Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Selingkuh Atau Tidak



Sepulang dari perkebunan Alex dan Sophia pergi ke rumah Keluarga Wijaksana. Sejak menikah dengan Sophia, Alex belum sempat bersilaturahmi ke rumah keluarga istrinya. Sekalipun juga belum pernah. Dari pertama menikah Sophia sudah menyusul Alex ke rumahnya. Itu sebabnya Alex ingin mengenal keluarga istrinya lebih dekat lagi seperti Sophia yang berhasil masuk dan diterima keluarganya.


Sampai di kediaman Keluarga Wijaksana, Alex dan Sophia turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah besar itu. Paman Harun dan Bibi Fatimah sudah menunggu mereka di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex dan Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut Paman Harun dan Bibi Fatimah.


"Ayo duduk!" titah Paman Harun.


"Iya Paman," sahut Alex dan Sophia. Mereka berdua duduk di sofa bersama Paman Harun dan Bibi Fatimah.


"Paman, Bibi, Sophia kangen," ucap Sophia.


"Paman dan Bibi juga kangen, sudah lama kau menjadi menantu di Keluarga Sebastian, rumah ini jadi sepi tanpamu Sophia," ujar Paman Harun.


"Iya, udah gitu suka kangen masakan Sophia," tambah Bibi Fatimah.


"Paman, Bibi, Sophia akan di sini sampai malam, iyakan sayang?" tanya Alex melihat ke arah Sophia.


"Iya," sahut Sophia.


"Alhamdulillah paling tidak kita bisa makan malam bersama," ujar Paman Harun.


"Iya betul, biar Bibi masak banyak, kalian wajib makan malam di sini," tambah Bibi Fatimah.


"Siap!" sahut Alex dan Sophia.


Mereka terus mengobrol. Sudah lama tak bercengkrama dengan anggota keluarga. Melepas rindu dan menghibur diri. Sophia terlihat bahagia bisa bertemu paman dan bibinya. Dia tersenyum sepanjang mereka mengobrol.


"Ada kabar baik yang ingin kami sampaikan," ujar Alex.


"Kabar baik apa Nak Alex?" tanya Paman Harun.


"Iya, Bibi jadi penasaran toh," sahut Bibi Fatimah.


Alex memegang tangan Sophia. Menatapnya sesaat sambil tersenyum lalu melihat ke depan kembali.


"Sophia hamil," ujar Alex.


"Alhamdulillah," sahut Paman Harun dan Bibi Fatimah. Mereka senang mendengar kabar kehamilan Sophia. Apalagi Alex terlihat baik dan sopan. Tidak seperti Alex yang sebelumnya. Dia terlihat sangat menyayangi Sophia. Paman Harun dan Bibi Fatimah lega. Amanah yang dulu dititipkan orangtua Sophia pada mereka sudah ditunaikan dengan baik. Sophia terlihat bahagia.


Mereka kembali mengobrol seputar nyidam dan apa yang dirasakan Sophia selama hamil. Alex yang biasa dingin jadi banyak bicara, menceritakan kehamilan Sophia yang membuatnya begitu bahagia. Paman Harun dan Bibi Fatimah ikut mendengarkan dengan suka cita.


"Ya udah, sekarang kalian istirahat dulu, pasti lelah habis dari perkebunan," ujar Paman Harun.


"Iya, tiduran sana, kamarnya juga selalu Bibi bersihkan meski Sophia sudah lama tak menempatinya lagi," tambah Bibi Fatimah.


"Makasih Paman, Bibi," ucap Alex dan Sophia.


Paman Harun dan Bibi Fatimah tersenyum dan mengangguk.


Alex dan Sophia naik ke lantai atas. Mereka berjalan menuju kamar Sophia. Dari luar terlihat pintu kamar berwarna pink. Sophia memang menyukai warna pink, warna yang identik dengan wanita.


Alex dan Sophia memasuki kamar itu. Nuansa pink kental di dalam ruangan itu. Hanya ranjang yang berwarna putih baik seprai maupun bedcover-nya. Beberapa boneka, pajangan, dan wallpaper berwarna pink. Beberapa lukisan seperti buah dan bunga ada di kamar itu. Ada satu yang berbeda. Sebuah kaligrafi berwarna putih bersih. Baik kaligrafi Allah, Nabi Muhammad, dan ayat kursi. Kamar itu benar-benar kental berwarna pink.


"Sayang, kau suka warna pink?" tanya Alex.


"Iya Mas, aku suka warna pink dari kecil," jawab Sophia.


Alex mencolek dagu Sophia.


"Bidadariku memang paling cantik pakai baju pink, apalagi bajunya seksi, bikin gimana gitu," ujar Alex menggoda Sophia.


"Mas," ucap Sophia malu.


Alex langsung memeluk Sophia dari belakang. Mencium pipi kemerahannya.


"Jangan malu sayang, kita hanya berdua di sini," bisik Alex di telinga Sophia.


"Kalau gitu Sophia ganti dress seksi ya Mas," ucap Sophia.


"Setuju banget, aku paling suka sayang," sahut Alex.


"Lepas dulu!" pinta Sophia.


"Eh iya lupa, keenakan nempel," sahut Alex. Dia melepas pelukannya dari Sophia. Maunya terus berdekatan dengan pemilik mata emerald itu.


Sophia berjalan ke lemari. Mengambil dress seksi miliknya. Ternyata ada beberapa dress seksi yang Sophia miliki di lemarinya. Alex sampai tercengang, melihat koleksi dress seksi milik Sophia.


"Sayang kau punya dress seksi sejak kapan?" tanya Alex.


Sophia tersenyum.


"Sayang, jangan-jangan kau sudah lama punya dress seksi ini?" tanya Alex menggoda.


"Salah," sahut Sophia.


"Terus kapan? Aku baru tahu bidadari berhijab ini punya koleksi dress seksi," ujar Alex.


Sophia mendekati Alex. Menatap matanya.


"Sejak aku melamarmu Mas," jawab Sophia.


"Jadi kau menyiapkan ini?" tanya Alex.


"Aku ingin memanjakanmu, yang selalu menyukai keindahan, iyakan?" tanya Sophia.


Alex langsung mencium Sophia. Bibir merah delima itu begitu manis. Membuatnya candu hanyut dalam indah cinta.


"Sophia kau selalu memanjakanku, meredam kejahatan syahwatku," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Kemudian mengambil dress seksi miliknya di lemari. Dia mengenakan dress seksi berwarna pink. Sophia tampak cantik, seksi dan berisi. Alex sampai menelan ludahnya berkali-kali setiap melihat Sophia mengenakan dress seksi. Dia langsung mendekati Sophia. Membopongnya.


"Mas, bukannya istri memang harus membuat suaminya betah di kamar?" tanya Sophia.


"Iya sayang, kau memang pintar membuatku betah di kamar," sahut Alex.


Mereka tersenyum bersamaan. Cinta di antara keduanya semakin tumbuh. Apalagi ada buah cinta yang akan hadir di hidup mereka.


***


Sore itu Sophia ke luar dari kamarnya. Mumpung Alex sudah tidur, dia ingin menemui kakaknya Nada. Sudah lama mereka tak mengobrol bersama. Sophia ingin tahu perkembangan kehamilan kakaknya. Dan kabar keponakannya.


Sophia berjalan menuju kamar Nada. Dia mengetuk pintu kamar itu.


Tok ... tok ... tok ...


Tak lama Nada membuka pintu kamarnya. Dia terlihat sendu. Matanya sembab. Seperti orang yang habis menangis.


"Kak Nada," ucap Sophia.


"Sophia," sahut Nada. Dia langsung memeluk Sophia. Menangis di bahunya.


"Kak Nada kita bicara di dalam ya," ujar Sophia.


Nada mengangguk.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Nada dan Sophia duduk di ranjang.


"Sophia, Mas Hanan ...," ucap Nada sambil menangis.


"Mas Hanan kenapa Kak?" tanya Sophia.


"Mas Hanan selingkuh," jawab Nada.


"Apa? Selingkuh?" Sophia terkejut. Dia masih belum percaya apa yang didengar olehnya. Hanan sesosok lelaki yang baik. Bahkan Nada sering membanggakannya.


"Iya, Mas Hanan selingkuh, dia sudah jarang pulang, alasannya selalu sibuk hik hik hik," ujar Nada.


Sophia terdiam sesaat. Dia kasihan melihat kakaknya yang sedang hamil tapi harus diuji kesabarannya.


Sophia memeluk Nada. Saat ini itu dibutuhkan kakaknya. Sophia belum berani bertanya lebih jauh. Kakaknya sedang bersedih, itu akan membuatnya semakin sedih.


Sophia menemani Nada berbaring di ranjang. Nada masih bersedih. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sophia.


"Sophia, aku dengar dari teman Mas Hanan, akhir-akhir ini Mas Hanan sering jalan sama cewek, katanya dia model cantik," ujar Nada.


"Model cantik Kak?" tanya Sophia.


"Iya, tapi aku gak tahu siapa," jawab Nada.


"Sabar ya Kak, kakak gak boleh langsung percaya, siapa tahu itu tidak benar," ucap Sophia.


"Iya, semoga," sahut Nada.


Sophia mengelus kepala Nada. Dia tahu kakaknya sedang butuh support di saat seperti itu.


Sore pun berganti malam. Matahari terbenam. Menyembunyikan sinarnya berganti rembulan yang malu-malu dibalik awan. Sophia dan keluarganya duduk di ruang makan. Menikmati makan malam bersama.


"Masakan Bibi enak, jadi nambah terus," puji Alex.


"Masakan Sophia juga gak kalah enak," sanggah Bibi Fatimah.


"Betul Bi, makanya sejak nikah betah di rumah, habis Sophia masak terus," sahut Alex.


"Laki-laki itu kuncinya ada di perut, kalau perutnya kenyang hatinya juga senang," tambah Paman Harun.


"Iya Paman, beruntung punya Sophia yang pinter masak, tiap hari nambah terus," sahut Alex.


Semua tersenyum. Hanya Nada terdiam. Melihat itu Sophia jadi merasa tidak enak. Nada pasti merasa berkecil hati karena masalah yang sedang dihadapinya.


"Kak Nada mau nambah, biar Sophia ambilin?" tanya Sophia.


"Gak usah, kakak dah kenyang," jawab Nada.


Mereka semua kembali makan dengan nikmat. Alex sampai nambah terus, Sophia senang melihat suaminya begitu menikmati masakan Bibinya.


"Nesa mau ayamnya lagi?" tanya Alex.


"Boleh Om, Nesa suka ayam," jawab Nesa.


Alex mengambilkan ayam goreng kentacy untuk Nesa. Dia meletakkan ayam itu di piringnya.


"Makasih Om," ucap Nesa.


"Iya cantik," sahut Alex.


Nesa begitu senang dari tadi Alex perhatian padanya. Dia jadi merasa ada yang memperhatikannya. Ayahnya jarang ada di rumah, Nesa sering rindu. Dengan perhatian dari Alex membuat rindunya pada ayahnya sedikit terobati.


"Sophia makan yang banyak, kamukan lagi hamil," ucap Bibi Fatimah.


"Apa Sophia hamil?" Nada terkejut mendengar kehamilan Sophia.


"Iya Kak, aku hamil," jawab Sophia.


Tiba-tiba Nada meletakkan sendok dan garpunya di piring. Dia berdiri. Berjalan meninggalkan ruang makan.


"Kak Nada ...," panggil Sophia.


"Nadaaa," panggil Bibi Fatimah.


Nada tak menggubris panggilan dari Sophia dan Bibi Fatimah. Dia berjalan naik ke lantai atas.