Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Batal Nikah



Baca bab sebelumnya baru nyambung ke bab ini.


.


.


.


Tak lama Niko masuk ke dalam masjid. Dia datang sendirian tanpa membawa tamu undangan. Sora dan semua orang di dalam masjid terkejut melihat Niko hanya datang sendiri. Dia juga tidak mengenakan baju pengantinnya. Membuat Sora dan semua orang merasa aneh.


"Niko!" Sora memanggil Niko. Orang yang selama ini dia cintai. Matanya berkaca-kaca. Sora melihat hal buruk yang ada di wajah Nico. Seperti sesuatu yang akan menyakiti hatinya.


"Sora maafkan aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," ujar Nico datar.


"Apa?" Semua orang terkejut dengan pernyataan Niko. Mereka tak menyiakan Niko akan mengatakan hal itu pada seseorang. Padahal akad nikah akan segera dilaksanakan pagi itu. Mereka semua sudah menunggu berjam-jam untuk menunggu Niko datang.


"Kenapa Niko?" Suara tidak tahu kenapa Niko ingin membatalkan pernikahan mereka. Padahal kemarin Niko terlihat yakin untuk menikahi Sora. Bahkan dia berjanji untuk membahagiakannya. Dan merawatnya sampai sembuh.


"Aku tidak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk mengurus orang lumpuh sepertimu. Aku juga ingin hidup normal dan bahagia seperti lelaki lainnya. Haruskah aku menjadi pembantu dan pengasuhmu?" Alasan Niko begitu menyakitkan didengar oleh Sora. Seakan duri yang menusuk ke dalam hati dan pisau yang mengiris-iris setiap bagian hatinya. Tak hanya Sora, orang-orang yang ada di dalam masjid ikut kasihan pada Sora, tega sekali Niko mengucapkan hal itu padanya.


"Teganya!"


"Iya, kasihan."


"Kenapa baru sekarang kau mengatakan hal itu? Di saat kita akan melakukan akad nikah." Sora berurai air mata. Tak disangka Niko mengatakan hal itu padanya. Seakan kata-kata manis di hari kemarin hanyalah sebuah mimpi. Dan ketika dia terbangun semuanya berubah menjadi hal yang menyakitkan.


"Itu karena kemarin aku dibutakan cinta. Padahal pada kenyataannya hidupku akan menderita jika aku menikahimu." Apa yang dikatakan Niko saat itu sangat berbeda dengan perkataannya di hari kemarin, mungkin saja Niko sudah mendapatkan tekanan dari keluarganya.


"Ya Allah, udah mau akad malah dibatalkan. Mana ngomongnya gak enak lagi." Salah satu tamu undangan ikut berpendapat.


"Iya, gak kasihan Sora dan keluarganya. Pasti malu dan sakit hati." Begitupun dengan yang lainnya juga ikut berpendapat.


"Aku pikir kau berbeda. Kau bisa mencintaiku dengan tulus. Menerima kekuranganku. Tapi nyatanya kau malah menorehkan luka di saat aku baru mulai tersenyum." Sora berbicara dengan terisak tangis. Hatinya begitu getir terluka dengan ucapan Niko. Dia tidak menyangka Niko Aku mengatakan hal itu di depan semua orang yang hadir di dalam masjid.


"Menurutmu memang ada laki-laki yang akan menikahi wanita lumpuh. Kalau wanita yang jauh lebih sempurna lebih banyak." Niko membalikkan perkataan Sora. Dia berusaha berpikir realistis. Dia tidak akan bisa hidup bersama seorang yang lumpuh.


Sora menangis. Dia tak mampu berkata-kata lagi. Semua seakan gelombang tsunami yang menerjangnya. Dan dia tidak bisa menyelamatkan dirinya.


"Cukup Niko. Ini masjid. Berkatalah yang sopan!" Sophia marah. Tak tega melihat Sora dihina oleh Niko.


"Nak Niko, seharusnya anda membatalkan dengan baik tanpa harus menyakiti Sora. Sebuah hubungan dimulai dengan baik dan diakhiri dengan baik." Seorang ustad menasehati Niko.


"Benar kata Pak Ustad, seharusnya kau berkata dengan baik saat mengakhiri hubungan ini. Janganlah menyakiti Sora. Dia tidak bersalah." Kakek David ikut menasehati Niko yang sudah sangat keterlaluan.


Sora terus menangis sampai pingsan di samping Sophia. Untunglah ibu-ibu lainnya langsung menolongnya. Membawanya ke sudut ruangan masjid.


"Niko kau ya!" Alex langsung menarik kerah baju Niko. Membawanya ke luar.


"Lepas!" Niko berusaha melawan. Namun cengkraman Alex begitu kuat.


Niko dilempar ke halaman begitu saja.


Bruuug ...


Niko terjatuh di pelataran. Dia menatap Alex yang menatapnya tajam.


Tiba-tiba Pak Harry datang memberi satu kepalan tangan di wajah Niko.


"Br€ngsek kau!" Pak Harry marah besar. Dia meluapkan emosinya gara-gara Niko menghina Sora. Dia kembali mengacungkan kepalan tangannya, hendak menghajar Niko. Untung saja Gavin dan Luki menangkapnya.


"Sudah Om!" Gavin memegang lengan Pak Harry berusaha menenangkannya.


"Iya Pa, istighfar." Luki juga memegang lengan Pak Harry.


"Huh ... huh ..." Nafas Pak Harry tersengal-sengal. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia coba mengatur nafasnya dan menenangkan pikirannya.


"Vin, Luk, bawa Papa ke dalam!" titah Alex.


"Iya Kak!" jawab Gavin.


"Siap kakak ipar!" sahut Luki.


Mereka berdua membawa Pak Harry masuk ke dalam masjid. Sedangkan Alex masih di luar.


"Mau diapakan dia kalak ipar?" tanya Tuan Matteo keluar dari masjid. Menghampiri Alex, dia berdiri di sampingnya.


Alex hanya diam. Menatap Niko dengan tajam.


"Mulai hari ini kau ku pecat!" tegas Alex.


"Apa? Kenapa saya dipecat? Salah saya apa?" tanya Niko. Dia adalah staf dibagian marketing di perusahaan Alex.


"Karena aku Bosmu, berhak memecat siapapun yang aku mau. Apalagi pekerjaanmu kurang bagus," jawab Alex. Tersenyum licik. Mudah baginya memecat siapapun. Apalagi selama ini Niko sering kesiangan.


"Oh dia karyawanmu kakak ipar?" tanya Tuan Matteo. Dia tak disangka Niko karyawan yang bekerja pada perusahaan Alex.


"Iya, aku baru tahu kemarin saat bertemu dengannya di kantor. Dia datang terlambat ke ruangannya," sahut Alex. Untung saja kemarin sempat memergoki Niko datang terlambat.


"Sasaran yang empuk. Tak perlu susah payah adu jotos. Tinggal tembak dengan satu tembakkan langsung kena sasaran," kata Tuan Matteo.


Alex tersenyum sinis. Menatap lelaki yang duduk di bawah.


"Ampun Bos, keluarga saya makan apa kalau saya dipecat," ujar Niko mencari alasan demi menyelamatkan dirinya. Dia bersimpuh di kaki Alex.


"Seharusnya kau pikirkan ucapanmu tadi pada Sora. Mungkin saja aku tidak akan memecatmu dengan alasan kau kesiangan," ujar Alex.


"Bos maafkan aku. Ku mohon!" Niko meminta maaf. Berharap Alex berubah pikiran.


"Maaf? Seharusnya kau katakan pada Sora. Bukan aku. Hubungan kita hanya sebatas pekerjaan," jawab Alex.


"Bos jangan pecat aku! Ku mohon. Maafkan aku Bos!" Niko kembali memohon.


"Aku tidak mengenalmu, tapi karena Sora jadi mengenalmu dan mengetahui kalau kau salah satu stafku," sahut Alex. Selama ini tak mengenal Niko yang hanya staf biasa di bagian marketing. Tapi karena mengenal Sora, Alex jadi mencari tahu identitas Niko.


"Bos maafkan aku. Aku akan bekerja lebih baik lagi, aku minta maaf pada Sora," rengek Niko. Dia takut jadi pengangguran.


"Kalau sudah begini baru nyadar. Tadi ke mana aja? Pengecut," ujar Tuan Matteo. Dia tidak menyangka Niko seorang penj!l4t.


"Ayo adik ipar kita masuk!" ajak Alex. Lebih baik dia masuk ke dalam dari pada mendengar rengekan Niko.


Tuan Matteo mengangguk. Mereka berdua pun meninggalkan Niko yang menangis di halaman masjid