
Pagi itu Sophia sudah bangun. Jalan-jalan santai bersama Alex. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh penting. Apalagi sekarang Sophia sedang mengandung buah hatinya. Alex terus menemaninya berjalan di memutari halaman rumah Keluarga Wijaksana. Sembari berjemur menikmati hangatnya matahari pagi yang terbit dari timur. Masih malu-malu belum sepenuhnya membulat.
"Sayang enak ya kalau tiap pagi begini, seger," gumam Alex.
"Iya Mas, memangnya sebelumnya tak pernah joging pagi?" tanya Sophia.
"Sayang tahu sendiri dulu aku gemar klubing, jam segini masih tidur ngorok," jawab Alex.
"Berarti sekarang Mas lebih sehat dong, tidur dan bangun tepat waktu," sahut Sophia.
"Iya dong, kan ada bidadariku yang jadi kompas hidupku, jadi semuanya sesuai arahnya," puji Alex pada pemilik mata emerald itu.
"Mas pinter banget gombalnya, meleleh aku tiap hari," sahut Sophia sambil tersenyum malu-malu.
"Harus pinter dong, masa gombalin cewek lain bisa, ke istri gak bisa, iyakan?" ujar Alex.
Sophia mengangguk. Sang casanova itu memang sudah banyak melumpuhkan wanita, tak heran kalau dia pandai menggombal. Tapi Sophia tahu sang casanova sudah memiliki sarang tetap takkan tinggal di tempat lain.
Sophia menggandeng Alex. Sesekali sang casanova mencium ubun-ubunnya. Mereka begitu bahagia menikmati jalan pagi itu.
Dari balkon lantai atas Nada terlihat bersedih melihat kebahagiaan mereka. Bukan iri tapi sedih, rumah tangganya hancur karena Hanan berselingkuh.
Setelah sarapan pagi, Sophia ingin membersihkan kamar orangtuanya. Sudah lama kamar itu tidak dibersihkan. Karena tak sembarang orang boleh membersihkan kamar itu. Biasanya Paman Harun, Bibi Fatimah, Sophia atau Nada yang bergantian membersihkan kamar itu. Hal itu disebabkan adanya harta karun warisan leluhur milik Keluarga Wijaksana. Sophia masuk ke dalam kamar. Menyapu semua ruangan dan mengepelnya. Dia tidak memaksakan diri. Melakukannya dengan santai sambil mendengarkan kajian Ustad Muhammad Al Hasan. Seorang ustad kondang yang naik daun.
"Alhamdulillah sudah beres," ucap Sophia. Dia duduk beristirahat di ranjang. Mengelus perut datarnya.
"Aku jarang mimisan akhir-akhir ini, semanjak hamil kenapa rasanya aku lebih sehat dan bugar? Mungkin ini nikmat sehat yang Allah berikan, alhamdulillah," gumam Sophia.
Senyuman manis terbit bagai bulan sabit di malam hari dari bibir merah delima itu. Dia begitu bersyukur atas karuniaNya yang begitu banyak dalam hidupnya.
Sophia berdiri. Berjalan menuju ruang rahasia di kamar itu. Sophia ingin melihat harta karun milik leluhurnya untuk dibersihkan. Dia membuka kotak harta karun itu. Saat dibuka isinya tinggal setengahnya.
"Loh kok isinya berkurang? Terakhir ku lihat saat pelelangan masjid itu ..., masih penuh," batin Sophia. Hanya Sophia, Bibi Fatimah, Paman Harun dan Nada yang tahu ruang rahasia itu dan harta karun milik leluhur mereka.
"Tidak, aku tidak boleh berprasangka dulu, jatuhnya fitnah," ucap Sophia. Dia membersihkan harta itu, mengelapnya satu-satu kemudian kembali menutup kotak harta karunnya.
"Mungkin aku tanya Kak Nada aja deh," pikir Sophia. Dia menutup kembali kotak harta karun itu. Berjalan kembali menuju ruang kamar. Baru mau menemui kakaknya, ternyata Nada juga memasuki kamar itu.
"Sophia," ucap Nada.
"Kak Nada," sahut Sophia.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Nada.
"Membersihkan kamar ini Kak," jawab Sophia.
Akhirnya mereka duduk di sofa yang berada di ruangan kamar itu.
"Kak Nada, tadi aku membersihkan harta karun milik leluhur kita, tapi ada sesuatu yang aneh," ujar Sophia.
"Aneh kenapa?" tanya Nada.
Sophia terdiam sesaat. Memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Dia berpikir keras, haruskah tanya pada kakaknya? Atau tidak. Tapi Sophia ingin tahu siapa yang sudah mengambil setengah harta karun itu. Bukan karena Sophia mempermasalahkan soal harta, tapi lebih keterbukaannya.
"Harta karunnya tinggal setengahnya," jawab Sophia.
Nada langsung terdiam. Ekspresi wajahnya terlihat tak nyaman. Matanya menunduk ke bawah.
"Kak Nada tahu ke mana setengahnya?" tanya Sophia.
"Aku-aku ...," jawab Nada ragu. Dia sulit mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Aku kenapa Kak?" tanya Sophia.
"Aku menjual setengahnya Sophia," jawab Nada.
Terkejut. Sophia terdiam. Tak percaya kakaknya menjual harta karun milik leluhurnya tanpa sepengetahuan anggota keluarga. Dulu saat pelelangan masjid saja Sophia bicara pada Nada terlebih dahulu. Meskipun saat itu Nada menolaknya.
"Untuk apa kakak menjualnya?" tanya Sophia. Dia ingin tahu alasan kakaknya menjual harta karun yang jumlahnya bisa mencapai trilliunan itu. Kalau hanya sekedar untuk kebutuhan sehari-hari, hasil kerja Nada di dunia entertainment sudah sangat cukup. Lagi pula hasil perusahaan juga dinikmati keluarga. Sophia selalu mentranfer biaya kebutuhan rumah Keluarga Wijaksana.
"Apa? Untuk kampanye?" Sophia terkejut.
Nada menunduk malu. Dia tahu tak seharusnya itu dilakukan olehnya tanpa sepengetahuan anggota keluarganya.
"Maafkan kakak Sophia, seharusnya kakak bilang dulu padamu," ujar Nada.
Sophia terdiam. Ada sedikit rasa kecewa. Dulu saat dia butuh untuk menyelamatkan sebuah masjid, rumah Allah, Nada tidak setuju untuk mengizinkan Sophia menjualnya. Tapi justru Nada menjualnya untuk kampanye suaminya.
Sophia membuang nafas gusarnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Berusaha tenang dan tidak terpancing emosi.
"Semua sudah terjadi, tidak bisa kembali lagi, aku memaafkan kakak, tapi kakak harus memberi tahu Paman Harun dan Bibi Fatimah soal ini," sahut Sophia.
"Iya, makasih Sophia, kakak menyesal, seharusnya kakak tak termakan ucapan Hanan, kini dia malah meninggalkanku," keluh Nada sambil menangis.
Sophia berdiri. Menghampiri kakaknya. Memeluk Nada yang sedang dilanda kesedihan.
"Sabar ya Kak, Allah pasti akan memberikan jalan ke luarnya, agar hidup kakak kembali bahagia seperti dulu," ucap Sophia.
"Amin," sahut Nada.
Usai bicara, Nada ke luar dari kamar itu. Berjalan menuju ruang keluarga di lantai atas, tak disangka Hanan pulang.
"Mas Hanan," ucap Nada terlihat senang melihat Hanan pulang. Dia segera menghampiri Hanan. Memegang tangannya. Namun Hanan melepas tangan Nada dari tangannya.
"Nada, aku ke sini untuk mengambil barang-barangku, bukan untuk bertemu denganmu," ujar Hanan.
"Tidak, lalu bagaimana keluarga kita Mas?" tolak Nada. Mereka sudah menikah selama tujuh tahun. Sudah banyak yang dilalui bersama. Suka maupun duka. Banyak mimpi yang belum diwujudkan bersama. Termasuk ada anak yang tak mungkin jadi korban keegoisan orangtuanya.
"Kita akan bercerai setelah kau melahirkan," tegas Hanan.
"Tidak, aku tidak ingin bercerai, ada Nesa dan bayi kita," sahut Nada sambil menangis.
"Aku sudah tidak mencintaimu, untuk apa kita bersama tanpa cinta," ujar Hanan.
Nada berusaha mendekat memeluk Hanan. Memohon agar Hanan mengurungkan niatnya untuk bercerai.
"Ku mohon jangan Mas, aku akan melakukan apapun sesuai maumu," ujar Nada.
"Aku tidak bisa Nada, aku sudah mencintai orang lain," ucap Hanan.
"Mas, ku mohon jangan ceraikan aku, kita punya anak," ucap Nada.
"Lepas Nada!" titah Hanan yang tidak ingin dipeluk Nada.
"Tidak," sahut Nada.
Dikarenakan Nada terus memeluk tak ingin lepas, Hanan mendorong Nada, sampai dia terjatuh di lantai.
Bruuug ...
"Aw ...," keluh Nada kesakitan. Dia memegang perutnya.
Hanan bukannya menolong malah meninggalkannya. Berjalan masuk ke kamarnya. Dia membereskan semua surat-surat berharga miliknya dan barang-barang penting lainnya. Hanya beberapa baju yang dia masukkan ke dalam koper. Hanan langsung ke luar dari kamarnya.
"Mas, tolong perutku sakit," panggil Nada yang masih terduduk di lantai. Darah terlihat mengalir di kakinya.
Hanan tak menggubris. Dia melewati Nada. Turun ke lantai bawah. Hanan bertemu Bibi Fatimah yang sedang menyiram tanaman di depan teras.
"Hanan," sapa Bibi Fatimah.
Hanan tak menyahut. Justru tetap berjalan menuju ke parkiran mobil. Dia masuk ke mobilnya. Mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Keluarga Wijaksana.
"Kenapa ya?" Bibi Fatimah khawatir. Dia menaruh selang kembali. Mematikan kran air. Kemudian masuk ke dalam rumah.
Di lantai atas, Sophia yang baru ke luar dari kamar orangtuanya, berjalan menuju ruang keluarga di lantai atas. Sophia terkejut mendapati Nada sedang terduduk di lantai, memegangi perutnya. Darah terlihat di kaki Nada dan di lantai.