
"Humaira," ucap Gavin pelan. Tak pernah terbayangkan akan bertemu kembali. Luka di hati belum sepenuhnya sembuh. Tapi sang waktu kembali mempertemukan. Seakan menyayat kembali bagian yang masih berdarah.
Bukan hanya Gavin, Humaira juga melihat Gavin. Dia terdiam. Menurunkan pandangannya. Teringat pertemuan mereka yang terakhir. Cinta memang tak bisa menyatukan mereka dalam satu arah dan tujuan yang sama. Mengikhlaskan satu cara untuk mereka melanjutkan hidup.
"Kenapa Humaira datang ke acara ini? Apa karena Nenek Carroline ada di sini?" batin Gavin. Berusaha berpikir positif.
Dari kejauhan terlihat lelaki di samping Humaira begitu perhatian padanya. Ada rasa perih bercampur duka yang hadir menyapanya. Mengajaknya kembali pada perpisahan yang menyakitkan.
"Siapa lelaki itu? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya?" batin Gavin melihat Luki. Lelaki berwajah Korea yang tampak tak asing untuknya.
Wajah ceria Gavin berubah sendu. Apalagi lelaki yang disamping Humaira terlihat perhatian padanya.
"Loh itu Humaira cucuku sama Oppa ganteng," batin Nenek Carroline. Melihat cucunya bersama Luki.
"Kok mereka datang ke sini juga sama calon pengantin pria," batin Nenek Carroline. Dia tak menyangka acara yang dihadirinya dengan cucunya sama.
"Silahkan masuk Tuan Matteo!" ajak Alex.
Tuan Matteo mengangguk. Dia dan rombongan masuk ke dalam. Bagi laki-laki duduk dibarisan lelaki dan bagi perempuan duduk di barisan perempuan. Kebetulan Humaira duduk berseberangan dengan Luki. Dia duduk di samping Nenek Carroline. Sedangkan Luki duduk di dekat Tuan Matteo. Matanya terus memandangi sang pujaan hati yang sedang mengobrol dengan neneknya.
"Lelaki itu terus memandangi Humaira, apa dia menyukainya?" batin Gavin. Dia hanya bisa menduga-duga tanpa tahu siapa lelaki itu. Sedikit rasa cemburu mengusik batinnya. Meskipun Gavin sudah bertekad untuk melupakan Humaira.
Tuan Matteo memberi sambutan sepatah dua kata. Begitu dengan pihak keluarga yang menerimanya. Hanya Gavin yang terdiam. Masih menatap Humaira.
Acara perkenalan itu dimulai. Luki ditugaskan untuk mewakili Tuan Matteo yang menjadi juru bicaranya.
"Pak Ferdi, maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar putri bapak yang bernama Claudya Nesa untuk Tuan Matteo Renaldi," ucap Luki.
Seketika semua orang terdiam. Tak disangka acara perkenalan itu langsung menjadi acara lamaran dadakan.
Mereka semua menunggu jawaban Pak Ferdi atas permintaan Luki untuk bosnya.
"Selaku ayah Claudya saya sangat senang dengan pinangan Tuan Matteo untuk putri saya. Tapi saya kembalikan lagi pada Claudya, apakah dia bersedia atau tidak, bagaimana Claudya?" tanya Pak Ferdi melirik ke arah Claudya yang duduk di samping Sophia. Dia terlihat malu-malu kucing sambil tersenyum tipis.
"Gimana Claudya?" tanya Kakek David.
"Insya Allah Claudya bersedia menerima pinangan Tuan Matteo," jawab Claudya.
"Alhamdulillah," ucap semua orang. Kalimat syukur itu terdengar di ruangan itu. Semua orang ikut senang dengan pinangan Tuan Matteo untuk Claudya. Wajah mereka terlihat sumringah.
Tak hanya orang-orang di ruangan itu, Tuan Matteo terlihat paling gembira. Dia senang sekali Claudya menerima pinangannya. Jalannya menuju pelaminan tinggal selangkah lagi. Dia tak sabar ingin segera halal dan bisa mengarungi bahtera rumah tangga bersama sang pujaan hatinya.
"Monggo dinikmati hidangannya," ajak Pak Ferdi pada semua orang.
Hidangan yang sudah disiapkan di tengah karpet mulai dinikmati bersama. Dari makanan ringan hingga makanan berat. Suasana hangat memenuhi kediaman Keluarga Sebastian diselingi perbincangan ringan di antara mereka.
"Humaira ternyata kau datang ke sini, tahu gitu bareng sama nenek," ujar Nenek Carroline.
"Arfan yang mengajakku Nek, aku tidak tahu kalau ini kediaman Kakek David," jawab Humaira.
"Gavin bukannya cowok yang naksir kamu ya?" tanya Nenek Carroline memandang ke arah Gavin. Dia tahu Gavin pernah pedekate pada cucu kesayangannya.
Humaira hanya terdiam.
"Apa kandas karena dia sepupumu ya?" tanya Nenek Carroline.
Humaira mengangguk. Kali ini dia tidak menghindar dari pertanyaan neneknya.
"Gak papa mungkin jodohmu Oppa, lagi pula dia ganteng juga," ujar Nenek Carroline.
Humaira melihat ke arah Luki yang sedang sibuk mengobrol dengan Tuan Matteo dan Alex membicarakan bisnis.
"Apakah dia jodohku Ya Allah? Jika benar mudahkanlah," batin Humaira. Lelaki tampan berwajah Korea itu terlihat ramah dan sopan saat berbicara dengan orang lain. Humaira merasa Luki memang lelaki yang baik. Dia harus melupakan masa lalunya bersama Gavin.
Tak hanya Nenek Carroline dan Humaira yang berbincang. Sophia, Claudya dan Ibu Marisa juga sama.
"Selamat ya Claudya, semoga lancar sampai hari H," ujar Sophia.
"Kalau udah nikah kaya Sophia, jadi istri sholeha dan sayang keluarga," ucap Ibu Marisa.
"Iya Bu, nanti aku berguru sama Kak Sophia," sahut Claudya.
"Ibu bisa aja," ujar Sophia.
"Itu benar, biar adikmu belajar darimu ," ujar Ibu Marisa.
"Iya, Bu," sahut Claudya.
Sophia tersenyum begitupun Claudya dan Ibu Marisa yang kini mengidolakannya. Mereka bahkan berusaha seperti Sophia yang sudah lebih dulu jadi wanita sholeha.
Orang lain sibuk mengobrol, Dodo sibuk menghabiskan makanan.
"Om dari tadi makanannya masih utuh, apa patah hati bikin gak doyan makan?" tanya Dodo.
"Iya, kok tahu Ndut?" tanya Gavin balik.
"Berarti solusi dietku adalah patah hati kaya Om," jawab Dodo.
"Gak ngaruh kalau kamu, gak doyan makan sehari besoknya makan sebakul," ujar Gavin.
"Iya sih, Dodo gak kuat diet kalau banyak makanan," jawab Dodo.
Gavin terdiam kembali. Melihat ke arah lelaki yang tadi bersama Humaira. Memikirkan Humaira. Seakan waktu begitu kejam telah memaksa dua insan berpisah.
Setelah makan banyak orang bersantai. Gavin ke luar dari rumahnya. Dia duduk di teras rumah. Merenung. Tiba-tiba datang Humaira. Berdiri di belakang Gavin.
"Gavin," ucap Humaira. Melihat Gavin ternyata ada di teras. Padahal Humaira hanya berniat ke luar untuk sekedar mencari udara sejuk. Menenangkan pikirannya, karena di dalam cukup ramai.
Gavin menoleh ke belakang. Melihat Humaira. Wanita bercadar yang dulu membuatnya jatuh hati tapi kini hanya kenangan yang akan dia ingat dan lupakan. Garis takdir sudah memisah. Meminta mereka untuk berjalan di jalur yang berbeda meski sekarang beriringan karena Kakek Gavin dan Nenek Humaira akan menikah.
"Humaira," sahut Gavin.
Humaira duduk di teras juga. Berjarak dua meter dari Gavin. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Menatap sang langit yang sedang tersenyum melihat dua insan yang dulu saling mencintai untuk menjadi pasangan tapi kini mereka adalah saudara sepupu. Ayah mereka adik kakak meski lain ibu.
"Kau datang ke acara ini juga?" tanya Gavin. Dia ingin tahu kenapa Humaira datang.
"Iya," jawab Humaira. Tak ada jawaban yang jauh lebih baik selain kata iya yang mewakili semua perasaannya.
"Apa karena nenekmu juga datang?" tanya Gavin.
"Bukan," jawab Humaira.
"Apa karena lelaki itu?" tanya Gavin. Dia menebak. Meskipun mungkin jawabannya akan menyakitkan.
"Iya, Arfan mengajakku pergi ke acara ini," jawab Humaira.
"Oh namanya Arfan, apa kau dan dia menjalin hubungan?" tanya Gavin.
Humaira terkejut dengan pertanyaan Gavin. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku tahu, syukurlah kau sudah menemukan seseorang untukmu," ujar Gavin.
Humaira terdiam. Dia tahu apa yang dirasakan Gavin.
"Humaira, semoga kau bahagia dengannya. Aku akan berusaha berhenti mencintaimu," ujar Gavin.
Humaira hanya terdiam. Tak ada kata ke luar dari mulutnya. Dia tak ingin memperlihatkan perasaan dukanya. Memang tak semudah itu melupakan. Namun Humaira sudah memutuskan untuk melangkah ke depan.
"Cinta tak menyatukan kita sebagai pasangan, tapi sekarang, kita saudara sepupu, selamat datang sepupuku, Humaira," ujar Gavin.
Di belakang mereka berdua Luki berdiri di dekat tiang. Mendengar apa yang mereka bicarakan.