
"Jadi Alex sudah tahu Harry Harold ayah kandungnya?" tanya Pak Ferdi sambil menyeka air mata yang menetes di pipi Ibu Marisa.
Ibu Marisa mengangguk.
"Pasti sekarang Alex sangat kecewa dan marah, iyakan?" tanya Pak Ferdi.
"Iya, ini semua salahku. Aku yang membuat semua ini jadi seperti ini," jawab Ibu Marisa. Dari awal memang semua berasal dari dirinya. Keserakahan dan keegoisannya untuk mendapatkan Pak Harry, sengaja atau tidak sengaja sudah melukai putranya.
Pak Ferdi memegang kedua pipi Ibu Marisa. Mencium keningnya. Kedua netranya menatap mata sendu yang sendari tadi berurai air mata.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, bukan berarti kita tidak bisa memperbaikinya. Mungkin saat ini Alex butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Nanti kalau dia sudah tenang kita bicara lagi dengannya," kata Pak Ferdi.
Ibu Marisa mengangguk.
"Soal Harry Harold, biar aku yang menyelesaikan masalah ini dengannya," ujar Pak Ferdi.
"Kau akan memberitahu soal Tiara?" tanya Ibu Marisa.
"Iya, mungkin sudah saatnya Harry tau soal Tiara," jawab Pak Ferdi.
"Terimakasih Mas," ucap Ibu Marisa.
Pak Ferdi langsung memeluk Ibu Marisa. Dia tahu istrinya saat ini butuh support dan bantuannya untuk menyelesaikan semua masalah ini.
"Iya sayang, kita akan memperbaiki semuanya," jawab Pak Harry.
Ibu Marisa mengangguk. Memeluk erat suaminya.
***
Sore itu Sophia pulang dari kantor. Turun dari mobil Alphard hitam miliknya. Sophia membawa beberapa parcel di kantong plastik besar. Parcel yang dibawanya dari kantor. Sophia berjalan menuju pos securiti sambil membawa plastik besar, melihat itu sekuriti langsung menghampirinya. Mengambil alih plastik besar itu dari tangan Sophia.
"Pak tolong bagikan parcelnya buat semua anggota," pinta Sophia.
"Alhamdulillah, terimakasih Non."
"Oya Tuan Alex sudah pulang?" tanya Sophia.
"Dari pagi ada di rumah Non." Sekuriti itu tahu Alex ada di rumah karena mobilnya terparkir di halaman depan dari tadi pagi.
"Ada di rumah dari pagi? Bukannya hari ini Mas Alex ke kantor ya," batin Sophia. Setahunya tadi pagi Alex bilang akan ke kantor tapi siangan. Alex bukan orang yang malas kalau menyangkut soal pekerjaan. Dia sangat profesional.
"Ya udah Pak terimakasih, saya masuk dulu ya," ujar Sophia.
"Iya Nona."
Sophia bergegas masuk ke dalam rumah. Dia berjalan menaiki tangga naik ke lantai atas. Masuk ke kamarnya. Tak lupa mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex yang masih mengenakan baju koko lengkap dengan sarung. Dia duduk di sajadahnya sambil bersandar di tepi ranjang.
"Mas," ucap Sophia menghampiri Alex. Duduk di sampingnya. Meraih tangan Alex. Mencium tangan suaminya seperti hari biasanya ketika berangkat atau pulang bekerja.
"Kau sudah pulang sayang?" tanya Alex.
"Iya Mas, hari ini hari terakhir bekerja, tadi bagi-bagi parcel dan silaturrahmi antar karyawan sebelum libur panjang," jawab Sophia.
"Seharusnya hari ini aku juga ke kantor, tapi gak jadi," ujar Alex.
Sophia mengambil tangan Alex. Meletakkan tangan suaminya di perutnya.
"Mas, tadi aku USG ditemani Aiko, mau tau gak hasilnya?" tanya Sophia. Dari hari-hari sebelumnya saat USG sang janin masih malu-malu menunjukkan jenis kelaminnya saat Alex mengantarkan Sophia ke rumah sakit.
Alex yang tadinya tampak murung berubah bersemangat.
"Beneran udah ada hasilnya sayang?" tanya Alex. Dia bergegas membungkukkan tubuhnya sambil mengelus perut Sophia.
"Iya, coba tebak Mas," jawab Sophia.
"Pasti cowok," sahut Alex.
Sophia tersenyum, senyuman itu mengembang di bibir merah delimanya. Kemudian mengangguk.
"Alhamdulillah, jagoan Papa nih," kata Alex. Beralih menciumi perut Sophia beberapa kali.
"Nanti main bola sama Papa ya, atau main game pasti seru," ujar Alex.
Sophia tersenyum. Senang melihat Alex kembali bersemangat seperti biasanya. Tidak murung seperti tadi.
"Sayang duduk di pangkuanku," pinta Alex.
Sophia mengangguk. Mengikuti kemauan Alex, duduk di pangkuannya.
"Sayang kau ingin mendengar ceritaku gak?" tanya Alex sambil mengelus perut Sophia.
"Jadi turun pamor dong sayang, tapi masih cintakan?" tanya Alex.
"Iya dong Mas, udah mentok sama Mas Alex yang tampan dan sholeh," jawab Sophia.
"Greget sayang, nunggu buka deh," jawab Alex.
"Mas fokus ke perut aja jangan yang lainnya," sahut Sophia.
"Itu dia sayang, kalau dah ketemu bawaannya pengen yang lain," jawab Alex.
Sophia tersenyum. Wajahnya memerah.
"Sayang aku sudah tahu siapa ayah kandungku," ujar Alex.
"Ayah kandung Mas?" Sophia terkejut mendengar ucapan Alex. Ternyata hal itu yang menyebabkan suaminya murung dari tadi.
"Iya sayang, kau akan terkejut kalau tahu siapa ayah kandungku," tambah Alex.
Sophia menoleh ke belakang. Menatap suaminya.
"Siapa Mas?" tanya Sophia penasaran. Dia tidak tahu siapa ayah kandung suaminya. Selama ini tidak ada yang tahu Alex bukan anaknya Pak Ferdi. Selain Kakek David, Pak Ferdi, Alex dan Sophia. Tapi yang tahu siapa ayah kandung Alex hanya Ibu Marisa.
"Harry Harold," jawab Alex. Ekspresi di wajahnya berubah drastis saat menyebut nama Harry Harold.
"Apa Mas, Harry Harold?" Sophia terkejut mendengar nama itu disebut. Seingatnya Harry Harold anak dari Kakek David dan Nenek Carroline. Kakak dari Pak Ferdi.
"Iya, aku baru tau tadi saat aku membuntuti ibu bertemu dengan Harry Harold," jawab Alex.
"Berarti itu sebabnya kenapa Mas memiliki golongan darah yang sama dengan kakek meskipun Mas bukan anaknya ayah Ferdi," kata Sophia.
"Iya sepertinya begitu. Terdengar lucu," sahut Alex.
"Jadi selama ini kakek memang kakek kandungmu Mas, secara tidak langsung Mas tumbuh di keluarga Mas sendiri. Bersama kakek dan ayah yang kini jadi ayah sambung bagi Mas," jawab Sophia.
Alex terdiam. Benar juga kata Sophia. Dengan tidak disengaja, Alex dibesarkan dan tumbuh di keluarganya sendiri. Kakek David yang tadinya dianggap bukan kakek kandungnya ternyata memang kakek kandungnya. Sedangkan Pak Ferdi yang dianggap ayah sambungnya ternyata Om-nya sendiri, adik dari ayah kandungnya.
"Berarti ibu hamil dengan Pak tua itu dan menikah dengan adiknya, sedangkan aku dirawat dan dibesarkan Keluarga Sebastian yang memang keluargaku sendiri. Dan kakek memang kakekku," batin Alex. Sungguh rumit silsilah keluarganya. Kakek menikah dengan Nenek Carroline memiliki anak Harry Harold. Kemudian bercerai, kakek kembali menikah dengan ibunya Ferdi Sebastian. Sedangkan Ibu Marisa dinikahi Ferdi yang merupakan adiknya Harry beda ibu. Secara tak langsung Alex tetap berada di keluarganya. Walaupun tak bersama ayah kandungnya.
"Mas mungkin semua ini sebagai ganti ketidak hadirannya kakek sebagai ayah untuk Harry Harold, secara tidak langsung kakek sudah membayar kesalahannya di masa lalu melalui dirimu," kata Sophia.
"Iya, apa yang terjadi padaku dan Pak tua itu hampir sama. Sama-sama tidak diketahui ayah kandung kami, dan tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah," sahut Alex.
"Berarti Allah ingin menyelesaikan semua masalah ini dengan cara yang sama agar kakek dan ayah Harry berdamai melupakan masa lalu yang sudah terjadi," kata Sophia.
"Kau benar sayang, kakek dan Pak tua itu punya masalah yang sama. Sama-sama tidak merawat anaknya," ujar Alex.
Sophia memegang pipi Alex. Tersenyum manis padanya.
"Mas marah sama Pak Harry?" tanya Sophia.
"Awalnya iya, tapi udah curhat sama kamu plong jadinya," jawab Alex.
"Ya udah, tar malem ku kasih hadiah ya Mas," sahut Sophia.
"Semangat, kalau kaya gini cepet selesai masalahnya sayang," kata Alex.
Sophia tersenyum melihat suaminya sudah membaik.
"Aku harus bicara dengan ibu, ayah, kakek, dan Pak tua itu," ujar Alex.
"Iya Mas, selesaikan semua masalah ini biar lebaran ini kita kumpul bersama-sama pasti seru," tambah Sophia.
"Iya sayang, makasih kau memang obat dari segala rasa sakit di hatiku," sahut Alex.
Sophia tersenyum. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Hadirnya Sophia menjadi cahaya yang menerangi gelapnya hidup Alex. Menuntunnya ke jalan yang benar. Memberinya cinta dan kasih sayang yang tulus. Membuat hidup Alex begitu bahagia.
***
Pagi itu Pak Harry joging santai di taman milik pemerintah. Yang berada di tepi jalan utama. Pak Harry masih memikirkan masalah yang terjadi padanya. Joging kali ini tak bersemangat seperti hari sebelumnya. Dia hanya berjalan dengan pelan. Kedua netranya menatap ke depan.
"Itu bukannya kakek tua itu?" Pak Harry melihat Kakek David duduk di kursi yang ada di taman itu. Dia terlihat beristirahat.
Pak Harry berjalan menghampiri Kakek David.
Dia duduk di sampingnya tanpa permisi. Merasa ada yang duduk di sebelahnya, Kakek David menoleh ke samping.
"Harry," ucap Kakek David melihat anaknya duduk di sampingnya.