman prasejarah di saat manusia purba masih hidup di gua dan Pak Harry jadi tukang cukurnya.


"Lihat! fotoku masih muda tampannya di atas rata-rata," ujar Pak Harry menunjukkan ke depan muka Alex.


Seketika Alex memperhatikan dengan jelas foto Pak Harry saat masih muda. Wajahnya memang tampan, meskipun pada masa itu manusia purba masih belum mengenal mandi sehari tiga kali. Dan BAB mesti membasuhnya.


"Kenapa wajah Pak Harry saat muda sedikit mirip denganku? Apa ini kebetulan?" batin Alex. Merasa dirinya seperti duplikat Pak Harry. Untung Pak Harry foto dengan camera bukan seperti manusia purba yang mau foto mesti dijedotin dulu mukanya ke batu baru membentuk permukaan wajah. Tapi kalau fotonya gak sesuai harapan mau tak mau diulang. Kebayang mesti jedotin muka ke batu lagi. Alhamdulillah sekarang ada kamera gak perlu jedotin muka ke batu buat foto. Selfi masih mending. Coba bayangkan foto jarak jauh dengan batu. Masa ditimpukin, makin parah tuh muka, babak belur. Seminggu baru sembuh itupun masih ngilu-ngilu gimana gitu.


Alex terdiam. Merasa ada yang aneh. Sesuatu mengusik batinnya. Tak pernah menyangka wajahnya bisa mirip dengan Pak Harry.