Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Rahasia



Luki menghentikan langkahnya. Memikirkan jawaban yang akan dikatakan pada Humaira. Apapun itu Luki sudah memikirkannya matang-matang. Masalah Humaira bisa menerimanya atau tidak itu haknya.


"Humaira, ada yang ingin ku katakan padamu, setelah mendengar ini terserah kau mau menilaiku apa?" jawab Luki.


Humaira mengangguk. Sepertinya Luki ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya. Mereka berdua duduk di kursi yang berada di tepi jalan.


"Sebenarnya nama asliku Luki Andara. Tapi nama Arfan Edward itu nama pemberian dari Tuan Matteo," jawab Luki.


"Dua-duanya nama yang bagus," sahut Humaira.


"Bukan hanya itu yang harus kau tau dariku," ujar Luki. Sebenarnya berat untuk memberitahu Humaira tentang tujuannya datang ke rumah Keluarga Harold. Tapi dia tidak bisa berbohong pada Humaira yang akan menjadi calon istrinya.


Humaira terdiam. Mendengarkan apa yang akan dikatakan Luki padanya.


"Kedatangan ku ke rumah Keluarga Harold untuk balas dendam," ungkap Luki.


"Apa? Balas dendam?" Humaira terkejut mendengar pengakuan Luki. Meskipun awal pertemuannya memang sikap Luki kurang baik padanya. Terkesan mempermainkan Humaira.


"Iya, Papamu sudah membuat perusahaan ayahku bangkrut," ujar Luki.


Humaira terdiam. Selama ini dia sangat mengenal ayahnya. Lelaki yang haus akan kekuasaan, rela melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau meski menjatuhkan lawannya dengan cara yang kotor. Itu sebabnya Humaira tidak ingin menikmati harta pemberian ayahnya.


"Maafkan aku, mungkin tujuan awalku tidak baik, seharusnya aku tidak memanfaatkanmu untuk kepentinganku," ujar Luki.


Mata Humaira berkaca-kaca saat dia tahu Luki mendekatinya hanya untuk balas dendam. Entah kenapa dia merasa tak rela jika Luki hanya memanfaatkannya.


Luki membuang nafas gusarnya. Dia sudah pasrah. Humaira pasti kecewa padanya. Cintanya berawal dari ketidaktulusan.


"Oppa," ucap Humaira.


"Iya," jawab Luki.


"Dendam tidak akan membawamu pada kebahagiaan, ikhlaskan semuanya, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, percayalah," ujar Humaira.


Luki mengangguk.


"Aku sudah memaafkan kesalahanmu, tapi apa Oppa jadi menikahiku?" tanya Humaira.


Luki tersenyum. Senang sekali Humaira mau memaafkannya dan malah menanyakan keseriusannya.


"Insya Allah, jadi Humaira, kalau bisa malam ini juga aku akan menikahimu," ujar Luki.


Humaira menunduk malu. Dia merasa yakin menikah dengan Luki. Lelaki berwajah Korea itu sudah mulai mencuri hatinya.


"Ayo bidadariku Humaira, biar Oppa antar sampai istanamu," ajak Luki.


Humaira mengangguk.


Mereka berdua kembali berjalan menuju rumah Kelurga Harold. Sekarang Humaira sudah tahu siapa Luki dan dendamnya pada ayahnya. Untung saja Humaira bijaksana, dia mengerti kenapa Luki dendam pada ayahnya. Melalui Humaira, dendam di hati Luki padam. Menjadi sebuah cinta yang ingin dirajutnya sampai ke pelaminan.


Sampai di rumah Keluarga Harold, Luki dan Humaira masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Pak Harry dan Dokter Randi sedang mengobrol. Melihat Luki masuk bersama Humaira, Dokter Randi terlihat tak suka pada Luki. Menatapnya sinis.


"Assalamu'alaikum," sapa Luki dan Humaira.


"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Hanry dan Dokter Randi.


"Duduk! kita mengobrol sebentar," pinta Pak Harry pada Luki dan Humaira.


Luki dan Humaira mengangguk. Duduk bersama Pak Harry dan Dokter Randi di sofa yang berada di ruang tamu.


"Dokter Randi ini Arfan Edward, calon suami putriku Humaira," ujar Pak Harry mengenalkan Luki pada Dokter Randi.


"Apa? Calon suami Humaira?" batin Dokter Randi terkejut mendengar pernyataan Pak Harry.


"Arfan, senang bertemu dengan Anda," ujar Luki memperkenalkan dirinya.


"Dokter Randi Satria, senang juga bertemu dengan Anda," sahut Dokter Randi.


"Humaira kembalilah ke kamarmu!" titah Pak Harry.


"Iya Pa," jawab Humaira. Dia bangun. Meninggalkan ruang tamu sesuai perintah ayahnya.


"Bagaimana calon menantuku Dokter Randi?" tanya Pak Harry ingin tahu tanggapan Dokter Randi yang sebelumnya hampir saja dijodohkan dengan Humaira, tapi putrinya tidak mau.


"Anda tidak salah pilih Om Harry," sahut Dokter Randi sambil mengepalkan tangannya. Apa yang diucapkannya tak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Kalau begitu kau harus datang ke pernikahan putriku nanti Dok," ujar Pak Harry.


"Pasti Om," jawab Dokter Randi.


"Oya Om Harry, sepertinya saya harus pulang sudah larut malam," tambah Dokter Randi.


"Saya juga pamit pulang Bos Harry ada urusan lainnya," ujar Luki.


"Baiklah hati-hati di jalan," sahut Pak Harry.


Luki dan Dokter Randi mengangguk.


Mereka berdua ke luar dari rumah. Berjalan menuju halaman rumah Keluarga Harold. Dokter Randi yang berjalan sejajar dengan Luki mengajaknya bicara.


"Kalau aku tahu rahasiamu, secepatnya kau akan terhempas dari statusmu saat ini," ujar Dokter Randi.


"Maksud Anda apa Dok?" tanya Luki.


Dokter Randi berhenti. Menepuk bahu Luki.


"Aku tidak takut," jawab Luki.


"Oke, lihat saja nanti kau akan tersingkirkan," ujar Dokter Randi kemudian meninggalkan tempat itu.


Masuk ke dalam mobil miliknya, meninggalkan tempat itu.


Luki hanya terdiam. Ancaman Dokter Randi pasti bukan isapan jempol. Bisa terlihat saat dia menatap Luki dengan begitu tajam.


***


Malam itu Jack sedang duduk di ruang private room klub malam miliknya. Seperti biasa dia berjudi dengan beberapa temannya. Malam itu dia berkumpul dengan teman semasa SMA-nya. Jack menjamu mereka dengan minuman keras dan wanita-wanita malam yang dimilikinya.


"Jack lo semakin sukses, padahal dulu saat SMA bejat parah.," ucap Dendi seorang lelaki berambut keriting, tubuhnya kurus dan berkulit hitam. Teman satu angkatan Jack saat SMA.


"Orang bejat bisnisnya pasti yang bejat juga," sahut Jack.


"Gue suka gaya lo," sahut Morgan seorang lelaki botak berkulit putih dan bertato disekujur tubuhnya.


"Teman yang lainnya ke mana? Kenapa cuma berdua?" tanya Jack.


"Teman-teman kita sudah mati duluan Jack."


"Kok bisa?" Jack terkejut teman-teman tongkrongannya sudah meninggal.


"Nggak tahu, yang jelas mereka mati dengan tidak wajar," jawab Morgan.


"Iya, belum lama ini gue nongkrong ma Siska ketua geng Virgin, eh besoknya dia meninggal gantung diri. Padahal dia happy aja pas nongkrong ma gue," tambah Dendi.


Jack terdiam. Memikirkan ucapan Dendi dan Morgan.


"Gue kok merasa ada hubungannya antara kematian teman-teman kita dengan pembullian saat SMA itu," ujar Dendi.


"Iya, soalnya tujuh dari sepuluh orang yang membulli cuma kita sisanya," jawab Morgan.


Jack masih terdiam. Mengingat siapa saja yang melakukan pembullian saat itu.


"Jack aku rasa nyawa kita terancam, khususnya lo," ujar Dendi.


"Iya, lo kan yang melecehkan si cupu," tambah Morgan.


"Aku cuma bantu melepas pakaiannya dan memegang tangannya," ujar Dendi.


"Aku juga cuma megangin kakinya," kata Morgan. Mereka berdua berusaha cuci tangan dari perbuatan perundungan yang terjadi beberapa tahun silam.


"Kalian pengecut, lagi pula apa yang bisa dilakukan si cupu?" Jack berkata dengan entengnya. Dia merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Ya kita gak tahu, tapi kita harus tetap waspada," ujar Dendi.


"Sudahlah, lebih baik kita berpesta, aku jamu kalian sampai puas," kata Jack.


"Asyik, lo memang asyik kaya dulu," sahut Morgan.


Mereka bertiga bermain kartu dan mabuk hingga pukul tiga pagi. Kemudian mereka bubar. Jack berjalan ke luar dari klub malam. Masuk ke dalam mobil miliknya. Dia berbaring di kursi belakang.


"Jalan Pak!" titah Jack.


"Baik Bos."


Mobil milik Jack melaju di jalanan. Mobil itu berjalan dengan lenggangnya. Tak ada kendaraan yang menghalangi atau menghambat laju mobilnya. Hingga seseorang menyeberang dadakan, membuat supir langsung mengerem dadakan. Namun orang itu sempat terserempet.


Bruuug ...


Suara orang terjatuh ke jalan.


"Bos mobil kita nabrak orang."


"Apa sih Pak?" tanya Jack.


"Ada orang tertabrak mobil kira."


"Coba lihat dulu Pak!" titah Jack pelan karena mabuk berat.


Supir itu mengangguk. Ke luar dari dalam mobil. Menghampiri orang yang berbaring di jalan. Orang itu mengenakan baju serba hitam. Hanya saja atasannya mengenakan jaket berbahan kaos tebal.


"Anda tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa gimana? Kakiku jadi susah berjalan."


"Saya bantu bangun ya."


"Gak usah, kau hanya supirkan?" mana Tuanmu?"


"Ada di mobil."


"Harusnya dia bertanggung jawab."


Supir itu hanya menunduk tak berani melawan kemarahan orang itu. Membiarkan dia berkata sepuasnya.


"Saya panggil Tuan saya dulu."


Orang itu hanya terdiam. Membiarkan supir meninggalkannya kembali ke mobil Tuannya.