
"Hentikan Mika! Mak mohon!" pinta Mak Ros. Dia membuka kedua tangannya ke udara. Agar Vera datang padanya, memeluknya.
Vera terdiam sesaat. Mematung. Tiba-tiba wajah dingin Vera berubah hangat.
"Mak!" ucap Vera. Dia terkejut saat di tangannya ada golok.
"Astagfirullah, ini apaan?" ujar Vera. Dia melempar goloknya sembarangan.
Praaang ...
"Vera!" panggil Mak Ros.
"Mak!" sahut Vera. Dia berjalan menghampiri Mak Ros memeluknya. Seolah melepas rindu. Pelukan itu penuh kasih sayang seorang ibu. Vera melihat sekeliling. Dia merasa aneh berada di tempat yang asing untuknya. Dia melepas pelukannya. Kedua netranya melihat Gavin dan Maria di sudut ruangan.
"Loh kok ada Kak Maria dan Gavin juga, kita sedang apa di sini?" tanya Vera
"Kita ...," jawab Mak Ros bingung. Sedangkan Gavin dan Maria tercengang melihat perubahan sikap Vera yang dratis. Seolah Vera yang tadi bukan Vera yang sekarang. Bahkan dia tak mengingat apa yang dilakukannya tadi.
"Apa Vera?" ujar Gavin.
"Vera yang tadi sangat berbeda," kata Maria.
"Kak Maria! Gavin!" teriak Vera menghampiri keduanya. Dia berdiri di depan mereka. Mengulurkan tangannya.
"Ayo ku bantu bangun!" kata Vera.
Maria masih termenung. Antara takut dan bingung bercampur jadi satu. Maria ragu untuk menerima uluran tangan Vera. Dia masih duduk di pangkuan Gavin.
"Ayo Kak!" kata Vera.
Maria pun mengulurkan tangannya. Menerima bantuan dari Vera. Dia bangun. Berdiri. Begitupun dengan Gavin.
"Kak kita kok ada di sini kenapa?" tanya Vera.
Deg
Maria bingung harus menjawab apa. Jantungnya berdebar tak karuan. Begitu takut menjawab pertanyaan Vera.
"Tadi kita jalan-jalan," sahut Mak Ros yang masih berdiri tak jauh dari pintu.
"Jalan-jalan?" Vera masih bingung.
"Udah, ayo pulang! Makan," kata Mak Ros.
Vera terdiam sesaat. Seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba mencekik Maria.
"Mati kau!"
"Vera! Jangan!" teriak Mak Ros.
"Lepaskan Vera!" teriak Gavin sambil memegang tangan Vera. Berusaha melepas tangannya dari leher Maria.
"Eeek ... eeek ... eeek ..." Maria sulit bicara dan bernafas. Vera begitu kuat mencekiknya.
"Kau harus mati! Tak ada lagi yang akan menghinaku!"
"Vera lepas!" bentak Gavin.
Mak Ros berlari mendekat. Memeluk tubuh Vera berusaha menariknya ke belakang. Begitupun dengan Gavin yang berusaha melepas tangan Vera dari leher Maria.
"Kau harus mati! Aku takkan di bulli lagi!"
"Aku benci kamu!"
"Mak lepaskan pelukannya, mundur!" titah Gavin.
"Kau mau apa Nak Gavin?" tanya Mak Ros.
"Pokoknya lakukan!" sahut Gavin.
Mak Ros mengangguk. Melepaskan pelukannya dari Vera. Dia mundur ke belakang. Menjauh dari mereka. Bergegas Gavin melepas tangannya dari tangan Vera. Dia langsung menendang tubuh Vera dengan kencang. Seketika tangan Vera terlepas dari leher Maria. Tubuhnya terpental ke belakang.
Bruuug ...
"Vera!" teriak Mak Ros langsung mendekat. Menghampiri Vera. Sedangkan Gavin menolong Maria yang lemas jatuh ke pelukannya.
"Maria kau tak apa-apa?" tanya Gavin.
Maria hanya menggeleng. Tubuhnya lemas. Dari tadi kehabisan nafas. Hampir saja dia mati tercekik tangan Vera.
Di sisi lain Mak Ros membantu Vera bangun. Dia bukannya senang dibantu Mak Ros. Justru menendang Mak Ros dengan cepat sampai terjatuh.
Bruuug ...
"Kalian semua harus mati! Aku ingin berpesta darah malam ini, ha ha ha ..."
Vera mengambil kembali goloknya. Dia menghampiri Gavin dan Maria yang ada di seberangnya. Segera Gavin mendudukkan Maria ke tepi dinding. Dia maju ke depan melawan Vera dengan tangan kosong.
"Mati kau!" teriak Vera. Mengacungkan golok ke arah Gavin. Untung Gavin cepat menghindar. Mereka berdua baku hantam.
Dug ... dug ... dug ...
Pukulan demi pukulan sampai tendangan demi tendangan terus dilakukan keduanya. Sama-sama dominan. Apalagi Vera menggunakan golok untuk melukai Gavin sampai beberapa kali mengenai lengan dan kakinya. Tersayat golok untung kali ini hanya luka kecil.
"Vera hentikan! Sadarlah! Apa yang kau lakukan berbahaya!" pekik Gavin.
"Aku Mika bukan Vera, aku haus darah! Kalian harus mati!"
Kali ini Gavin tak akan memberi ampun. Dia melakukan pukulan dan tendangan sekuat tenaga. Membuat Vera tersudut dan hampir kalah. Hanya saja dia justru berlari menghampiri Mak Ros. Dia menarik tangannya. Membuat Mak Ros berdiri di depannya. Vera meletakkan goloknya tepat di depan leher Mak Ros.
"Berani mendekat wanita tua ini akan mati!"
"Jangan Vera dia ibumu," ucap Gavin.
"Mika ini Mak, ingatlah! Jangan seperti ini," pinta Mak Ros sambil menangis.
"Kalian semua harus mati khususnya kau ibu tua!"
Gavin mendekat perlahan-lahan.
"Mundur! Kau mau aku membunuh ibu tua ini dengan cepat!"
Tangan Gavin ke udara. Meminta Vera untuk melepaskan Mak Ros.
"Ibu tua aku akan mengantarmu ke neraka terlebih dahulu."
"Tidak Vera, anak Mak. Sadarlah kau Vera," bujuk Mak Ros.
"Mika tak pernah berbelas kasih, matilah kau!" Vera hendak menggorok leher Mak Ros untung saja suara tembakan pistol mengejutkannya.
Dor ....
Seketika golok itu terjatuh ke bawah.
Praang ...
"Angkat tangan! Tempat ini telah kami kepung!" Polisi masuk ke dalam ruangan itu. Mereka menyebar. Mengepung Vera. Dua orang lainnya maju ke depan menangkap Vera.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan!" Tangan Vera dipegang kedua polisi di samping kanan dan kirinya sedangkan yang lainnya berjaga.
"Pak mau diapakan anak saya?" tanya Mak Ros.
Salah satu polisi maju ke depan. Mendekati Mak Ros. Memberikan surat penangkapan Vera padanya. Melihat amplop putih di tangannya, Mak Ros bergegas membukanya, selembar kertas yang berisi surat penangkapan untuk Vera, Mak Ros membacanya dengan jeli. Memastikan bahwa itu benar.
"Kami hanya menjalankan tugas, mohon kerja samanya."
"Tidak Pak, Vera tidak salah," sahut Mak Ros. Matanya berkaca-kaca.
"Ibu bisa memberi penjelasan di kantor, kami hanya menjalankan tugas."
Polisi membawa Vera ke luar dari ruangan itu. Sampai di luar terlihat warga sudah berkumpul cukup ramai. Mereka berdiri melihat ke arah rumah kosong yang terbengkalai cukup lama. Ketika polisi dan Vera berjalan melewati mereka, semua warga meneriaki Vera.
"Huh .... pembunuh!"
"Ternyata ini dia pembunuhnya."
"Psikopat."
"Pembunuh ... pembunuh ... pembunuh ...."
Polisi segera membawa Vera masuk ke dalam mobil. Meninggalkan tempat itu. Sebelum warga semakin ricuh dan terjadi hal yang tak diinginkan. Rumah kosong itu dipasang garis polisi. Sebagai salah satu TKP.
Di dalam Gavin menghampiri Maria. Membantunya bangun.
"Maria kau bisa jalan?" tanya Gavin.
Maria mengangguk. Tapi mukanya masih pucat dan terlihat lemah. Tanpa diminta Gavin langsung membopong Maria.
"Gavin," ucap Maria.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat," sahut Gavin.
Maria mengangguk.
Mak Ros yang tadi masih syok dengan penangkapan Vera, menghampiri Gavin dan Maria. Ikut bersama mereka ke luar dari tempat itu. Di luar warga masih terlihat ramai.
"Itu Maria."
"Kasihan ya, ternyata adiknya yang pembunuh."
"Makanya ibu-ibu jangan memfitnah duluan, jadi dosakan? Mana sudah berapa tahun memfitnah Maria," ujar tukang sayur yang ikut melihat kejadian itu.
"Iya nih, salah sangka kita."
"Aku sih cuma dikit ngomonginnya."
"Dikit cuma ke teman, tapi teman ibu menyebarkan ke sekampung Durian Montong."
"Sampai kampung saya loh. Kampung Pisang Gepok."
Masyarakat sekitar mulai membersihkan nama Maria. Mereka menyesal selama bertahun-tahun sudah menuduh Maria. Padahal belum tentu itu benar. Untung saja Maria gadis yang tegar. Jika tidak dia sudah bunuh diri mengakhiri hidupnya karena perkataan warga yang begitu menyakitkan, bagaikan tertusuk pedang yang tajam.
Gavin membawa Maria ke rumah sakit terdekat. Setelah ditangani, Maria berbaring di ranjang. Dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan Gavin lukanya juga sudah diperban. Dia duduk di kursi menemani Maria yang berbaring.
"Gavin terimakasih," ucap Maria.
"Iya cinta, aku akan selalu menjagamu," sahut Gavin.
"Maafkan semua perbuatan Vera padamu," pinta Maria.
Gavin mengangguk.
"Sekarang beristirahatlah! Biar cepat pulih," ujar Gavin.
"Lukamu?" tanya Maria.
"Sudah diobati, lihat," jawab Gavin menunjukkan lukanya yang sudah diperban.
Maria tersenyum.
"Sekarang tidurlah! Aku di sini menjagamu," ujar Gavin.
Maria mengangguk. Mulai memejamkan matanya.
Setelah Maria tertidur, Gavin ke luar dari ruangan itu. Dia menghampiri Mak Ros yang duduk di kursi yang berada di luar ruangan. Gavin duduk di sampingnya. Dia melihat Mak Ros yang sedang bersedih.
"Nak Gavin maafkan Vera, semua ini salah Mak," ujar Mak Ros.
"Iya Mak, aku sudah memaafkan Vera," jawab Gavin.
"Seharusnya Mak memasukkan Vera ke rumah sakit jiwa tapi Mak kekeh kalau dia sudah sembuh," sahut Mak Ros.
"Memangnya Vera kenapa Mak?" tanya Gavin.
"Vera memiliki kepribadian ganda," jawab Mak Ros.
"Kepribadian ganda? Sejak kapan?" tanya Gavin.
"Sejak kelas dua SMA," jawab Mak Ros.
"Kok bisa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Vera di masa lalu?" tanya Gavin.
"Begini ceritanya ...." jawab Mak Ros. Dia mengingat kembali kejadian di masa lalu yang terjadi pada Vera.