
Sophia membalas pelukan Alex. Sang casanova itu hanya membutuhkan kasih sayangnya saat ini.
"Aku mencintaimu Sophia," ucap Alex.
Deg
Jantung Sophia berdetak kencang. Cinta yang dipikirnya hanya akan dimiliki sepihak hingga menutup matanya. Namun bersambut tanpa menunggu waktu yang lama. Mungkin doa-doa yang senantiasa dipanjatkannya setiap sepertiga malam sudah dikabulkan Allah SWT. Sophia terdiam masih terkejut dengan ungkapan cinta dari suaminya.
"Sayang kok diem, balas dong," pinta Alex manja dipelukan Sophia.
Air mata Sophia menetes tanpa disadari. Diujung waktu dia merasakan cinta yang mungkin akan ditinggalkannya. Sophia pikir menikahi Alex hanya untuk menepati hutangnya dan merubah Alex ke jalan yang benar. Tak pernah terbayangkan akan ada rasa cinta yang kini mendiami hatinya.
"Sayang, kenapa diam? Apa cuma aku yang mencintaimu?" tanya Alex.
Karena Sophia masih terdiam, Alex melepas pelukannya. Dia menatap sang pemilik mata emerald itu. Mata itu terlihat berkaca-kaca.
"Apa karena aku lelaki brengsek, jadi kau tak percaya kalau aku mencintaimu?" tanya Alex. Dia terus menatap Sophia. Menunggu balasan cintanya. Jika seandainya Sophia menolak, baginya sudah menjadi suami Sophia sudah sangat beruntung.
Tiba-tiba Sophia mencium Alex. Mendapat ciuman dari Sophia, Alex membalas ciuman itu dengan mesra. Sepertinya gayung sudah bersambut. Tak perlu kata-kata atau rangkaian kiasan yang indah dan mendayun-dayun. Cinta dapat dirasakan satu sama lain saling bertautan.
Ciuman itu bertahan cukup lama. Hingga mereka melepas perlahan. Saling menatap dan tersenyum.
"Aku juga mencintaimu Mas," sahut Sophia.
"Kau harus ada di sisiku Sophia, jangan pernah tinggalkan aku. Jika kau pergi, ajak aku bersamamu," ucap Alex.
Air mata Sophia tak berbendung lagi. Menetes di pipinya. Tangan Alex bergerak, menyentuh kedua pipi kemerahan itu. Menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Aku akan di sisimu sampai akhir hayatku," jawab Sophia.
"Jangan menangis sayang, nanti aku minta lagi, habis kau makin cantik saat menangis," goda Alex pada Sophia agar tersenyum.
"Mas, kau ini, ada aja," ucap Sophia mulai tersenyum saat Alex menggodanya.
"Masih mau gak sayang, mumpung masih ada tenaga," canda Alex.
Sophia tersenyum hingga tertawa.
Alex menyentuh bibir Sophia yang mengembang karena tertawa.
"Kau harus tersenyum, aku ingin melihatnya setiap hari, senyumanmu merubah hidupku," ucap Alex.
Sophia memegang tangan Alex yang menyentuh bibirnya. Kemudian mencium pipi suaminya.
"Aw ..., sakit sayang," ucap Alex mulai menyadari lebam di pipinya terasa sakit.
Sophia memegang bagian lebam di pipi Alex.
"Mau diobati Mas?" tanya Sophia.
"Mau, apalagi Bu Dokternya cantik," puji Alex pada istrinya.
Sophia tersenyum.
"Sayang, sekali lagi senyum, panas dingin nih," goda Alex. Sang casanova gak bisa nahan kalau liat si cantik senyum terus. Kecantikannya semakin terpancar.
"Ya udah, Sophia ambil kotak P3K ya," ujar Sophia.
Alex mengangguk.
Segera Sophia turun dari ranjang. Merapikan pakaiannya, mengenakan hijab kembali. Ke luar dari kamarnya. Mengambil kotak P3K yang ada di ruang keluarga, lantai atas. Ketika Sophia membawa kotak P3K, terdengar suara orang mual-mual.
"Kok ada suara orang mual, suara siapa ya?" batin Sophia.
Semakin di dengarkan suara itu semakin kencang. Sophia penasaran, akhirnya mencari sumber suara itu. Dia melihat Claudya sedang muntah-muntah di wastafel yang ada di sudut ruangan. Sophia meletakkan kotak P3K di atas laci. Kemudian menghampiri Claudya.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Sophia.
Melihat itu Sophia membantu Claudya dengan memijat bagian lehernya. Claudya beberapa kali muntah dan akhirnya berhenti juga.
"Kak Sophia buatkan teh hangat ya?" tanya Sophia.
Claudya hanya diam. Tak menjawab satu kata pun.
"Tunggu ya," ucap Sophia. Dia meninggalkan Claudya. Turun ke lantai bawah. Masuk ke dapur. Membuatkan teh hangat untuk Claudya. Di dapur hanya ada Sophia, karena semua pembantu sudah tidur.
"Kalau pakai madu dan lemon, mungkin lebih enak dan menyegarkan," ucap Sophia. Dia memberi madu dan lemon di teh hangat itu. Kemudian membawa teh hangat itu ke lantai atas. Dia mengajak Claudya masuk ke kamarnya. Membantunya duduk di ranjang. Memberikan teh hangat itu padanya.
"Minumlah! Biar perutnya enakkan," ucap Sophia.
"Aku gak suka teh, bau, gak enak rasanya," sahut Claudya.
"Oke, coba dulu satu teguk aja, kalau gak enak jangan diminum," saran Sophia.
Claudya ragu. Masih memandangi gelas di tangannya. Sophia yang berdiri di depannya tersenyum melihatnya.
"Aku minum, itu karena aku haus malas ke bawah," ucap Claudya yang masih gengsi menerima kebaikan Sophia.
Tak peduli apa yang dikatakan Claudya, Sophia hanya memberi senyuman tulusnya.
Claudya meminum satu tegukan teh hangat buatan Sophia.
"Lumayan," batin Claudya. Dia kembali meneguk teh hangat itu. Hingga tak terasa gelas itu kosong tak bersisa satu teguk pun.
"Alhamdulillah," ucap Sophia.
"Jangan senang dulu, ini bukan berarti aku menganggapmu kakak iparku," ketus Claudya.
"Oke, sekarang tidur ya, mau dinyalain AC-nya?" tanya Sophia.
"Badanku meriang, gak usah dinyalain," sahut Claudya.
"Mau dikerok atau dipijat?" tanya Sophia.
"Memang kau mbok tukang pijat?" tanya Claudya yang masih meremehkan Sophia. Dia tak mau membuka sedikitpun untuk Sophia masuk sebagai bagian keluarganya.
"Insya Allah bisa, sekalian pakai minyak angin biar anget badannya," sahut Sophia.
"Awas ya kalau gak enak!" ancam Claudya.
Sophia hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian mulai menyiapkan minyak angin ditambah bawang merah yang ditumbuk. Sophia mengoleskan minyak campuran itu ke seluruh tubuh Claudya sambil memijatnya.
"Enak juga pijatannya, pantas Kak Alex begitu menyayangi Sophia," batin Claudya. Dia tak menyangka Sophia pandai memijat. Tubuhnya yang tadi terasa meriang dan pegal, hilang perlahan-lahan seiring pijatan yang memanjakan tubuhnya.
Sophia memijat Claudya hingga dia tertidur. Setelah selesai, Sophia menyelimutinya. Kemudian ke luar dari kamar Claudya, baru melangkah ke luar dari pintu, Alex mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.
"Sayang!" pekik Alex.
"Astagfirullah Mas, kirain siapa?" ujar Sophia.
"Habis kamu ngilang sayang, aku cari ke seluruh ruangan. Ternyata ada di sini," ucap Alex.
"Maaf ya Mas, tadi aku pergi ke kamar Claudya, dia lagi sakit," kata Sophia.
"Makasih ya sayang, meskipun Claudya suka kasar padamu, kau tetap baik padanya," ujar Alex.
"Iya Mas, sebagai saudara kitakan harus saling membantu baik di saat suka maupun duka," sahut Sophia.
"Ini memang istri Alex Sebastian, paling baik sedunia," puji Alex.
Sophia tersenyum. Alex membalik tubuh Sophia, menghadap ke arahnya. Dia mencium bibir merah delima itu kembali. Mereka berciuman mesra. Seakan dunia hanya milik kedua pengantin baru itu. Apalagi di malam yang sepi dan sunyi, membuat keduanya begitu menikmati ciuman mesra itu.
"Ehm ... ehm ..." Terdengar suara mengejutkan keduanya yang sedang berciuman. Terkejut. Melepas ciuman itu secepatnya. Menengok sumber suara. Malu bukan main saat melihat orang di depan mereka.