Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kau Ingin Mati



Alex mengendarai mobilnya. Matanya fokus ke depan sambil mengemudi mobilnya. Sedangkan Ibu Marisa tampak tak enak hati pada anaknya. Apa yang didengarnya tadi pasti melukai hatinya. Bagaimana tidak Alex terlahir dari hubungan di luar nikah. Dia dibesarkan Pak Ferdi yang tak pernah menyayanginya saat itu. Tumbuh besar tanpa tahu siapa ayahnya. Dan kini dia baru tahu di saat yang tidak tepat.


"Alex," sapa Ibu Marisa ingin mencairkan suasana.


Alex hanya diam. Membuat Ibu Marisa semakin tak enak hati. Mau ngomong takut salah. Gak ngomong takut makin salahfaham.


"Alex aku dan ayahmu, hubungan kami, lahirnya kau." Semua kata-kata yang ke luar dari mulut Ibu Marisa terputus-putus. Dia ragu untuk melanjutkan.


Alex justru menambah kecepatan mobilnya. Seakan suasana hatinya hampir sama dengan mobil yang dikemudikannya.


"Alex berhenti, pelankan mobilmu!" titah Ibu Marisa yang mulai ketakutan saat mobil melaju semakin cepat.


Alex tak menggubris ucapan ibunya. Dia tetap mengendarai mobilnya dengan cepat.


"Alex! Hentikan! Kita bisa mati," seru Ibu Marisa. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia benar-benar takut. Alex seperti bukan dirinya saat mengendarai mobilnya.


Alex masa bodoh. Seolah rasa sakit di hatinya lebih besar dari permintaan ibunya.


"Alex!" teriak Ibu Marisa.


Alex mengendarai mobilnya makin cepat hingga lepas kendali. Hampir menabrak pembatas jalan. Untungnya dia banting stir ke arah berlawanan kemudian mengeremnya.


Striiiit ....


Ban mobilnya berputar. Bergesek di atas aspal karena rem dadakan itu.


Mobil itu berhenti. Ibu Marisa langsung memegang dadanya. Jantungnya hampir saja copot. Nafasnya masih tersengal-sengal. Dia coba mengatur nafasnya. Sedangkan Alex hanya memukulkan tangannya ke kemudi mobilnya. Kemudian menenggelamkan kepalanya di kemudinya.


"Alex kau tahu kita hampir mati!" seru Ibu Marisa.


Alex hanya diam. Masih di posisi yang sama. Tak berkutik dengan ucapan Ibu Marisa.


"Alex!" pekik Ibu Marisa. Dia benar-benar tak habis pikir putranya melakukan hal yang bodoh. Apa yang dilakukannya bisa saja merenggut nyawa keduanya.


Alex masih terdiam. Tak menggubris teriakkan ibunya.


"Istrimu hamil, kau mau mati? Ibu sih gak papa tapi kau?" ujar Ibu Marisa.


"Astagfirullah." Satu kata yang terucap dari bibir Alex saat mendengar kata Sophia hamil. Dia lupa kalau dia memiliki Sophia yang sedang mengandung buah hatinya. Jika dia mati karena kebodohannya tadi, pasti Sophia akan sangat bersedih. Alex juga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena ketidak hadirannya saat Sophia melahirkan dan merawat anaknya. Alex terlalu berpikir pendek. Mendahulukan emosinya.


Alex bangun. Memijat keningnya. Beban dipikirannya seolah datang tiba-tiba. Membuat dirinya tak mampu berpikir jernih.


"Maafkan ibu, Lex. Ibu tahu masa lalu ibu tidak pantas untuk kau dengar dan kau ketahui," ujar Ibu Marisa.


Alex masih memijat keningnya seraya mengatur nafasnya yang sempat sesak mencekik lehernya.


"Dulu ibu memang bukan wanita yang baik, ibu yang sudah menjebak ayahmu untuk tidur denganku, aku yang egois kala itu telah menghancurkan hidup ayahmu dan membuat hidupnya seperti ini," ujar Ibu Marisa menjelaskan panjang lebar. Matanya berkaca-kaca. Rasa bersalah dan menyesal mulai memenuhi benaknya.


"Kenapa baru sekarang Bu? Aku baru tahu kalau lelaki tua yang selama ini ingin membunuhku itu ayahku," tutur Alex. Orang yang paling ingin membunuh Alex adalah ayahnya sendiri.


Ibu Marisa terdiam. Air mata yang tadi berusaha dibendungnya kembali menetes di pipinya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Alex.


Alex terdiam. Tangannya mengepal.


"Ibu sepakat menikah dengan ayahmu untuk mendapatkan harta Keluarga Sebastian agar ibu bisa layak untuk ayah kandungmu," jawab Ibu Marisa. Semua yang dilakukannya di masa lalu dengan menikahi Pak Ferdi hanya untuk sebuah harta. Dia ingin kembali bersama Pak Harry pada saat itu. Apapun dilakukan agar tampak layak bersanding dengannya.


"Jadi-jadi semua ini karena uang? Kasih sayangmu padaku karena uang?" seru Alex.


Ibu Marisa terdiam. Dia memang salah. Serakah dan ingin menang sendiri. Egois, mengorbankan Alex demi kepentingannya sendiri.


"Jawab Bu?" tanya Alex dengan nada yang mulai tinggi.


"Iya, ibu memang melakukan semuanya demi uang, demi bersama ayah kandungmu," jawab Ibu Marisa.


"Heh ... seorang ibu dan seorang wanita melakukan hal kotor demi uang. Merendahkan dirinya dan mengorbankan anaknya demi ambisinya sendiri," ujar Alex. Rasa simpatinya pada ibunya selama ini seakan memudar. Dia hanya melihat sesosok ibu yang egois dan gila harta.


"Maafkan kesalahanku Nak, itu dulu, ibu ingin memperbaiki semuanya," sahut Ibu Marisa.


Alex menyapu wajahnya dengan tangan kanannya.


"Bu, kau dan Pak tua itu sama saja. Kalian tak pernah ada di saat aku meerindukan kasih sayang kedua orangtuaku," kata Alex. Dia ingat betul saat dia kesepian dan sendirian di istana Keluarga Sebastian. Untung saja ada Kakek David yang selalu menyayanginya..


"Alex maafkan aku, ibu memang bukan ibu yang baik untukmu," tutur Ibu Marisa sambil menangis tersedu-sedu.


Alex tak menjawab ucapan Ibu Marisa. Kembali mengendarai mobilnya. Dia hanya terdiam. Membiarkan ibunya terus menerus meminta maaf di sepanjang perjalanannya.


Sampai di rumah Keluarga Sebastian, Alex berjalan lebih duluan dari ibunya. Dia masuk ke dalam rumah. Tak berkata apapun pada ibunya. Dia langsung berjalan menaiki tangga ke lantai atas.


Alex membaringkan tubuhnya di ranjang king size yang empuk dan nyaman itu. Alex tidak tahu harus bagaimana untuk saat ini. Dia terpaksa membatalkan rencananya berangkat kerja. Hati dan pikirannya sudah kalut. Jika dipaksakan khawatirnya tak bisa mengontrol emosinya. Alex hanya diam. Termenung. Menatap ke depan tanpa berkata apapun.


Sementara itu Ibu Marisa tampak lemas tak berdaya. Dia berjalan menuju kamarnya. Memutar gagang pintu, langsung masuk ke kamarnya. Di dalam Pak Ferdi sedang duduk di ranjang sambil bersandar di headboard ranjang di kamar itu. Melihat Ibu Marisa tampak lesu dan lemas dia penasaran.


"Sayang ada apa?" tanya Pak Ferdi.


Ibu Marisa tak menjawab. Duduk di samping Pak Ferdi. Hanya terdiam. Termenung menatap ke depan.


"Sayang apa ada masalah?" tanya Pak Ferdi. Tidak biasanya Ibu Marisa yang angkuh, percaya diri, dan ceria tampak bersedih seperti kehilangan seluruh hidupnya.


Ibu Marisa hanya terdiam. Air matanya terjatuh di pipinya. Hal yang jarang terjadi padanya.


Melihat istrinya yang terus terdiam. Dia meraih kedua lengan Ibu Marisa. Menatap mata yang mulai sembab itu.


"Apa yang sudah terjadi Marisa? Katakan padaku!" pinta Pak Ferdi. Dia ingin tahu apa yang sudah terjadi pada istrinya. Tak biasanya Ibu Marisa sampai menangis dan bersedih.


"Alex sudah tahu siapa ayah kandungnya," jawab Ibu Marisa. Air matanya terjatuh di pipinya berurai tak tertahan. Sesak di dadanya sudah menumpuk dia butuh pelepasan.


Deg


Pak Ferdi terkejut. Selama ini semua itu sangat dirahasiakan demi menjaga perasaan Alex. Tapi semua itu terbongkar juga setelah sekian lamanya.